TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 29 : KABUR DARI LANTAI LIMA


__ADS_3

Usul Jack Higgins tergolong nekad, walau begitu karena tak seorang pun punya ide yang lebih baik maka yang diucapkannya mempengaruhi semua orang, dan akhirnya diterima sebagai hal paling logis buat menyelamatkan mereka dari situasi berbahaya ini secepat mungkin…


“Kamu yakin mereka masih lama dengan urusan ini, Jack?” tanya Presiden Tramp.


“Positif, Mr. Presiden!” Jack menjawab dengan wajah tegas.


“Kalau begitu tunggu apa lagi?”


“Bagaimana, Profesor?” Jack bertanya pada Archibald McQueen yang tengah memeriksa layar monitor. Ilmuwan itu diam sejenak, kepalanya terdongak sedikit sewaktu memastikan dari layar ke layar sebelum kemudian menoleh pada sang agen.


“Sejauh yang terpantau para ******* berkumpul di hall lantai bawah. Selain itu tidak ada yang berkumpul di luar, kecuali mereka yang memang tadi mengejar kita dari lantai ke lantai.”


“Bagaimana dengan kedua ******* yang di lift? Mereka sudah keluar dari sana?”


“Mungkin mereka akan mendapat kesulitan keluar dari sana, sir!” potong Jordan.


“Mengapa begitu?” Jack Higgins menoleh pada remaja itu.


“Karena aku merusak sesuatu di sirkuit tombol daruratnya… lift itu turun tapi berhenti di tengah-tengah sebelum sampai ke lantai mana pun.”


“Dengan kata lain mereka terjebak di sana?”


“Bisa dibilang begitu,” Jordan mengangguk.


Itu sudah cukup bagi Jack buat memaksa Profesor McQueen untuk memikirkan jalan keluar dari Machina Factory, “Mungkin ada jalan lain…jalan alternatif…seperti ruangan ini, misalnya…yang tidak diketahui para penjahat itu.”


“Ada sebenarnya…” Profesor McQueen mengangguk.


“Tunjukkan jalannya pada kami.”


Untuk turun ke bawah Ayah Lana mengambil rute melewati tangga darurat, dan itu berarti Jordan dan Lana harus kembali ke tempat dimana mereka mengalami kejadian mengerikan barusan. Lana mengernyit sewaktu harus melewati kembali kedua mayat ******* yang tewas di tempat itu, dibuangnya muka agar dirinya tak harus melihat mayat mereka yang mengenaskan.


Jordan yang baru melihat dengan lebih seksama kondisi ******* kedua, yang menjadi korbannya, ternyata jauh lebih mengerikan dari yang disangkanya. Kepala sang ******* yang menekuk dalam posisi aneh memastikan leher orang itu patah sewaktu tergelinding di undakan tangga dan itu penyebab kematiannya. Hanya saja Jordan tidak sampai hati mendapati wajah orang itu…hidungnya tak lagi berbentuk… tak mengerti bagaimana lemparannya yang tanpa sengaja bisa membuat kerusakan sedemikian parah.


Duncan Tramp yang berjalan di belakang Lana dan Jordan malah berkomentar, “Apa yang terjadi pada mereka?”

__ADS_1


“Ceritanya panjang, sir!” sahut Jordan seraya memegang bahu Lana karena dia tahu temannya itu bisa muntah sewaktu-waktu bila mereka terlalu lama di tempat itu.


“Kalian yang melakukannya?”


“Agen Higgins,” jawab Jordan cepat.


“Sudah kukatakan kan padamu kalau dia bisa diandalkan,” kali ini terdengar komentar Howard Tramp yang berjalan di belakang anaknya.


“Ya, ayah! Kamu sudah mengatakannya berulang kali,” balas Duncan.


Lana memandang Jordan yang hanya mengangkat bahu dan menambahkan kepada sang Presiden, “Jordan punya andil juga melumpuhkan penjahat kedua.”


“Benarkah?” tanya Duncan Tramp.


“Tidak sengaja sebenarnya. Palu itu terlepas dari tanganku dan terbang ke wajahnya.”


“Berarti anak-anak ini juga berjasa, yah!” Duncan tersenyum lebar kepada sang Presiden


Rombongan itu terus menuruni tangga dengan posisi merapat ke dinding. Jack Higgins dan Bill Sandford berada di depan sebagai pembuka jalan, Profesor Mc Queen di belakang mereka, Jordan dan Lana berjalan di belakang sang ilmuwan, Duncan dan Howard Tramp ada di belakang kedua remaja itu, sementara Ryan Newman berada paling belakang, sebagai pengaman dari musuh yang mungkin masuk dari pintu di atas mereka.


Kecepatan menuruni tangga darurat ini mungkin tidak secepat ketika Lana dan Jordan menaikinya bersama Profesor McQueen dan Jack Higging. Itu disebabkan kebugaran Presiden Tramp yang tidak terlalu bagus sehingga ketiga agen Secret Service harus menjaga supaya sang pemimpin negara tidak kepayahan oleh usia yang memang tak lagi muda, apalagi jarak yang harus dilalui sepertinya masih jauh.


Begitu tiba di lantai paling bawah Jack mengangkat tangan, meminta yang lain untuk berhenti dan tetap pada tempatnya di undakan tangga masing-masing. Dia mengangguk pada Bill, keduanya mendekati pintu dan membukanya perlahan-lahan. Bill yang berada di sisi pintu yang membuka berlutut dengan pistol teracung, perlahan pria itu keluar buat memastikan keadaan aman.


Setelah menengok ke kanan dan kiri diangkatnya jempol yang membuat semua orang di situ bernafas lega. Tak seorang pun sudi membayangkan mereka harus berlari dengan susah-payah bila ******* ternyata masih sibuk berkeliaran di sekitar situ dan tahu-tahu memergoki mereka lalu mengejar.


“Setelah ini bagaimana?” Jack bertanya kepada Profesor McQueen.


“Kamu tahu jalan menuju ke tempat generator?” sang ilmuwan bertanya balik.


Bill mengerutkan kening, “Kukira tidak ada jalan kesana.”


“Bisa, kalau kita ambil arah ke lorong yang berpapasan dengan dok penurunan barang.”


“Memutar lewat jalan belakang, eh?” Jack menganguk paham disertai senyuman.

__ADS_1


“Betul, Jack,” Profesor McQueen menoleh kepada Jack Higgins. “Memang bukan jalan tercepat, tapi itu jalan teraman.”


“Aku setuju,” sang agen menoleh pada rekan kerjanya. “Kamu dengar itu, Bill?”


“Yeaah…” Bill mengangguk.


“Setelah kamu, Bill…” desis Jack.


Bill melewati pintu sementara Jack berjaga di ambangnya, memberi isyarat kepada Lana serta Jordan untuk melewatinya, kemudian yang lain sesuai urutan hingga Jack Higgins yang kini berada di belakang. Sesekali dia menoleh ke belakang, memastikan pergerakan mereka belum diketahui oleh para *******. Situasi di lantai ini sebenarnya kristis karena rombongannya berada satu lantai dengan para *******. Salah sedikit saja, seperti berisik tanpa sengaja, maka habislah usaha mereka meloloskan diri.


Jack Higgins mulai kembali bisa bernafas lega ketika Jordan dan rombongannya semakin menjauhi hall, setidaknya bila ada awak ******* yang tahu-tahu keluar dari hall untuk suatu urusan maka mereka tidak akan segera ketahuan sebab jarak tempat mereka berada saat ini tidak sedekat beberapa menit lalu.


Sewaktu melewati panel pengendali listrik yang ada di lorong Ryan tahu-tahu berhenti di sana kemudian menengok pada Jack. Keduanya saling berpandangan dan menahan nafas melihat sesuatu yang tertempel di bawah kotak panel tersebut. Benda itu ditaruh dengan begitu teliti sehingga orang yang sepintas lewat saja tidak akan menyadari keberadaannya di sana. Namun kedua agen Secret Service yang terlatih tentunya langsung menyadari bahayanya benda yang ada di bawah panel pengendali listrik itu.


“C4!” bisik Ryan setelah mengenali benda tersebut.


“Orang-orang ini tidak main-main.”


“Berapa banyak bom yang mereka taruh di bangunan ini kira-kira?”


“Aku tak tahu…mungkin cukup banyak untuk membuat seluruhnya rata dengan tanah.”


“Rencana cadangan mereka benar-benar matang demi bisa membunuh Presiden.”


“Dan kurasa mereka berani meledakkan bangunan ini setelah membunuh Presiden,” tambah Jack.


“Kamu pikir begitu?” Ryan terbelalak mendengar dugaan temannya.


“Kurasa ya…mereka cukup gila untuk itu. Aku sudah lihat bagaimana mereka tega meledakkan bangunan luar walau ada banyak polisi di sana.”


“Aku juga melihatnya lewat layar monitor di ruangan,” Ryan mengangguk.


“Jangan sampai yang lain tahu Machina Factory sudah dipasangi bom di seluruh tempat. Prioritas kita amankan Presiden dulu…” ujar Jack Higgins.


“Benar!” Ryan Newman mengangguk. “Ayo kita susul mereka.”

__ADS_1


***


__ADS_2