
Sementara polisi dan petugas keamanan Machina Factory menguatirkan Howard Tramp, di dalam ruangan khusus milik sang anak, Duncan Tramp, sang presiden justru masih duduk berselonjor di sofa meski rasa lelah sudah tak begitu terasa lagi di badannya. Dia sibuk memperhatikan bagaimana orang-orang yang bersamanya tengah menatap drama yang terjadi di lantai empat lewat layar monitor di meja Duncan Tramp dengan wajah tegang.
“Gila…benar-benar gila! Keduanya beruntung bisa meloloskan diri,” komentar Bill.
“Di mana anak-anak itu sekarang?” tanya Duncan.
Profesor McQueen menyahut, “Mereka sepertinya ada di suatu ruangan di antara pantry atau gudang kebersihan.”
“Apakah tidak ada CCTV di sekitar sana?”
Sang Profesor menggeleng sedih, “Ada! Sayangnya aku tidak menyambung kamera di sana ke sistem ini. Kupikir tidak ada gunanya wilayah itu diawasi.”
“Hey, mereka keluar…” tunjuk Duncan.
“Yes! Kalian lihat itu? Mereka gagal menangkap anak-anak itu,” dengan gembiranya Profesor McQueen menunjuk nunjuk layar yang memperlihatkan para ******* di lantai empat yang kembali berkumpul di depan ruang penyimpanan tanpa Jordan dan Lana. “Aku tahu Lana dan Jordan bisa meloloskan diri dari penjahat-penjahat itu.”
“Kok anda bisa yakin?” tanya Jack yang sedari tadi ikut tegang melihat kejar-kejaran antara kedua remaja dengan para bandit di lantai empat.
“Yeah, siapa tahu kedua bocah itu sudah te…” Bill terdiam karena Jack memelototinya. Dia baru sadar bahwa ucapannya bisa menyurutkan semangat orang-orang di ruangan ini, terutama Profesor McQueen yang menjadi kunci penting dalam memenangkan pertarungan sebab dialah yang paling mengenal bangunan ini.
“Bagaimana aku bisa yakin? Tentu saja, karena tidak ada tembakan setelah mereka meleset menembaki Lana dan Jordan di dekat pintu tangga darurat. Orang-orang itu tidak segan membunuh. Kalau mereka bermaksud menangkap keduanya hidup-hidup tentu kita bisa melihat Lana dan Jordan dibawa orang-orang itu ke bagian yang lebih terbuka di lantai empat, tapi kalian tidak melihatnya, kan?”
“Mungkin anda benar.”
“Tentu saja aku benar. Oleh karena itu kita harus bawa anak-anak itu kemari.”
“Hey, jangan berpikiran sinting…” Bill menyela.
Profesor McQueen membalas ucapan agen Bill dengan dongkol, “Ini kesempatan baik, sementara ******* disibukkan oleh tim SWAT dan polisi yang akan menyerbu masuk, kita bisa menjemput anakku dan temannya dan mengamankan mereka ke tempat ini.”
“Kelihatannya mereka tidak kembali ke tempat teman-temannya,” sela Jack yang masih memperhatikan layar monitor, seperti yang dilakukan di lantai-lantai sebelumnya keempat orang itu berpisah dua-dua. “Mereka menuju ke lantai ini. Dua menaiki lift, dua menaiki tangga darurat.”
“Kalau begitu sebaiknya kita menunggu sampai mereka selesai memeriksa lantai ini,” ucap Duncan Tramp.
Profesor McQueen sudah hendak mengurungkan niatnya sebelum dia melihat pada salah satu layar monitor, anak perempuannya dan Jordan Cross muncul dari gang sempit yang menjadi tempat terakhir keduanya menghilang dari kejaran para *******. Pria itu menahan nafas karena gembira, dilihatnya tangan Lana menggenggam ponsel,
“Dia pasti berusaha menghubungiku…dia tak dapat menghubungiku karena sinyal tidak bisa tembus ke dalam sini,” Profesor McQueen berkata panik lalu berpaling kepada partner bisnisnya. “Aku tidak bisa menunggu, Duncan! Aku harus mengambil Lana dan temannya.”
“Maksudmu…kamu mau keluar dari ruangan ini?” Duncan Tramp terperangah.
“Anda sadar nggak sih bahaya itu sedang mendatangi kita?” Bill menyela lantang.
__ADS_1
“Aku tidak bisa diam saja di sini sementara anak gadisku di luar sana. Kemungkinan dia dan temannya untuk tertangkap masih besar selama mereka masih berkeliaran di lantai empat, atau malah bisa jadi mereka turun ke hall di bawah,” Profesor McQueen berkata dengan tak kalah pedas.
“Sudah terlambat, Profesor! Tidak bisakah anda sabar sedikit saja sampai mereka selesai dengan lantai ini?” ujar Jack.
“Kalau kalian mau berdiam di ruangan ini untuk menjaga Presiden, silakan! Tapi aku harus melindungi anak gadisku dan temannya. Mereka tanggung jawabku, sama seperti Presiden yang menjadi tanggung jawab kalian.”
“Dia benar, Jack! Aku juga akan melakukan tindakan yang sama dengan Profesor bila Duncan terancam bahaya. Pergilah…jaga Profesor…biar Ryan dan Bill yang menjagaku di sini.”
“Damn!” Jack bergumam kecil walau akhirnya mengalah. Pria berkulit gelap itu berkata dengan sedikit gusar. “Ayo, Profesor! Perjalanan kita sulit, karenanya moga-moga anda siap.”
“Mereka baru naik tangga darurat…kita masih punya tiga-empat menit kalau kita keluar sekarang,” ujar Profesor McQueen.
“Hey, boss! Kalau kamu hendak keluar, sebaiknya hubungi markas besar sekalian. Minta mereka datangkan bala bantuan untuk kita,” Ryan mengusulkan.
“Tidak perlu kamu bilang, itu juga yang akan kulakukan,” Jack menanggapi ucapan anak buahnya dengan sebal sambil menunjukkan ponsel yang lalu dimasukkannya ke kantung jaket.
***
Para ******* itu keluar dari ruangan setelah memastikan target yang dikejar tidak ada lagi di lantai empat, meninggalkan Jordan dan Lana yang masih terkesima di persembunyian mereka di bilik langit-langit. Ternyata keadaannya jauh lebih gawat dari yang diperkirakan…
Lana memecah kebisuan dengan pertanyaan yang juga mengusik benak Jordan, “Kamu dengar apa yang mereka katakan?”
“Yang lebih gawatnya daddy bersama mereka…jangan-jangan dia…”
“Kita belum tahu dengan pasti, Lana! Jangan keburu panik. Coba telepon dulu ayahmu.”
Lana melakukan usul Jordan, wajahnya kembali pucat begitu beberapa kali panggilan ponselnya hanya tersambung ke nada panggil, “Tidak ada jawaban…jangan-jangan dia…”
“Belum tentu…” Jordan kembali memotong perkataan Lana demi menjaga gadis itu agar tetap tenang, walau sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan… dia tidak tahu apakah sebaiknya tetap bersembunyi di tempat ini ataukah keluar mencari bantuan…
“Lalu bagaimana aku bisa tahu kalau tidak ada kabar apa pun darinya?” Lana meradang disertai kecemasan.
Bersembunyi memang menyenangkan, tempat ini terbukti aman dan selama Lana tidak keberatan duduk berdesakan dengannya seharusnya apa yang dikuatirkannya bukan masalah. Hanya saja Jordan paham kalau gadis itu pasti dilanda kecemasan akan nasib ayahnya sehingga berdiam diri saja di tempat ini tidak akan membuat mereka mengetahui kondisi yang terjadi di luar sana.
“Tolong beri tahu aku, apa yang sebaiknya kulakukan?” Jordan akhirnya berkata kepada dirinya sendiri, terutama kepada suara yang sering bergumam di kepalanya.
Dan suara itu membalas dengan gaya malas-malasan, seakan pertanyaannya itu bukan hal penting, ‘Kalau kamu juga sama cemasnya dengan Lana tentunya kamu juga akan mencari tahu…’
“Kalau begitu aku harus keluar dari bilik ini?” Jordan kembali mengonfirmasi.
‘Tentunya itu yang pertama-tama harus kamu lakukan, bukan?’
__ADS_1
“Masalahnya bagaimana aku bisa yakin kalau kami akan aman? Bagaimana kalau ******* itu kembali dan menangkap kami selagi di lantai empat?”
‘Kamu dengar sendiri kan? Mereka tidak lagi tertarik pada kalian…kalian bukan target utama…mereka sedang memburu Presiden dan orang-orang yang bersamanya…’
“Kalau begitu aku akan turun sekarang,” ujar Jordan.
“Hah?” Lana memandang kebingungan.
“Kamu dengar kan kataku? Kita turun sekarang. Kita cari ayahmu.”
“Bagaimana kalau penjahat-penjahat itu menangkap kita?” Lana mengerutkan kening.
“Kamu dengar kan apa yang dikatakan orang-orang itu? Mereka saat ini sedang mencari Presiden! Mereka tidak perduli pada kita yang bukan sasaran utama,” balas Jordan.
Tidak mau berlama-lama menunggu tanggapan Lana, Jordan membuka selot penutup ambang tingkap, menurunkan tangga perlahan-lahan sampai terjulur ke lantai, dan menuruni undakan tangga satu demi satu. Lana memperhatikan dengan cemas, tapi gadis itu kemudian mengikutinya juga begitu Jordan sudah menjejakkan kaki di lantai.
Jordan melongok melewati celah pintu dengan perlahan, dia ingin memastikan orang-orang itu sudah pergi dan dia lega begitu mendapati situasi di hadapannya lengang. Dibukanya pintu perlahan sebelum melangkah ke ruangan tersebut. Lana mengikuti dengan waswas tapi kecemasannya terlalu berlebihan sebab sesampainya di lorong menuju ke ruang penyimpanan para ******* itu tidak terlihat lagi.
“Coba hubungi lagi ayahmu,” ucap Jordan.
“Baiklah,” Lana mengangguk sebelum menghubungi ulang nomor ponsel Archibald McQueen. Gadis itu mengarahkan tatapannya kepada Jordan. “Belum ada jawaban.”
“Coba terus!”
Lana menurutinya, dia masih belum mendapat jawaban sampai ketika dirinya dan Jordan berada di lorong dekat ruang penyimpanan akhirnya ponsel ayahnya diangkat dan suara ayahnya terdengar dari balik sambungan, “Lana?”
“Daddy…” Lana memekik kecil. Matanya berkaca-kaca, tak disangka ia masih dapat mendengar suara ayahnya lagi. Jordan yang mendengarnya ikut bernafas lega. Mendapat bantuan dari orang dewasa di saat seperti ini tentunya sesuatu yang melegakan. “Syukurlah…”
“Akhirnya aku bisa mendapatkan sambungan untuk menghubungimu…”
“Daddy tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja. Aku bersama Jack Higgins.”
“Jack siapa?” Lana mengerutkan kening, mendadak wajahnya panik. “Apakah Jack Higgins menyanderamu? Apakah dia termasuk penjahat-penjahat yang mengurung tempat ini dan Presiden?”
“Bukan…bukan…dengar, Daddy sedang ke sana menjemput kamu dan Jordan untuk membawa kalian ke tempat yang aman. Tapi sebelum itu, Daddy punya rencana dan butuh bantuanmu.”
“Aku mendengarkan…”
***
__ADS_1