TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
EPISODE 59 : PERTEMUAN PARA PREFECT


__ADS_3

Manusia yang tinggal di daratan atas telah berabad-abad mengetahui bahwa lautan menyimpan sejuta misteri. Bukan hanya menyimpan keberadaan organisme asing yang belum pernah dikenal atau tertulis di ensiklopedia atau Wikipedia, namun jauh di bawah samudera yang terkamuflase oleh birunya air dan jutaan ikan yang berenang dengan tenang ternyata juga menyimpan kehidupan sebuah kota yang oleh banyak orang disangka sudah lama hilang atau hancur.


Di bagian laut yang paling dalam itu Neo Atlantis terbentang ratusan kilometer dengan diameter yang hampir menyerupai sepertiga bagian daratan Eropa – mulai dari Perancis sampai Austria – dengan sumber tenaga mandiri yang mampu menghidupi seluruh wilayah tanpa henti, kota dasar laut yang tidak pernah mengalami kegelapan sepanjang usianya itu menghiasi dasar laut laksana ratusan mercusuar di tepi pantai.


Bangunan-bangunan di Neo Atlantis tidak begitu berbeda dengan kota-kota di daratan atas, hanya saja lebih banyak lengkungan dan dinamis pada setiap sisinya untuk menyesuaikan dengan arus bawah laut yang seringkali berubah secara tak terduga. Tidak adanya jendela menunjukkan bahwa seluruh bangunan disiapkan untuk mencegah air agar jangan sampai masuk ke sebelah dalam, meskipun tak menolak sama sekali pertemuan alam dengan teknologi manusia yang membangunnya, yakni penyatuan air laut dengan gedung-gedung Neo Atlantis.


Bentuk kota itu menyerupai sebuah cakram, bagian tepiannya merupakan area yang berfungsi sebagai daerah perkotaan atau tempat tinggal, di antara bagian tepi dengan bagian porosnya terhubung oleh enam jalur penghubung transportasi berbentuk bintang segi enam, sementara bagian poros yang merupakan komponen pusat kota Neo Atlantis di mana terdapat Istana Imperium sebagai salah satu bangunan utamanya.


Di Istana Imperium, atau yang dikenal warga setempat sebagai Magna Palati, itulah Mr. Janus berada. Pria itu baru saja keluar dari ruang transporter dan bergegas menuju ke ruang rapat di mana kelima Prefect sudah menunggunya. Balin Pati - Prefect Archipellago, Clementine Cointa – Prefect Mainland, Sylvester Borje – Prefect Avrupa, Takumi Hara – Prefect Pacific, dan Magendy Okocha – Prefect Shadowland.


“Selamat pagi Prefect! Semoga kalian menikmati tidur nyenyak semalam,” sapa Mr. Janus begitu berada dalam ruangan. Dia memberi salam kepada mereka lalu berseru, “Heil Terra!”


Kelimanya menoleh, berdiri, dan membalas salamnya bersamaan, “Heil Terra!”


Masing-masing Prefect sudah menempatkan dirinya ke bangku pilihan mereka di meja berbentuk bulat, meja yang sengaja diciptakan sebagai simulasi dari Oculus yang belum bisa ditempati karena belum ada yang mengisi posisi Atlantic Territory, dan Mr. Janus mengambil tempat yang masih kosong. Keenamnya mengheningkan diri beberapa saat sebelum memulai pertemuan.


Mr. Janus memulai pertemuan itu dengan ucapan, “Sebelum aku menjabarkan apa yang terjadi di luar sana, ada baiknya kita memberikan update perkembangan di setiap wilayah dan isu apa yang penting untuk diperhatikan. Siapa mau duluan?”


“Tidak ada sesuatu yang gawat di Archipellago,” Balin mengawali. “Kami mendapat perkembangan signifikan dengan penandatanganan MOU kerja sama pembangunan serta operasional reaktor nuklir dengan Pemerintah Indonesia. Ini berarti bulan depan lewat Omnitech dan Nusapower kita bisa membangun pilar reaktor untuk mempertahankan wilayah sekitar cincin api dari kelongsoran di dasar laut.”


“Apakah kita masih perlu melakukan renovasi untuk pyramid di bagian barat daya Selat Sunda?” tanya Clementine Cointa. “Karena kalau masih, berarti sumber daya wilayahku yang harus ke sana.”


“Tidak perlu, Clementine. Pyramid itu masih cukup baik untuk bekerja tiga puluh tahun lagi. Meskipun keuangan kita tidak ada masalah,tapi tidak ada salahnya sedikit berhemat karena pembangunan reaktor ini.”

__ADS_1


“Aku setuju!” Balin mengangguk. “Dan semoga saja reaktor itu cukup untuk mengganti kebutuhan energi di sebagian besar wilayah bagian Asia Tenggara.”


“Bagian paling penting menurutku justru adalah pilar reaktornya. Supaya cincin api di sekitar Indonesia tidak lagi merepotkan kawan kita ini,” Magendy Okocha tersenyum kepada Balin Pati.


“Aku tersentuh dengan perhatianmu,” Balin menanggapi dengan ekspresi penuh haru. “Sejujurnya aku mulai agak lelah menarik magma keluar dari gunung agar tidak menyembur di perkotaan.”


“Itu yang kudengar,” Magendy nyengir.


“Cukup dariku,” ujar Balin.


“Bagaimana denganmu Magendy? Ada sesuatu yang ingin anda bagi kepada kami?”


“Kecuali masalah tentang kelaparan di Somalia, perang saudara, dan perbudakan oleh negara serta pemilik tambang yang belum juga hilang, Shadowland sepenuhnya aman. Kukira mereka terus belajar untuk lebih memberi bantuan kepada orang-orang malang ini, dan itu bagus karena bagaimanapun dunia harus seimbang,” Magendy menyahut.


“Kita masih menjaga hewan-hewan itu?” tanya Clementine.


“Seharusnya hewan macam itu tak dibiarkan menghilang dari muka bumi oleh manusia-manusia bodoh,” komentar Clementine Cointa.


Balin membela diri, “Orang-orang bodoh itu juga belajar dari kesalahannya dengan melestarikan komodo belakangan ini.”


“Yang jelas kita bertanggung jawab menjaga apa yang tertinggal di bumi ini sejak air bah melanda,” kata Mr. Janus.


“Yeah! Mereka terjaga dengan baik. Kami sudah mengamankan beberapa DNA untuk kloning biologis apabila hewan-hewan itu gagal berkembang biak sesuai target,” kata Magendy Okocha. “Jadi bila kalian kesulitan melestarikan hewan yang seharusnya menjadi berkat bagi tanah kalian, berikan saja kepada Shadowland.”

__ADS_1


“Terdengar seperti iklan pembersih pakaian bagiku. Bila kotoran di baju kalian tidak bisa dibersihkan dengan pembersih yang biasa, pakailah So Clean,” komentar Takumi Hara yang diikuti tawa rekan-rekannya.


“Itu sebabnya aku suka pria ini,” Balin Pati menepuk bahu sang Pacific Prefect. “Dia tidak banyak bicara tapi apa yang diucapkannya merupakan lelucon yang segar. Jadi bagaimana dengan wilayahmu,Hara san? Ada yang penting untuk kami waspadai?”


“Persaingan ekonomi antara Cina dengan Amerika semakin tidak menyehatkan bagi dunia atas. Tetapi tidak segenting konflik antara Amerika dengan Korea Utara. Hanya saja selama kita masih memegang Cina,maka semuanya masih dalam kendali di Pacific. Yang kukuatirkan hanyalah kondisi alam yang mulai memburuk di beberapa kota penting seperti Guang Zhou, Wu Han, atau Tianjin karena industri mereka yang kelewat maju. Apalagi dalam beberapa tahun ini mereka mulai mengembangkan eksperimen senjata biologis…”


Clementine Cointa mengerang, “Aku tidak mengerti kenapa kita membiarkan mereka mengembangkan senjata biologis? Maksudku, apa kita mampu bertahan pada serangan senjata mereka bila sampai bocor?”


“Itu juga yang baru saja aku mau katakan… bila sampai bocor,” Hara menunjuk. “Cuma kekuatiranku pada manusia yang tinggal di daratan atas, bukan kita. Apa mereka punya cukup imunitas dan penangkal bila yang dimiliki masih sebatas elemen agresif?”


“Aku yakin kita mampu bertahan dengan apa yang kita miliki. Hanya perlu dipastikan bahwa mereka tidak mengembangkan sesuatu yang masih asing bagi kita. Kalau kamu punya orang di pabrik-pabrik,mereka pastikan kita terus mendapat sampel-sampel penemuan terbaru agar kita bisa terus monitor.”


“Tenang, Mr. Janus! Selalu ada orang kita di tempat semacam itu,” Hara tersenyum.


“Siapa berikutnya?” Mr. Janus memandang Clementine Cointa dan Sylvester Borje.


“Banyak yang harus kita perhatikan di wilayahku, bagaimana kalau kamu duluan Sylvester?” Clementine Cointa berkata pada koleganya.


“Thank you, Clementine,” kata Sylvester Borje. “Blok kesatuan Eropa semakin melemah dengan kepastian keluarnya Inggris dari perserikatan. Yang perlu dikuatirkan adalah gelombang berikut dari kesatuan itu usaha Amerika melobi Inggris dan Perancis  untuk mendukung mereka dalam usaha agresi ke Iran. Bila Inggris dan Perancis bergerak, Jerman kemungkinan besar juga akan mengikuti sebagai upaya mengambil hati mempertahankan kesatuan blok Eropa bersatu. Bila ketiga negara itu bersatu, negara lainnya tentu tidak punya pilihan.”


“Seberapa besar menurutmu Inggris dan Perancis mau mendukung?”


“Inggris akan mendukung karena Amerika menawarkan kerja sama ekonomi dalam cakupan yang lebih menguntungkan daripada mereka berbisnis dengan seluruh negara di Eropa. Perancis sedang alot dalam negosiasi karena mereka tidak ingin dikendalikan dalam hal supply minyak, di pihak lain mereka harus mendapatkan sumber minyak guna memenuhi permintaan negara-negara persemakmurannya. Menurut perhitunganku,enam puluh persen kemungkinan mereka akan mendukung.”

__ADS_1


“Jadi itu semua tergantung pada perkembangan antara Amerika dengan Iran. Semakin cepat kita menyudahinya akan semakin baik. Di mana pada kenyataannya justru sulit, kenapa begitu…penjelasannya ada pada Clementine…” kata Mr. Janus. “…karena setelah itu giliranku memberi paparan.”


***


__ADS_2