
Orang-orang yang memburu Presiden Tramp mempercepat pencarian mereka begitu mendengar alarm yang tak henti-hentinya berdering di berbagai penjuru bangunan, termasuk ke tempat di mana mereka berada. Apalagi mendengar ancaman sang pemimpin dari walkie-talkie. Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya, apalagi gerombolan penjahat itu tahu puluhan bom sudah dipasang di tempat ini karena mereka sendiri yang memasangnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja diledakkan dengan detonator yang dipegang sang pemimpin.
Walaupun mereka semua siap mati melaksanakan tugas ini namun sedapat mungkin mereka menuntaskannya tanpa perlu mengorbankan nyawa, dan yang mereka butuhkan cuma satu...kepala Howard Tramp. Semestinya itu tugas mudah karena sebagian besar pengawal Presiden sudah dilumpuhkan. Tinggal tiga orang yang mengawal, tentunya bukan sesuatu yang sulit mengalahkan para pengawal yang hanya bersenjatakan pistol dengan magasin terbatas.
Tidak butuh waktu lama bagi keempat orang itu menyelesaikan penyisiran di lantai dua, di mana banyak bilik meja kerja yang sepintas tampak kosong di lantai tersebut – sebagian besar karyawan mungkin sudah pulang atau bergabung di acara gala dinner di hall bawah – namun setelah memeriksa dengan teliti ternyata di beberapa ruangan masih ada karyawan yang masih bekerja di luar jam kantor, sejumlah kecil lainnya tak sengaja tertidur di meja kerja saat tengah menanti hasil observasinya di komputer, hingga orang-orang itu tak tahu perkembangan di bawah. Karyawan-karyawan malang yang berada di tempat dan waktu yang salah tersebut menemui ajal di bawah hujan tembakan.
Keempat pemburu itu meneruskan pencarian ke lantai tiga yang juga berisi lantai kerja hanya saja lebih banyak berbentuk laboratorium. Keadaan yang kosong juga mereka temui di lantai tersebut, hanya saja lantai itu betul-betul kosong sebab tak ditemukannya seorang pun walau mereka sudah mencari ke berbagai penjuru dan memeriksa ke setiap celah meja serta ruangan seperti halnya yang mereka lakukan di lantai dua.
Kembali orang yang membawa walkie-talkie memberi tahu kepada rombongan, “Lantai tiga bersih. Kami belum menemukan mereka.”
“Percepat gerakan ke lantai berikut!” balas suara di balik walkie-talkie.
“Roger!” orang itu lalu berkata kepada yang lain. “Sekarang kita periksa lantai empat!”
Dua dari ******* menaiki lift sementara dua lainnya memilih tangga darurat, dengan cara begitu mustahil ada orang yang bisa meloloskan diri dari mereka.
***
Jordan masih tidak habis pikir bagaimana dia bisa mendapat penglihatan macam itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apakah itu karena dia terlalu mencemaskan teman barunya, Lana, atau karena suara dalam hatinya ini mampu memberikan hal ajaib di luar yang dia mengerti?
Sementara Jordan sibuk dengan pikirannya sendiri, Lana terus-menerus nyerocos soal ketidakmengertiannya pada motif si penyusup masuk ke ruang penyimpanan dan bagaimana dia melakukannya karena menurutnya Machina Factory memiliki sistem pengamanan yang canggih.
"Sistem seperti apa pun punya kelemahan," Jordan menanggapi ucapan Lana.
__ADS_1
"Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan orang dalam. Mustahil orang luar bisa menyusup tanpa ketahuan," Lana masih tetap ngotot dengan pendiriannya.
SIkap Lana pasti ada hubungannya dengan kekagumannya pada sang ayah hingga gadis itu sulit menerima bila hasil kerja ayahnya dapat disusupi orang lain dengan mudah. Remaja itu menanggapi, "Lalu kenapa orang dalam berusaha membobol tempat ini?"
"Itu yang harus kita cari tahu."
“Kenapa kamu tidak menanyainya lebih banyak sewaktu dia menodong kita tadi?”
“Tadinya…kalau bukan karena ulahmu yang bikin dia menembak dirinya sendiri.”
Sungguh ungkapan lucu yang tercetus dari mulut Lana yang akan tewas tertembak oleh penjahat itu bila Jordan tidak segera menolongnya. Namun bila dipikir-pikir kembali hal itu ada benarnya juga, mereka sebenarnya bisa saja mengetahui lebih banyak seandainya orang itu ditanya-tanya dan diajak melantur, apalagi Jordan berhasil menarik perhatian dengan bahasa Persia, yang sebenarnya bukan keahliannya.
TING!
“Apa yang…” Lana bingung ketika tahu-tahu temannya menariknya kembali ke lorong. Tapi saat itu didengarnya seruan dari belakang mereka.
“HEI KALIAN BERDUA…BERHENTI…”
Dua orang dengan senjata berlari mengejar, seragam orang-orang itu mirip dengan yang dipakai orang yang menodong mereka sebelumnya. Benar yang dibilang Jordan kalau orang itu tidak mungkin datang sendirian, namun siapa mengira para penjahat itu jumlahnya lebih dari satu, apalagi keduanya datang dari lift sementara mereka mengira teman penjahat itu sedang berada di suatu tempat di lantai ini.
“Adakah tangga yang bisa kita gunakan?”Jordan bertanya sambil berlari.
“Tangga darurat.”
__ADS_1
“Di mana itu?”
“Lorong kedua belok kiri.”
Jordan dan Lana tinggal beberapa langkah menuju ke tempat di mana tangga darurat berada ketika pintu itu membuka dari sebelah dalam. Apa yang pertama kali keluar dari pintu itu nyaris bikin Jordan membeku, itu ujung senjata yang sama dengan yang dibawa kedua ******* yang keluar dari lift. Siapa pun di belakang pintu itu hampir saja keluar bila Jordan tidak cepat mengerahkan bahunya ke daun pintu dengan berlari, mendorong pintunya agar menutup dan di saat bersamaan memaksa orang di balik pintu kembali ke dalam, lalu mendorong selot besi untuk menguncinya.
“Ayo lari…” Jordan menyeret tangan Lana.
Di balik pintu yang baru saja dikunci oleh Jordan terdengar gedoran-gedoran diiringi suara teriakan lebih dari satu orang. Teriakan-teriakan dalam bahasa asing tersebut mendorong kedua penjahat yang mengejar Jordan dan Lana sebelumnya lantas menembaki kedua remaja itu.
“KKYYYYAAAAAA….” Lana berteriak sementara peluru berdesing di belakang mereka. Beruntung keduanya sudah lebih dahulu berlari menjauhi pintu tangga darurat. Tembakan-tembakan itu terluput berkat sempitnya lorong dan sudut mati bangunan.
“Sial! Ternyata mereka makin bertambah…” ucap Lana yang rupanya sempat menoleh.
Jordan sadar pintu yang dikuncinya tak akan lama menahan penjahat-penjahat di tangga darurat. Kedua teman mereka yang ada di luar pasti akan segera membukakan sebelum bertambah lagi ******* yang mengejar. Setidaknya dia dapat mengambil sedikit dari waktu mereka agar dirinya bersama Lana bisa mengamankan diri dengan makin menjauhi para ******* bersenjata itu.
Keduanya sempat melewati ruang penyimpanan, Jordan sempat berpikir untuk masuk ke sana dan berlindung di dalamnya karena tempat itu pasti punya sistem perlindungan yang bagus. Lana justru berpikir sebaliknya, gadis itu ganti menarik tangan Jordan agar meninggalkan tempat itu, “Jangan di situ. Tidak aman sembunyi di sana.”
“Kalau begitu kita harus ke mana?”
Lana tidak menjawab, gadis itu terus berlari menuju ke bagian selatan bangunan dan pilihan Lana membuat Jordan kebingungan…di antara banyak ruangan di lantai ini bisa-bisanya gadis itu membawa mereka ke gudang tempat menyimpan alat-alat kebersihan…
***
__ADS_1