
Para petugas keamanan terkaget-kaget saat rombongan itu mendekat, takjub, dan tak percaya karena bisa melihat Presiden Tramp…dalam keadaan baik walaupun terlihat sedikit lelah…tak mengira sang pemimpin negara bisa keluar dari bangunan itu hidup-hidup sementara para ******* masih berada di dalam bangunan dan sepertinya tidak mengetahui apa yang terjadi…
Sang Kepala Keamanan yang melihat Duncan Tramp dan Profesor McQueen lebih dulu menghampiri untuk menyambut dan menyalami keduanya, “Mr. Tramp…Profesor McQueen, syukurlah kalian selamat.”
Profesor McQueen mengangguk, “Berkat perlindungan tim Secret Service, Tim.”
Jack Higgins maju ke antara aparat seraya melambaikan kartu identitas, “Aku agen Jack Higgins, Secret Service! Siapa yang bernama Letnan Mills?”
“Saya!” sahut seorang pria berusia pertengahan empat puluhan dengan pangkat Letnan di bahunya. “Ada yang bisa kubantu, Agen Higgins?” dia baru menyadari keberadaan Presiden Tramp saat itu dan segera menyalaminya. “Demi Tuhan! Syukurlah anda selamat, Mr. Presiden. Pekerjaan kami jadi mudah di sini.”
“Saya yakin begitu, Letnan!” Howard Tramp mengangguk.
Jack Higgins menyerahkan walkie-talkie milik ******* yang tewas, “Dengan ini anda bisa memantau pergerakan mereka. Penjahat-penjahat itu ada sekitar delapan sampai sepuluh orang semuanya. Dua sudah tewas sewaktu memburu kami. Sementara tawanan jumlahnya sekitar tiga puluh orang…”
“Tiga puluh enam, persisnya,” Profesor McQueen menimpali. “Dan mereka semua tamu undangan serta staffku yang masih berada di hall bersama para *******.”
Pembicaraan mereka terpotong ketika tahu-tahu terdengar ledakan. Semua orang yang ada di halaman spontan mendongak ke atas, ke tempat di mana suara tadi berasal. Ledakan itu tidak berskala besar, suaranya yang terdengar dari lantai lima membuat Jordan dan yang lain tahu kalau para penjahat sudah menemukan tempat persembunyian di ruang kerja Duncan Tramp.
Ruangan itu ditinggalkan dalam posisi siaga penuh, seperti ketika Profesor McQueen mengaktifkannya sebagai ruang pengaman dan hal itu membuat Jordan terkagum-kagum memandangi ruangan yang sedemikian canggih, sehingga bom mungkin tidak akan mudah menghancurkan pintu penghalangnya yang terbuat dari besi.
Terbukti setelah ledakan berlalu dari walkie-talkie yang dipegang Letnan Mills, terdengar penjahat di dalam berkomunikasi dengan nada kalut, “Kau mungkin tidak akan percaya ini, boss! Tapi bom tidak bisa membuka pintunya…”
“Apa kamu bilang?”
“Pintu ini sesolid baja brankas! Semtex hanya mampu bikin sedikit penyok.”
“Pasti ada suatu cara untuk membukanya…temukan itu….” sahut suara yang lain dengan bentakan marah.
“Yang baru bicara tadi itu suara pemimpin mereka,” Letnan Mills berkomentar.
“Dari mana anda tahu?” tanya Ryan.
“Mereka saling bicara sebelumnya,” sambung Jack.
__ADS_1
“Mereka bicara dalam bahasa Inggris tapi dengan aksen aneh, apa kalian sadar?” tanya Letnan Mills. “Sepertinya mereka bukan orang sini.”
“Mereka bukan orang Amerika juga,” kata Jack Higgins.
“Arab?” tanya Bill yang ada di dekatnya.
Jack menggeleng, “Masih satu rumpun. Tapi ini lain. Mereka sepertinya juga bukan ISIS atau Al-Qaeda.”
Walkie-talkie kembali memperdengarkan komunikasi para *******, “Kami masih punya beberapa bahan. Apa perlu kami meledakkannya sekali lagi?”
“Mereka tidak akan pernah dapat meledakkannya,” Profesor McQueen berkomentar. “Pelat baja di pintu ruang kerja CEO hanya dapat dihancurkan dengan ledakan bertekanan lebih dari delapan ratus kilogram dan itu berarti…”
“Ledakan tingkat sedang yang juga akan menghancurkan satu lantai, betul kan dugaanku Profesor?” tanya Jack Higgins.
“Tepat!”
Di lantai lima, para ******* tidak mau menyerah, berusaha untuk meledakkan pintu itu untuk kedua kalinya. Mereka
memasang Semtex lebih banyak dari sebelumnya, menempelkan bom bukan hanya di sela-sela pintunya, tapi juga ke bagian tepiannya, menghabiskan apa yang tersisa di ransel, dan setelah memasang kabel serta peralatan lainnya, mereka buru-buru menyingkir ke tempat aman.
Ledakan kali ini jelas lebih kuat dari yang pertama sebab ketiganya merasakan hembusan angin serta hawa panasnya mengalir hingga ke tempat persembunyian mereka. Jendela yang berhadapan dengan pintu juga ikut hancur, kacanya ***** berkeping-keping akibat tekanan bom. Yang mengherankan, pintu tersebut masih belum terbuka juga meskipun bagian penampangnya menampakkan posisi yang semakin membengkok ke dalam.
"Ini gila!” si ******* bertubuh kecil berkomentar dengan frustrasi.
“Bagaimana hasilnya?” tanya suara dari walkie-talkie.
“Kami masih belum berhasil meledakkannya, boss!”
Jawaban itu membuat si pemimpin ******* meradang kesal. Kakinya menendang meja di dekatnya hingga mangkok besar cocktail tumpah berhamburan dan meja itu pun terguling ke samping, membuat beberapa tawanan menjerit kaget. Dia meradang dengan geram, “Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk membuka ruangan jahanam itu…”
Matanya menatap bagaikan binatang buas ke para tawanannya, mencari-cari siapa yang pantas ditanyai atau kira-kira tahu soal ruangan aneh yang tidak bisa dibuka di lantai lima. Begitu menemukan orang yang menurutnya sesuai dengan perkiraan, didekatinya pria itu dengan acungan pistol.
Pria itu tak lain adalah anggota petugas keamanan, meskipun dia tak memakai seragam seperti rekan-rekannya yang telah tewas lebih dulu pada serangan pertama, si pemimpin bisa mengenali ciri yang membedakannya dari tamu undangan atau para staff Machina Factory dari sepatunya yang khas. Sepatu itu adalah sepatu yang hanya dimiliki serta dipakai oleh petugas keamanan tempat ini.
__ADS_1
“Kamu…sepertinya kamu tahu apa yang harus kamu ceritakan tentang tempat itu…”
Pria itu menggeleng ketakutan memandang moncong pistol yang berada begitu dekat di dadanya, “Tidak... sungguh…aku tak tahu…”
“Sungguh? Kamu tidak tahu apa-apa?”
“Tidak!”
"Kalau begitu kamu tidak berguna buatku!”
BAAANG!!!
Orang-orang menjerit panik karena ******* itu menembak dengan brutal…tanpa peduli… merobohkan pria tua yang duduk di dekat si petugas keamanan yang makin pucat wajahnya. Si pemimpin ******* mendekatkan wajahnya dan berkata dengan nada penuh intimidasi, “Kamu yakin kamu mau menjadi tidak berguna buatku?”
Carl Trish tidak tahan lagi mendengar itu dan maju menyela, “Kalau dia katakan tidak tahu, maka dia tidak tahu, bung! Petugas keamanan tidak mengetahui semua yang ada di bangunan ini!”
Pemimpin ******* menegakkan tubuh lalu mendekati Carl, “Nah…nah…dan siapa kamu yang berani bicara macam itu? Kamu yakin kamu tahu segalanya?”
“Dia asisten Profesor itu…mungkin dia tahu sesuatu…” bisik anak buahnya.
“Begitu?” orang itu mengangguk-angguk. “Kalau begitu informasi apa yang bisa kamu bagikan ke kami, asisten Profesor?”
Carl Trish merengut, menggigit bibirnya. Melihat Carl malah berdiam diri, orang itu menunjuk si petugas keamanan yang memakai pakaian preman, “Atau kamu ingin dia bernasib sama seperti pria yang kutembak tadi?”
“Ruangan itu ruangan khusus yang kami rancang untuk menahan segala kemungkinan bahaya. Tidak akan mudah menembusnya, bahkan gempa bumi atau kebakaran sekalipun. Dengan kata lain, ruangan itu adalah ruangan paling aman di dunia, dan untuk membukanya hanya bisa dilakukan dari dalam.”
“Kamu yakin itu hanya bisa dibuka dari dalam?”
Carl Trish mengatakannya dengan berat hati, “Beberapa orang saja yang punya otorisasi buat membukanya dari luar. Aku salah satunya…untuk kasus-kasus tertentu…”
“Aah, berarti kita menemukan orang yang tepat,” kata pemimpin ******* itu dengan wajah gembira. Dia berpaling kepada orang-orang yang ada di situ lalu berkata dengan lantang. “Kalian dengar kata-kataya? Dia bilang dia punya akses membuka pintu rahasia mereka…dan kuharap kamu tidak membual, kawan!”
“Aku serius! Asal jangan tembak orang itu,” Carl menyahut.
__ADS_1
“Kalau begitu kamu ikut denganku ke lantai lima sekarang,” kata si pemimpin *******. “Buka pintunya dan aku sendiri yang akan menangkap pemimpin kalian yang menjengkelkan itu…”
***