TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 21 : BERLINDUNG DI RUANG CEO


__ADS_3

Raungan alarm keamanan juga terdengar sampai ke tempat di mana keenam pria yang sedang berusaha meloloskan diri itu berada. Jack menoleh kepada Profesor McQueen dan bertanya, “Apakah alarm itu berfungsi secara otomatis, Profesor?”


Yang ditanya menggeleng, “Tidak! Seseorang pasti menekan tombol darurat di salah satu ruangan di bangunan ini.”


“Terberkatilah dia,” Howard Tramp berkomentar disertai tepukan tangan keras.


“Tapi kita belum aman, setidaknya sampai semua ******* di bawah ditangkap,” Jack berkata dengan wajah muram. “Biarkan SWAT dan SFPD yang menangani hal itu. Tugas kita saat ini terus mengawal Presiden sampai keadaannya benar-benar terkendali.”


“Kupikir kita harus melakukan kontak dengan dunia luar,” Bill memberi usulan.


“Kita akan lakukan itu setelah menemukan ruangan yang aman,” Jack menanggapi. "Kamu lihat sendiri kan orang-orang itu masih mengejar kita?"


"Tidak ada ruangan yang aman di tempat ini selain ruangan Mr. Tramp," celetuk Profesor McQueen.


"Benarkah itu, Mr. Tramp?" Jack memandang Tramp junior.


Duncan mengangguk, "Semua ruangan di tempat ini amat terbuka. Hanya ruanganku yang di desain profesor dengan bentuk tertutup dan fasilitas kedaruratan tingkat tinggi."


"Kedaruratan tingkat tinggi?" Jack mengerutkan kening.


"Pengamanan dari gempa yang sering terjadi di San Francisco," Profesor McQueen menambahkan penjelasan.


"Berarti kita ke ruangan di mana kalian bertiga bertemu sebelum pembukaan gala?"


"Bukan yang di lantai dua. Aku punya ruang kerja khusus di lantai enam" jawab Duncan.


Wajah orang di sekelilingnya berubah kecut, kecuali Profesor McQueen tentunya sebab dia lebih dulu mengetahuinya. Howard Tramp yang pertama kali memberikan reaksinya dengan erangan keras, "Apakah kita tidak bisa naik lift saja?"

__ADS_1


Walaupun termasuk yang tidak suka dengan kemungkinan harus menaiki tangga ke lantai enam, Bill menanggapi, "Maaf Mr. Presiden, resikonya besar bila kita naik lift. Orang-orang yang mengejar kita bisa mengetahui ke mana kita pergi."


"Bill benar," Jack menimpali. "Lebih baik kita terus menaiki tangga ini. Hanya naik empat lantai, kok!"


"Empat lantai katamu?" lagi-lagi sang Presiden mengerang, yang tentunya hanya sebuah omongan kosong karena dia akhirnya mengikuti yang lain ke lantai enam.


“Masih jauhkah ke ruanganmu?” tanya Tramp senior di antara nafas yang tersengal begitu menjejakkan kaki di lantai yang dituju.


“Sudah dekat di sana,” Tramp junior menunjuk ruangan yang berada di ujung koridor lantai enam.


Ruang kerja Duncan Tramp sepintas tampak seperti ruang kerja biasa, dengan meja kerja berukuran sedang, kursi empuk yang terbungkus kulit, papan white board ukuran besar bertuliskan rumus matematika yang rumit, dan rak berisi buku-buku tebal. Yang menunjukkan bahwa ruangan itu fasilitas milik CEO adalah merek ternama dari PC Monitor yang bertengger di atas meja dan adanya ruang meeting pribadi untuk menampung pertemuan lima-enam orang yang menyatu dengan ruang kerja tersebut.


Jack menutup pintu ruang kerja begitu kedua temannya masuk. Dia berpaling kepada Tramp Junior dan Profesor McQueen, "Seberapa amankah ruangan ini?"


“Aktifkan kode keamanannya, sir!” kata Profesor McQueen kepada sang atasan.


Teralis besi tanpa rongga menutupi tiap jendela dari sisi luar dan dalam, pintu-pintu baja tebal juga melapisi pintu ruangan dari kedua sisi – dari dalam dan luar – dan tiap dindingnya ternyata juga dibarikade dengan baja tebal yang naik selapis demi selapis dari pertemuan dinding dengan lantai hingga berhenti ke langit-langit.


Ruangan itu menjadi lebih sempit dari sebelumnya karena diameter dinding baja yang tebal, walau begitu hal itu tidak mengurangi kenyamanan orang-orang di dalamnya karena seiring naiknya dinding baja suhu ruangan otomatis menjadi lebih rendah. Sepertinya itu memang di program secara sistematis agar siapa pun yang berada di ruangan tersebut tidak lantas kepanasan selama berlindung di dalamnya. Penampilan ruangan itu lebih kokoh dari sebelumnya, rasanya bom atau peluru rudal belum mampu menembusnya, jadi para ******* itu tidak mungkin menembus ke dalam hanya dengan berbekal senapan mesin.


Dengan lega Howard Tramp menghempaskan tubuhnya ke sofa, melepas lelah setelah berlari-lari dan menaiki tangga demikian jauh. Profesor McQueen pun mengikuti sang Presiden tanpa malu-malu. Ketegangan yang baru saja dialami tidaklah lebih besar dari ngerinya kejaran teror yang baru saja terluput dari mereka. Oleh karenanya, duduk di sofa empuk ini laksana hadiah tak ternilai.


“Cek siapa saja yang masih bertahan di posisinya,” Jack menoleh kepada Ryan.


Ryan yang bertugas pada alat komunikasi segera memeriksa keadaan di luar, berkali-kali dia memanggil rekan-rekannya dengan menyebut pos masing-masing di mana hasilnya berupa respon hening. Dia berpaling kepada atasannya begitu panggilan ke pos terakhir tidak kunjung mendapat jawaban, “Kurasa mereka semua sudah tewas.”


“Berarti tinggal kita satu-satunya yang masih tersisa,” ucap Bill.

__ADS_1


“Brengsek!” Jack menatap ponsel dengan jengkel sebab di layarnya hanya tertera bar sinyal yang kosong, rupanya tidak ada sinyal yang dapat menjangkau ke ruangan di mana mereka berada.


Profesor McQueen menyela. “Percuma saja! Tebalnya pelat baja di sekeliling kita membuat ruangan ini tak dapat ditembus sinyal ponsel. Perlu penguatan dengan menggunakan repeater di ruang kendali yang ada di lantai dua, tapi itu belum tentu maksimal.”


Ryan menanggapi gusar, “Dengan kata lain kita terisolasi di sini? Bagaimana kita bisa menghubungi dunia luar?”


“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu…” kata Duncan.


“Tapi selagi menunggu kita masih bisa mengamati apa yang terjadi di luar,” kata Profesor McQueen. “Maafkan aku Duncan, tapi aku harus melakukan ini karena baru ingat kalau Lana dan temannya masih di luar sana.”


“Apa maksudmu, Profesor?” Duncan mengerutkan kening.


“Kalau boleh, sir…” Archibald McQueen memohon agar Tramp junior memberinya ruang untuk mengetikkan sesuatu di papan keyboard di meja milik sang atasan.


“Silakan!” Duncan lalu menyingkir untuk memberinya tempat.


“Dua minggu lalu aku menambahkan fasilitas ini tapi masih belum sempat melakukan pengetesan…” Profesor McQueen bergumam sendiri seraya mengetikkan sesuatu di papan. “… kupikir akan membosankan sekali di ruangan ini bila tidak ditambahi fasilitas yang memungkinkan untuk mengintip keluar…orang yang berlindung di sini mungkin merasa aman sekaligus bosan, jadi dia perlu sesuatu untuk memberinya akses…”


Meja kerja Duncan Tramp berdengung dan beberapa bagiannya bergerak menggeser ke kanan dan kiri hingga akhirnya membentuk penampang meja yang lebih luas untuk memuat deretan enam layar televisi di hadapan sang Profesor. Ukuran tiap layar televisi itu sekitar lima puluh inchi, di mana setiap layarnya terbagi ke dalam enam layar display yang lebih kecil. Baru setelah di layar-layar tersebut muncul gambar dari keadaan di beberapa tempat berbeda Jack dan kawan-kawannya mengerti bahwa itu adalah monitor untuk memantau keadaan di tiap lantai di Machina Factory.


Memang tidak semua sudut dapat terpantau karena menurut Profesor McQueen ada puluhan CCTV terpasang di bangunan itu dan dia hanya bisa menghubungkan enam saja ke sistem ini, namun setidaknya yang ada di layar sangat membantu mereka untuk melihat kondisi dari lantai satu hingga lantai di mana mereka berada, yakni lantai enam.


“Woow, ini alat pemantauan yang hebat, Prof!” puji Jack.


Duncan tercengang. “Kamu tidak pernah berhenti bikin aku kaget, Archibald!”


Archibald McQueen tidak mendengarkan pujian mereka karena sibuk mencari Lana dan Jordan di tiap layar, terutama yang menampilkan lantai empat di mana ruang penyimpanan yang didatangi kedua remaja itu berada…

__ADS_1


***


__ADS_2