TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 47 : PILIH ABEL FELAINI ATAU ABEL HISRAM?


__ADS_3

Abel kembali berkonsentrasi pada tulisan yang baru selesai setengahnya di komputer. Pria itu begitu asyik dengan tulisannya sehingga tak menyadari seseorang diam-diam duduk di belakangnya, mengamati setiap kata yang dituliskannya di komputer, dan memahami maksud berita yang hendak disampaikannya. Abel Felaini membaca ulang tulisannya seraya bergumam senang,“Berita seperti ini akan bernilai tinggi bagi Washington Post, atau Times…sebaiknya ke sana saja aku menaruh berita ini.”


Pria itu menyalakan lagi rokoknya yang kelima, “Dan sekarang kesimpulan akhirnya, biarkan seluruh dunia tahu kalau Shah Iran bertanggung jawab atas serangan ******* di Machina Factory, dan kita akan lihat apa tindakan Tramp ***** itu selanjutnya…” dia mengetikkan serangkaian narasi yang tercetak di benaknya dan membubuhkan inisial namanya di bawah tulisannya sebagai akhiran.


“Rupanya anda memang senang memprovokasi orang ya, Mr. Felaini!”


Abel tersentak mendengar teguran itu dan menoleh ke belakang. Seorang pria muda berusia pertengahan dua puluhan tengah duduk dengan santai dan kaki berpangku. Pemuda asing itu tidak pernah dilihatnya di kantor ini, dan dari pakaian yang membungkus tubuhnya jelas menunjukkan bahwa orang asing itu bukan reporter.


“Siapa kamu? Bagaimana anda bisa masuk kemari?”


“Siapa saya tidaklah penting. Bagaimana saya bisa masuk, semua orang idiot tahu kantor media seperti ini memungkinkan siapa pun bisa masuk, termasuk orang asing seperti saya,” pria muda itu melempar senyum tengil. “Pertanyaan yang paling tepat adalah apa yang anda mau lakukan dengan informasi seperti itu, Mr. Felaini? Atau anda lebih suka saya panggil Abel Hisram?”


Wajah Abel Felaini spontan pucat begitu mendengar nama aslinya disebutkan…


Dia berbalik dan berusaha mengamankan artikel yang sedang ditulisnya dengan cara menghilangkan atau menutupnya dari layar secepat mungkin, tapi alangkah kagetnya dia ketika artikel yang baru ditulis dan belum sempat disimpan itu telah hilang setelah terkirim ke alamat email tak dikenal, padahal dia tidak melakukan apa pun. Dia menoleh pada pemuda asing itu dengan ekspresi marah bercampur ketakutan, “Hey, apa yang kau lakukan?”


Pemuda asing itu hanya tertawa…


Ini membuat Abel semakin kesal, “Bagaimana caramu mencuri fileku?”


“Kalau kutanya balik, bagaimana aku melakukannya? Aku duduk jauh darimu, dan apakah aku kelihatan melakukan sesuatu pada komputermu?”


“Kamu CIA?”


“Sudah kukatakan tadi, siapa aku tidak penting. Yang akan kita bahas saat ini seharusnya dirimu…” dia mengambil map dokumen dari balik mantelnya lalu mendorongnya ke meja Abel Felaini. “…dan sedikit tentang masa lalumu.”


Abel Felaini membuka file itu sejenak untuk melirik apa yang ada di dalamnya, wajahnya mengernyit lalu menutup map itu kembali, “Memangnya kenapa dengan masa laluku?”

__ADS_1


“Latar belakang yang menarik untuk mengetahui kenapa anda bersikap provokatif. Juga kenapa anda mau menjatuhkan rezim Shah Iran!”


“Tak ada yang menyukai Shah Iran! Walaupun aku juga tak menyukai Howard Tramp.  Kalau mereka sedang bermasalah, biarkan saja keduanya bertempur.”


“Pernah mendengar kata mengadu domba? Itulah yang anda lakukan Mr. Hisram! Lebih tepatnya itu yang anda lakukan!”


“Aku hanya mengutarakan kebenaran. Tidak lebih!”


“Kebenaran yang semakin membuat suasana kedua negara panas?”


“Aku mengerti sekarang…kamu pasti dari Interpol. Tidak terlalu senang melihat dunia kacau?” Abel Felaini tertawa.


“Mari fokuskan masalah ini kepada anda! Aku ke sini bukan untuk mengenalkan siapa diriku, karena itu tidak penting. Aku datang untuk memberi tahu anda agar melakukan hal yang baik untuk dilakukan…dan itu adalah menahan diri dari menerbitkan sesuatu yang sensitif. Karena dampaknya mungkin tidak hanya perseteruan dua orang yang anda benci, tapi juga akan mendatangi anda dengan bentuk kematian.”


“Kamu mengancamku? Aku ini dilindungi Amandemen untuk kebebasan berbicara dan berpendapat, apalagi demi kepentingan pers!”


Abel Felaini terdiam. Pemuda itu melanjutkan, “Menurut anda, kira-kira siapa yang akan memberiku penawaran tertinggi untuk file anda? CIA atau SAVAK? Aku tinggal menunggu siapa yang memberiku penawaran tertinggi, seperti anda ingin menjual artikel anda ke penawar tertinggi, apakah itu Washington Post atau Times…kurasa pasti SAVAK lebih menginginkan ini, bukan begitu?”


“Entahlah,” ucap Abel dengan gusar.


“Kalau anda jadi saya kira-kira bagaimana menurutmu? SAVAK atau CIA?” lagi-lagi pria itu memprovokasi. “Sebagai jurnalis senior anda pasti lebih mengerti dari saya tentang ini.”


“Ya…ya…aku paham maksudmu…” Abel memotong dengan ketus.


“Lalu bagaimana keputusan anda?”


“Baiklah, aku akan melupakannya! Walau aku tidak yakin SFPD akan sanggup menahan informasi yang aku tahu.”

__ADS_1


“Jangan memikirkan sesuatu yang tidak dapat anda capai,” pemuda itu memicingkan mata. “Cukup tegaskan niat untuk diri anda sendiri. Mana hidup yang anda mau jalani? Abel Felaini atau Abel Hisram?”


“Abel Felaini!” pria itu menjawab cepat.


“Anda yakin?”


“Pergi secepatnya dari sini, Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.”


“Senang mengobrol denganmu, Abel! Sebagai hadiah atas keputusanmu yang tepat, kutinggalkan map dokumen ini untukmu!”


Pemuda itu meninggalkan ruang kerja di mana Abel Felaini masih terduduk dengan perasaan kesal. Berita besar yang akan memberi tahu dunia bahwa rezim Shah Iran bertanggung jawab di balik perintah penyerangan para ******* di San Francisco harus lenyap begitu saja dari tangannya. Hilang sudah berita bernilai jual ratusan ribu dollar dan kesempatan mendapatkan Pullitzer…dan itu semua karena…ditatapnya map yang ditinggalkan pemuda itu dengan kesal.


Tangannya meraih benda itu lalu dilemparkannya ke udara. Ke mana perginya tidak penting, dia tidak ingin melihat berkas-berkas itu lagi. Oleh karena itu, Abel tak mengacuhkan kertas-kertas file yang jatuh berantakan ke segala arah…dia sudah tidak peduli…


Dengan gusar dinyalakannya rokok yang entah ke berapa malam itu, dan Abel Felaini mulai mengisapnya dalam-dalam…merasa belum cukup dibukanya laci, dikeluarkannya sebotol Whiskey yang kemudian ditenggaknya langsung dari bibir botol demi mengusir amarah yang masih belum reda…


Ketika Abel Felaini tengah mabuk-mabukan, ditemani rasa kesalnya, di dalam gedung Metro Plaza – di mana kantor San Francisco Heraldotcom berada – orang yang membuat Abel kesal malah tengah berjalan dengan santai meninggalkan gedung tersebut. Pria muda itu mengirim pesan kepada Mr. Janus lewat Auris, memberi tahu bahwa dia sudah melaksanakan misinya untuk menyampaikan pesan kepada Abel Felaini, juga sudah mendapatkan janji dari sang wartawan untuk tidak melanjutkan pemberitaan soal ******* di Machina Factory ataupun pemerintahan Iran.


Dikirimnya potongan rekaman saat Abel Felaini mengucapkan janjinya tersebut kepada Mr. Janus. Sepanjang permbicaraan dia menyetel Aurisnya pada mode rekam dan dia mendapatkan materi yang bagus. Materi itu sekaligus menjadi simpanan yang bisa digunakannya apabila Abel Felaini ternyata ingkar janji. Jawaban pendek dari Mr. Janus segera diterimanya,


‘R√ Good Job, Constable Valdano’


Dia membalas pesan itu segera,


‘S√ Terima kasih, Sir! Tapi aku ada informasi lain untuk anda’


Setelah itu dikirimnya data yang berhasil didapatkannya dari Machina Factory…

__ADS_1


***


__ADS_2