TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 51 AMNESINOX


__ADS_3

Balin memandang sang Duta Besar, ekspresinya memancarkan keingintahuan yang amat sangat, dia menjawab, “Theodor Janus pernah menyebutkan hal itu tanpa sengaja sewaktu kami sedang mengobrol. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud saat itu. Apa dia pernah mengatakan sesuatu tentang itu kepada anda?”


“Memangnya apa yang dikatakannya kepada anda?” si Duta Besar balik bertanya, seperti penggosip yang baru saja menemukan topik hangat sebagai bahan gunjingan.


“Bukan sesuatu yang penting. Hanya saja aku mengira orang itu agak sinting dengan mengatakan bahwa aku seharusnya menjadi bagian dari dunia itu,” Balin mengangkat bahu. “Mr. Howell, aku hanya mencari informasi soal orang yang akan kuajak kerja sama, dan perkataan pria itu sedikit-banyak membuatku mempertanyakan kewarasannya.”


“Tadinya kupikir Prime Minister Hampbull juga sedang sinting sewaktu menceritakannya kepadaku. Ternyata ada hal di dunia ini yang anda tidak mengerti, Mr. Pati. Kerajaan tertua di dunia itu bisa jadi sesuatu yang nyata setelah saya bertemu Mr. Janus.”


“Kerajaan tertua di dunia? Dan apa hubungannya itu dengan proyek reaktor nuklir?”


James Howell mengoceh panjang lebar tentang apa yang diketahuinya, juga kesimpulan, mengenai Terra Empire tapi sejauh yang diketahuinya itu adalah sesuatu yang diceritakan Prime Minister Hampbull dan yang didengarnya dari Mr. Janus…tidak lebih…


Hanya saja karena dikiranya Balin Pati tak tahu apa-apa, maka pria itu menceritakannya dengan sok tahu. Dia mengakhiri ceritanya dengan sikap seolah dia orang yang paling pintar di muka bumi, “Jadi kita harus berhati-hati tentang seseorang, bisa jadi orang yang ada di sekitar kita itu mata-mata Terra Empire. Itu sebabnya saya mempertanyakan anda lebih dulu, Mr. Pati!”


“Kehati-hatian memang perlu, Mr. Howell! Karena itulah mungkin mereka juga berhati-hati kepada orang asing yang mengetahui tentang Terra Empire.”


“Kenapa begitu?”


“Karena tidak semua orang awam perlu tahu soal Terra Empire…”


Dengan cepat Balin menembakkan shocker-pulse dari Tazzer di pergelangan tangannya. Shocker-pulse, atau pengejut listrik itu menyengat jari-jari Howell yang sedang terulur dekat Balin. Tak butuh waktu sepersekian detik untuk bekerja dan membuat Howell tak sadarkan diri ketika dua buah kotak kecil yang melayang terbang dari gelang pengikat Tazzer menempel di kepala sang Duta Besar, lantas membentuk benda yang menyerupai headphone begitu berada di masing-masing pelipis Howell.


“Auris koneksi ke Amnesinox,” Balin memberi perintah program dan setelahnya benda di kepala James Howell membentuk visualisasi pembesaran lima kali dari apa yang tampak sebagai bagian otak James Howell.


Menarik keluar atau menghapus ingatan manusia merupakan sesuatu yang tidak mudah. Meskipun manusia itu makhluk yang gampang lupa akan suatu hal, tetapi ingatan itu tetap melekat pada memori otak. Bila tidak hati-hati maka dia bisa merusak seluruh ingatan seseorang dan akan membuatnya melupakan segala hal. Untungnya ada Amnesinox yang siap bekerja membantu Balin menghapus apa pun yang ingin disingkirkannya dari ingatan James Howell, dan itu tentunya soal Terra Empire.

__ADS_1


“Tampilkan memori lima menit terakhir,” kembali Balin berkata. “Siapkan prosedur.”


Hologram Auris memunculkan citra keyboard dan serangkaian perhitungan binary codex yang rumit. Setiap kali Balin mengetikkan sesuatu di keyboard hologram, codex menghitung cepat dan setiap hasil perhitungan menampilkan jumlah, bagian tertentu dari otak Howell berpendar. Terus bergerak sampai akhirnya codex berhasil menemukan apa yang diminta Balin, percakapan di lima menit terakhir saat bersamanya di ruang kerja ini.


Binary codex berubah menjadi rangkaian gambar dengan rentetan peristiwa saat Balin masuk ke ruang kerja James Howell, mengobrol dengannya, terkejut melihat kartu namanya, sampai akhirnya sang Duta Besar pingsan terbius oleh jarum Tazzer. Diketiknya perintah untuk menahan rangkaian gambar kejadian tersebut dalam satu frame dan menghapusnya dari ingatan Howell.


“Hapus juga segala sesuatu tentang Terra Empire….”


Frasa Terra Empire yang telah diubah sebagai binary codex lalu mengeluarkan rangkaian gambar lainnya, jauh ketika Balin belum bertemu dengannya, yaitu saat James Howell makan malam dengan Mr. Janus dan pertemuannya dengan Prime Minister Hampbull sewaktu menyuruh sang Duta Besar untuk melobi soal proyek reaktor nuklir, mungkin disitulah momen ketika si Perdana Menteri Australia membuka rahasia tentang Terra Empire.


Tiga titik kuning di dalam visualisasi otak Howell yang tadinya berpendar cepat perlahan melambat ketika angka prosentase di Amnesinox terus merangkak naik. Pendaran cahaya tiga titik kuning itu melemah dan hilang sama sekali begitu angka unduhan mencapai seratus persen. Gambaran adegan yang ada di visualisasi Amnesinox kembali berubah menjadi angka-angka matrix tak beraturan.


“Auris off dari Amnesinox,” perintah Balin dan seketika visualisasi serta hologram hilang.


Prefect Pati menanggalkan sepasang kotak kecil Amnesinox dari kepala Howell dan bergumam seraya menepuk nepuk kepala pria itu, “Sekarang aku bisa tenang meninggalkanmu. Kamu tidak lagi bisa mengoceh kemana-mana tentang Terra Empire karena itu sudah hilang dari ingatanmu…”


Karena urusannya sudah selesai, Balin kemudian keluar dari ruang kerja James Howell. Si sekretaris cantik langsung menyambutnya dengan senyum cerah. Gadis itu nampak baru selesai membetulkan lipstik dan memulas kembali pipinya dengan perona berwarna merah muda, sementara aroma parfumnya tercium lebih kuat dari sebelumnya.


“Sudah selesai bertemu dengan Mr. Howell, Pak Balin?”


“Sudah! Dan rasanya dia tadi bilang kepadaku supaya kamu tidak perlu menunggunya.”


“Kenapa begitu?” tanya gadis itu kebingungan.


“Karena aku sudah minta ijin kepadanya untuk mentraktirmu kopi sebelum pulang.”

__ADS_1


Gadis itu langsung tersipu,“Benarkah?”


“Oh, kamu bisa menanyakannya sendiri kalau kamu tidak percaya…”


Balin sudah bersiap dengan Tazzer bila ternyata gadis itu memutuskan untuk masuk dan bertanya kepada sang atasan. Adanya saksi mata yang melihat James Howell dalam keadaan pingsan saat ini bukan sesuatu yang diinginkan Balin, pria itu perlu waktu sekitar lima menit lagi sebelum pengaruh dari shocker-pulsenya hilang dan sang Duta Besar terbangun kembali. Jadi apabila gadis itu masuk, sudah pasti dia akan jadi pasien Amnesinox berikutnya.


Untungnya gadis itu menjawab, “Mana mungkin saya tidak percaya kepada anda, Pak Balin! Tamu Mr. Howell semuanya adalah orang-orang terhormat. Kalau anda mau mengajak saya minum kopi, itu akan jadi kehormatan buat saya.”


“Saya yang merasa terhormat kalau gadis secantik kamu bisa langsung mengiyakan ajakan saya,” Balin tersenyum.


Ucapan itu makin melelehkan si Sekretaris yang sedari tadi memang sudah jatuh hati kepada Balin. Namun gadis itu bertanya dengan ragu, “Tapi benarkah tidak apa-apa kalau anda mengajak saya?”


Balin menyadari pandangan gadis itu pada jarinya dan tertawa, “Baru kali ini ada gadis yang menyelidiki apakah saya sudah menikah atau belum, sekedar untuk menerima tawaran minum kopi.”


Sang sekretaris jadi kikuk, terkikik geli demi menutupi rasa bersalahnya, “Hanya ingin memastikan acara minum kopi kita tidak terganggu. Anda tidak ingin diganggu oleh telepon pasangan pada saat kita sedang asyik mengobrol ditemani kopi, bukan?”


“Sebenarnya memang ada gangguan buat kita, bukan…bukan telepon pasangan…saya ada janji makan malam,” sahut Balin menghela nafas. “Tapi itu masih jam delapan malam nanti. Saat ini waktu saya masih banyak untuk nongkrong menikmati segelas kopi yang enak.”


“Saya janji akan selalu membuat anda tepat waktu…lagi pula itu memang keahlian saya sebagai sekretaris, mengingatkan agenda seseorang!”


“Aku yakin itu,” sahut Balin. “Kalau begitu ada usul di mana kita bisa mendapatkan kopi yang enak di sekitar sini, nona…?”


“Nama saya Devita.”


“Uuh, nama yang cantik! Secantik wajah pemiliknya,” Balin menanggapi dengan ekspresi terpesona yang membuat Devita makin sulit menguasai diri. Tanpa sadar gadis itu mengaitkan lengannya ke lengan Balin Pati sebelum keduanya berjalan keluar dari gedung Kedutaan Besar Australia menuju Starbucks yang ada di samping kantor Devita di Karet Kuningan Street.

__ADS_1


***


__ADS_2