
“Kurasa aku sudah selesai membersihkan semua tempat yang anda suruh, Mr. Miller…”
Fred Miller, sang petugas kebersihan sekolah menengok jam tangan yang menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh. Waktunya bagi anak itu untuk bersekolah seperti anak-anak lainnya, jadi pria itu mengambil tongkat pel dan ember yang diberikan Jordan Cross.
“Coba samakan persepsi dulu sebelum kamu kembali ke kelas. Kamu sudah menyapu kelas-kelas lantai satu?”
“Check!”
“Kantin?”
“Check!”
“Baiklah! Berarti kamu sudah melakukan semuanya, Cross!”
“Kurasa begitu, Mr. Miller!”
“Aku tunggu besok di jam yang sama.”
“Dengan senang hati, Mr. Miller!” Jordan mengangguk.
"Jangan lupa datang pukul…”
“Pukul tujuh tepat!” Jordan memotongnya dengan wajah serius.
"Yeah! Dan jangan terlambat.”
“Saya usahakan, Mr. Miller!” sahut Jordan sebelum meninggalkan pria itu.
__ADS_1
Jam delapan kurang sepuluh ketika Jordan kembali ke aula sekolah dan suasana bangunan itu sudah mulai dipenuhi beberapa siswa yang bersiap mengikuti pelajaran yang akan dimulai jam setengah sembilan. Lana belum terlihat batang hidungnya, mungkin gadis itu masih duduk menikmati sarapan di mejanya di Pippi’s Pie hingga Jordan memutuskan untuk menyusul ke sana seperti yang dibilang gadis itu bila Jordan selesai dengan piketnya.
Jordan menenteng ransel menyusuri lorong loker yang lengang ketika di ujung koridor didapatinya Allen. Anak lelaki itu ternyata tidak sendirian, dia ditemani oleh lima anak lainnya dari tim rugby. Rupanya mereka baru selesai melakukan latihan sesi pagi sehingga Allen dan teman-temannya masih memakai seragam latihan.
Allen memandang Jordan dengan sikap tengil, “Nah…nah…nah…apa yang kita temui pagi-pagi begini?” ucapannya membuat teman-temannya terkekeh. Allen menoleh kepada teman-temannya. “Menggelikan sekali, ketika kita sedang melakukan push-up, latihan keliling lapangan dan sebagainya, ada yang justru sibuk membersihkan kantin dengan tongkat pel. Apakah kamu sudah membersihkan toiletnya juga untuk kami? Karena kami hendak mandi sebelum masuk kelas.”
Karena Allen dan rombongannya terlalu banyak, juga menghalangi pintu keluar, Jordan membatalkan niatnya menyusul Lana dan berbalik. Dia tidak ingin mencari keributan dengan menanggapi ucapan Allen karena itu tidak ada gunanya. Sikap Jordan rupanya tidak bisa diterima oleh Allen, anak lelaki itu lantas berkata dengan lantang, “Hey, aku sedang bicara denganmu, anak monyet!”
Berapa anak yang ada di ruang loker cepat-cepat menyelinap pergi karena mencium keadaan yang gawat. Apalagi Jordan terus mengeloyor tanpa mempedulikan hardikan Allen, yang membuat si perundung makin panas dan akhirnya mengejar. DItariknya kerah kemeja Jordan dari belakang dan membuatnya berputar berhadap-hadapan.
“Kamu memang harus diberi pelajaran supaya tahu bagaimana harus bersikap di tempat kami,” kata Allen dengan wajah sengit, “Dan tidak ada nampan yang jadi senjatamu kali ini, bukan Cross?”
Allen mengayunkan jab ke perut Jordan. Melontarkannya sekuat mungkin karena ingin menjatuhkan lawan dengan sekali pukul. Yang terjadi berikutnya justru mengejutkan bagi Allen. Pukulannya memang mengena telak, namun dia merasakan tekanan besar berbalik melanda dirinya. Sebaliknya Jordan tak merasakan apa pun di perutnya, ada sesuatu yang sepertinya menahan tinju itu, dan itu berkat rompi ves yang dipakainya.
Pukulan Allen menimbulkan daya pantul terhadap rompi Jordan, membuatnya terguling-guling ke belakang setelah sebelumnya menabrak beberapa loker di deretan sebelah kiri hingga penyok. Teman-teman Allen terkejut melihat itu, terlebih ketika dua orang yang berdiri paling belakang sampai tertabrak oleh teman mereka yang terdorong setelah meninju lawannya.
Tidak seperti sebelumnya ketika mereka mengeroyok Jordan di kantin begitu Allen tergeletak dengan cara yang sama. Bedanya kali ini mereka tidak segera menyerang Jordan, malah saling berpandangan dengan cemas karena Allen berteriak-teriak kesakitan.
Tangan Allen yang digunakannya untuk memukul Jordan tampak bengkak mengerikan. Yang bisa dilakukan Allen adalah menjepitkan tangan di antara kedua kakinya demi mencegah ledakan rasa sakit yang menyertai saat tangan itu semakin meradang.
“Apa yang harus kita lakukan?” mereka saling bertanya dengan panik.
Jordan mengangkat ponsel dan menelepon 911, meminta ambulans untuk datang ke Lynbrook High karena tangan Allen yang bengkak macam itu harus ditangani oleh paramedis. Klinik sekolah tidak mungkin menanganinya dengan peralatan mereka yang seadanya.
Setelah mengakhiri panggilan, Jordan menatap teman-teman Allen dan berkata, “Aku sudah menelepon paramedis untuk membawa teman kalian ke rumah sakit. Tugas kalian menunggunya sampai ambulans datang, okay?”
Keributan itu mengundang perhatian beberapa orang dewasa, termasuk di antaranya Fred Miller. Ketika melihat Allen dengan rombongannya bersama Jordan, wajahnya berubah laksana polisi menangkap basah penjahat yang sedang mengulangi kejahatannya. Dia berkata dengan nada setengah menggeram, dengan seringai jeleknya yang khas, “Apa yang terjadi di sini?”
__ADS_1
Jordan menatap Miller dan memberi jawaban, “Kurasa Allen tergelincir sewaktu sedang berlari-lari di lorong. Tanpa sengaja tangannya bengkak sewaktu dia menahan tubuhnya ketika jatuh.”
"Astaga…” seru seorang guru wanita yang kemudian mendekati Allen untuk memeriksa kondisinya. “Cepat panggil petugas klinik, Mr. Miller!”
“Aku sudah menelepon paramedis supaya dia dibawa ke rumah sakit. Kurasa mereka akan datang sebentar lagi,” ujar Jordan kepada guru itu.
“Terima kasih, Jordan!” kata guru wanita itu. Dia berpaling kepada teman-teman Allen. “Dan kalian semua sebaiknya berganti pakaian. Sebentar lagi jam pelajaran dimulai, biar saya yang menjaganya sampai paramedis datang. Kalian tidak ingin dilarang bertanding Sabtu depan gara-gara terlambat masuk kelas, bukan?”
Fred Miller memandang dengan kesal, mungkin karena tidak berhasil menemukan biang keladi atau kesalahan apa pun dari keributan yang baru saja terjadi, walaupun pria itu sadar ada sesuatu yang lebih gawat dari sekedar tergelincir di lantai bilamana melihat loker-loker yang penyok. Agaknya memberikan detensi baru kepada Allen atau detensi tambahan kepada Jordan adalah sesuatu yang sangat diinginkannya saat ini. Nyatanya Jordan melenggang dengan santai.
Sebelum meninggalkan koridor itu sempat didengarnya salah satu teman Allen bertanya kepada si guru wanita, “Apakah ini berarti Allen tidak bisa bermain Sabtu depan? Padahal dia pelempar andalan kami.”
Lana yang rupanya baru datang dari Pippi’s Pie menemui Jordan di kelas Sejarah, yang menjadi kelas pertama mereka hari itu. Gadis itu bertanya begitu melihat Jordan memasuki ruangan, “Kudengar ada ribut-ribut lagi di lorong loker. Apakah itu kamu?”
“Yeah, Allen dan teman-temannya mencegatku di sana.”
“Lalu?”
“Dia terlempar setelah memukulku. Persis seperti yang terjadi pada penjahat di Machina Factory yang mencoba menembak kita di gudang penyimpanan barang-barang temuan.”
“Oh, ya?” gadis itu malah tersenyum. “Sudah kubilang kan kalau rompi itu akan melindungimu.”
“Kamu tahu ya kalau hari Senin biasanya Allen dan gengnya berlatih rugby pagi-pagi?” Jordan mengangguk-angguk paham. “Itu sebabnya kamu memberi rompi ini dan memaksaku memakainya.”
“Kamu menyukainya? Dengan sedikit modifikasi, rompi itu bukan cuma menahan atau memantulkan peluru, itu juga punya fungsi yang sama pada pukulan.”
“Aku tahu bahwa kamu memang sepintar ayahmu,” Jordan tertawa.
__ADS_1
“Yang penting Allen tidak akan berani macam-macam lagi denganmu setelah ini.”
***