
Jack Higgins dan Profesor McQueen tiba di mulut koridor menuju tangga darurat beberapa menit sebelum pintunya dibuka. Sang agen sempat memeriksa isi magasin pistolnya untuk memastikan masih banyak peluru di dalamnya untuk bertahan. Selain itu dia juga menyiapkan magasin lain di saku celananya demi bertahan satu putaran.
“Mereka datang,” bisik Profesor McQueen dengan tegang.
Kedua pria itu menahan nafas ketika dari balik pintu muncul seseorang berpakaian serba hitam dengan senapan M16 yang siap ditembakkan bilamana menemui lawan. Untungnya si agen sudah lebih dahulu mengambil posisi, dia berada pada tempat yang paling baik untuk menembak dan berlindung sekaligus.
Dari gerakannya orang itu begitu hati-hati, sepertinya hendak memastikan lebih dulu bahwa tak ada lawan yang menyerang begitu dirinya keluar dari pintu…sesuatu yang akan membuat si ******* kecewa sebab Jack sudah menunggu di mulut lorong dengan pistol teracung. Hanya saja sang agen Secret Service menahan diri sebentar untuk menembak, lelaki itu ingin melihat ada berapa orang lagi yang akan keluar dari pintu tangga darurat.
Ternyata masih ada seorang lagi menyusul, setelah orang pertama muncul dari pintu. Keduanya mengucapkan sesuatu dan saling mengangguk, mengangkat senjata mereka dan berjalan di lorong untuk memulai penyisiran.
“Tutup kuping anda, Profesor!” bisik Jack.
Setelah berkata begitu sang agen melepaskan tembakan. ******* pertama menjerit dan rubuh berlutut ke lantai dengan satu kakinya yang telak terkena bidikan Jack Higgins. Orang itu masih membalas serangan dengan dibantu temannya yang menembaki dari belakang, hanya saja karena belum mengetahui posisi Jack dan Profesor McQueen dengan tepat tembakan-tembakan mereka banyak yang meleset.
Jack berlindung di balik dinding demi memastikan mereka tidak terkena peluru nyasar. Di antara jeda tembakan pria itu beringsut dengan tubuh menempel ke lantai, mengintip situasi yang tepat untuk memberi tembakan balasan. BANG! BANG!
Dua tembakan, dua peluru melesat, dan salah satunya kembali menghajar dada ******* pertama yang langsung ambruk tanpa ampun. ******* kedua berteriak-teriak, sepertinya memanggil nama temannya yang tewas, memintanya untuk segera bangun, dan itu merupakan sesuatu yang sia-sia sebab nyawa orang itu sudah keburu meninggalkan raganya. Atau mungkin juga teriakannya adalah teriakan marah kepada Jack Higgins yang berhasil menewaskan sang rekan… entah yang mana yang benar, yang jelas Jack kembali menembak…
BANG! BANG!
******* kedua bergegas membuka pintu tangga darurat demi melindungi diri. Yang mana merupakan keputusan tepat sebab timah panas yang memburunya hanya berhasil mendarat tepat di tengah-tengah daun pintu. Si ******* dengan geram menjulurkan moncong senjatanya dari tepian daun pintu lalu membalas tembakan dengan tak kalah dahsyat.
__ADS_1
“Sial!” umpat Jack yang segera buru-buru berlindung di balik tembok persembunyian.
Keduanya saling membalas tembakan beberapa kali sesudahnya… samar-samar Jack dapat melihat bagaimana ******* kedua itu berusaha menarik mayat ******* pertama agar dapat berlindung di balik pintu darurat… sesuatu yang sia-sia sebenarnya, namun mungkin saja itu kode etik mereka untuk tidak meninggalkan rekan yang tewas dalam pertempuran.
“Keadaan kita gawat! Kalau kita tidak segera melumpuhkannya, kita yang akan kalah. Peluruku hampir habis,” Jack berkata usai memeriksa pistolnya. Ucapannya itu sangat beralasan karena manakala frekuensi tembakan yang dilepaskan olehnya berkurang, si penjahat masih bisa menembakkan senjata otomatisnya dengan seenaknya.
Saat itu terdengar raungan alarm tanda bahaya dari lantai bawah, bunyinya memang tidak terlalu keras bila dibandingkan dengan alarm pertama yang datang dari sistem bangunan, namun bunyinya yang nyaring membuat ekspresi wajah Profesor McQueen menjadi bersemangat sekaligus kuatir.
“Mereka sudah berhasil melakukan rencana pertamaku…”
“Memangnya apa rencana pertama anda?”
“Dan kamu meminta anakmu yang melakukan itu?”
“Terbukti dia berhasil, kan!” sahut Profesor McQueen. “Demi Tuhan, tidak bisakah kau melakukan sesuatu. Sebentar lagi anakku dan temannya akan sampai di tangga darurat…kalau kita belum dapat melumpuhkan orang itu, mereka akan berpapasan dengannya.”
“Aku ingin melakukan itu, Profesor! Masalahnya orang itu masih di atas angin.” Jack menanggapi.
“Sial…” Archibald McQueen menggeleng-gelengkan kepala.
Persis yang dikuatirkan sang ilmuwan, Lana dan Jordan baru saja melewati pintu masuk tangga darurat di lantai empat dan bersiap naik ketika tembakan pertama terdengar. Keduanya menengadah ke atas dan berpandangan, teriakan orang dan hamburan tembakan meyakinkan keduanya bahwa ******* itu dalam situasi terjepit walau masih bertahan di posisinya. Baku tembak terus berlangsung dan kemungkinan besar akan jadi sesuatu yang menguntungkan bagi si ******* yang bersenapan otomatis.
__ADS_1
“Para agen itu tidak bisa mendekatinya,” Jordan berbisik dekat telinga Lana.
Meski pun dentuman senjata jauh lebih keras dari suara mereka tapi jeda di antaranya akan membuat ******* di atas akan menyadari keberadaan orang lain di dekatnya bila mereka bicara dengan suara biasa.
“Kita harus melakukan sesuatu,” Lana membisik balik.
“Kamu masih membawa palu yang tadi?” Jordan bertanya dengan lirih.
Gadis itu mengeluarkan palunya dan Jordan mengulurkan tangan buat mengambil. Dia memberi isyarat agar gadis itu tidak bergerak sementara remaja itu mulai menaiki tangga. Lana terbelalak, ditariknya lengan Jordan untuk mencegahnya naik…
“Apa-apaan?” bibirnya sempat melontarkan kalimat itu, dan Jordan hanya tersenyum menenangkan dengan isyarat tangan agar Lana tidak perlu cemas dan membiarkan anak lelaki itu melakukan rencananya. Lana melepaskan pegangannya dengan berat.
Jordan menaiki tangga dengan beringsut-ingsut, tubuhnya merunduk hingga merapat dengan suluran tangga agar ******* di atas tidak keburu melihatnya sebelum dia sampai ke atas. Anak lelaki itu menjulurkan tubuh melewati sulur tangga buat melihat apa yang ada di depannya. Pada dua anak tangga terakhir, tetesan darah membanjir, rupanya merembes dari mayat pria yang tertembak di dadanya. Pantas saja ******* yang masih hidup itu histeris…
Remaja itu berpindah dengan cepat dari suluran tangga ke undakan tangga terbawah, dengan tubuh menempel di dinding, sementara tangan kanan yang memegangi palu disembunyikannya begitu rupa agar itu dapat menjadi elemen kejutan nantinya. Dia bergerak perlahan menyusuri tangga, naik dari satu undakan ke undakan lainnya. Jarak yang memisahkan dirinya dengan ******* di lantai lima itu ada dua puluh lima undakan, dan kalau dia bisa melewatinya dengan cepat maka dia bisa melumpuhkan orang itu dengan segera…
Sayangnya, baru pertengahan jalan si ******* tahu-tahu merunduk memandangi magasin yang tersimpan di pinggangnya, bermaksud mengambil magasin baru tersebut buat mengganti yang hampir kosong di dalam rumah selongsong senjatanya, dan saat itulah dilihatnya Jordan berdiri di belakangnya. Sang ******* tentunya mengenali wajah Jordan, kekagetan ekspresinya ternyata tidak dikalahkan oleh reaksi tubuhnya yang dengan cepat berbalik menghadap ke arah Jordan…
Senapan penjahat itu menyalak dengan brutal…bersamaan dengan tangan kanan Jordan yang bergerak mengayun...semburan panas api dan ledakan yang memekakkan telinga berpadu menghilangkan kesadaran Jordan Cross…
***
__ADS_1