TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
EPISODE 61 : EFEK LIMA PULUH JUTA DOLLAR


__ADS_3

Suasana Café Cellini di persimpangan Knockville dan 43rd Street di salah satu sudut kota New York tampak lengang siang itu. Meja-meja café tidak begitu banyak diisi pengunjung, hanya ada lima atau enam orang tamu saja yang saat itu tengah menikmati sarapan ala rumahan seperti roti panggang dengan selai buatan sendiri dan kopi hitam Sisilia, atau telur rebus setengah matang bersama teh chamomile.  Jenis menu yang hanya sesuai dinikmati di pagi hari. Mungkin itu sebabnya tidak banyak orang yang datang ke Café karena waktu saat itu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, dan sudah jadi kebiasaan Café itu untuk tutup selewat pukul dua belas.


Tidak ada yang ingin menikmati kopi atau teh di siang hari, orang-orang lebih memilih Burger King atau Kenny Roger untuk mencari makanan yang lebih mengenyangkan, tapi tidak bagi pria berkulit cokelat bermata juling yang duduk di salah satu sudut ruangan. Dia tengah menikmati kopinya saat pria yang baru masuk ke tempat itu menghampiri lalu menyapa, “Izmir Adulam?”


Pria bermata juling itu mendongak, “Ada urusan apa mencariku?”


“Letakkan saja pistol anda, kawan!” pria itu menenangkan sebelum duduk di hadapan si mata juling. “Karena aku juga membawa pengamanku apabila kamu macam-macam.”


Lelaki itu menepuk-nepuk mantel yang ditentengnya, ada sesuatu di bawah mantel itu dan sudah jelas itu bukan payung. Si mata juling mendengus, memasukkan pistol kembali ke tas laptop, dan menegur ketus karena si orang asing mengganggu ketenangannya, “Aku hanya punya waktu lima menit karena sebentar lagi aku harus kembali bekerja.”


“Apakah itu termasuk mencatat agenda Presiden untuk lima bulan ke depan?”


“Ada urusan apa Presiden denganku?”


“Karena aku mendapat informasi kalau anda adalah orang yang harus dihubungi bila ingin mendapatkan jadwal Presiden…” dia mendekatkan tubuhnya sebelum berbisik, “…apalagi kalau ini menyangkut lima puluh juta dollar.”


Izmir Adulam memicingkan mata, “Kamu berencana membunuh Tramp? Sudah banyak yang ingin melakukannya. Sebaiknya kamu mengantri.”


“Memang banyak yang mau melakukannya tapi hanya aku yang mampu.”


“Percaya diri sekali. Dan bagaimana kamu melakukannya?”


“Pesulap tidak akan membeberkan rahasianya, bukan? Karena kalau itu dilakukan, aksinya tidak bisa disebut ajaib lagi,” pria itu menyeringai.


“Mungkin kamu mampu melakukannya. Tapi apa yang bikin kamu berpikir kalau aku mau memberikan informasi yang kamu inginkan?”


“Itu tergantung kepadamu, apakah kamu mau dibujuk denga halus atau dengan kasar.”


“Maksudnya?” Izmir mendelik.


“Kamu berikan informasi yang aku butuhkan, imbalan lima puluh juta dollar itu kita bagi. 10-90. Tapi bila tidak…” pria itu menyerahkan sebuah manuskrip pembicaraan nomor ponsel, di mana salah satunya adalah nomor milik Izmir Adulam, yang memberi tahu bahwa Presiden Tramp sedang dalam perubahan agenda untuk mengunjungi Machina Factory dengan tanggal yang sesuai dengan hari di mana Howard Tramp diserang ******* tiga bulan lalu.


Izmir Adulam mengerti bahwa pria di hadapannya ini profesional. Bila bukti ini jatuh ke tangan polisi, maka dia akan ditangkap dengan tuduhan melakukan pembocoran rahasia negara. Ditatapnya kembali pria asing itu, “Aku mengerti maksudmu!”


“Tentu sepuluh persen dari lima puluh juta merupakan jumlah yang cukup banyak sebagai bekal pensiun sebagai agen ganda pemerintah Iran, bukan begitu Mr. Adulam?”


Pria bermata juling itu tersenyum kecil, “Anda tahu banyak tentang saya, sebaliknya saya justru tidak tahu siapa anda.”


“Nama saya Mathew Benneth. Orang-orang menyebut saya Benneth Si Penjagal.”

__ADS_1


“Ya, aku mendengar sepak terjangmu, tuan penjagal. Terutama ketika anda menghabisi istri putra mahkota Catalan tiga tahun lalu. Kudengar itu atas suruhan suaminya karena kasus selingkuh?”


“Aku tidak peduli kasus apa yang menimpa klienku. Bayarannya setara, maka kuambil.”


“Dan anda yakin bisa melewati Secret Service dalam hal Howard Tramp?”


Benneth menyeringai, “Aku berhasil menemukanmu, bukan?”


“Baiklah, aku siap membantumu bila tawarannya dinaikkan. Dua puluh persen.”


“Jangan terlalu rakus! Aku memegang ekormu,” kata Benneth melambaikan manuskrip.


“Bagaimana aku yakin kalau anda tidak akan lari dengan bagianku setelah mendapat informasi yang diminta?” Adulam berkata dengan nada menantang.


“Saya ini pebisnis, Mr. Adulam, jadi kepercayaan adalah sebuah keharusan. Ini lima ribu dollar buat uang muka, aku bahkan memberikannya dengan cuma-cuma tanpa tahu apakah informasi anda itu busuk atau tidak.”


Tangan Adulam menjamah amplop tebal itu, mengambilnya, lalu memasukkannya ke dalam tas laptop, “Senang memulai kerja sama dengan anda, Mr. Benneth!”


***


Empat bulan sejak Howard Tramp tampil di live talkshow CNN, keadaan justru semakin kacau bagi pemerintahan. Imbalan yang menggiurkan itu ternyata sungguh menarik minat bagi banyak pelaku kriminal, tidak hanya dari luar negeri tetapi juga di dalam negeri. Bagi sebagian pembenci Tramp hal itu bagai menjadi momen yang tepat untuk mewujudkan kekesalan yang terpendam dengan bentuk yang lebih konkret daripada sekedar memaki-maki di media sosial.


Serangan kepada Howard Tramp semakin menggila ketika mengetahui bahwa jumlah uang yang dikumpulkan rakyat Iran telah mencapai setengah dari yang dijanjikan, dan ini terus diumumkan oleh media timur dan oposan pemerintah. Yang paling gila adalah serangan terbaru oleh seorang gelandangan tua saat Howard Tramp sedang meresmikan pusat perbelanjaan baru milik Amazon Mart di Kentucky.


Serangan terakhir itu begitu brutal, tampaknya tidak peduli akan keselamatan banyak orang sekalipun yang diincar hanya sang Presiden. Petugas Secret Service terpaksa menembak mati si pelaku dalam usaha menghentikannya, yang sayangnya telah membuat  puluhan orang luka-luka dan tujuh orang tewas dalam aksi koboi tersebut. Seorang agen Secret Service bernama Ryan Newman termasuk yang tewas dari ketujuh korban tersebut. Dan sejak saat itu Howard Tramp tidak berani lagi muncul di area publik.


“Aku masih tak percaya agen Newman tewas,” komentar Lana ketika berita itu disiarkan lagi untuk yang kesekian kalinya hari itu.


“Ryan Newman yang kita temui di Machina Factory?” tanya Jordan setelah mengunyah suapan terakhirnya di jam istirahat makan siang.


“Fotonya sedang ditayangkan tuh.”


Jordan menoleh ke TV yang tergantung di tengah-tengah ruang makan di Pilli’s Pie. Itu memang wajah pria yang pernah bersama dengan mereka saat meloloskan diri di Machina Factory, pria yang juga ikut menaiki helikopter bersama Presiden Tramp dan Tramp Junior. Dia berkomentar setengah tidak percaya, “Astaga, itu memang dia!”


“Pria malang,” Lana menyeka ujung matanya.


“Lima puluh juta dollar itu bikin semua orang jadi gila, ya,” Jordan berseloroh. “Kapan mereka mau memakamkan Newman?”


“Dari berita tadi pagi, dua hari lagi di Queens,” jawab Lana. “Rasanya berbeda kalau yang jadi korban itu orang yang kita tahu, ya! Walaupun hanya sebentar saja mengenalnya.”

__ADS_1


“Yeah, mudah-mudahan Jack Higgins dan Bill Sandford baik-baik saja,” komentar Jordan.


“Tidak lebih baik dari Allen, kurasa…” Lana mengedikkan dagunya dan Jordan menoleh ke arah yang ditunjuk temannya.


Allen dan kedua temannya baru saja masuk ke ruang kantin, berlagak seperti tuan besar seperti biasa dengan menyuruh salah satu temannya untuk membawakan nampan makan siang karena tangan kanannya masih belum lepas dari perban. Si pengganggu menyadari keberadaan Jordan dan buru-buru berbelok untuk mengambil meja lain yang jauh dari Jordan dan Lana.


“Bagus! Sekarang aku merasa seperti sumber penyakit,” Jordan berseloroh dan Lana tertawa geli.


“Sepertinya Allen kapok dekat-dekat denganmu, bikin dia tidak dapat turun bermain ke lapangan selama empat bulan gara-gara tangannya.”


“Bukan aku yang mematahkannya!” Jordan mengangkat bahu.


“Kamu masih memakainya?” tanya Lana.


“Selalu. Sejak hari itu. Aku tidak tahu kapan teman-temannya akan membalasku.”


“Atau kemungkinan dia menyuruh teman-temannya yang pecundang itu. Baiklah, setidaknya itu akan tetap membuatmu aman.”


“Semoga saja tetap begitu keadaannya,” Jordan nyengir.


“Kudengar dari teman-temannya, gips Allen akan dilepas hari ini.”


“Bagus untuknya.”


“Kamu bekerja sampai jam berapa hari ini?” tanya Lana.


“Aku diliburkan hari ini karena besok Thanksgiving.”


“Wah, padahal aku mau ikut ke The Vinyl. Aku ingin mendengarkan piringan hitam.”


Jordan tersenyum, “Lain kali waktu saja.”


“Yeah, lain kali. Asal jangan saja alat itu sudah terjual begitu aku ingin mendengarkannya.”


“Benda itu sudah ada di sana selama enam tahun. Kurasa tak akan terjual dalam waktu secepat itu.”


“Baiklah! Kamu lebih tahu! Jangan lupa besok malam ke rumahku untuk merayakan Thanksgiving. Ajak Sally juga,” Lana mengingatkan.


“Akan kucoba,” jawab Jordan.“Meskipun aku sudah bisa menebak jawabannya.”

__ADS_1


***


__ADS_2