TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 10 : PENCULIKAN DI TAMAN KOTA


__ADS_3

Lelaki itu berlari seraya memandang jam tangannya beberapa kali…


Matahari sudah berada dalam posisi yang cukup tinggi di angkasa sehingga orang-orang yang berjoging jumlahnya tidak lagi sebanyak ketika dia baru memulai aktivitasnya satu jam lalu. Hanya tinggal segelintir orang saja yang masih ada di taman itu, dan mereka mungkin sama seperti pria itu yang agak siang memulai kegiatan beraktivitas hari ini. Meskipun terlambat dia masih bisa mendapatkan putaran terakhirnya, putaran yang kelima, mengelilingi taman kota.


Dia menyudahi olahraganya dan berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari taman. Sejenak ekspresinya menunjukkan ketergodaan untuk melipir ke kios hotdog yang ada di samping gerbang taman untuk mencicipi setangkup kecil hotdog yang baru dimasak. Sialnya dia lupa membawa dompet. Pria itu akhirnya meneruskan langkah dengan sedikit jengkel. Beberapa kali dia sempat menengok ke kios hotdog karena masih tersisa keinginan menyecapkan lidah di lezatnya daging ham yang baru digoreng.


“Memalukan,” dia terkekeh pada dirinya sendiri. “Baru juga selesai olahraga dan kamu ingin menimbun lemak.”


Pria itu akhirnya mengambil kunci dari saku celana, menetapkan hati untuk tetap meninggalkan taman, tak mengindahkan godaan hotdog yang baunya masih tercium olehnya, lalu masuk ke kursi pengemudi. Namun belum sempat dia menutup pintunya, seseorang menodongkan pistol ke pelipisnya. Spontan pria itu mengangkat tangan.


“Silakan ambil dompetku… isinya tidak banyak tapi ada beberapa dollar…atau kalau kurang kamu boleh ambil jam tanganku...” lelaki itu berkata dengan gugup.


“Buka kunci pintu samping dan belakang,” orang yang menodongnya menyahut.


Begitu melakukan apa yang diperintahkan, pria itu mengetahui kalau si penodong tidak sendirian. Temannya yang juga memakai topeng duduk di kursi depan di samping pengemudi, juga menodongkan pistol ke punggungnya. Orang yang pertama menodongnya tadi membuka pintu belakang lalu duduk di sana sebelum menutup pintu.


“Kalian mau apa?” pria itu berkata dengan suara bergetar ketakutan.


“Jalan!”


Dia tak punya pilihan lain selain menyalakan mobil lalu menjalankan kendaraan menuju ke timur seperti yang diperintahkan kedua penculiknya. Keduanya tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Hanya memberi instruksi arah yang harus diambil. Yang diketahuinya dengan jelas, rute ini membawanya keluar San Francisco. Mereka baru berhenti di wilayah hutan yang berada di kaki Rocky Mountain.


“Keluar!” kata orang yang duduk di samping.


Pria itu kembali dilanda kepanikan menyadari apa yang mungkin dilakukan kedua penculiknya di tempat sunyi seperti ini. Dia mencoba bernegosiasi, “Dengar, aku tidak tahu apa mau kalian tapi aku…”


“Diam! Keluar!” bentak orang di belakangnya.


Ketika dia keluar dari mobil, penculik yang duduk di sampingnya tidak ikut keluar seperti yang dilakukan kawannya yang duduk di bangku belakang. Orang itu tetap tinggal di dalam mobil dan mulai menggeledah semua tempat; mulai dari laci dashboard, tas olahraga yang berisi pakaian ganti dan pakaian kerja, tas kerja, bahkan sampai ke bagasi.


“پیداش کردی؟ ?” penculik yang menodongnya di luar bertanya dalam bahasa yang tidak dia mengerti.


“Kalian orang Arab?” tanya pria itu namun pertanyaannya tidak digubris oleh keduanya.


“پیداش کردی؟” orang di dalam mobil menjawab temannya seraya melambaikan tangan untuk memberi tahu bahwa sesuatu yang mereka cari tidak ditemukan. “پیداش کردی؟”


Pria yang menodongnya berpaling kepada sang korban, “Di mana kamu simpan kartu aksesmu?”

__ADS_1


“Oh, ternyata kamu bisa bahasa Inggris juga,” ujar pria itu.


Si penculik menodongkan pistol ke dahi lelaki tersebut dengan lebih keras, “Di mana kartu aksesmu?”


“Kartu apa maksudmu?”


“Kartu akses tempat kerjamu.”


“Oh…” pria itu malah ketawa. “…kalian tidak akan mendapatkannya karena di tempat kerjaku tidak ada kartu semacam itu.”


“Kenapa?”


“Karena tempat itu menggunakan yang lebih canggih dari kartu akses,” pria itu menjawab dengan sikap mencemooh. “Di sana dipakai pemindai tangan. Jadi lupakan saja urusan kalian. Lagi pula untuk apa kalian mencari kartu akses kantorku?”


“Karena kami mau masuk ke dalamnya…” sahut pria itu lalu detik berikutnya menarik picu pistolnya untuk menembak.


Pria yang diculik itu terjengkang ke belakang dengan dahi berlubang. Si penculik yang baru saja menembak berkata kepada temannya yang baru saja menutup bagasi mobil. Sang teman mengangguk kemudian mengeluarkan sebilah golok dari balik kemejanya.


***


Jordan Cross sedang mendengarkan penjelasan Mrs. Thompson, sang guru biologi, ketika pengeras suara memanggil namanya, “Mr. Jordan Cross, ditunggu kehadirannya di ruang Kepala Sekolah…”


Panggilan itu terdengar sekali lagi, “Perhatian kepada Mr. Jordan Cross. Anda ditunggu di ruang Kepala Sekolah.”


“Permisi, Mrs. Thompson,” kata Jordan yang dibalas dengan anggukan oleh sang guru.


Remaja itu melewati lorong yang lengang menuju ke ruang kepala sekolah. Anak-anak yang lain tentu masih berada di kelasnya masing-masing untuk belajar, bertanya-tanya kenapa pria itu memanggilnya dalam waktu yang demikian. Tentunya ini sesuatu yang penting. Dia sedang bertanya-tanya dalam benaknya soal alasan Kepala Sekolah memanggilnya manakala Allen keluar dari ruangan.


Anak itu tidak sendirian, dia ditemani kedua orang tuanya yang juga keluar dari ruang Kepala Sekolah setelahnya. Ayah Allen berambut kelabu dengan wajah berangasan, pakaiannya yang necis dengan merek terkenal menunjukkan kalau dia orang berada, sementara ibu Allen adalah wanita dengan dandanan yang mencolok. Entah kenapa Jordan punya dugaan kalau wajah itu hasil operasi plastik, mungkin karena bentuk dagunya yang belah serta bibirnya yang tebal tidak tampak wajar. Yang jelas buah dada wanita itu memang terlihat tidak normal karena begitu…menggelembung…


Begitu melihat Jordan, si rambut keriting itu memberikan wajah mencelanya, “Jangan pikir kamu bisa lolos, Cross!”


Ayah Allen memandangi Jordan dengan tatapan laksana melihat binatang yang menjijikkan, agaknya paham bahwa Jordan adalah orang yang membuat anaknya mendapat kesulitan dengan pemanggilannya ke kantor Kepala Sekolah hari itu. Dipegangnya bahu Allen agar anak itu segera berlalu,


“Urusan kita selesai di sini, biarkan dia dengan urusanmu. Yang penting kamu lolos.”


“Iya, Ayah!” Allen mengangguk.

__ADS_1


Jordan tidak mengerti apa maksud ucapan ayah Allen tapi dia bisa mencium ada yang tidak beres, dan buktinya terpampang ketika dia melangkah masuk ke ruangan sang pemimpin tertinggi Lynbrook High. Ternyata Sally sudah ada di sana, duduk di kursi di hadapan meja kerja Kepala Sekolah dengan wajah cemberut memandanginya.


“Anda memanggil saya, Pak Kepala Sekolah?” sapa Jordan.


“Aah, duduklah Jordan,” pria itu berkata seraya mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. “Saya juga memanggil kakakmu, Sally, karena urusan yang akan kita bicarakan ini tidak sepele.”


“Kenapa kamu melakukan itu?” Sally bertanya dengan posisi siap menyerang.


“Melakukan apa?” Jordan balik bertanya dengan tidak mengerti.


“Seperti kamu tahu, saya memang sudah menanyakan kepadamu soal perkelahian kemarin. Dan memang apa yang dilakukan Tom Allen dan kawan-kawannya keterlaluan dengan melakukan pengeroyokan atasmu. Tapi saya orang yang adil, Mr. Cross. Dan saya tidak akan berhenti mencari kebenaran dari kedua sisi, apalagi ketika saya tahu bahwa justru kamu yang memicu perkelahian itu.”


Jordan kaget mendengarnya, “Kenapa jadi saya biang keladinya? Allen dan gengnya mengerumuni saya dan Lana ketika kami sedang makan di meja kantin, dan mereka mengejek kami berdua.”


“Memang, tapi kamu memulai pertengkaran dengan menghantam kepala Allen dengan nampan makanan,” sang Kepala Sekolah menanggapi.


“Saya tidak melakukannya. Nampan itu letaknya jauh dari saya.”


“Jangan bohong, Jordan! Mr. Comb sudah memperlihatkan video CCTV. Aku melihatnya sendiri,” sela Sally.


Jordan merasa kesal dengan sikap sok tahu Sally tetapi dia sadar kalau dia tidak bisa terus ngotot dan membela diri. Nampan itu memang melayang dan menghantam kepala Allen, masalahnya dia tidak mungkin ngotot mengatakan benda itu melayang sendiri tanpa sebab. Karena itu berarti dia harus membuka kemampuan aneh yang dimilikinya, di mana dia justru tidak ingin orang lain mengetahuinya, termasuk Sally.


Remaja itu menghela nafas dengan kepala tertunduk, “Itu karena Allen bikin gara-gara. Dia mau menyakiti Lana dan saya harus menghentikannya.”


“Sudah saya duga,” sang Kepala Sekolah berkata dengan sikap penuh kemenangan. “Mungkin kamu pikir kamu berbuat baik, Mr. Cross, dan saya menghargai usahamu melindungi Lana McQueen. Tapi mengatasinya dengan berkelahi bukan jawaban bagus. Sekolah ini punya peraturan ketat untuk menindak mereka yang terlibat perkelahian, baik yang jadi pelaku atau korbannya.”


Jordan menunduk memperhatikan kedua ujung sepatunya dengan lekat saat si Kepala Sekolah melanjutkan kalimatnya, “Karena itu saya putuskan buat memberi detensi kepadamu berupa kewajiban untuk membantu Mr. Miller membersihkan sekolah selama sebulan. Itu hukuman yang adil saya rasa, daripada dikeluarkan, mengingat kamu melakukan itu untuk membela temanmu, Miss McQueen. Lagi pula saya tidak suka membuat anak-anak yang baru masuk mengalami masa sulit di tahap awal, meski terkadang mereka sendiri yang suka bikin ulah.”


Lelaki itu memandang Jordan, “Bagaimana, Mr.Cross? Kamu siap melaksanakan detensi yang saya berikan?”


“Terserah saja, Pak Kepala Sekolah,” Jordan mengangkat bahu. Mana mungkin dia dapat membantah atau menolak hukuman itu, apalagi orang ini punya wewenang serta kuasa mutlak di sekolah ini.


“Baiklah,” pria itu mengangguk. “Selain itu, alasan saya memanggil kakakmu kemari, sama seperti saya memanggil orang tua Mr. Allen, supaya Sally bisa membantumu belajar lebih disiplin dan mengendalikan diri di rumah…agar hal seperti ini tidak terjadi lagi di sekolah ini.”


“Saya akan berusaha sebaik mungkin, Mr. Comb,” celetuk Sally.


“Saya mengharapkan hal itu, Miss Cross!”

__ADS_1


***


__ADS_2