TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 6 : BERTAMBAH PECUNDANG BARU DI LYNBROOK


__ADS_3

Kelas matematika yang diikutinya barusan ternyata tidak lebih baik dari kelas sastra beberapa jam sebelumnya, apalagi karena dia memang tidak menyukai hitung-menghitung jadi untunglah dia bisa melewatinya sejauh ini, dan bel makan siang merupakan penyelamat yang dirindukan. Tinggal satu lagi kelas yang harus diikutinya setelah makan siang nanti, yakni Sejarah dan Budaya.


Jordan pergi ke kantin untuk melihat apa yang bisa disantapnya siang ini. Perutnya sudah begitu lapar karena melewatkan sarapan tadi pagi, tidak heran sebab dia terbangun saat subuh dan menghabiskan puding dari kulkas membuatnya tidak ingin makan apa-apa lagi pada saat berangkat ke sekolah pukul tujuh pagi.


Remaja itu tiba di kantin sedikit terlambat sehingga meja-meja kantin sudah dipenuhi anak-anak kelaparan yang sedang bersantap siang. Agak sedikit mencemaskan memang bila mengingat tingkat kesulitan menemukan tempat duduk dengan keadaan riuh macam sekarang tetapi setidaknya dia tidak perlu mengantri terlalu lama untuk mendapatkan makanannya. Hanya berselang lima menit, semangkok spaghetti dengan daging cincang dan limun jeruk berada di nampannya.


Sekarang bagian tersulit adalah menemukan meja supaya dia bisa duduk dan makan. Disapunya pandangan sekeliling ruangan, pada saat itulah Jordan mendapati kursi kosong di hadapan meja dimana Lana McQueen, gadis yang baru berkenalan dengannya tadi pagi, juga sedang makan di sana. Gadis itu baik, pasti Lana tidak keberatan bila dirinya duduk di meja makan itu bersamanya…


Jordan Cross berjalan senang seraya menenteng nampan, mendaftar hal-hal yang mungkin bisa jadi topik pembicaraan dengan gadis itu, misalnya di mana rumahnya, pelajaran apa saja yang diambilnya semester ini, dan tentunya pertanyaan dengan kemungkinan jawaban panjang seperti apa yang dirasakan Lana selama bersekolah di Lynbrook.


“Hai, Lana…” sapa Jordan.


Gadis itu mendongak, “Oh, hai Jordan.”


“Boleh aku gabung denganmu? Dimana-mana penuh soalnya.”


Bukannya memberi jawaban dengan segera, ekspresi Lana tampak aneh sepintas, tapi dipersilakannya juga Jordan mengambil meja itu setelah dia memandang berkeliling, “Silakan! Tumben kamu baru makan sekarang…jadwal yang mengerikan?”


“Begitulah…” jawab Jordan setelah duduk. “…kelas matematika.”


“Kurasa memang tidak semua orang suka matematika,” komentar Lana.


“Yang jelas Sastra Inggris lebih mendingan,” balas Jordan yang ditimpali tawa renyah Lana. “Dan baru sekarang aku sadar.”


“Setidaknya kamu tahu dimana kamu bikin kacaunya, dibandingkan angka-angka yang tidak jelas, bukan begitu?” ucap Lana di antara tawanya.

__ADS_1


“Kurasa begitu,” sahut Jordan.


Tawa Lana mendadak berhenti ketika lima anak laki-laki menghampiri meja dimana keduanya berada. Mereka tidak lain rombongan anggota rugby sekolah. Entah kenapa dengan tubuh yang kekar serta lebih bongsor dari rata-rata ukuran anak seusia mereka di ruangan ini, mereka seolah mendapat hak untuk mengintimidasi anak-anak lain. Anak lelaki berambut keriting yang tadi pagi menyikut Jordan juga ada di antara mereka.


Si keriting itu membuka percakapan yang rasanya akan jadi sesuatu yang tidak enak, “Halo, Lana! Aku lihat kamu berbeda sekali hari ini. Lebih ceria dari biasanya…” gadis itu pura-pura tak mendengar ucapannya sehingga anak itu berpaling pada Jordan. “…oh, rupanya dia mendapat teman baru. Bukan sembarangan lho…teman laki-laki…”


Rombongan rugby yang bersamanya tertawa terkekeh-kekeh menanggapi kalimat yang sebenarnya tidak terdengar seperti lelucon...


“Kamu sudah selesai, Allen?” tegur Lana.


“Aku baru saja mulai, Lana!”


“Kalau begitu kami yang sudah selesai. Kalian boleh mendapatkan meja ini,” Lana lalu berdiri. “Ayo kita pergi Jordan.”


Belum sempat Jordan mengangkat nampan tahu-tahu si keriting Allen sudah lebih dulu meletakkan tangannya di bahu Lana. Tidak hanya sekedar menaruh tangan di sana, jemari Allen meremas bahu kanan Lana begitu kerasnya sampai gadis itu mengernyit kesakitan, kembali terduduk ke kursi, dan merintih-rintih minta ampun.


“Lepaskan Allen…tolong…kamu menyakitiku.”


“Makanya jangan suka pergi sembarangan. Aku kan belum memberimu ijin.”


“Tidak ada yang perlu minta ijin kepadamu, brengsek!”


Si begundal Allen terkejut, menatap tak percaya pada Jordan yang amat berani berkata hal semacam itu kepadanya, “Wah…wah…pantas saja si kutu buku Lana ini jadi berani, ternyata dipengaruhi sama pacar barunya…”


“Kalau tak salah dia anak baru di sini…” seorang teman Allen menimpali.

__ADS_1


“Begitukah? Kamu membuatku patah hati dengan memilih anak baru ini dan bukannya aku, Lana…” si keriting Allen berkata dengan nada mencemooh, yang diikuti gelak tawa teman-temannya.


Melihat Lana kembali mengernyit kesakitan akibat Allen kelewat keras mencengkeram bahunya, Jordan menegurnya untuk kali kedua, “Lepaskan dia!”


“Hajar dia dan mulutnya yang kotor, Allen!”


“Nambah lagi dong pecundang baru di Lynbrook,” yang lain ikut mengompori.


Terpancing oleh provokasi teman-temannya, Allen maju menghampiri Jordan dengan tangan kanan mengepalkan tinju. Seisi ruang makan bergerak menjauh karena tahu sebentar lagi akan ada kekerasan terjadi. Jordan Cross yang bertubuh kecil dan kurus tidak mungkin lolos dari jangkauan tinju si keriting Allen. Hampir semua orang di kantin yakin anak itu akan rubuh dengan sekali tinju dari Allen.


Si keriting Allen mencengkeram kerah baju Jordan dan bersiap mengayunkan pukulan ke dagu lawan sebelum sesuatu mengejutkan dia dan kawan-kawannya. Belum sampai tinjunya mendarat, nampan di dekat Jordan tahu-tahu meloncat dan menghantam Allen. Tak ayal Allen roboh ke lantai dengan spaghetti, saus, dan jus limun bertumpahan di kepalanya. Tawa seluruh anak di kantin pun pecah, membuat si keriting Allen kelihatan begitu ***** saat terbaring di lantai. Dia tak dapat bangun sementara waktu karena kepalanya yang terhantam nampan tadi terasa nyeri bukan main.


Beberapa anak yang rupanya pernah sakit hari karena pernah jadi korban Allen dan gengnya, memanfaatkan momen itu untuk membalas dendam. Mereka mengambil ponsel dan merekam Allen yang sedang terbaring dalam keadaan memalukan itu, sebagian bahkan sempat mengirim gambar-gambar itu ke media sosial mereka. Teman-teman Allen yang tidak terima kawannya diperlakukan begitu rupa menatap Jordan dengan penuh kemarahan.


“Kamu sengaja melempar nampan itu padanya, kan?” tuduh mereka dengan seenaknya.


“Maaf…maaf…aku tidak melakukan itu…” sahut Jordan dengan wajah pucat.


Melompatnya nampan itu memang bukan ulah Jordan, dari posisi duduknya jelas tidak memungkinkan dia melakukannya, apalagi saat itu Allen tengah mencengkeram bajunya, yang berarti posisinya untuk meraih nampan terhalang. Tapi para begundal ini mana mau mengerti…


“HAAJAAAR!!!”


Entah siapa yang memberi komando, detik berikutnya tiga anak lainnya yang bertubuh bak raksasa itu menyerbu Jordan, membuatnya tersungkur ke kolong meja. Jordan meringkuk menahan sakit ketika ketiga anak itu memberinya pukulan dan tendangan berulang-ulang. Lana menjerit, meminta supaya mereka melepaskan Jordan. Suasana makan siang di kantin pun berubah kacau…


***

__ADS_1


__ADS_2