
Mobil polisi yang mengantar mereka berhenti di depan pagar sebuah rumah besar dengan lambang keluarga McQueen terpasang di depannya. Sang profesor dan Lana turun dari mobil sebelum pria itu membujuk Jordan sekali lagi, “Apa tidak sebaiknya kamu menginap di rumah kami dulu, Jordan?”
“Aku tidak mau merepotkan, Prof!”
“Sama sekali tidak. Lagi pula kami punya banyak kamar kosong.”
“Aku yakin soal itu,” Jordan tertawa seraya melirik McQueen Mansion yang berpuluh kali lipat dibandingkan flat yang ditinggalinya. Dia kemudian menunjukkan ponsel yang baru dinyalakannya saat berada di dalam mobil. “Maafkan aku, sir! Tapi sebaiknya aku pulang. Sally sudah mengirimiku berpuluh-puluh pesan dan lima belas kali menelepon, yang ternyata tidak satu pun kuangkat. Dia bisa membunuhku kalau aku tidak ada di rumah saat dia pulang nanti.”
“Aku bisa membantu menghubungi Sally dan meminta ijin kepadanya.”
“Itu membuatku semakin merepotkan,” Jordan tersenyum.
“Ah, kalau saja mobilku tidak dirusak orang-orang sialan itu…” keluh Profesor McQueen.
Opsir Jones melambaikan tangan, “Tak apa-apa, Profesor! Saya tak masalah mengantar anak ini sampai ke rumahnya. Kebetulan rumahnya searah dengan rumahku. Ada yang mau kuambil sebentar dari sana sebelum kembali ke markas.”
“Baiklah, titip Jordan, pak polisi!” perhatian Profesor McQueen terpecah saat itu ketika ponselnya berbunyi, dan begitu menerimanya Jordan mendengar pria itu berkata. “Oh, hallo… Duncan! Ya, semua sudah berakhir. Polisi berhasil menangkap semua ******* yang ada di Machina…”
Lana menegur Jordan dengan halus, “Kenapa sih kamu tidak menginap? Ini sudah lewat tengah malam.”
“Aku sudah janji pada Sally untuk pulang setelah makan malam.”
“Tapi dia pasti akan paham kalau kamu cerita soal terjebak dengan *******. ”
“Nanti dia malah melarangku berteman denganmu, gara-gara membawa pengaruh buruk…setelah perkelahian dengan geng Allen, lalu teroris…” Jordan nyengir.
Mengingat itu Lana kembali sedih, “Iya, maafkan aku, ya! Harusnya aku tak mengajakmu ke kantor daddy. Oke deh, tapi kalau nanti Sally mengomelimu gara-gara telat pulang makan malam kasih tahu aku. Nanti aku atau daddy dengan senang hati membantumu menjelaskan padanya.”
'Pasti! Thanks, Lana!” Jordan mengangguk.
“Bye, Jordan!” Lana melambaikan tangan disertai tatapan sedih, sepertinya gadis itu belum ingin berpisah dengan temannya itu.
“Sampai ketemu Senin, Lana!” Jordan membalas lambaian gadis itu sebelum mobil polisi meneruskan perjalanan membawa remaja itu kembali ke apartemennya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Jordan Cross telah berada di depan flat tempat tinggalnya. Diambilnya kunci dari mantel dan dimasukkannya ke lubang pintu. Flat itu kosong, menandakan bahwa Sally belum pulang, dan memang mustahil mengharapkan kakaknya ada di flat meskipun lewat tengah malam seperti ini, karena Jumat malam merupakan awal dari malam yang sibuk bagi gadis itu bekerja ganda di Casino sampai akhir pekan.
Yang ingin dilakukannya hanyalah tidur secepatnya. Tubuhnya masih nyeri di beberapa bagian, di rusuknya ketika terlempar dari tangga dan bahu kirinya bekas dipiting ******* yang bergulat dengannya. Anak lelaki itu yakin besok sekujur tubuhnya pasti akan dipenuhi lebam yang menghitam. Jordan mencuci muka, menggosok gigi, dan naik ke tempat tidur.
Sebelum membenamkan diri dalam selimut, remaja itu duduk bersila di ranjangnya, membayangkan kejadian kejadian yang dialaminya hari ini hingga yang paling dramatis setelah pulang dari sekolah. Tak pernah terlintas dalam benaknya yang paling gila sekalipun bahwa ia akan mengalami kondisi sedemikian gawat dan dapat lolos darinya.
‘Jadi bagaimana perasaanmu?’ suara itu mendatanginya.
“Aku merasa luar biasa…ini semua berkatmu…”
‘Bagaimana kalau kita merayakannya?’ suara itu berkata dengan ceria.
“Merayakan bagaimana maksudmu?” Jordan mengerutkan kening tidak mengerti.
‘Ikuti saja apa yang akan kunyanyikan untukmu…’
“Aku mengikutimu…” dan dari bibir Jordan meluncur senandung syahdu.
Tidak selalu indah bagi anak-anak kelinci
Kawanan hyena bukan hanya datang mengganggu
Lapar mereka, siap merobek kehidupan demi perut terisi’
Bayangan sepuluh orang ******* berpakaian serba hitam dengan topeng yang menyembunyikan wajah saat menyerbu ruang makan di acara gala muncul, memorakporandakan malam yang seharusnya menjadi malam menyenangkan bagi mereka yang diundang ke Machina Factory, dan kawanan itu memang tidak ubahnya gerombolan hyena yang lapar.
‘Mengejar-ngejar anak-anak kelinci yang ketakutan
Terserak di padang rumput demi darah, demi nyawa
Yang bertahan hanyalah mereka yang tak hilang harapan
Yang mengenal bagaimana Sang Kekuatan menjaga’
__ADS_1
Hyena-hyena pembunuh itu ingin menghabisi semua orang, dengan target utama Presiden Amerika Serikat, dan hanya satu yang mencegah mereka melakukannya, Sang Kekuatan itu sendiri, yang membuat mereka yang dikejar seperti dirinya dan Lana berhasil meloloskan diri di tingkap persembunyian di gudang perkakas kebersihan di lantai empat, sementara Profesor McQueen dan Secret Service di ruang kerja milik Duncan Tramp.
‘Gigi timah mereka berusaha meremukkan
Tapi Sang Kekuatan beri tulang-tulang keluputan
Cakar besi mereka berusaha mematahkan
Tapi Sang Kekuatan beri lengan-lengan kemampuan’
Terbayang saat dirinya lolos dari maut, ketika timah panas yang ditembakkan si ******* tertahan oleh rompi anti peluru buatan Profesor McQueen dan bagaimana itu hanya membuatnya terlempar tapi selamat. Juga ketika dirinya bergulat melawan ******* yang terlatih berkelahi di antara gas air mata di ruang kerja Duncan Tramp. Teknik memiting lawan yang laksana besi entah bagaimana gagal menundukkannya, dan sebaliknya lengan Jordan memiliki kesempatan menghantam balik lawan.
‘Manakala mangsa empuk terlolos
Dan kerumunan hyena harus kabur lintang-pukang
Padahal lapar belum selesai dengan puas
Sang lapar itu yang lantas berbalik menyerang’
Sebuah fragmen kisah yang belum pernah dijumpai Jordan ajaibnya bermain dengan sendirinya di benaknya, bagaimana dia berdiri di sebuah pintu dan mendorongnya agar membuka. Di dalam ruangan tersebut ternyata sudah menunggu dua pria yang memakai seragam yang sama dengan yang dipakai *******. Wajah keduanya tampak kusut, bahkan terlihat bengap sehabis dipukuli. Mungkin saja keduanya habis dipukuli oleh para polisi yang menginterogasi…dan memukuli penjahat yang bikin keonaran yang nyaris mempermalukan aparat hingga seluruh kota tentu menjadi suatu kepuasan tersendiri.
Jordan melihat dirinya menarik sebuah pistol, yang pada ujung pistol tersebut tersambung sebuah peredam. Tatkala sosoknya menarik pelatuk, bunyi yang keluar dari senjata itu hanya decitan, diikuti asap kelabu. Sepasang ******* yang tidak siap menyambut serangan itu tumbang dan tewas dengan lubang di dada kiri masing-masing. ‘Sang lapar’ yang dikenali sebagai bagian dari diri mereka sendiri telah memangsa para ******* itu. Dan ketika sosok itu berjalan keluar pintu, Jordan melihat sesuatu yang dikenalinya sebagai sesuatu yang hanya ada di kantor polisi…radio panggil polisi…
‘Mengembalikan lagi keindahan padang rumput bagi si anak kelinci…’
Jordan terkesiap, “Apa maksudnya ini? Apakah *******-******* itu akan mati?”
Namun suara itu enggan memberi jawab. Meninggalkan Jordan dalam tanda tanya yang tak berkesudahan, membuatnya tidak dapat tidur karena terus memikirkan apa yang baru saja tergambar di pikirannya, hingga akhirnya remaja itu memutuskan untuk menulis lirik lagu yang dinyanyikannya barusan ke buku hariannya... berharap dengan begitu kantuk segera datang…
Anehnya, bukan kantuk yang datang melainkan rasa empati, yang entah kenapa merasuk begitu dalam, bagi para ******* di luar sana yang Jordan rasa baru saja kehilangan nyawa. Meskipun orang-orang itu pembunuh berdarah dingin dan telah menghabisi banyak nyawa pada serangan di Machina Factory, tetapi mengetahui akhir nasib mereka yang tragis sungguh menyedihkan hati Jordan…anak lelaki itu tidak mampu melanjutkan menulis di bukunya, dia menangis tersedu-sedu…menangisi para ******* yang bahkan dia pun tidak tahu nama-nama mereka…
***
__ADS_1