TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 23 : RUANG RAHASIA DI LANTAI EMPAT


__ADS_3

“Kamu yakin ini tempat yang benar?” Jordan mengernyit.


Lana mengangguk, “Tidak ada tempat yang lebih benar dari ini untuk kita sembunyi.”


Gadis itu mengambil sebuah ember besar dari dalam sebuah lemari tua, meletakkannya di lantai tepat di tengah tengah ruangan, naik ke atas ember besi itu, lalu berjinjit sambil mengulurkan tangannya untuk membuka tingkap langit-langit yang ternyata menyembunyikan sebuah tangga.


Tangga lipat itu meluncur keluar begitu tingkap dibuka, menjadi semacam penghubung yang memungkinkan orang menaikinya ke atas sana. Jordan memandang takjub, “Wow, tangga apa ini?”


“Naik saja, nanti kamu akan tahu.”


Jordan menggeleng, “Wanita duluan.”


“Kamu yakin bisa melipatnya setelah kita di atas?” Lana berkata dengan  ekspresi ragu.


“Asal kita tidak lupa menarik talinya, bukan?”


“Jangan lupa menyingkirkan embernya….” Lana menghela nafas kemudian menaiki tangga duluan karena Jordan bersikukuh untuk naik belakangan.


Setelah Lana melewati ambang tingkap langit-langit yang terbuka, Jordan memasukkan kembali ember ke tempatnya semula dan mendaki tangga secepatnya karena dia mulai mendengar langkah orang berlari di luar mendekati tempat itu.


Begitu melewati ambang tingkap langit-langit, didapatinya bilik berbau apak, berdebu, dan sempit tapi masih bisa memuat mereka berdua. Bilik itu nampaknya digunakan untuk memperbaiki sesuatu yang terhubung di langit-langit, mungkin saluran udara atau pipa air, namun hanya bersifat sementara, yang terlihat dari dinding-dinding kayunya di mana tempat itu bisa dimatikan sewaktu-waktu apabila nantinya telah dipindahkan ke titik yang lebih memadai.


Lana minggir demi memberi ruang agar Jordan bisa masuk ke bilik itu. Jordan menaikkan kakinya setelah menarik tangga sampai terlipat dan menutup tutup tingkap seperti sediakala. Agar bisa muat di ruangan itu keduanya harus duduk berhimpitan dengan kaki tertekuk sampai menempel ke dada. Jordan berpaling kepada Lana dengan rikuh, “Maaf ya kalau kamu jadi susah bergerak.”


“Memangnya harus bagaimana lagi?” Lana mencibir disertai senyum masam. “Sekarang diamlah. Sewaktu-waktu mereka bisa masuk kemari.”


Bilik sempit itu tak sepenuhnya kedap suara, keduanya masih bisa mendengar benturan dan gedoran di ruangan-ruangan di dekat situ. Agaknya para penjahat itu menyisir ruangan satu demi satu, dengan detil, untuk memastikan Jordan dan Lana tidak dapat meloloskan diri. Dering alarm telah berhenti, kelihatannya para ******* sudah menemukan sumber tombol yang mengaktifkan alarm di ruang penyimpanan barang-barang temuan dan kini mematikannya.


Ketegangan kedua remaja yang bersembunyi di bilik langit-langit ruangan meningkat begitu pintu pantry dibuka. Dari sela kisi-kisi tingkap mereka bisa mengintip bagaimana ******* bertopeng itu menyelinap di celah pintu dengan senapan bersiaga. Orang itu tidak terburu-buru, mengarahkan pandangannya menyapu ruangan, sebelum kemudian menghampiri lemari perkakas dan membukanya.


Ember yang dikembalikan Jordan sebelum naik ke tingkap langit-langit meluncur keluar begitu lemari dibuka, bunyinya berkelontangan setelah jatuh ke ubin, yang tentu saja menarik perhatian teman-teman orang itu untuk berdatangan ke ruang penyimpanan alat kebersihan. Lana menoleh ke arah Jordan, memberi ekspresi sedikit menyalahkan, karena ember itu tidak ditaruh dengan benar. Jordan cuma nyengir sambil mengangkat bahu.


“Tidak apa-apa,” orang itu menendang ember dengan kesal. “Ruangan ini kosong.”


“Di ruangan sebelah juga sama,” sahut temannya.

__ADS_1


“Kedua bocah itu cepat sekali larinya.”


“Kami juga tidak menemukan keduanya di ruang penyimpanan. Tapi aku sudah matikan tombol alarm yang ternyata diaktifkan dari sana,” terdengar suara ketiga bergabung dengan kedua orang yang lain.


“Lalu bagaimana caranya anak-anak sialan itu bisa hilang begitu saja?”


“Entahlah! Ini ruangan terakhir yang ada di lantai ini, bukan?”


“Tidak ada yang lain sepenglihatanku.”


“Maksudmu kita kehilangan anak-anak itu seperti kita kehilangan Presiden dan orang-orangnya?”


Lana dan Jordan saling berpandangan ketika mendengar hal itu, keduanya menahan nafas karena tegang. Jadi benar dugaan mereka kalau orang-orang itu tidak datang ke tempat ini untuk merampok. Dengan senjata canggih seperti yang mereka sandang, tentunya membunuh orang nomor satu di Amerika jadi alasan yang lebih tepat. Dan tidak mengherankan bila harus membunuh petugas keamanan yang memergoki salah satu anggotanya yang sedang berkeliaran di lantai empat.


“Kalian pasti benci mendengar ini tapi kita kehilangan Mahmoudo juga,” suara lain menyela ketiganya.


“Apa maksudmu?” suara orang pertama terdengar kaget. “Dia mati?”


“Tewas tertembak di lehernya. Kurasa itu akibat baku tembak dengan security yang juga tewas di dalam ruang penyimpanan itu.”


“Lupakan saja anak-anak brengsek itu. Kita punya pekerjaan yang lebih penting.”


“Kamu mau membiarkan ada saksi mata hidup?”


“Mereka hanya anak-anak. Tidak ada dari mereka yang melihat wajah kita. Tidak ada yang bisa mereka buktikan dan tidak ada orang dewasa yang mau mendengar omongan anak-anak.”


“Dia benar! Saat ini mereka mungkin sedang bersembunyi ketakutan, sementara kita kehilangan banyak waktu mencari target utama.”


“Kurasa begitu. Percuma mencari bocah-bocah sialan itu, meskipun aku ingin menonjok orang yang bertanggung jawab menghantamkan pintu tangga darurat ke hidungku,” timpal pria yang lainnya lagi dengan nada geram.


“Oke, kalau begitu kita teruskan pencarian ke lantai lima.”


***


Oxville Street dipenuhi jeritan sirene tiga buah mobil polisi yang melintas dengan kecepatan menggila diikuti truk amphibi bertuliskan SWAT yang juga memendarkan cahaya merah putih menyilaukan dari lampu sirene di atas kendaraan tersebut. Cahaya sirene ikut merobek gelapnya malam, mengiringi lampu sorot di bagian depan yang menyapu jalanan agar pengemudinya bisa menentukan arah yang ditempuh dengan baik.

__ADS_1


Keempat kendaraan itu bergerak cepat dari pos polisi terdekat setelah mendapat kode bahaya dari alarm keamanan Machina Factory. Perusahaan itu termasuk perusahaan yang paling berpengaruh di San Francisco, aset berharga kota yang memberi banyak ruang kerja bagi warga dan juga dukungan dana bagi aktivitas senat. Tidak heran apabila Walikota sendiri yang memerintahkan kepolisian untuk menjaga keamanan Machina Factory sebagai prioritas nomor satu.


Oleh karenanya tidak heran bila dalam sepuluh menit kemudian, keempat kendaraan itu memasuki gerbang utama dan parkir di halaman Machina Factory. Sepuluh pria tegap keluar dari truk SWAT, sementara enam lainnya dari mobil SFPD, lantas bergabung dengan petugas keamanan Machina Factory. Polisi berpangkat Letnan menemui Kepala Petugas Keamanan yang juga sudah berada di halaman untuk meminta gambaran tentang situasi di dalam pabrik.


“Kamu bilang Presiden ada di dalam sana?” si Letnan polisi terkejut bukan main usai mendengar seluruh kondisi dari pria di hadapannya. Penyerangan ini jauh lebih serius dari yang dikiranya.


“Atas undangan Mr. Tramp junior,” jawab sang Kepala Petugas Keamanan.


“Bagaimana dengan Secret Service? Mereka pasti ada di sana saat ini.”


“Pantauan kami lewat kamera, para penjahat sudah menghabisi hampir semuanya.”


“Sejauh ini kami belum menerima permintaan tebusan, entah karena para ******* memang ingin membunuh Presiden tanpa repot memikirkan tebusan atau Presiden berhasil melarikan diri.”


“Selama *******-******* itu masih tinggal di dalam gedung, besar kemungkinan Presiden masih hidup,” kata Kepala Keamanan. “Mereka pasti akan kabur bila mereka tak menginginkan tebusan, bukan?”


“Pemikiran bagus,” puji sang Letnan. “Kalau begitu, sedapat mungkin kita segera masuk dan mengamankan gedung.”


“Itu yang sedang kami usahakan sebelum kalian datang…hasilnya…”


Polisi itu menengok ke arah yang ditunjuk, tak jauh dari tempat mereka berada puluhan petugas keamanan sibuk menggotong beberapa temannya yang terluka parah. Pantas saja tadi terjadi semacam keributan sebelum dia dan polisi yang lain tiba di tempat ini, rupanya Kepala Petugas Keamanan memerintahkan anak-anak buahnya buat menyerbu ke dalam bangunan, dan akibatnya mereka benar-benar dibantai oleh para ******* yang lebih berpengalaman dalam bertempur…


“Seharusnya anda tidak bertindak sebodoh itu, Chief!” komentar sang Letnan. “Anda membahayakan anak buah anda sendiri.”


“Aku menyerahkan sisanya kepada anda, Letnan!” si Kepala Petugas Keamanan berkata.


“Jangan kuatir,” si Letnan mengangguk. “Kami akan menyelesaikannya segera.”


Si Kepala Security Machina Factory pun memberi perintah kepada anak buahnya lewat alat komunikasi, “Suruh anak-anak mundur. Tim SWAT sudah di sini.”


“Yes, sir!” sahut anak buahnya dari alat komunikasi.


“Baik, Letnan Mills. Apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Adakah saluran komunikasi ke gedung itu supaya aku bisa berkomunikasi dengan para ******* itu? Aku harus memastikan Presiden aman lebih dahulu…”

__ADS_1


***


__ADS_2