
“Ayo, Mr. Presiden,” Jack Higgins berkata kepada si pemimpin negara setelah helikopter mendarat dengan sempurna dan dirinya mendapat kontak dari helikopter bahwa pilotnya memang ditugaskan untuk menjemput Presiden. “Kami akan membawa anda kembali ke DC. Air Force One sudah menunggu di LAX.”
“Tepat pada waktunya,” Bill berkomentar dengan wajah gembira.
“Siapa saja yang bersamaku?” Howard Tramp lalu bertanya.
Jack menjawab sigap, “Bill dan Ryan, Mr. Presiden! Aku tinggal di sini buat memantau keadaan sampai selesai, juga sambil mengumpulkan informasi dari polisi siapa *******-******* itu sebenarnya.”
“Begitu? Yeah, Bill boleh tinggal. Aku akan pergi bersama Ryan dan Duncan.”
“Tapi…”
Howard Tramp menggeleng lalu memotong protes Jack Higgins, “Jangan membantahku, Jack! Aku tidak akan pergi kemana-mana tanpa anakku.”
Jack menatap tak percaya mendengar jawaban konyol atasannya, Presiden Tramp… namun pria tua itu malah menatapnya balik dengan tidak kalah gertak…
“Apakah itu tidak akan jadi masalah buat ayah? Itu fasilitas kepresidenan, kan?” Duncan bertanya dengan ragu. Jawaban ayahnya membuat suasana antara dirinya dengan ketiga agen Secret Service menjadi tidak enak. “Aku bisa menunggu sebentar karena SFPD saat ini sedang mengirim mobil kemari buat menjemputku dan Profesor.”
“Aku belum tenang jika kamu belum pergi dari sini,” Tramp Senior berkata dengan wajah memelas namun nadanya tegas. “Semua ayah pasti berusaha menyelamatkan anaknya manakala dia punya kesempatan melakukannya. Profesor pasti memahami hal ini, ya kan Profesor McQueen?”
Profesor McQueen sadar itu memang yang dikatakannya di ruang kerja Tramp Junior ketika dirinya bersikeras menolong Lana di lantai empat, karenanya pria itu menjawab pendek, “Kurasa demikian.”
“Ikutlah denganku ke helikopter itu…mau sekarang denganku atau nanti dengan mobil polisi sama saja, kan? Kamu bisa turun di LAX kalau kamu mau. Nanti Ryan akan mengantarmu kembali ke rumahmu. Begitu kan, Ryan?”
Ryan Newman tergagap mendengar permintaan mendadak tersebut namun tidak punya jawaban lain, “Apa pun yang anda mau, Mr. Presiden.”
__ADS_1
“Baiklah, Ayah…kalau memang begitu…” sang anak akhirnya berkata. Duncan Tramp merespon seolah keputusan itu dilakukan karena dirinya tidak punya pilihan lain, walau Jordan sempat melihat sekilas kelegaan di raut lelaki itu karena bisa segera meninggalkan tempat tersebut. Buat menutupi egonya, si pemilik Machina Factory berkata kepada Profesor McQueen. “Tolong kabari aku bagaimana perkembangan di sini, Profesor! Ponselku stand by 24 jam!”
Jack Higgins tidak punya pilihan selain mengangguk dan mempersilakan pasangan ayah dan anak itu melangkah cepat menuju helikopter yang telah menanti. Sebentar lagi keduanya akan segera meninggalkan tempat tersebut, sementara di dalam bangunan para ******* masih ngotot mencari Presiden Tramp.
Jordan mendengar Profesor McQueen bergumam pelan, “Melimpahkan segala sesuatu ketika kondisi sulit, seperti biasanya kelakuanmu kan, Duncan…”
Pria itu benar, bukan Duncan Tramp yang sebenarnya tidak punya pilihan dalam hal ini, melainkan ayah Lana yang tidak punya pilihan bila kondisi terburuk terjadi... Jordan menyadari, di dalam Machina Factory beberapa tamu yang menyaksikan presentasi teknologi terbaru karya Machina Factory tentu hadir atas undangan Duncan Tramp, dan sekarang mereka semua menjadi tanggung jawab Profesor McQueen karena sang tuan rumah melarikan diri.
Jordan ingat suatu pepatah yang pernah dibacanya, dalam situasi yang kacau seseorang yang berada di posisi lebih rendah tidak akan pernah bisa mengelak dari kegentingan…bawahan tidak pernah punya pilihan… sementara di situasi yang manis, seseorang yang berada di posisi tinggi akan mengambil semua keuntungan bagi namanya... itu sebabnya Profesor McQueen tidak senang berada di situasi seperti sekarang…dia tidak punya pilihan…
Sama seperti halnya Carl Trish yang tidak punya pilihan, si petugas keamanan berwajah lugu itu juga dibawa si pemimpin ******* ke lantai lima. Sesampainya di sana, Carl diperhadapkan dengan kerusakan yang dilakukan para ******* pada pintu ruangan milik Duncan Tramp.
“Orang-orang bodoh… apa yang telah kalian lakukan?”
Sempat ada rasa kuatir meski program pembuka pintunya dapat diaktifkan, kondisi penyok pada pintu baja akan membuat pintunya macet atau tidak mudah bergeser begitu saja. Untungnya kekuatiran Carl tidak beralasan sebab setelah memasukkan kode akses program otorisasi lewat jaringan yang ada di tablet, pintu itu perlahan membuka, meskipun ada sedikit bunyi mendecit yang menandakan adanya kerusakan di bagian rodak penggeraknya.
Para ******* bergegas masuk lalu berkeliling ke seluruh penjuru ruangan, memeriksa dengan seksama, yang tentunya tidak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa ruangan itu kosong. Tak ada siapa-siapa di sana. Semua orang, termasuk Presiden, telah melarikan diri dan mereka terlambat sekian lamanya.
“BANGSAT! *******!” si pemimpin ******* memaki kesal kemudian menembaki layar monitor demi melampiaskan kekesalannya.
“Katakan di mana mereka?” kata si pemimpin itu seraya mengalihkan pandangannya ke Carl Trish setelah puas menembaki seisi ruangan hingga beberapa perabotan hancur berantakan.
“Mana kutahu!” sahut Carl Trish pucat pasi. “Kamu kan memintaku membuka pintunya, bukan mencari mereka.”
“Boss…” salah satu anak buahnya yang baru saja keluar melambaikan tangan.
__ADS_1
“Ada apa?”
Orang itu menunjuk sebuah benda yang mengapung di udara dan perlahan-lahan turun di titik yang berjarak lima puluh meter dari kerumunan polisi. Helikopter itu bukan hanya tampak bercahaya dengan banyaknya lampu yang terpasang di sekujur sisinya, tapi juga sangar dengan senapan mesin kaliber besar yang terpasang di ujung masing-masing sayap pendeknya, ditambah lagi dengan tiga buah peluru kendali di bagian bawahnya.
“Apache…” ujar si pemimpin ******* yang segera mengenalinya.
“Hendak menjemput Presiden mereka?”
“Menjemput siapa lagi, *****! Menjemput nenekmu?” si pemimpin membentak kesal mendengar celotehan itu. “Seseorang berikan aku teropong…aku perlu teropong…”
Lewat teropongnya yang mampu menembus pekatnya malam, berkat fitur inframerah di lensanya, orang itu dapat lebih jelas melihat helikopter canggih itu. Pilotnya hanya sendirian di dalam kabin, menunggu dengan gelisah kedatangan empat orang yang berjalan menuju ke arahnya.
Tidak terlalu sulit mengenali satu dari keempat orang itu sebagai Howard Tramp dari rambut dan cara jalannya. Sementara beberapa pria yang bersamanya jelas para pengawal sang Presiden yang membuat anak buahnya gagal melaksanakan misi ini. Dibantingnya teropong ke lantai hingga hancur berantakan sebelum kemudian berteriak kepada semua anak buahnya yang ada di situ, terutama kepada kedua anak buahnya yang gagal memburu Presiden.
“Tolol kalian semua! Lihat apa yang ada di sana…mereka berhasil mengeluarkan pemimpin sialan itu sebelum kita membunuhnya.”
“Berarti misi kita gagal?” salah satu anak buahnya menanggapi dengan nada kecewa.
Sang komandan kesal mendengar pertanyaan bodoh sang anak buah, “Tidak kalau aku bisa menghentikannya!”
“Tapi mereka sepertinya sudah bersiap tinggal landas, boss!”
Si pemimpin mengacuhkan hal itu dan berkata, “Berikan aku walkie-talkienya…”
***
__ADS_1