TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 49 : ERUPSI ANAK KRAKATAU


__ADS_3

Laporan yang dikirim Constable Valdano cukup melegakan bagi Mr. Janus. Keberhasilan SFPD membekuk gerombolan ******* di Machina Factory dan bagaimana Abel Felaini sudah diperingatkan agar tidak memperkeruh suasana dengan pemberitaannya, merupakan misi yang diselesaikan dengan baik karena tanpa melibatkan keributan yang tidak perlu.


Seperti yang diperkirakannya, ******* yang berusaha menyandera Howard Tramp adalah orang-orang suruhan Shah Iran. Bukti pembicaraan Abel Felaini dengan si ******* bernama Amir Bin Khalif dan artikel yang ditulis oleh si wartawan itu menjadi dasar baginya untuk kemudian melanjutkan informasi itu kepada Prefect Cointa. Dia berharap wanita itu bisa lebih tegas lagi menegur pemimpin negara yang berada di wilayahnya tersebut.


Clementine Cointa segera memberi balasan berupa pesan teks pada Auris,


‘R√ Ini bagian dari perintah Shah Iran yang lalu,’


‘R√ Sewaktu dia bilang padaku hendak membalas kematian Jenderal Sulaimandi dan hancurnya benteng Abadan,’


‘R√ Tidak bisa menyalahkannya. Dia memberi perintah itu sebelum bertemu denganku,’


‘R√ Syukurlah kalau dia gagal membunuh Tramp,’


‘R√ Kalau Shah bertingkah lagi, aku akan turun sendiri memberi pelajaran padanya,’


Mr. Janus tersenyum kesal melihat reaksi Prefect Cointa. Wanita itu memang selalu reaktif, dalam artian sedikit membela diri, menghadapi hal-hal macam ini. Dibalasnya pesan wanita itu dengan jawaban singkat,


‘S√ Sebaiknya begitu,’


‘S√ Pastikan dia tidak bermuka manis di depanmu saja,’


Informasi tambahan dari Valdano sebenarnya menarik tapi karena suksesnya misi demi menjaga kedamaian dunia jadi perhatian utamanya, Mr. Janus hanya membaca sekilas saja, dan segera menyimpannya ke folder file di memori Auris ketika dirasakannya getaran itu. Walaupun getaran itu terjadi sekelebatan, air di dalam gelas minumnya bergoyang. Membuat Mr. Janus sadar bahwa getaran tadi berasal dari dasar bumi, yang cukup dalam letaknya.

__ADS_1


Bila ada getaran tanah yang sampai menimbulkan efek seperti itu di wilayah ini, maka kemungkinan besar pusat gempanya berada di Selat Sunda. Baru saja terpikir olehnya soal Selat Sunda, Aurisnya menerima pesan dari Balin Pasi yang minta agar dirinya menemui lelaki itu di kaki Gunung Krakatau sesegera mungkin.


Permintaan yang tidak mungkin diabaikannya, apalagi bila datang dari Balin. Lelaki itu menuju ke Ruang Transporter yang berada satu lantai dengan ruang kerjanya setelah memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengaktifkan mesin. Hanya beberapa menit berada di dalam tabung Transporter, Mr. Janus sudah berpindah ke tempat yang dikehendakinya di kaki anak Gunung Krakatau.


Sejauh mata memandang, pulau yang menjadi landasan anak Gunung Krakatau itu dipenuhi batu karang dan pasir kelabu yang merupakan bekas abu vulkanik dari magma yang mengendap dari ratusan, bahkan mungkin juga ribuan tahun lamanya. Tumbuh-tumbuhan berupa gulma dan semak-semak ilalang tumbuh subur di bagian yang telah mengeras selama ribuan tahun, tapi wilayah yang masih baru puluhan tahun dilanda terjangan vulkanik masih berupa lahan tandus menghitam.


Mr. Janus segera mengeluarkan sapu tangan demi menahan bau yang menggantung di udara, itu adalah bau belerang dan amoniak yang dapat membuat pingsan siapa pun yang tidak terbiasa olehnya. Sengatannya sungguh menusuk hidung, kesiur angin laut yang berhembus dari timur semakin menambah sesak nafasnya.


Jadi inilah hal yang sering dihadapi Balin demi menjaga bagian bumi di sebelah sini dari keruntuhan. Bukan sesuatu yang menyenangkan, namun bila ini tugasnya maka dia tentunya sudah terbiasa dengan sesuatu semacam ini. Lelaki itu pantas diberi penghargaan, pikir Mr. Janus.


Sebaliknya Mr. Janus berharap dirinya tidak terlalu lama berada di situ. Sayangnya orang yang dicarinya belum kunjung kelihatan batang hidungnya hingga tidak mungkin dia pergi begitu saja. Oleh karena itu dia mengirim pesan lewat Auris,


‘S√ Aku sudah di Krakatau, Di mana kau?’


‘R√ Tunggu sebentar lagi,’


Meskipun saat itu angin tak berhembus, permukaan laut mulai berputar pada arah jam dua dari posisinya. Ketika goncangan bumi makin mengeras, arus air yang berputaran tersebut seperti amblas ke dasar laut sebelum berlanjut dengan fenomena di mana permukaan air membentuk semacam parit, yang terus membelah dari lubang di tengah tengah lautan tadi hingga ke tepian pantai di mana Mr. Janus berada.


Belum juga air laut yang membentuk pecahan parit tadi lenyap, terdengar desisan keras, laksana desisan cerobong asap kapal uap, hanya saja lebih keras dan mengerikan. Anak Gunung Krakatau mendadak meletupkan asap yang tidak hanya berbentuk gas melainkan juga dimuati debu dan material padat. Semburannya mengangkat apa yang ada di dalam perut gunung, yang kemudian membentuk awan tebal yang menggantang beberapa meter dari ujung gunung tersebut di udara.


Langit yang tadinya dipenuhi cahaya mentari berubah menjadi langit kotor di mana awan yang padat dan bersuhu panas itu bukan hanya membuat temperatur di sekeliling tempat itu naik seketika, melainkan juga semakin membahayakan bagi makhluk hidup yang masih berada di sekitar. Belum lagi lahar cair yang mulai menyeruak dari bibir gunung dan siap untuk ******* daratan dengan cairan berapi.


Anak Gunung Krakatau meletup sekali lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya, dan tampaknya untuk penghabisan. Lahar yang mengikuti letupan tadi memuntahkan bukan hanya gas asap belerang tapi juga sosok manusia yang meskipun awalnya hanya sebagai sesuatu yang samar, namun lama-kelamaan menjadi nyata. Sosok manusia itu melayang di udara dengan ringan, lengan kanannya yang teracung ke atas menggenggam benda yang memendarkan lidah api dan benda itu sepertinya menjadi penahan yang membuat orang itu dapat turun perlahan lahan dengan lembut di udara.

__ADS_1


Tubuh dan wajah manusia ajaib itu dipenuhi debu vulkanik namun begitu mendarat di tanah, sosok pria tersebut dikenali Mr. Janus sebagai Balin Pati, Prefect Archipelago Territory. Di tangan pria berambut panjang sebahu itu tergenggam keris berlekuk tujuh sepanjang tiga puluh lima sentimeter yang masih memancarkan lidah api dari bagian pangkal ke ujungnya.


“Jangan kuatir, Nagasasra sudah mengendalikannya. Guncangan itu sebentar lagi akan berhenti sepenuhnya,” tegur Prefect Pati seraya menunjuk kerisnya lalu menabik. “Heil Terra!”


“Heil Terra!” Mr. Janus balas menabik. “Kamu sudah mengalirkan semuanya?”


“Kurasa begitu.”


“Apakah masih akan ada kemungkinan susulan?”


“Tidak. Tapi bukan itu yang kukuatirkan saat ini. Aku tidak tahu sampai berapa lama cara ini masih dapat bertahan,” Prefect Pati memasukkan kembali keris ke dalam sarung.


“Seberapa parahkah keadaan di dalam sana?”


“Kamu lihat bagaimana aliran air laut tadi terpotong?”


Mr. Janus mengangguk, “Kupikir berikutnya akan terjadi tsunami.”


“Bisa demikian bila aku terlambat. Skala di dalam sebenarnya mencapai 7 skala Richter.”


Mr. Janus terbelalak mendengar itu, “Mengerikan sekali!”


“Bukan cuma itu,” Prefect Pati melanjutkan, “Aku sempat melakukan pemetaan secara menyeluruh sebelum anda datang. Mau kutunjukkan padamu di hologram?”

__ADS_1


“Boleh! Kirimkan ke Aurisku sekarang.”


***


__ADS_2