
Di dalam ruang kerjanya yang mewah, Mr. Janus tengah berdiam diri memperhatikan layar hologram dari komputernya. Menyimak informasi yang baru saja datang dari Baghdad. Benteng itu rata dengan tanah setelah dihantam Jathrib 35, peluru kendali andalan Iran, yang mampu meluluhlantakkan target dalam jarak lebih dari seratus kilometer. Diperkirakan empat ratus orang prajurit dalam benteng itu tewas seketika. Dan ternyata yang tewas bukan hanya orang Amerika saja tapi juga ada beberapa prajurit Irak yang ikut bekerja sama di benteng tersebut.
“Ya, Tuhan…” desis Mr. Janus sambil mengelus-elus dahinya.
Persis peringatan dari Clementine Cointa, perseteruan ini tidak akan selesai dengan mudah. Sikap Shah Iran yang tidak lagi mengindahkan sang Prefect yang memimpin wilayahnya dengan melakukan serangan balasan macam ini akan menjadikan suasana bertambah panas. Apalagi tewasnya prajurit yang bukan hanya berasal dari Amerika bisa memicu potensi merambatnya keributan ini ke negara-negara lain.
Dari sudut pandang penguasaan Mainland Teritory, Shah Iran terlalu angkuh karena tidak menganggap perempuan sebagai pemimpin mereka, tapi itu tidak bisa disalahkan karena Mr. Janus juga merasa Hector Pustin, pemimpin Rusia, dan beberapa pemimpin lain di Timur Tengah menganggap perempuan sebagai kaum kelas dua. Clementine masih banyak bersikap baik pada mereka. Dari sudut pandangnya sang Prefect Mainland Territoy masih amat lembek. Ada baiknya wanita itu menunjukkan sikap keras sesekali agar pria-pria brengsek yang memimpin negara dalam wilayahnya berhenti bertingkah.
Namun Mr. Janus juga tidak menyalahkan kondisi ini sepenuhnya kepada Clementine atau pun Shah Iran sebab yang memulai serangan adalah Howard Tramp. Lagi-lagi ucapan Clementine Cointa ada benarnya, dia harus segera menemukan orang untuk mengisi posisi Prefect Atlantic Territory, bila tak ingin kekacauan yang diakibatkan kekosongan kepemimpinan ini semakin merebak ke segala penjuru wilayah Atlantic, juga ke wilayah lain.
Mustahil menyerahkan segala urusan untuk diselesaikan sendiri olehnya. Posisi sebagai Heir-Cezar mengharuskannya berpindah-pindah ke segala penjuru bumi untuk memastikan kendali dan pengaturan berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, tanpa seseorang yang ditunjuk sebagai Prefect yang bermukim dan menetap di wilayah kendali, pengawasan pasti berjalan timpang.
Beberapa kali pelajaran akibat kekosongan atau keterlambatan pengisian posisi Prefect ini harus diterimanya, yang mana itu juga ikut mengubah sejarah dunia. Salah satu contoh kesalahan itu terjadi di wilayah Avrupa Territory, sebelum Sylvester Borje ditemukan sebagai Prefect Avrupa, Hitler menguasai hampir seluruh daratan Eropa dengan kekuatan Nazi dan tank-tank perangnya. Orang gila itu bahkan nyaris menyeberang ke Mainland bila tidak segera dihalau Rusia dengan bantuan Clementine.
Masalahnya, menemukan calon Prefect tidak semudah yang dibayangkan. Para Prefect seperti Clementine atau Sylvester mana mengerti soal algoritma yang tengah dikerjakan BECK, Binary Enigma to Construe Kingpin, selama hampir lima tahun ini. Memilih Prefect yang tepat di antara tujuh miliar orang itu bukan hanya bagai mencari jarum di tengah tumpukan jerami, mungkin perlu ditambahkan tumpukan jeraminya di dalam sebuah gudang seluas stadion sepak bola.
Masih membekas dalam ingatannya bagaimana Clementine merupakan hasil dari periode pencarian terlama. Sekitar dua puluh lima tahun mereka harus menunggu. Dan saat hasil pencarian muncul di layar BECK itu membuatnya keheranan…
__ADS_1
Seorang gadis. Itu pilihan yang tidak biasa. Sebuah anomali, begitu istilah mereka menyebutnya. Apalagi gadis itu harus memegang kendali atas wilayah yang anti feminis, namun itulah perhitungan algoritma dari banyak faktor yang dimasukkan ke dalam mesin pengolah data BECK, dan bila Clementine Cointa keluar sebagai hasil akhirnya maka memang dialah orang yang terpilih. Terbukti Clementine masih bertahan sampai hari ini di tempatnya.
Teringat akan hal itu Mr. Janus keluar sejenak dari ruang kerjanya menuju ke ruangan di lantai dasar dimana BECK berada. Lelaki itu berdiri sejenak di depan ruang BECK dan setelah sensor pintu memindai retina matanya, pintu itu pun terbuka. Walaupun tidak sedingin ruang transporter, ruangan BECK cukup membuat siapa pun yang tidak terbiasa akan menggigil di dalamnya.
Sebuah super komputer yang dibangun dengan bobot sekitar satu ton dengan sistem yang kompleks dimana di dalamnya terdapat data pribadi dari tujuh milyar individu di seluruh bumi. Data yang sangat sensitif itu tidak dimasukkan ke dalam Cloud seperti yang dilakukan pada era yang disebut modern oleh manusia jaman ini karena penyimpanan massal sangat rentan untuk bocor. Oleh karena itu pengolahan mandiri perlu hardware khusus dan sistem yang telah dibangun sejak ribuan tahun ini tidak pernah punya masalah dalam operasionalnya.
Diamatinya dengan takjub serangkaian titik yang saling menyatu lalu terpisah berulang-ulang, serangkaian angka yang silih berganti menghasilkan kemungkinan prosentase besar serta kecil, proyeksi wajah dari orang-orang asing yang tidak dikenalnya di luar sana baik dari wajah anak kecil atau orang dewasa, lalu pria atau wanita. Artifical Intelligent yang tidak kenal lelah bekerja dan menjadi harapan umat manusia di segala penjuru dunia.
Sejauh ini BECK sudah menghasilkan prosentase tertinggi pada satu wajah, cuma nilainya masih di kisaran tiga puluh lima persen, angka itu belum cukup besar sebagai representasi nilai keluaran yang diminta yakni sembilan puluh sembilan persen. Mr. Janus berharap bukti serta perhitungan yang dikumpulkan BECK akan meningkatkan keyakinan atas pilihannya yang satu ini dalam waktu yang tepat. Sebuah percikan kecil di menit enam puluh dua, detik ke tiga puluh delapan mendadak menarik perhatiannya.
“Nah…nah…apa yang kamu dapat?”
Layar hologram membuka gambar yang merupakan tangkapan cuplikan sebuah kejadian di suatu tempat di luar sana, di sebuah kantin sekolah tepatnya, di mana segerombolan anak sedang mengurung seorang gadis remaja dan teman laki-lakinya. Mungkin keduanya tidak sengaja duduk di meja yang jauh dari anak-anak lainnya, dan itu membuat keduanya jadi incaran empuk.
Mr. Janus bisa menebak apa yang terjadi berikutnya. Kejadian konyol yang biasa terjadi di sekolah mana pun, dan benar saja, keributan mulai terjadi saat si anak berambut keriting mencengkeram bahu si anak perempuan dan temannya tidak terima. Adu mulut terjadi dan si rambut keriting pun menghampiri teman si perempuan, tinjunya yang terkepal siap digunakan untuk merobohkan anak yang berlaku bak pahlawan kesiangan tersebut.
Yang membuat pria itu tidak dapat melepas pandangan dari layar hologram itu adalah pada saat si rambut keriting tersungkur ke lantai, beberapa saat setelah mencekal leher remaja lelaki bertubuh kurus itu dan nampan di hadapan si gadis terangkat dengan sendirinya dari meja lalu terbang menghantam kepala si penyerang berambut keriting.
__ADS_1
“Apa itu tadi?” dia bergumam dalam hati.
Bagaimana anak remaja itu ditendangi oleh kawan-kawan si rambut keriting tidak lagi menarik perhatiannya. Dia berdiri dan dijulurkannya telunjuk untuk memutar ulang gambar serta memperlambat gerakan saat memainkannya kembali. Matanya lekat pada nampan yang terangkat dari meja, inci demi inci, tanpa seorang pun menggerakkannya sebab posisi semua orang tidak memungkinkan untuk itu.
Nampan itu terangkat ke udara, bukan tanpa kesengajaan sebab benda itu jelas-jelas mengarah ke anak rambut keriting. Kepala menjadi sasarannya untuk menghentikan bocah berambut kriting itu dari meneruskan aksi kekerasannya. Hantaman nampan itu bukanlah hantaman asal. Hantaman itu cukup keras untuk bisa membuat si perundung terduduk ke lantai. Dan bagaimana hal itu bisa terjadi…
Pria itu mengelus-elus janggut kelabunya, “Hmm… aneh…tapi menarik…”
Beberapa detik kemudian BECK mematikan layar hologram dan kembali pada aktivitas perhitungan prosentase sebelumnya, bersikap seakan percikan tadi layaknya meteor. Melintas cepat di kegelapan angkasa bukan sebagai sesuatu yang penting tapi indah buat diperhatikan sejenak. Mr. Janus merasa hal itu merupakan sesuatu yang tidak boleh dilewatkan. Dia ingin mempelajarinya lebih jauh, karena itu diberikannya perintah baru.
“Simpan catatan video rekaman menit enam puluh dua, detik ke tiga puluh delapan sampai empat puluh enam.”
“Tersimpan,” balas BECK.
“Terima kasih, Beck!” Mr. Janus menanggapi.
“Sama-sama, Mr. Janus.”
__ADS_1
Pria itu menekan tombol di telinganya ketika Auris berdengung. Ada pesan masuk dari sekretarisnya, mengingatkan janji makan malam sekaligus rapat yang sudah diundur-undurnya dari dua minggu lalu.
***