TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
EPISODE 54 : BAGAIMANA KAMU BISA TAHU TEMPATKU?


__ADS_3

Dua hari berlalu dan pikirannya begitu tenang… tanpa suara-suara yang menggelayut di hatinya… berkata kepadanya tentang ini-itu… sayangnya keadaan tersebut justru membuat Jordan dipenuhi tanda tanya selama dua hari itu, walaupun dia akhirnya mengetahui nasib para ******* di kantor polisi pada akhir pekan kemarin dari Lana.


Gadis itu tiba-tiba saja muncul di depan apartemen Jordan pagi-pagi benar, di saat Jordan tengah menikmati omelet dan sosis sebagai sarapannya, ditemani Sally yang mengomel panjang lebar soal akhir pekannya yang buruk karena tip yang terlalu sedikit yang ia terima dan bagaimana pelitnya para tamu yang akan membuat keadaan mereka seminggu ke depan akan sulit.


“Dengan apa yang kudapat, jangan salahkan kalau aku hanya bisa memberimu sarapan mewah macam itu hari ini.”


“Aku sudah terbiasa makan sehari sekali kalau kamu mau,” Jordan berkomentar kepada sang kakak yang baru menaruh panci dan membawa piring sarapannya ke meja.


“Kamu tahu apa yang kubutuhkan? Kamu membantuku mencari pekerjaan supaya kita bisa punya tambahan uang,” ujar Sally. “Itu lebih baik daripada kamu hanya membuang-buang waktu akhir pekanmu di rumah saja tanpa berbuat apa-apa…”


Jordan menatap Sally dengan senyum terkulum…tidak melakukan apa-apa di akhir pekan…andai saja Sally tahu apa yang dilakukannya sebelum akhir pekan, karena tidak banyak remaja yang punya kesempatan untuk ikut andil menyelamatkan Presiden Amerika Serikat. Bagi Jordan itu bukan sesuatu yang layak dijadikan pertahanan diri hanya demi menjaga agar Sally tidak mengomelinya. Dia kenal gadis itu, bagaimanapun Sally akan tetap melakukannya.


Remaja itu menanggapi, “Bagaimana bisa mendapat pekerjaan, sementara kita baru di kota ini?”


“Aku bisa mendapatkan pekerjaan meskipun kita belum sebulan di sini.”


“Itu karena kamu sudah cukup umur. Pekerjaan apa yang bisa didapat bocah seusiaku dengan gaji yang kamu ingini?”


“Aku bisa membantumu mencari pekerjaan kalau kamu bersedia.”


Bel pintu berdering pada saat itu dan keduanya berpandangan. Tak ada dari mereka yang menanti kedatangan tamu. Mendapat kunjungan di pagi hari seperti ini adalah sesuatu yang tidak biasa bagi keduanya. Sally mungkin menyangka itu pihak apartemen yang hendak menagih uang sewa sehingga disuruhnya Jordan membuka pintu.


Ternyata Lana McQueen yang datang, gadis itu memakai kaos gading di balik pakaian terusan ala montir berbahan jeans. Gadis itu tersenyum lebar begitu mendapati Jordan berdiri mematung dengan wajah terkejut, “Hai Jordan!”


“Lana?” anak lelaki itu mengerutkan kening.


“Kejutan?” gadis itu tersenyum manis.


“Siapa itu, Jordan?” tanya Sally dari dalam.


“Teman sekolahku, Lana.”


“Teman sekolahmu?” terdengar suara Lana yang keheranan.


Wajah Sally Cross muncul dari balik bahu sang adik dan mendapati Lana melambaikan tangan, “Hai, salam kenal! Aku Lana…”


“Aku Sally,” sahut Sally tersenyum mengangguk. “Rasanya aku pernah melihatmu…ooh, kamu yang berdiri di lorong sekolah waktu aku mengomeli Jordan.”


“Yaa, kira-kira begitulah.”


“Apakah kamu terlibat masalah lagi?” Sally memandangi Jordan dengan curiga.


Lana buru-buru membela Jordan, “Tidak, kok! Jordan baik-baik saja. Aku mampir untuk memberinya tumpangan. Dia harus berangkat pagi-pagi supaya tidak terlambat di hari pertama menjalankan detensi piketnya.”


“Apa maksudmu memberi tumpangan? Kamu bawa kendaraan?” Sally bertanya.


“Bukan aku! Belum cukup umur buat mendapat SIM.”


“Jadi kamu yang membawanya?” Sally bertanya makin ingin tahu.

__ADS_1


Lana menggelang, “Ada yang menyupiriku.”


“Kamu punya supir sendiri?” mata Sally makin terbelalak.


“Err…yaaa..kira-kira begitulah…”


“Wah kamu memang pintar cari cewek,” bisik Sally kepada Jordan, yang membuat anak lelaki itu melotot, memperingatkan agar sang kakak yang materialistis tidak mengucapkannya terlalu keras.


“Sudah ya, Sal! Aku tidak ingin terlambat untuk piket dengan Mr. Miller.”


“Piket? Oh, detensi yang dikatakan Mr. Comb di ruangannya?”


“Oleh karena itu aku harus cepat-cepat berangkat,”


“Hei, tentang kerjaan itu…” Sally melanjutkan.


Jordan buru-buru memotong omongan sang kakak seraya menarik Lana pergi, “Terserah kau saja, asalkan tidak mengganggu jam sekolahku.”


“Apa-apaan itu tadi?” Lana bertanya saat keduanya berjalan keluar apartemen.


“Sally menyuruhku bekerja supaya kami punya uang buat membeli makanan. Itu gara-gara akhir pekan kemarin dia gagal mendapat banyak tip,” sahut Jordan.


“Oh, kamu butuh kerjaan?”


“Nggak juga, sih! Itu ide Sally,” sahut Jordan.


“Kupikir itu ide yang bagus…”


“Opsir Jones yang memberi tahu daddy.”


“Opsir Jones…oh, polisi yang mengantarku pulang ke apartemen Jumat lalu,” Jordan mengangguk. Itu menjelaskan semuanya. “Kapan ayahmu bertemu lagi dengannya?”


“Daddy ada janji untuk bertemu Letnan Mills di Markas SFPD untuk membuat laporan. Jadi hari Sabtu daddy dan aku bertemu Letnan Mills dan Opsir Jones.”


“Oh, begitu. Jadi kamu juga ikut pergi?”


“Ya, aku ikut menemani daddy. Kamu tahu nggak, para ******* itu ternyata lebih kejam dari yang kubayangkan. Ternyata mereka membunuh Doktor Smith untuk merebut…” Lana berhenti sejenak sebab gadis itu tidak sanggup melanjutkan perkataannya, sebab baginya itu mengerikan. “…supaya mereka dapat menerobos ke Machina Factory.”


“Doktor Smith?”


“Rekan kerja daddy. Aku tidak mengenalnya, hanya tahu namanya. Jasad pria malang itu ditemukan polisi di hutan wisata Lincoln Park.”


“Lalu bagaimana hasil interogasi Profesor McQueen?”


“Lancar. Tapi tidak dengan para *******.”


“Kenapa memangnya?” tanya Jordan meskipun dia punya firasat buruk soal itu.


“Mengerikan! Kamu pasti tidak percaya mendengar ini, tapi semua ******* dibunuh di dalam selnya di markas SFPD.”

__ADS_1


“Benarkah? Apa yang terjadi pada mereka?”


“Letnan Mills tidak cerita rinciannya, tapi dia menyesalkan dirinya sempat meninggalkan para penjahat itu sendirian di ruang interogasi. Begitu dia masuk lagi, ternyata mereka sudah tewas ditembak. Tidak ada yang selamat.”


“Kalau mereka ditembak di markas polisi, berarti pelakunya polisi juga.”


“Itu yang dikatakan Letnan Mills. Mereka masih menyelidiki soal itu karena mereka belum berhasil menangkap pelakunya..”


“Masalah itu lebih rumit daripada kegagalan menginterogasi *******,” komentar Jordan.


“Sayang sekali polisi tidak sempat mendapatkan informasi apa pun tentang siapa orang-orang itu dan dari mana asalnya…” kata Lana. “…tapi kamu tahu kan?”


“Apa maksudmu?”


“Aku mendengarmu bicara bahasa mereka… sebelum orang di gudang itu menembak kita. Bahasa apakah itu?”


“Persia! Mereka orang Iran,” jawab Jordan.


“Tuhanku, apakah ini ada hubungannya dengan ketegangan yang terjadi antara negara kita dan mereka?”


“Aku tidak tahu! Yang aku tahu, mereka menyerang Machina Factory untuk membunuh Presiden. Tidak ada tujuan lain.”


“Kamu harus melaporkan itu ke polisi. Bilang bahwa mereka itu orang Iran.”


“Untuk apa, Lana? SFPD tidak bisa melakukan apa pun dengan informasi itu. Lagi pula orang-orang itu sudah tewas.”


“Memang, hanya saja aku merasa kita akan banyak membantu dengan itu,” ucap Lana. “Hebat, aku tidak tahu kamu bisa bicara Persia.”


“Sejujurnya aku juga tidak!” Jordan tersenyum.


“Haah? Lalu bagaimana kamu bisa bicara dengannya?” Lana mengernyit geli.


“Katakan saja…ada suara-suara di kepalaku yang membantuku,” ujar Jordan.


Lana malah tertawa, “Jordan, kamu bisa aja! Lucu banget kamu itu.”


Kedua remaja itu sampai di mobil yang diparkir di depan apartemen. Kendaraan itu mirip dengan yang dilihat Jordan di ruang penyimpanan barang-barang temuan di Machina Factory, hanya saja yang ada di hadapannya itu lebih eksotis dengan warnanya yang biru menyala.


“Inikah mobil yang kamu bilang ciptaan ayahmu?”


“Yap! Seperti yang kubilang, kami punya satu seperti ini di rumah.”


“Sebutkan namanya lagi?”


“Vector, Vehicle Carried To Air.”


“Mobil ini sungguh bisa terbang?” Jordan mengangkat alis.


“Bukan hanya terbang, dia bahkan bisa mengantarmu ke sekolah lebih cepat dari Subway…” gadis itu tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2