
Seperti yang dikatakan Lana, Vector mengantarnya ke Lynbrook High hanya dalam waktu setengah jam dari apartemennya. Kendaraan itu memang tidak terbang karena ramainya lalu lintas di sekitar apartemen Jordan membuat Lana tidak ingin memamerkan hal itu, tetapi kecepatannya mencengangkan. Ukuran yang tidak terlalu besar dan aerodinamis membuat kendaraan itu bisa bermanuver sedemikian rupa di antara mobil-mobil lain yang melintas di jalanan San Francisco.
Jordan terkesima bukan karena kecepatan atau interior mewahnya, melainkan pada kenyataan bagaimana mobil itu berjalan tanpa pengemudi. Lana tidak berbohong kepada Sally sewaktu memberitahunya bahwa bukan dirinya yang membawa mobil itu, juga bahwa dia mempunyai supir. Hanya saja gadis itu tidak memberi tahu bahwa pengemudi mobilnya adalah Vector itu sendiri.
Dia dan Lana duduk di belakang sementara di kursi pengemudi tidak ada siapa pun kecuali bangku dengan roda kemudi yang dikendalikan komputer kecil di dashboard. Profesor McQueen memasukkan program ke komputer itu sehingga mengetahui jalur tersingkat menuju Lynbrook High dengan memperkirakan kemacetan serta kecepatan maksimal yang bisa dicapai. Dan pria itu punya selera humor yang baik karena dia menampilkan wajahnya sendiri dalam komputer itu, seolah dia tengah mengawasi Lana yang pergi ke sekolah.
“Daddy sedang mengembangkan model terbaru dengan menggunakan teknologi listrik sebagai pengganti bahan bakar minyak dari model ini. Katanya model itu akan lebih cepat dari yang ini,” Lana berkomentar saat Jordan mengutarakan kekagumannya akan mobilnya.
“Aku tidak tahu seberapa cepat yang hendak dicapai Profesor McQueen. Mobil ini saja sudah luar biasa bagiku,” ujar Jordan.
“Daddy memang tidak pernah puas, dia selalu mau mengembangkan sesuatu dari yang sudah ada, sekalipun itu temuannya sendiri,” kata Lana.
“Dia orang yang kreatif. Dan aku melihat kreativitas yang sama pada dirimu.”
"Sewaktu di pantry Machina Factory maksudmu?”
"Yeah!”
“Kejadian di sana mendatangkan ide untuk membuatkanmu ini,” gadis itu menyerahkan sebuah bungkusan kepada Jordan.
“Apa ini?” Jordan menerimanya dengan terheran-heran dan sedikit kikuk. “Ini belum saatnya natal dan juga bukan hari ulang tahunku.”
“Buka saja,” kata Lana.
Jordan membuka kertas pembungkus dan mendapati di dalamnya berisi rompi ves berwarna biru cerah, sebiru Vector yang sedang mereka kendarai. Bahannya membingungkan, sedikit menyerupai wol tapi juga ada kesan lenan, pola lubang-lubang kecil membuatnya mirip sesuatu yang dibuat dengan cara rajut tapi ada sesuatu di baliknya yang liat yang menunjukkan bahwa itu sama sekali bukan rajutan.
__ADS_1
“Itu akan melindungimu,” komentar Lana.
"Melindungiku?”
“Kenapa kamu tidak memakainya sekalian? Itu cocok dengan kemejamu.” mau tak mau Jordan melakukan apa yang diminta Lana, dan seperti yang dikatakan gadis itu, rompi vesnya bukan hanya serasi dengan pakaiannya melainkan juga memberikan rasa hangat. Lana tampak puas, “Pakai saja selama kamu ada di sekolah ya. Hadiah itu kubuat selama akhir pekan lalu.”
“Terima kasih,” kata Jordan.
“Tidak sebesar terima kasihku karena kamu sudah menyelamatkan aku dan daddy. Percaya tidak? Aku bermimpi buruk sepulang dari Machina Factory,” kata Lana.
“Aku juga…” ujar Jordan walau dia enggan mengakui kalau dirinya sampai menangis begitu mengetahui nasib para penjahat itu sebelum Lana memberitahunya pagi ini.
“Aku tidak tahu apa yang dirasakan Presiden Tramp, tapi daddy cerita kalau Mr. Duncan Tramp hari ini meliburkan semua staff Machina Factory selama seminggu. Dia bilang untuk menyembuhkan trauma, padahal menurut daddy mungkin itu trauma Duncan Tramp sendiri.”
Judul yang menempel di bawah gambar penyiar dari saluran TV CNN itu tertulis, ‘Orang Paling Diingini di Iran.’ Terlebih dulu ditayangkan video yang nampaknya dibuat di negara timur tengah itu. Pria dengan sorban hitam dan jenggot tebal bicara, dan sepertinya orang penting karena dirinya dikelilingi banyak pendukung yang memakai seragam sebuah partai tertentu. Dia bicara banyak dalam bahasa yang tidak dimengerti Lana dan Jordan sebelum ucapan di akhirnya lantas menjelaskan apa yang diutarakannya sebelumnya.
“Usaha ******* membunuh Tramp di kota mereka sendiri di Amerika menunjukkan kepada dunia bahwa orang ini memang dibenci, bahkan oleh rakyatnya sendiri. Sayang sekali usaha itu gagal karena kami, warga Iran, berani memberikan imbalan sebesar lima puluh juta dolar kepada siapa pun yang berhasil membunuh Tramp dan membawa kepalanya kepada kami. Dengarkan tekad kami, karena seluruh rakyat Iran yang bicara.”
Gambar berikutnya memperlihatkan ratusan orang di Teheran berduyun-duyun menuju kasir sebuah bank untuk mengirimkan uang ke rekening yang ditujukan kepada BMJII, Bank Markazi Jomhouri Islami Iran, yang dipercayakan untuk menyimpan uang imbalan tersebut. Penyiar yang ada di sana mewawancarai salah seorang penduduk yang ikut memberikan uangnya ke rekening BMJII untuk menanyakan motivasinya.
“Ini adalah sikap kami, sikap seluruh rakyat Iran, untuk ikut serta melawan tiran. Mereka boleh berdalih memasuki negara lain untuk mengamankan warga mereka yang diculik penduduk setempat, atau ketika negara itu melindungi ******* paling berbahaya di dunia yang mereka cari. Tapi ketika mereka membunuh warga negara kami….pahlawan kami…tepat di halaman belakang kami sendiri…itu artinya harga diri kami diinjak-injak. Oleh sebab itu, kini saatnya saya, bersama seluruh warga Iran, menyatakan perlawanan.”
Ekspresi sang pembaca berita memancarkan sikap prihatin disertai sedikit mimik yang mengatakan bahwa dia menanggapi hal itu sebagai candaan, “Lima puluh juta dolar ditawarkan sebagai imbalan untuk membunuh Presiden Tramp. Seakan apa yang terjadi padanya di akhir pekan lalu belum cukup. Seluruh pihak berwenang seperti CIA, FBI, atau Secret Service tentunya tidak akan tinggal diam melihat bagaimana seriusnya warga Iran mengumpulkan uang sebagai imbalan.”
“Dan Presiden Tramp ternyata juga merasa perlu untuk menanggapi hal ini dengan bicara secara langsung. Nantikan apa pendapatnya dalam wawancara eksklusif kami malam ini dengan Presiden United State of America yang bertajuk 50 juta dolar untuk kepala Presiden merupakan lelucon terburuk tahun ini…”
__ADS_1
Jordan memandang Lana, “Lima puluh juta dolar?”
“Dunia memang sudah sinting!” kata Lana seraya mematikan TV.
Jordan nyaris tidak percaya ketika mobil yang dinaikinya berhenti dan mereka telah tiba di Lynbrook High, padahal rasanya dia dan Lana baru mengobrol sebentar. Vector menurunkan keduanya di gang sepi sekitar dua ratus meter dari gerbang sekolah. Lana sepertinya sengaja minta diberhentikan di situ agar tidak menarik perhatian. Setelah keduanya turun, kendaraan itu menutup pintunya secara otomatis lalu naik ke udara, sebelum kembali ke rumah Lana dan meninggalkan keduanya di gang tersebut.
"Sayang kamu tidak sempat menaikinya saat terbang,” Lana tertawa melihat Jordan ternganga. “Masalahnya daddy tidak terlalu suka kalau ciptaannya yang belum diperkenalkan ke publik menarik perhatian yang tidak perlu.”
“Tidak apa! Aku senang walau cuma melihatnya melayang,” Jordan menanggapi.
“Oke, kamu harus ketemu Mr. Miller jam tujuh, bukan?”
“Jam tujuh tepat,” sahut Jordan dengan menirukan gaya bicara petugas kebersihan sekolah itu. “Masih lima belas menit lagi.”
“Akan lebih baik bagimu, bukan? Memberi kesan baik padanya di hari pertama detensi itu penting,” seloroh Lana untuk mengingatkan bahwa mereka datang sepagi itu bukan untuk bersenang-senang.
“Ya…ya…baiklah! Lalu kamu mau ke mana?”
“Aku mau sarapan ke Pippi’s Pie. Pie buatan mereka enak sekali, apalagi kalau dimakan hangat-hangat ketika kelaparan seperti yang kurasakan sekarang,” jawab Lana.
“Yeah, sayang aku sudah sarapan,” celetuk Jordan.
“Dan harus mengerjakan detensi…” Lana menambahkan dengan senyuman lebar.
***
__ADS_1