
Tidak ada yang lebih baik menemani pagi yang cerah selain menyantap sarapan favorit berupa telur setengah matang dengan roti panggang selai strawberry, dengan selai yang dioles sebelum dimasukkan ke toaster tentunya, bersama dengan teh rasa melati yang airnya baru saja mendidih. Tidurnya semalam memang tidak sampai delapan jam, tapi dengan kedalaman nyenyak yang didapatkannya, Mr. Janus merasa tubuhnya telah kembali segar.
Mr. Janus duduk santai di meja makan, menyendok telur dengan perlahan, menikmati momen ketika pinggiran sendok menyentuh permukaan telur, lalu merobeknya dari samping hingga terlihat bagian kuning yang masih setengah matang di dalamnya. Campuran rasa kuning telur dengan gandum roti panggang tidak pernah gagal memanjakan lidahnya.
Pria itu duduk sendirian di ruang makan apartemennya di Penthouse Casablanca Suites, ruang makan ini sebenarnya terlalu besar baginya, hanya saja dia menyukai kesendirian di ruang lebar karena ruang yang sempit membuatnya gugup…sementara momen kesendirian sukar didapat bila dia tiba ke tempat kerja dua jam lagi…
Beberapa bunyi bip dari Auris di telinganya memberikan saran tentang berita-berita terbaru yang masuk ke akun pribadinya, tapi tak satu pun yang layak diperhatikan dengan serius. Dia baru selesai menghabiskan isi teh yang telah dituangnya untuk kedua kali ketika berita yang masuk paling akhir di Auris memancing rasa ingin tahunya…
Mr. Janus menampilkan berita itu ke hologram agar bisa mendapatkan visual yang lebih jelas, berita itu ditulis oleh San Francisco Heraldotcom…berjudul ‘Presiden Tramp Berhasil Meloloskan Diri dari Penyanderaan ******* dan Tinggalkan 30 Warga Sipil di Machina Factory’, yang rupanya merupakan lanjutan dari berita yang telah diunggah setengah jam sebelumnya, ‘Serangan Brutal dan Penawanan ******* di Perusahaan Laboratorium Milik Ilmuwan Eksentrik, Archibald McQueen’.
Disimaknya berita pertama lebih dulu…setelah itu berita kedua…semakin lama apa yang dibacanya membuatnya gelisah, bukan karena mengetahui bahwa kedua berita tersebut sudah begitu viral di internet sementara belum ada satu pun berita di TV yang menayangkannya, tetapi karena tercium sesuatu yang tak disukainya di sana. Mr. Janus mengomel, “Berita teror cepat sekali menyebar.”
Mr. Janus mengubah tautan Auris agar dapat membuka akses ke daerah yang lebih luas dari media sosial. Dia ingin mendapatkan data tentang Machina Factory, di mana dia baru mengetahui bahwa sebagian besar saham tempat itu dimilki oleh Duncan Tramp, anak tertua Howard Tramp. Jadi memang ada kemungkinan sang Presiden diundang ke sana karena Duncan Tramp punya jalur khusus untuk itu.
Machina Factory mengejutkannya karena perusahaan ini termasuk pengembang elektronik besar di Amerika Utara, hanya saja namanya tidak menonjol seperti Dell atau General Motor karena perusahaan ini bekerja di bawah radar. Kliennya yang terbesar adalah militer dan temuan-temuan yang dipatenkan benyak digunakan untuk keperluan militer. Sisanya seperti drone untuk pertanian, digunakan untuk kepentingan publik.
“Semakin menjelaskan kenapa Presiden bersedia hadir ke sana…” gumam Mr. Janus.
Dengan adanya undangan gala malam ini untuk memberi presentasi atas penemuan baru bernama WAFT 2, itu menjadi celah bagi ******* untuk menyerang. Lalu siapa para ******* itu? Dari mana mereka berasal? Dan apa tujuan mereka menyerang Machina Factory?
Dia masuk ke situs penyedia jalur telekomunikasi di San Francisco, mengombinasikannya dengan data milik Departemen Komunikasi AtlanticTerritory, sampai sepuluh menit kemudian didapatkannya historikal log pembicaraan Abel Felaini selama lima jam terakhir.
“Yeah…namanya Abel Felaini…dia bekerja di San Francisco Heraldotcom. Kamu pasti orang yang istimewa karena kamu mengunggah dua berita terbaru itu mendahului media-media lain…” gumam Mr. Janus. “…apa yang membuatmu istimewa, kawan?”
Mr. Janus membuka arsip pembicaraan dari ponsel milik Abel Felaini dan membesarkan volumenya agar terdengar lebih jelas…
__ADS_1
Bzzzz…
“Aku mendengarkan…”
“Aku tahu kamu tidak senang dengan pemerintahan rezim di Iran dari tulisan-tulisanmu, tapi aku tidak peduli soal itu. Yang ingin kutawarkan padamu adalah berita eksklusif untuk mengangkat namamu. Bagaimana kedengarannya?”
“Dan bagaimana kamu mau melakukan itu?”
“Tulis di artikelmu, ******* yang menahan tiga puluh orang sandera di Machina Factory akan membunuh mereka satu per satu, setiap setengah jam, bila Presiden Tramp tidak kembali dan menyerahkan dirinya sebagai ganti nyawa mereka.”
“Apakah kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu?”
“Aku sudah menembak mati satu orang begitu helikopter kalian pergi membawa si Presiden sinting,”
“Tiga puluh orang? Itu berarti lima belas jam lagi?”
“Dan kalau dia tidak kembali ke Machina Factory dia akan dicap sebagai pengecut yang tidak mementingkan rakyatnya. Itu yang kamu mau, bukan?”
“Aku boleh gagal membunuh secara fisik, tapi aku tak menyerah membunuh citranya.”
Bzzzz…
“Rupanya kamu punya hubungan dengan ******* itu? Kalian kedengaran akrab…itu membuatku ingin tahu masa lalumu…siapa kamu sebenarnya, Abel Felaini?”
Data diri Abel Felaini hanya menjelaskan keberadaannya sejak masa masuk kuliah, tanpa ada keterangan masa kecilnya. Orang itu mengambil jurusan Jurnalistik di Boston University. Prestasi akademisnya tak terlalu menonjol. Abel Felaini aktif menjadi kader partai Demokrat, dan tulisan-tulisannya kerap disorot karena dianggap terlalu lantang memojokkan kebijakan pemerintah, baik di pusat ataupun di negara bagian, apalagi kalau si pejabat berasal dari partai Republik. San Francisco Heraldotcom menjadi tempat kerjanya yang baru setelah dua tahun lalu Abel Felaini dipecat dari Washington Post.
__ADS_1
“Kenapa masa kecilnya tidak dicantumkan? Apa ada hubungannya dengan ******* itu? Dengan begitu, kita bisa tahu dari mana kalian berasal…”
Tak didapatkannya data apa pun tentang Abel Felaini kecil, karena itu dicobanya lewat nama Hisram. Dan dia mendapatkannya dari catatan kecil departemen imigrasi dari negara Kanada. Seorang nenek bernama Chelsea Felaini mengajukan pemindahan kewarganegaraan bagi cucunya yang bernama Abel Hisram dan lahir di Teheran. Ada sesuatu dalam pembicaraan Abel dengan temannya tentang membenci rezim di Iran, mungkin itu sebabnya sang nenek bersikeras memindahkannya ke Kanada.
“Jadi kamu dulunya anak Iran? Aku berani taruhan, pria yang bicara di telepon pasti teman lamamu dari sana, Hisram…” Mr. Janus mengangguk-angguk. “…dan kurasa aku tahu siapa yang mengutus penjahat-penjahat brengsek itu untuk menyerang Howard Tramp.”
Tidak ada data lain yang bisa didapatnya dari Abel Hisram. Sepertinya orang ini berusaha menyembunyikan diri dengan baik sekali, atau di masa Hisram kecil tinggal di Iran belum ada dokumentasi data yang baik di negara itu. Namun bagi Mr. Janus ini sudah cukup…dia lalu menghubungi salah satu anggotanya yang tinggal di sekitar California.
“Angkat teleponnya...” dia bergumam, dan begitu orang yang ditujunya mengangkat ponsel, pria itu berkata. “Heil Terra…”
“Heil Terra, apa yang bisa kulakukan untukmu, Heir-Cezar Janus?”
“Ada situasi yang aku ingin kamu selidiki. TKPnya di Machina Factory di Brisbane, San Francisco. Melibatkan penyanderaan dan sepertinya masih berlangsung karena berita ini baru saja masuk.”
“Aku tahu tempat itu. Aku bisa ke sana lima belas menit lagi.”
“Bagus! Datanya sudah kukirim untuk kau pelajari.”
“Tugasku hanya mengamati?”
“Ya! Tapi aku juga ingin kamu mengunjungi wartawan bernama Abel Felaini.”
“Heil Terra!”
Setelah itu Mr. Janus kembali kepada sarapan paginya, apalagi teh di dalam teko masih tersisa sepertiganya. Paginya pada hari ini memang sedikit terganggu, tapi itu hal biasa dengan posisi sepertinya. Tidak heran apabila pria itu ingin menikmati waktu tenang ini sedikit lagi, sebelum tangannya terikat rutinitas…
__ADS_1
***