TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 2 : PENGLIHATAN DARI MIMPI


__ADS_3

Ribuan kilometer dari Abadan seorang remaja yang tengah tidur pulas di ranjangnya tiba-tiba terbangun dengan jeritan keras. Lampu kamarnya sontak menyala saat remaja itu terbangun dan tampak wajahnya yang pucat pasi, keringat membasahi dahinya, dia menengok sekeliling dan menghembuskan nafas lega mendapati dirinya berada di kamarnya. Remaja itu menyeka kening dengan bagian lengan piyama…


Itu mimpi yang sungguh mengerikan…


Lautan api menjebak dan menenggelamkan dirinya dalam panas yang luar biasa setelah peluru-peluru kendali yang entah dari mana datangnya menghantam rumahnya…


Dari sudut mata dilihatnya jam yang terpasang di dinding kamar, kedua jarum jam menunjukkan pukul dua lebih lima belas. Bukan waktu yang tepat sebenarnya buat menyudahi tidur tapi apa daya bila mimpi buruk ini menghalanginya, dan si remaja sadar dirinya akan sulit tidur kembali bila sudah terbangun seperti ini.


Saat itu ada dorongan dalam hatinya untuk menyalakan TV, seperti ada sesuatu yang harus dilihatnya di sana untuk memastikan. Dinyalakannya TV dengan remote, seketika itu layar TV memunculkan wajah seorang penyiar dengan latar belakang pesawat udara dan bangunan yang terbakar. Ada berita baru yang tayang di sana dan apa yang diucapkan sang pembawa berita membuat remaja itu terduduk seketika.


“…serangan udara mulai dilluncurkan pemerintah hari ini sebagai bentuk nyata memerangi ancaman negara. Upaya kontra aksi dari laporan intelijen beberapa hari lalu yang menyatakan dugaan bahwa Iran telah menyiapkan dan mengarahkan nuklir ke Pentagon, pihak militer US telah mengirimkan drone penyerbu untuk melancarkan serangan ke sebuah benteng rahasia milik Iran yang akan menjadi pusat peluncuran peluru nuklir tersebut.”


Gambar di belakang sang penyiar menampilkan wajah pria berwajah keras dan bermata sadis, “Dalam serangan tersebut pihak militer US mengklaim bahwa mereka telah berhasil menewaskan Jenderal Sulaimandi, salah satu dedengkot partai garis keras yang selama ini menjadi pendukung pemerintahan di Iran. Tidak ada korban selamat dari serangan tersebut dan kami telah mengonfirmasi kebenaran serangan yang diklaim pihak militer dari gambar satelit yang bisa kami dapatkan sebagai berikut…”


Perasaan remaja itu berkecamuk ketika pantauan satelit yang dimaksud si pembawa berita menampakkan titik api berwarna merah-jingga di antara dataran gelap, sementara di beberapa tempat dari pindaian GPS satelit tercantum nama daerah serta wilayah yang mengonfirmasi bahwa tempat yang dimaksud adalah benar di dekat kota Abadan.


Ini benar-benar gila…


Dia baru saja bermimpi buruk tentang pengeboman dan tahu-tahu hal itu nyata terjadi…


“Belum ada tanggapan apapun dari pemerintah Iran terkait serangan ini dan juga kematian yang dialami Jenderal Sulaimandi, namun kami sudah mendapat konfirmasi dari pemerintah US yang mengklaim bahwa serangan ini memang dipersiapkan oleh militernya. Berikut hasil wawancara kami dengan juru bicara gedung putih…”


Tidak berminat mendengarkan lebih lanjut, dimatikannya pesawat TV lalu dia bangun dari tempat tidur. Dia butuh sesuatu buat menenangkan diri – sesuatu yang berlemak atau manis – yang tentunya hanya bisa didapatkannya di kulkas. Dia turun dari ranjang dan begitu sampai di dapur remaja itu menyalakan lampu ruangan lalu membuka kulkas untuk melihat apa yang ada di dalamnya.


Masih ada sekotak susu yang baru dihabiskan setengahnya sekitar dua hari lalu. Diambilnya kotak itu setelah meraih sepiring puding bekas makan malam yang tidak sempat dihabiskannya. Remaja laki-laki itu duduk di meja dapur, menyendok puding lambat-lambat, dan mengosongkan pikiran dari gambaran-gambaran mengerikan yang ditinggalkan mimpi buruknya…

__ADS_1


Adegan di mana ratusan orang berterbangan ke segala penjuru ruangan akibat tumburan keras yang menggetarkan, diikuti lalapan lidah api yang menyeruak dari satu sisi ke sisi lainnya, lalu bagaimana mengerikannya ketika satu per satu tubuh yang beterbangan itu kembali jatuh ke tanah dalam kondisi yang tidak sepenuhnya normal tapi masih dalam keadaan setengah sadar, menyadari bagaimana dirinya akan dijemput ajal sebentar lagi. Belum lagi bunyi keratak dari tulang serta kulit yang mulai dilalap api dengan sadisnya, diiringi jerit kesakitan yang keluar dari mulut orang-orang malang itu…


Remaja itu menggenggam sendoknya kuat-kuat untuk menahan kengerian itu…ketika tanpa sadar dia mematahkan sendoknya, di saat bersamaan lampu dapur yang tadinya menyala mendadak berkedip-kedip lalu padam. Meninggalkan remaja itu dalam kegelapan ruang dapur yang hampa, dimana keadaan itu justru menenangkan si remaja yang melanjutkan menyantap puding dan susunya.


Baru beberapa menit dirinya mendapatkan ketenangan dalam kegelapan itu ketika pria dan wanita yang sedang berpelukan mesra muncul dari koridor yang merupakan persambungan dengan ruang tengah. Yang wanita memekik kecil begitu menyadari ada orang duduk di meja dapur.


“Jordan?”


Anak lelaki itu mendongak dengan sendok terselip di mulutnya. Di hadapannya berdiri Sally Cross, dengan pakaian ketat dan cenderung minim, bergelendot di pelukan pemuda bertubuh tegap dengan rambut dicat pirang, yang membuat wajahnya malah semakin terlihat pucat. Ditatapnya pasangan itu dengan acuh tak acuh sehingga Sally yang baru menyadari keadaan dirinya buru-buru melepas pelukan lelaki itu.


“Kamu tidak bilang kalau kamu punya anak,” ucap lelaki itu seperti minta pertanggung jawaban.


“Dia bukan anakku,” sergah wanita itu. “Dia adikku.”


“Hai, Sally,” Jordan melambaikan sendoknya. “Senang berkenalan dengan temanmu.”


“Apa yang kamu lakukan di sini? Kukira kamu sudah tidur.”


“Dan aku kira kamu juga ada di kamarmu.”


“Pierre tidak berhasil mendapat hotel karena kami mengobrol kelamaan, padahal besok dia harus kembali ke Paris,” Sally mencari-cari alasan.


“Apa dia dapat kamarku atau aku harus tidur denganmu?” tanya Jordan.


“Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kembalilah tidur ke kamarmu kalau kamu sudah selesai,” jawab Sally.

__ADS_1


Jawaban itu memberitahu Jordan segalanya, “Kalau begitu besok aku akan berangkat sendiri saja ke sekolah.”


“Kamu yakin kamu tahu jalannya?”


“Gampang. Tinggal naik subway dan turun di Uptown Prince.”


“Dia memang anak lelaki yang cerdas,” itu diucapkan Sally saat menoleh kepada teman prianya yang hanya manggut-manggut. “Dan kuharap kamu juga cerdas.”


“Tergantung seberapa jauh yang kamu maksud cerdas,” komentar pria itu membuat Sally cekikikan.


“Mereka semua tewas,” Jordan berkata tiba-tiba.


Ucapannya membuat Sally dan teman prianya terkejut, “Apa maksudmu?”


“Aku melihat semuanya, Sally! Serangan di Abadan itu…dalam mimpiku…orang-orang tewas karenanya, dan bagaimana mereka dilalap oleh api yang menghanguskan…”


“Apa sih yang dikatakannya?” pria asing itu semakin tak mengerti.


Sally jadi salah tingkah, dia berusaha menenangkan pria itu dengan berbisik kepadanya, “Jangan dihiraukan. Kadang dia suka begitu, apalagi kalau dia mendapat mimpi buruk.”


“Tonton beritanya Sally,” Jordan kembali mempertegas.


“Oke, Jordan! Aku akan tonton beritanya besok. Sekarang aku sudah ngantuk dan mau naik dulu ke kamar!” kata gadis itu dengan entengnya sambil menggandeng tangan sang pria.


“Bye, dude…” pria itu berusaha bersikap ramah tapi tidak digubris oleh Jordan.

__ADS_1


Remaja itu hanya memandangi keduanya menyelinap ke dalam kamar dan mengunci pintu, berbisik pelan kepada dirinya sendiri beberapa menit setelah terdengar rintihan samar dari balik kamar Sally yang memberitahu pria itu supaya bersabar sebentar, “Kamu lihat, kan? Sally mana peduli denganku.”


***


__ADS_2