TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 37 : CARAKU MENGURANGI KORBAN NYAWA


__ADS_3

“Jadi bagaimana Letnan Mills? Apa anda punya ide mengamankan Machina Factory, setelah anda kehilangan kesempatan dengan perginya Presiden Tramp?” Profesor McQueen bertanya ketika sang komandan polisi tiba di dekatnya.


“Bala bantuan sudah tiba, Profesor! Kami akan menyerbu masuk ke bangunan utama beberapa menit lagi,” Letnan Mills mengedikkan dagu ke arah tiga buah kendaraan yang baru bergabung di halaman. Satu milik tim penjinak bom, satu milik pemadam kebakaran, sementara yang satu lagi berisi tim SWAT.


“Dengan adanya tiga puluh orang sandera di dalam?”


Letnan Mills menghela nafas panjang, “Tidak bisa dielakkan, Profesor! Orang-orang ini tidak bisa dikendalikan kalau kita makin mengulur waktu atau mengikuti permainannya. Agar  anda tahu, si pemimpin ******* memberiku ancaman baru…dia akan membunuh sandera-sandera itu bukan lagi setiap satu jam…melainkan setengah jam…setengah jam lagi akan ada yang mati kalau kami tidak bergerak…”


“Masalahnya orang-orang di sana akan tewas semuanya kalau anda bertindak nekad…”


“Para sandera semuanya memang akan tewas, Profesor…cepat atau lambat…tanpa kami masuk ke sana atau kita cuma duduk menunggu. Menurutku, akan lebih baik kami mencoba secepat mungkin daripada menunggu lima belas jam kemudian.”


“Tapi kalau penyerbuan itu gagal total bagaimana?” protes Profesor McQueen. “Bukan hanya sandera yang tewas, tapi anda kehilangan seluruh anak buah anda.”


“Anak buahku memahami konsekuensinya.”


“Sayangnya, tamu-tamu undanganku tak mengetahui itu. Para sandera itu bukan hanya tanggung jawab anda…mereka juga tanggung jawabku. Aku yang mengundang mereka.”


“Bukan salah anda kalau mereka terjebak dalam situasi ditawan. Anda mana tahu acara anda akan diserang *******.”


“Bagaimana kalau aku punya ide lain? Supaya makin sedikit korban yang tewas?”


Letnan Mills bersikap tak acuh tak acuh namun tetap memberi tanggapan, “Kecuali anda bisa meledakkan para ******* tanpa menyertakan tawanan, aku enggan mendengar usulmu.”


“Aku bisa melakukannya!” sahut Profesor McQueen.


“O, yeah? Bagaimana?” Letnan Mills menoleh setelah memeriksa senapan laras panjang yang hendak digunakannya.


Sang ilmuwan celingukan, memastikan Lana tidak berada di dekatnya sehingga bisa mendengarkan ucapannya, “Tindakan Kepala Keamanan tadi memberiku ide…bagaimana kalau kukatakan….”


Sang komandan polisi mendengarkan penjelasan Profesor McQueen dengan seksama dan menanggapi dengan satu kalimat setelah pria itu selesai menjelaskan, “Apa kamu sinting, Profesor?”


“Prediksiku mengatakan cara ini lebih besar kemungkinan berhasilnya daripada usaha barbar anda untuk menyerbu masuk.”


“Dalam hal itu aku sependapat. Tapi benarkah anda mau melakukan itu?” Letnan Mills memandangi Profesor McQueen masih dengan pandangan ragu.


“Satu lebih baik dari pada tiga puluh orang.”


“Bagaimana kalau aku tidak setuju soal itu. Anda masih punya anak perempuan yang harus dijaga,” Letnan Mills menggeleng.


Profesor McQueen menghela nafas, “Tak ada yang paling bertanggung jawab di tempat ini selain aku. Duncan sudah pergi soalnya. Soal Lana, biarkan aku yang bicara dengannya.”

__ADS_1


“Kamu orang baik, Profesor! Kalau begitu ijinkan aku menemanimu.”


“Para polisi masih membutuhkanmu untuk memberi komando.”


“Mereka tahu yang harus dilakukan tapi anda perlu dijaga sampai ide anda mencapai tujuannya.”


“Jadi apakah anda tidak mau melibatkan Jack Higgins atau Bill Sandford?”


“Meskipun terlatih, mereka bukan polisi!”


“Terserah anda, Letnan Mills!” ujar Profesor McQueen.


“Kalau hati anda sudah mantap, aku akan menghubungi para ******* itu sekarang…”


“Silakan!” Profesor McQueen mengangguk.


Letnan Mills mengangkat walkie-talkie dan berbicara, “Ini Letnan Mills. Aku ingin bicara denganmu…bagaimana kalau aku menyerahkan seseorang yang dapat membuat rencanamu berhasil?”


Keduanya menunggu selama sepuluh menit sebelum direspon oleh si pemimpin ******* lewat alat komunikasi tersebut, “Sudah kubilang, aku tidak ingin yang lain kecuali Presiden.”


“Profesor McQueen adalah orang pertama yang menjalankan Machina Factory, dan dia ingin bicara denganmu soal bagaimana dia bisa mendapat Presiden untukmu…”


“Aku tidak mau membuang-buang waktuku dengannya.”


Orang yang bicara di walkie-talkie diam sejenak, “Ini menarik! Anda sepertinya paham apa yang bisa anda lakukan. Apa yang bisa anda berikan kepada kami?”


“Yang kalian inginkan…Presiden Tramp!”


“Dan bagaimana anda melakukan itu?”


“Aku mau masuk ke bangunan itu. Di Machina Factory aku punya sumber daya yang cukup untuk melakukan hal itu.”


“Silakan datang kemari, Profesor! Dengan senang hati kami akan membuka pintu.”


“Aku akan datang ke sana, dengan syarat kalian bebaskan semua sandera… tiga puluh orang yang tersisa, tanpa kecuali…termasuk mereka yang tewas.”


“Anda menawarkan pertukaran, Profesor?” si ******* tertawa. “Pertukaran macam apa itu? Satu orang ditukar dengan tiga puluh orang.”


“Pertukaran yang akan membuat rencanamu berhasil. Daripada kamu mempertahankan tiga puluh sandera yang tetap akan mati sia-sia di tanganmu, sementara Presiden Tramp justru sedang menertawakanmu di tempat lain.”


Ucapan itu berhasil membuat sang ******* terusik egonya, orang itu membalas dengan parau, “Bagaimana kami bisa percaya engkau dapat melakukan yang kamu janjikan?”

__ADS_1


“Tanyakan kepada staffku tentang fasilitas Fire Ball. Mereka akan memberi tahu kalian fasilitas apa itu. Sayangnya, hanya aku yang bisa mengaktifkan semua itu.”


“Mari kita lihat! Hey, bawa si brengsek itu kemari…” kata si pemimpin ******* dengan suara seperti menjauh. “...Profesormu menawarkan padaku kalau dia bisa mengembalikan Apache dan Presiden dengan fasilitas yang ada di sini. Fasilitas seperti apa yang dia maksud?”


Profesor McQueen dan Letnan Mills menunggu selagi si penjahat menginterogasi salah satu staff Machina Factory sampai ******* kemudian bicara lagi, “Aku tidak tahu apa yang kamu maksud dengan Fire Ball, tapi staffmu langsung berteriak-teriak histeris, mereka bilang jangan mengaktifkannya. Itu akan membunuh semua orang. Fasilitas apa itu, Profesor?”


“Fasilitas yang akan membawa kalian kepada tujuan kalian. Sayangnya, aku hanya mau mengatakannya begitu aku ada di dalam.”


Akhirnya ******* itu berkata, “Baiklah Profesor! Kalau anda memang bisa melakukannya dengan fasilitas di dalam sini, mari kita lakukan. Bersiaplah sepuluh menit lagi. Kami akan mengeluarkan sandera sebagai pengganti anda.”


Serentak Profesor McQueen dan Letnan Mills menghembuskan nafas lega. Sang polisi menepuk bahu ayah Lana, “Terima kasih, Profesor!”


“Makin cepat ini berakhir, makin baik!”


Letnan Mills mengangguk, “Aku akan memberi briefing baru kepada anak buahku.”


“Dan aku akan bicara dengan anakku…” desis Profesor McQueen perlahan.


Pria itu berjalan pelan ke tempat Lana dan Jordan sedang menunggu. Dia sebenarnya berharap mobil polisi yang dipesan Letnan Mills bisa segera datang bersama dengan ketiga kendaraan lainnya yang sudah datang lebih dahulu, dengan begitu Lana dan Jordan bisa dipulangkan. Dia ingin keduanya tidak perlu melihat kondisinya yang mungkin saja berakhir tragis. Sayangnya, mobil yang ditunggu belum juga datang dan kedua remaja itu masih harus bertahan di halaman ini.


“Lana…” panggil Profesor McQueen.


Gadis itu menengok lalu menunjukkan ponselnya, “Daddy, lihat apa yang Jordan dan aku temukan di internet...berita tentang serangan ******* ke Machina Factory sudah viral...”


“Sungguh?”


"San Francisco Heraldotcom yang pertama kali mengunggahnya, judul artikelnya ‘Serangan Brutal dan Penawanan ******* di Perusahaan Laboratorium Milik Ilmuwan Eksentrik, Archibald McQueen’…setelah itu hampir seratus situs menyadurnya…”


“Mengerikan!” Profesor McQueen berkata dengan ekspresi sedih ketika membaca apa yang tertulis di layar monitor Lana.


“Dan komentar netizen hampir semuanya mengecam tindakan Presiden,” kata Jordan.


“Ini bukan hal yang baik buat Machina Factory ya, dad?”


“Aku sih tidak terlalu memikirkan itu! Yang kukuairkan adalah penyanderaan ini berakhir dengan tewasnya semua sandera.”


“Jumlah polisi sudah semakin banyak. Kelihatannya mereka akan menyerbu ke dalam dan melumpuhkan para ******* buat membebaskan sandera,” Lana berkata dengan mata berbinar-binar. “Aku yakin mereka sanggup membebaskan semua sandera.”


Profesor McQueen tersenyum hambar, “Sebenarnya aku menawarkan ide lain yang tidak harus mengorbankan banyak nyawa orang tak bersalah.”


“Benarkah?” Lana tersenyum penuh semangat. “Ide apa yang daddy usulkan ke mereka?”

__ADS_1


Pria itu menatap anak gadisnya dengan sedih, lidahnya terasa kelu untuk bicara….


***


__ADS_2