
“Aku ingin bicara dengan Letnan Mills… kamu mendengarku, Letnan Mills?”
Karena belum mendapat respon dari polisi yang dicarinya, dia memanggil kembali, “Jawab aku, Letnan Mills…aku tahu kamu bisa mendengarku…”
“Letnan Mills di sini!” suara di walkie-talkie akhirnya memberi respon.
“Selamat, Letnan! Kulihat anda berhasil mengamankankan Presiden Tramp.”
“Membuat rencana kalian berantakan, bukan? Maafkan kami,” balas Letnan Mills dengan nada mengejek. “Setelah ini aku minta kalian semua menyerah. Kami akan perlakukan kalian dengan baik bila kalian menyudahi aksi sinting ini.”
“Kamu pikir kami ada di sini karena kami gampang menyerah?” balas si pemimpin terkekeh. “Justru sebaliknya ingat, kami masih punya banyak sandera yang menguntungkan posisi kami…”
“Lalu kalian mau apa sekarang? Mau minta imbalan untuk sandera kalian? Sebutkan harganya supaya drama ini makin cepat berakhir,” Letnan Mills menantang.
“Sudah kubilang, ini bukan untuk mencari uang. Kami ke sini karena kami tidak mudah menyerah. Kami akan memakai sandera-sandera guna menuntaskan misi kami,” si pemimpin ******* kemudian memanggil anak buahnya untuk membawa Carl Trish dan petugas keamanan itu mendekat ke jendela. “Bilang kepada para pengawal Presiden untuk membawa jahanam terkutuk itu kembali ke sini, atau kami akan membunuh sandera satu per satu…”
“A…apa maksudmu?” tanya Letnan Mills.
“Oh, aku yakin kamu mendengar ucapanku dengan keras dan jelas, Letnan. Kamu hanya perlu sedikit dorongan konfirmasi,” si pemimpin ******* yang masih tetap menekan tombol walkie-talkie tahu-tahu menarik picu pistolnya…
“JANGGAAANN!!!”
Carl Trish berteriak histeris tetapi dentuman pistol sang penjahat segera menelan teriakannya, hanya berselang sedetik kemudian...BAAAANG…
Si pemimpin ******* kembali mendekatkan walkie-talkie ke bibirnya, “Kamu dengar yang barusan, Mills? Bawa Presidenmu kembali atau sandera di sini akan kami bunuh satu per satu… seorang, setiap jam…sampai dia kembali kemari…kita akan lihat apa pemimpinmu itu tega mengorbankan rakyatnya demi keselamatan dirinya sendiri…”
Semua orang yang berkerumun di sekitar Letnan Mills terhenyak. Tak menyangka si ******* bertindak demikian jauh. Di menit pertama suara ******* terdengar dari alat komunikasi yang dipegang sang polisi, Lana dan Jordan langsung melayangkan pandangan ke lantai lima, tepat ke jendela di sisi di mana ruang kerja Tramp Junior berada.
Keduanya menyaksikan sendiri lewat jendela yang tidak lagi dibatasi kaca itu bagaimana ******* menyeret korbannya agar mendekat, menempelkan pistol ke kepala sang korban, dan menembakkan senjatanya sebelum korbannya roboh dan kekacauan melingkupi tempat itu. Dari siluet yang tampak, ada tawanan lain yang bersama orang itu di atas sana.
__ADS_1
“Orang itu sadis…” kata Lana kepada Jordan.
“Untung kita sudah keluar dari sana,” Jordan menanggapi.
“Ya, tapi bagaimana dengan tawanan yang masih tertinggal di sana?”
“Sekarang sebaiknya kamu panggil Presiden untuk kembali kemari atau orang ini juga tewas sebentar lagi…” si pemimpin ******* berkata di walkie-talkie yang dipegang Letnan Mills.
“Kenapa kamu bunuh Michael…dasar orang gila…” rintihan Carl Trish terdengar di balik ucapan si pemimpin *******.
“Carl…syukurlah dia masih hidup…” Profesor McQueen berkata lega lalu memandang berkeliling. “Siapa itu Michael? Ada yang tahu siapa Michael?”
“Michael Perez! Dia anak buahku yang malam ini sebenarnya bebas tugas,” jawab Kepala Keamanan Machina Factory yang rupanya ikut mendengarkan. “Dia datang hanya untuk melihat peragaanmu, Profesor.”
“Sungguh sayang! Seharusnya dia tidak berada di Machina malam ini. Dan sekarang mereka juga hendak membunuh Carl,” ujar Profesor McQueen.
“Tunggu apa lagi, Letnan!” tegur si pemimpin ******* yang lagi-lagi memprovokasi lewat alat komunikasi. “Waktumu makin sempit karena Presiden sudah hampir sampai di helikopter. Panggil dia…atau kamu memang ingin membiarkan orang ini kutembak mati?”
“Kalau begitu segera lakukan sesuatu, Letnan!” Profesor McQueen menegurnya. “Atau asistenku, Carl, akan dibunuhnya.”
“Sniper, bicara padaku…apakah kalian bisa mendapat target penembakan?” Letnan Mills bertanya kepada anak buahnya lewat radio komunikasi khusus SFPD.
“Pos satu, negatif!”
“Pos tiga, negatif!”
“Pos dua, sedikit bagian target. Tapi tidak bersih.”
“Posisi di tower yang lebih dekat, kenapa kamu tidak mencoba membidiknya, pos dua?” Letnan Mills mencoba menawar.
__ADS_1
“Negatif, sir! Ada sudut bangunan yang menghalangi pandangan. Kemungkinan besar aku juga akan mengenai sandera yang berdiri di depannya.”
“Brengsek!” Letnan Mills memaki mendengar jawaban itu.
“Waktu semakin menipis, Letnan Mills! Kamu bisa menyelamatkan sandera-sandera itu dan menahan Presiden pergi…pilih, Presiden pergi atau mereka yang mati…” si pemimpin ******* lagi-lagi memprovokasi.
Dengan kesal sang polisi membalas provokasi lewat walkie-talkie milik *******, “Kamu tahu aku tidak bisa melakukan itu, bedebah sinting!” pria itu menjauhkan alat komunikasinya tanpa daya, memandang pasrah kepada Profesor McQueen dan Kepala Keamanan. “Tak ada yang bisa kita lakukan sekarang.”
Si Kepala Keamanan mengerang, “Kalau anda tidak mau melakukannya, biar aku saja…” dicabutnya pistol di pinggangnya lalu berlari menyusul rombongan Presiden.
“Hey…hey…apa yang kau lakukan…” Letnan Mills terbelalak melihat Kepala Keamanan berlari meninggalkannya laksana macan terluka, dia berteriak kepada anggota polisi yang lain. “Tangkap orang itu…dia hendak membunuh Presiden…” spontan lima pria kekar berseragam polisi mengejarnya, termasuk Letnan Mills dan beberapa anggota keamanan Machina Factory.
Jack Higgins senang karena sebentar lagi tugasnya akan menjadi lebih ringan. Setelah Presiden Tramp meninggalkan tempat ini, maka tanggung jawab pengawalan orang nomor satu di negaranya sudah tidak lagi berada di pundaknya. Harapannya akan segera terwujud dalam beberapa langkah lagi sebelum pria itu menaiki helikopter yang telah terlihat di depan sana.
Pilot Apache tetap menyalakan mesinnya dengan baling-baling dibiarkan berputar lemah sebagai standar yang memang ditetapkan agar kendaraan udara tersebut dapat bersiap pergi sewaktu-waktu dalam situasi segenting apa pun. Angin yang menderu dari baling-baling helikopter sedikit membuat langkah limbung tapi tidak menghambat kedua Tramp untuk naik ke bangku belakang sementara Ryan di bangku tengah.
Tramp Senior belum sempat menutup pintu di lambung helikopter ketika terdengar teriakan pria yang berlari-lari mendekat. Dari seragamnya Duncan Tramp mengenalinya sebagai anggota keamanan Machina Factory, dan orang itu tidak sendirian karena beberapa polisi ikut mengejar di belakangnya. Entah apa yang diinginkannya tetapi jelas bukan sesuatu yang baik. Wajah orang itu dipenuhi ekspresi frustrasi, makin terlihat berbahaya dengan pistol menjuntai di tangan kanannya.
“HENTIKAN HELIKOPTER ITU…” teriakan Kepala Keamanan itu makin jelas seiring dengan makin mendekatnya dirinya ke Apache dengan Presiden Tramp terheran-heran di dalamnya.
“Apa yang dilakukannya?” gumam Duncan Tramp tak sabar melihat sikap anak buahnya.
Kepala Keamanan itu melepaskan tembakan sebagai peringatan agar pilot Apache tidak segera tinggal landas, dan hal itu spontan membuat Jack Higgins, Ryan Newman, dan Bill Sandford mencabut pistol masing-masing.
“PRESIDEN TRAMP…TURUN DARI HELIKOPTER SEKARANG JUGA…”
“TURUNKAN PISTOLMU, BUNG!” Jack memperingatkan dengan tidak kalah lantang.
Walau berada di bawah acungan senjata dari ketiga anggota Secret Service, dan juga sekumpulan polisi lainnya yang mengikutinya dan kini berada di tempat tersebut, pria setengah baya itu sepertinya tidak peduli. Dia tetap menodongkan pistol kepada Presiden Tramp, dan mengokang pelatuk revolvernya kembali, “KUMINTA SEKALI LAGI MR. TRAMP! TURUN DARI HELIKOPTER…SEKARANG!!!”
__ADS_1
***