
Setelah Balin Pati mentransfer data, Mr. Janus menampilkan hasil pindaian ke hologram sehingga keduanya bisa memperhatikan bersama-sama. Sang Prefect menunjuk beberapa titik pada lautan di hadapannya, di mana laut biru telah menjadi citra hamparan hitam yang luas dengan bayangan merah yang menandakan jalur panas dan gerakan di bawahnya.
“Retakan di titik CE-23 dan BM-1 ini melebar, diameternya bertambah dua sampai tiga meter. Untungnya kedalamannya belum berubah. Selain itu muncul beberapa lipatan baru yang kritikal posisinya di A-6, AH-22, AC-45, dan BK-15…” setiap Balin menunjukkan koordinat retakan, di hologram titik cahayanya berpendar. “…dari guncangannya, lempeng di bawah landasan ini sudah meluas sejauh lima belas hingga dua puluh kilometer.”
Mr. Janus memandangi citra yang berubah menjadi jalur guncangan gempa tektonik bawah laut dengan garis hijau memanjang. Jalur itu memperlihatkan apa saja yang dilewatinya. Pria itu berdecak, “Berarti satu atau dua gempa lagi retakan itu akan masuk ke lapisan tanah di bawah Jawa dan Sumatera.”
“Yang mana bisa terjadi setiap saat,” ujar Prefect Pati. “Bisa bayangkan bila magma tidak segera dikeluarkan lewat Krakatau?”
“Berarti piramida penahan yang kita bangun di bawah palung Sunda tidak bakal bertahan. Tidak ada gunanya membangun satu lagi di sana.”
“Memang tidak ada gunanya. Kita perlu segera membangun reaktor dengan pilar nuklir. Hanya itu satu-satunya cara agar sebagian besar negara di Archipelago Territory, terutama Indonesia, berhenti mengeksploitasi minyak atau batu bara yang merusak dasar bumi.”
“Kita masih tetap pada rencana.”
“Pertemuan dengan Menteri Energi Indonesia nanti malam?”
“Belum ada perubahan. Cuma ada yang mengganjal hatiku. Kamu tahu Prime Minister Hampbull mengutus orang untuk menemuiku.”
“Siapa?” Prefect Pati mengangkat alis keheranan.
“Duta Besar Australia untuk Indonesia.”
“James Howell, aku tahu dia,” Balin mengangguk. “Lalu bagaimana percakapan kalian?”
“Dia mengajukan keinginannya memiliki reaktor nuklir…teknologi nuklir, lebih tepatnya… untuk Australia. Dia bukan hanya menelikungmu…anehnya, dia juga tahu soal Terra Empire.”
“Benarkah? Rasanya dia bukan anggota kita, kan?”
“Sama sekali bukan!”
“Mungkin Hampbull yang memberi tahu. Tapi untuk apa dia melakukan itu?”
“Kurasa karena dia tak ingin berurusan denganmu, sehingga dia mengirim anak buahnya untuk langsung bertemu denganku.”
“Aku akan bereskan soal itu sebelum ketemu nanti malam,” Prefect Pati berdecak kesal sebelum kemudian memamerkan cengiran jahilnya. “Asal ijinkan aku mandi dulu sebelumnya.”
__ADS_1
“Rasanya memang itu yang harus kamu lakukan segera,” Mr. Janus tersenyum disertai kernyitan hidung karena menahan bau.
***
James Howell baru saja selesai membereskan segala sesuatu di meja kerja pada pukul lima sore ketika sekretarisnya memberi tahu bahwa ada tamu yang ingin bertemu dan sudah menanti di ruang tunggu selama sepuluh menit.
“Aku tidak punya janji apa-apa sore ini,” sahut Howell yang sudah ingin segera pulang ke rumah. Tambahan satu tamu lagi akan memperlambat janji makan malamnya dengan istri dan anaknya.
“Tapi pria ini memaksa, Sir! Dia berpesan supaya aku menyebutkan namanya pada anda karena anda pasti mau menerimanya.”
“Aku tidak tertarik mendengar siapa pun dia.”
“Namanya Balin Pati,” kata si sekretaris seperti tak peduli.
Mendengar itu James Howell tercengang, “Balin Pa…? Baiklah, suruh dia masuk.”
Sekretaris yang duduk di meja di depan ruangan James Howell menoleh kepada pria yang duduk di sofa. Wanita itu tidak tahan untuk tidak melirik sang tamu karena sesuatu pada diri pria itu membuat jantungnya berdebar-debar. Entah karena wajahnya yang tampan dengan dagu kotak yang membuatnya tampak macho, atau jenggot tipisnya yang membuat wilayah sekitar dagu pria itu menjadi kelabu, atau karena kulitnya yang sawo matang sangat eksotik. Tapi dia menyadarinya saat Balin Pati tersenyum…itu adalah senyum yang membuat hatinya meleleh…dan dia tergagap ketika sang tamu kembali bertanya.
“Jadi bagaimana? Apakah aku bisa bertemu dengannya?”
“Eh.. oh.. ya, Mr. Howell baru saja memberitahuku untuk mempersilakan anda masuk.”
Dengan genit wanita itu berdiri dan berjalan menuju ke pintu ruangan James Howell untuk kemudian dibukanya, “Silakan masuk, Mr. Pati!”
Pria itu tersenyum kembali dan mengangguk, “Terima kasih, nona!”
Balin Pati masuk ke ruang kerja James Howell di mana pria itu sudah menunggu di meja, sibuk mengetik sesuatu di ponselnya sebelum mempersilakannya duduk, “Ada yang bisa kubantu di waktu yang sesore ini, Mr. Balin Pati?”
“Maaf kalau saya datang di jam seperti ini, Mr. Howell. Saya tahu anda sudah hendak pulang, masalahnya pagi ini saya sungguh sibuk dengan urusan di Selat Sunda.”
“Oh…bisnis?”
“Bisnis seperti biasa,” Balin tersenyum mengangguk.
“Kita semua sibuk akhir-akhir ini, bukan begitu?”
__ADS_1
“Kurasa begitu! Bertambah sibuk ketika ada proyek besar menanti. Dan dari yang saya dengar, anda juga tertarik dengan proyek yang sebentar lagi akan ditawarkan ke Indonesia.”
“Proyek apa yang kita bicarakan ini?”
“Reaktor nuklir dari Omnitec.”
Mata James Howell langsung waspada, “Lalu?”
“Saya mendapat informasi kalau anda menemui Theodore Janus baru-baru ini, bernego dengannya untuk memindahkan pembangunan reaktor nuklir ke Australia. Memangnya seberapa besar minat negara anda tentangnya?”
“Kenapa anda ingin tahu?” Howell memandang dengan curiga.
“Mungkin aku bisa membantu anda, karena Omnitec memilih perusahaanku untuk bekerja sama membangun itu di Indonesia.”
“Lalu kenapa anda tidak mau membangunnya di Indonesia kalau memang anda yang mendapat privilege itu?”
“Katakanlah aku tidak suka pungutan liar, dan aku sadar itu terlalu banyak di Indonesia.”
“Kami tidak bisa membiarkan orang non Australia untuk ikut membangun seenaknya di negara kami. Sama seperti kalian tidak suka orang asing menanamkan modalnya terlalu besar di negara kalian.”
“Periksa perusahaanku. Anda akan lihat di mana aku pertama kali berbisnis.”
James Howell membaca sejenak kartu nama yang diberikan Balin, itu kartu nama yang tidak bisa didapatkan sembarangan karena tercetak di atas kertas yang hanya dimiliki perusahaan yang bekerja sama dengan pemerintah Australia. Makin terperanjat mengetahui jabatan Balin Pati yang tertulis di sana, “Anda pemilik Perth Oil & Energy?”
“Seperti yang tertullis di sana,” Balin menyahut dengan kalem.
“Tapi bagaimana anda bisa aktif di Asia Tenggara dan bukannya Australia?”
“Ayahku Jawa, Ibuku Samoa! Itu sudah menjelaskan kenapa aku mencintai kedua negara itu, bukan?”
Sikap James Howell langsung berubah, “Senang sekali mengetahui bahwa anda terlibat dalam proyek itu, Mr. Pati! Berarti kita bisa bicara dari hati ke hati.”
“Baiklah, kalau begitu jelaskan padaku bagaimana anda tahu tentang proyek itu dan apa yang Australia mau tawarkan…”
Sang Duta Besar membeberkan semuanya dan Balin merekamnya dengan utuh dalam Auris. Memang Perdana Menteri Hampbull yang menyuruh orang itu untuk melobi Theodore Janus. Karena lobinya yang gagal, Australia sebenarnya sudah menyerah pada kemungkinan mendapatkan teknologi reaktor tersebut. Kedatangan Balin Pati pada hari ini menurutnya justru membuka kemungkinan baru yang akan menyenangkan sang perdana menteri.
__ADS_1
Balin yang belum selesai dengan interogasinya, meneruskan pembicaraan soal Terra Empire. James Howell memandang Balin dengan heran, “Dari mana anda tahu soal itu?”
***