
“Kuharap kamu puas mengacau…” Sally berkata dengan ketus begitu meninggalkan ruangan Mr. Comb. Untung saja lorong sekolah di mana mereka berada sedang lengang karena jam belajar masih berlangsung, tapi ucapannya yang disertai nada melengking membuat Jordan kuatir kalau-kalau itu akan mengganggu mereka yang ada di kelas.
“Apakah kamu akan diam saja kalau ada orang menyakiti temanmu?” Jordan malah bertanya dengan menatap balik sang kakak.
“Yang jelas aku akan menjauhi kesulitan,” balas Sally. “Ingat, Jordan… ini kesempatan baru buat kita… buat kamu… jangan sampai ini gagal sementara kita baru memulainya.”
“Bukan aku yang ingin pindah ke kota ini,” sahut Jordan lalu memberi tatapan yang membuat Sally jadi serba salah.
“Para penagih hutang itu tahu rumah kita, Jordan! Dan mereka mengancam akan membunuh kita,” jawabnya lirih karena tidak ingin terdengar oleh siapa pun walau lorong sekolah masih sepi saat itu. “Dan sekolah ini lebih baik dari sekolahmu dulu.”
“Itu karena Lynbrook High merupakan sekolah yang terdaftar dalam program bantuan pemerintah sehingga kamu tidak perlu membayar apa pun untukku.”
“Hidupku sudah cukup sulit. Aku harus bekerja seharian di McDonald, juga di shift akhir pekan, dan itu pun belum cukup…”
“Itu sebabnya kamu juga kerja di Royal Casino?”
“Seperti pernah kubilang, gajiku di McDonald tidak cukup memenuhi keperluan kita.”
“Aku mengerti, masalahnya kamu bekerja di tempat yang sama seperti ketika kita masih di Brooklyn. Dari situlah hutangmu berasal. Dan aku tidak ingin kamu jatuh ke dalam lubang yang sama di Royal Casino.”
Sally jadi jengkel mendengarnya, “Kenapa malah aku yang dihakimi? Kita sedang membicarakan tentang ulahmu.”
Berikutnya Sally nyerocos panjang lebar, mengomeli Jordan dengan membeberkan segala kesalahan masa lalu yang dilakukan Jordan, yang menurut Jordan sama saja kasusnya dengan apa yang terjadi padanya saat ini, sesuatu yang bersumber dari kesalahpahaman dan Sally yang tidak ingin direpotkan akan keberadaan dirinya. Apalagi sampai dipanggil Mr. Comb, Kepala Sekolah Lynbrook High, pada jam kerjanya, yang berarti memotong pendapatannya yang dihitung menurut waktu per hari.
“Seperti yang kubilang, dia memang tidak peduli padaku. Hanya peduli kepada dirinya sendiri,” Jordan berkata kepada dirinya sendiri.
‘Apa benar begitu?’ sahut sebuah suara dalam hatinya. ‘Kalau dia tidak peduli padamu, mana mau dia datang ke sekolah?’
“Mungkin supaya dia mendapat kepuasan bisa memarahiku.”
‘Dia bisa memarahimu di tempat lain, di apartemen misalnya…’
__ADS_1
“Tapi dia tidak bakal tahu permasalahan yang terjadi padaku. Dengan mendapatkan cerita dari Mr. Comb dia punya senjata bila suatu saat akan mengomeliku lagi.”
‘Mungkin! Tapi jauh di dalam hatinya dia ingin memastikan kamu tidak terlibat urusan yang lebih ruwet.’
“Kamu memang selalu optimis…” Jordan tertawa dalam hatinya.
‘Setidaknya ada yang menghiburmu sementara kamu diomeli panjang lebar.’
Jordan lagi-lagi tertawa dalam hati. Memang tidak ada gunanya membantah Sally panjang-lebar karena itu akan menambah panjang perkara, dan jelas dia tidak ingin anak-anak lain melihatnya berdiri dimarah-marahi di lorong ini. Agaknya sebentar lagi jam kelas akan segera berakhir karena remaja itu melihat Lana berdiri di lorong menuju ruang kepala sekolah dengan memondong tas di punggung. Gadis berambut pirang itu memandangi Jordan dan Sally dengan cemas karena Sally membentak-bentaknya, sekaligus ingin tahu.
“Pokoknya jauhi kesulitan,” Sally berkata dengan wajah memerah bagai kepiting rebus. “Sudah ya! Aku harus kembali kerja. Ini sudah lewat satu jam dari waktu istirahatku.”
Sally pergi dengan terburu-buru meninggalkan tempat itu ke arah pintu keluar sekolah. Arah yang diambilnya berbeda dari tempat di mana Lana menunggu, itu karena letak kantor Mr. Comb yang lebih dekat ke gerbang sekolah posisinya berada di sebelah selatan, sementara ruang-ruang kelas dan lorong ini, dari arah Lana McQueen tadi datang, berada di sisi utara, hingga kedua gadis itu jelas tidak mungkin berpapasan.
“Siapa itu?” tanya Lana begitu Jordan menghampirinya.
“Kakakku, Sally! Mr. Comb memanggilnya kemari soal perkelahianku kemarin.”
“Oh, pantas. Dia terlalu muda untuk menjadi ibumu,” Lana tertawa kecil. “Jadi kenapa Mr. Comb memanggilmu?”
“Ayahnya Jaksa yang disegani di kota ini, juga pemberi donasi besar Lynbrook High. Jangan heran kalau Tom bisa sering lolos dari detensi Mr. Comb.”
“Benarkah? Padahal kupikir Mr. Comb itu orangnya baik.”
“Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa menilainya begitu. Kamu kan baru pertama kali bertemu dengannya di ruang klinik, saat dia menanyaimu,” ucap Lana. “Nyatanya sudah banyak kasus seperti ini. Biasanya anak-anak lain yang menanggung hukumannya.”
“Yang membuat Allen dan kawan-kawannya makin semena-mena memperlakukan anak-anak lain,” Jordan menggeleng.
“Aku setuju dengan kakakmu, setelah ini sebisa mungkin jauhi Allen…”
“Hey, aku tidak tahu kamu menguping pembicaraan kami,” Jordan nyengir.
__ADS_1
“Suara kakakmu keras begitu, bagaimana mungkin aku tidak mendengarnya,” kata Lana.
“Tenang saja, aku nggak suka cari gara-gara, kok! Cuma aku tidak bisa diam saja melihat perlakuannya padamu.”
“Jangan pikirkan aku,” ucap Lana dengan wajah kuatir. “Allen bisa bikin kamu makin terjerumus dalam masalah yang lebih berat dari ini.”
“Iya, sih…apa yang lebih berat dari menjalani detensi membersihkan sekolah selama sebulan?” Jordan mengerang.
“Kamu mau bertemu Mr. Miller dulu sebelum makan siang?” Lana bertanya begitu tiba di kantin.
“Orangnya yang mana, ya?”
“Mau kutemani?” Lana menawari. “Biasanya jam segini dia ada di kantin.”
Tidak sulit menemukan Fred Miller, pria itu sedang berada di bagian belakang kantin, mengutak-atik pembersih debu yang sepertinya sedang ngadat. Pria yang sehari-hari bertugas sebagai petugas kebersihan sekolah itu sepertinya berkebangsaan Mexico, terdengar dari logat hispanik yang begitu kentara saat orang itu bicara dalam bahasa Inggris. Usianya mungkin sudah mencapai lima puluhan, bahkan usia pria tersebut rasanya jauh lebih banyak daripada gabungan usia Jordan dan Lana sekaligus.
Pria itu memandangi Jordan dengan menyelidik, sepertinya tak yakin Jordan bisa membantunya dengan urusan bersih-bersih sekolah. Mungkin juga dipikirnya anak itu hanya akan merepotkan, tapi dia tidak dapat menolak karena Jordan datang atas perintah Kepala Sekolah. Bila dirinya tidak memberinya tugas-tugas sebagai detensi atas ulah yang sudah dilakukannya, anak itu bisa bersikap seenaknya setelah itu…
“Coba kulihat tanganmu….”
Jordan bingung mendengar permintaan itu tapi dia mengulurkan tangannya juga…
Fred Miller memandangi kedua telapak tangan Jordan dengan seksama, “Hmmm, lumayan juga. Aku yakin kamu tidak seperti anak manja lainnya di sekolah ini. Pertanyaan besarnya, apa kamu bisa menyapu dan mengepel lantai… itu akan kita lihat hari Senin.”
“Baik, Mr. Miller. Jadi kita ketemu setelah jam pulang sekolah?”
“Hey, seenaknya saja menentukan!” tukas Fred Miller. “Kamu harus datang jam tujuh pagi… tepat jam tujuh…”
“Sepagi itu?” Jordan tercengang.
“Memangnya kamu pikir tempat ini bisa bersih sendiri ketika kalian datang pagi-pagi?” ucap Mr. Miller dengan pandangan sebal. “Datang jam tujuh pagi dan saya akan mengajarkan hal-hal yang diperlukan lebih dahulu sebelum kamu memulai detensimu.”
__ADS_1
“Baiklah, Mr. Miller! Sampai ketemu hari Senin jam tujuh pagi,” Jordan mengangguk.
***