
Benda yang 'disembunyikan' itu ternyata sebuah tabung logam dengan diameter tiga meter, memiliki lubang-lubang di seluruh penjuru sisinya, sementara di bagian atas terdapat pipa paralon yang terhubung ke kotak kaca berisi tumpukan sampah di sampingnya. Sementara di sebelah kotak kaca yang dipenuhi sampah terdapat kotak kaca lain yang penuh berisi air laut.
"WAFT seri dua merupakan pengembangan dari sistem pengairan otomatis yang kita ciptakan sebelumnya dan mesin filter ini sebagai komponen vital yang memungkinkan WAFT seri dua lebih maju daripada yang sebelumnya..." Profesor McQueen berkata. "...canggihnya seperti apa, mari kita saksikan yang berikut ini... "
Carl dan temannya maju ke panggung, mengangkat tabung silinder yang telah disetel dengan program yang telah diinput oleh sang Profesor ke komputer yang ada di salah satu sisi dinding tabung filter sebelumnya, kemudian menceburkannya ke dalam kotak kaca berisi air keruh.
Sang profesor menoleh kepada hadirin, "Air yang ada di dalam kotak kaca ini berisi air laut, sebagai gambaran samudera di mana kita akan membangun sistemnya. Sementara tabung yang baru saja dimasukkan adalah mesin filter penunjang WAFT seri dua yang ada di sekeliling wahana."
"Pada tabung filter terdapat pipa penyuling yang terhubung ke kotak berisi tumpukan sampah yang difungsikan sebagai wahana tanam, dan lihatlah apa yang terjadi ketika mesin filternya bekerja dan seseorang menyebarkan benih jagung yang akan dibudidayakan..." Profesor McQueen mengeluarkan segenggam benih dari dalam kantong kertas yang sedari tadi berada di meja lalu menaruhnya dengan sembarang ke dalam kotak kaca berisi tumpukan sampah.
Tabung filter bergetar diiringi dengung berat yang lembut...perlahan-lahan air keruh dalam kotak kaca menurun dan terus turun meskipun Carl kemudian menyalakan air keran untuk menambah debit volume... dan dari pipa paralon keluar air yang membasahi tumpukan sampah.
"Di maket demo ini kita bisa melihat bagaimana aliran gletser yang turun ke laut bisa turun hingga lima sampai sepuluh senti setelah tabung filter mengonsumsi air dengan rakus dalam waktu singkat...dengan seratus tabung macam ini saja kita bisa melihat bahaya yang bisa dicegah dari potensi meningginya air laut nantinya...dengan tabung filter ini sistem ladang samudera sanggup menurunkan volume air laut di sekeliling sekaligus mengalirkan hasil penyulingan air lautnya ke kaca berisi sampah ini untuk memberi kehidupan benih yang ada di dalamnya."
Kamera yang terpasang di atas kotak kaca mengirimkan gambar ke layar besar yang membuat orang-orang di seluruh ruangan berdecak kagum sepuluh menit kemudian, saat beberapa daun kecil menyeruak ke luar dari titik tenggelamnya benih-benih yang dijatuhkan sang profesor. Semua orang bertepuk tangan kagum.
"Benih itu tumbuh hanya dalam lima belas menit?" Howard Tramp berbisik dengan kagum kepada anaknya.
Tramp Junior mengangguk bangga, "Panennya hanya butuh waktu satu-dua minggu."
"Saudara-saudaraku, inilah kemampuan sistem WAFT seri dua...dengan ini kita mampu membangun model pertanian baru berupa ladang jagung, gandum, atau pun padi di tengah samudera dengan proses produksi yang cepat..." Profesor McQueen berkata lantang demi mengimbangi gemuruh tepuk tangan yang tak kunjung berhenti. “…di akhir presentasi saya ini, anda boleh menyerbu jagung-jagung bakar di deretan meja di sebelah kiri anda untuk menikmati seperti apa rasanya hasil ladang di laut ini.”
"Demonstrasi yang mengesankan, Profesor," Presiden Tramp memuji sambil menjabat tangan Archibald McQueen begitu sang ilmuwan turun dari panggung.
"Terima kasih, Mr. Presiden! Saya harap konsep ini bisa ditawarkan ke USDA, kami siap mengirim proposalnya bila mereka tertarik," sang ilmuwan menanggapi.
"Tentu! Pertanian di tengah samudera. Siapa yang kepikiran ide macam itu," Tramp senior menggeleng-geleng seolah tak habis pikir. “Katakan padaku, seberapa besar wahana yang ada dalam pikiran kalian dalam pembangunan sistem ini?”
Duncan Tramp menjawab, "Kami sudah membuat percobaan sistem ini di lahan seluas dua ratus meter di perairan dekat Cabrillo Beach. Hasilnya kami berhasil memanen sekitar dua ton jagung dalam waktu sebulan.”
__ADS_1
Tramp Senior terperanjat, “Sebanyak itu?”
“Sebanyak itu!” Tramp Junior mengangguk. “Dan yang ada di benak Profesor adalah mengubah area seluas tiga puluh hektar di perairan dekat benua Antartika, sebagai awalnya.”
“Kamu tahu yang bakal terjadi dengan hasil sebanyak itu?” Tramp Senior mengerutkan kening.
Duncan Tramp memperhatikan sorot mata ayahnya sebelum menjawab, “Itu tergantung dari sudut mana Ayah melihatnya.”
Howard Tramp tertawa, “Pekerjaan kita akan bertambah banyak, nak!”
“Artinya kami memang butuh bekerja sama dengan USDA,” timpal Profesor McQueen.
“Tentu, Profesor…tentu…” komentar sang Presiden. “Aku yakin mereka akan dengan senang hati menghubungi kalian.”
“Luar biasa…” ucap Archibald McQueen tersenyum senang tetapi di saat bersamaan senyumnya raib ketika dilihatnya salah satu pengawal Presiden, pria gelap bertubuh kekar dengan kacamata hitam, menghadang Lana dan Jordan. “…namun sebelum kerja sama itu terjadi, boleh saya minta kerja sama dari anak buah anda? Anak perempuan saya ingin berfoto dengan anda.”
“Biarkan mereka lewat, Jack!” tegur Presiden Tramp disertai lambaian tangan.
“Senang bertemu anda, Mr. Tramp,” Lana membentangkan senyumnya yang termanis. “Terakhir bertemu denganmu, warna kelabu di rambutmu belum sebanyak sekarang.”
“Hei…hei jangan ngomong sembarangan Lana,” sang ayah memperingatkan sementara Duncan Tramp meledak dalam tawa.
“Anakmu bukan hanya semakin cantik tapi juga makin lucu, Archie…” ujar Duncan Tramp. “…sedari kecil dia selalu berhasil bikin aku ketawa.”
“Boleh aku meminta foto bersama ayahmu, Pak Duncan?” Lana bertanya malu-malu.
“Kenapa kamu tidak menanyakannya sendiri?” Duncan melirik ayahnya.
“Apakah kita akan selfie atau aku harus minta anakku untuk memfotokan untuk kita?” goda Tramp Senior.
__ADS_1
Lana cekikikan, “Jangan, saya jad tidak enak sama Mr. Tramp Junior. Kita selfie saja.”
“Oke…” Howard Tramp tersenyum mengangguk.
“Ayo, Jordan! Kamu juga ikut…” kata Lana seraya menyiapkan kamera ponselnya.
“Gadis yang menyenangkan. Sering-seringlah mengajaknya ke sini,” komentar Duncan.
“Aku pernah beberapa kali mengajaknya kemari, kok! Hanya saja kalian memang belum sempat bertemu.”
“Aku yang terlalu sibuk, ya?” kata Duncan.
“Bukan! Lana saja yang memang tidak terlalu suka ikut acara-acara seperti ini. Membosankan katanya. Cuma malam ini dia terpaksa ikut karena tidak ada makanan di rumah, gara-gara pengurus rumah kami sedang ada masalah keluarga hingga dia tidak dapat bertugas, padahal dia mengajak teman sekolahnya untuk makan malam bareng,” Archibald McQueen berkata kepada Duncan Tramp sementara anak perempuannya mengambil beberapa pose bersama ayah sang kolega dan teman sekolahnya. Saat itu disadarinya ada yang tidak beres di tubuh Lana. “Dan aku merasa lebih aman membawanya walaupun aku sadar resikonya dia suka berkeliaran seenaknya.”
“Cukup?” Howard Tramp bertanya geli setelah sesi ‘berfoto’ selesai. “Kamu tidak minta tanda tanganku sekalian?”
“Kurasa cukup, Mr. Presiden,” Archibald McQueen menyela sebelum Lana menjawab. Pria itu memegang bahu Lana untuk mengingatkan apa yang sedang dipakainya. “Sebab Lana dan Jordan harus kembali ke gudang untuk mengembalikan apa yang diambilnya dari sana.”
Lana mendadak menjadi malu karena baru menyadari bahwa dirinya belum sempat melepaskan rompi pengaman yang dicobanya bersama Jordan di gudang, “Astaga, aku benar-benar lupa, Daddy! Maafkan! Aku buru-buru turun begitu petugas keamanan memberi tahu kalau Mr. Presiden sudah mulai berpidato untuk membuka acara.”
“Untungnya kamu tidak terlambat,” Tramp Senior tersenyum lebar, sepertinya senang karena mendapat penggemar yang begitu antusias.
“Seperti ayah bilang, pidato anda memang bagus, Mr. Tramp,” puji Lana.
“Terima kasih, anak manis,” sahut sang Presiden dengan wajah berseri-seri.
“Lanaa…” Profesor McQueen memperingatkan.
“Iya, ayah… aku ke sana sekarang…” Lana tertawa geli. “Kamu mau menemaniku lagi ke gudang kan, Jordan?”
__ADS_1
“Tentu!” Jordan tersenyum.
***