TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 20 : ALARM BERBUNYI


__ADS_3

Begitu berbalik Lana melihat pria berseragam militer bernuansa hitam menodongkan senapan otomatis laras panjang. Entah dari mana datangnya orang itu sebab Jordan dan dirinya tidak melihat siapa pun dalam ruang penyimpanan ini sebelumnya. Yang jelas, pria asing itu pasti terlatih karena keduanya sama sekali tak merasakan gerakan mendekat darinya.


“Jauhi tombol itu, gadis manis…minggir ke sebelah kananmu…” orang itu memberi perintah dengan galaknya dalam bahasa Inggris yang tertatih-tatih.


“Lakukan apa yang dia inginkan, Lana,” ujar Jordan dengan suara penuh tekad agar Lana menuruti permintaan orang itu. “Dan anda juga sebaiknya tenang, bung! Kami tidak akan melakukan apa-apa!”


Jordan berusaha membuat situasi setenang mungkin agar Lana tidak histeris dan pria asing yang menodongkan senjata itu tidak melakukan tindakan bodoh.


“Bagus! Sebab aku tidak akan segan-segan menarik picu di jariku ini bila kalian berbuat aneh-aneh,” pria itu berkata dengan logat yang lucu.


“Aku tahu kamu tidak akan melakukan hal itu,” Lana berkata dengan nada menantang.


“Apa maksudmu, Lana?” Jordan menyela.


“Menembak cewek! Dia tidak akan melakukan itu.”


“Aku menembak penjaga keamanan itu beberapa waktu lalu, bagaimana kamu yakin aku tidak akan menarik pelatuk senjata ini?”


“Seperti yang kamu bilang. Kamu akan tetap menembak kami apa pun yang terjadi. Jadi apa tidak sebaiknya kita biarkan pion kecil ini berkorban agar seluruh prajurit yang ada di sana terbangun?”


Jordan mengerutkan kening mendengar itu, dia tidak habis pikir sampai melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana gadis itu berbalik ke belakang, tangan terulur dengan maksud menekan tombol darurat, dan Lana hampir saja berhasil melakukannya bila tembakan penjahat itu tidak keburu menghentikan langkahnya. Gadis itu terjerembap menabrak dinding sebelum jatuh ke lantai dengan kepala bagian belakang berlubang…


“TIIIIDAAAKKKK….” seru Jordan.


“HEY, HENTIKAN TERIAKAN BODOHMU, BOCAH *****!”


Teriakan itu membuat Jordan mengerjap-ngerjap mata, mengembalikan dirinya ke dunia nyata. Lana McQueen berdiri di dekatnya sementara orang asing itu berdiri di belakang mereka dengan menodongkan senjata. Diikutinya Lana yang mengangkat tangan, bertanya-tanya dengan heran dalam hatinya, “Apa-apaan itu tadi?”


Suara yang kerap berbunyi dalam pikirannya menegur, ‘Kamu lihat hal mengerikan yang akan terjadi? Jangan lakukan hal yang keliru…’


Orang asing itu kemudian memberi perintah, “Jauhi tombol itu, gadis manis… pelan-pelan bergeraklah ke sebelah kananmu… ya, di sebelah pacarmu yang pengecut itu!”


“Lakukan apa yang dia inginkan, Lana,” ujar Jordan dengan suara penuh tekad agar Lana menuruti permintaan orang itu. “Dan anda juga sebaiknya tenang, bung! Kami tidak akan melakukan apa-apa!”

__ADS_1


Lana menoleh kepadanya dengan keheranan, “Bukannya kamu yang harusnya tenang? Siapa yang menjerit-jerit barusan?”


Jordan menoleh dan mengerutkan kening supaya gadis itu tidak banyak komentar.


“Bagus! Sebab aku tidak akan segan-segan menarik picu di jariku ini bila kalian berbuat aneh-aneh,” pria itu berkata dengan logat yang lucu.


Suara di dalam hati Jordan berkata, ‘Katakan yang baru saja kuucapkan kepadanya. Ketika dia termangu berlarilah ke belakang Lana dan tekan tombol daruratnya.’


“Bagaimana kalau dia menembak Lana?” Jordan berkata dalam hatinya.


‘Lakukan saja apa yang kuperintahkan kalau kamu mau selamat dari situasi ini,’ balas suara di dalam hatinya itu dengan tak sabar. Dan suara itu sepertinya ada benarnya karena di saat bersamaan Lana berkata dengan nada menantang, “Aku tahu kamu tidak akan melakukan hal itu…”


Ucapan yang sama yang dikatakan Lana sebelum orang itu mulai menembakinya laksana orang kesurupan. Mendengar itu Jordan buru-buru menyela gadis itu dengan melontarkan apa yang diberitahukan suara hatinya kepada pria yang menodongkan senapan, membuat pria itu kaget mendengarnya dan bertanya dengan polos, “Kamu orang Iran?”


Remaja itu mendadak berlari ke belakang Lana. Pria itu tak siap mendapati gerakan mendadak Jordan tapi refleksnya mendorongnya menekan picu senapan. Peluru-peluru melesat ke arah Lana yang hanya bisa membeku karena panik. Mustahil dia meloloskan diri dari yang satu ini. Saat itu Jordan mencengkeram rompi sang gadis dari belakang dan berbisik di telinganya, “Jangan takut!”


“KYAAAAAA…” Lana berteriak lantang.


Kekuatan dorongan yang kasat mata itu menghambur ke sekeliling Lana, untungnya Jordan buru-buru memeluk pinggang Lana hingga tubuhnya menempel pada tubuh gadis itu, membuatnya luput menjadi korban dari pukulan lontaran tenaga yang muncul dari rompi aneh buatan ayah Lana. Sementara di sebelah depan, kekuatan dorongan rompi itu mementalkan peluru-peluru yang ditembakkan si penjahat.


Beberapa dari peluru tersebut membelok ke kiri dan kanan, sebagian ada juga yang justru berbalik ke belakang dan tanpa sengaja berbalik mengenai si penembak, tepat di lehernya. Penjahat itu terbelalak tak dapat memercayai penglihatannya, dia hanya sempat memegang lehernya yang segera mengeluarkan darah akibat peluru yang menembus ke sana sebelum roboh tanpa nyawa ke lantai.


“Tuhanku! Apa yang terjadi?” Lana berkata dengan suara keras untuk mengatasi suara alarm yang berbunyi tanpa henti.


“Ayahmu sudah membuat rompi ini punya kekuatan luar biasa,” Jordan menjawab, karena akhirnya mengetahui kenapa suara di dalam kepalanya memaksanya melakukan hal yang demikian. Suara itu sepertinya selalu tahu apa yang harus dilakukannya.


“Bagaimana kamu bisa tahu kalau rompi ini bisa melontarkan pelurunya?”


“Aku kan merasakannya sendiri, ingat? Aku dibuat terpental olehnya,” Jordan berkilah karena tak ingin memberi tahu gadis itu bahwa ada suara aneh yang memberitahunya soal kemungkinan gila mengorbankan Lana tanpa penjelasan apa pun sebelumnya.


“Kita harus cepat melapor ke pihak keamanan,” kata Lana.


“Alarm itu sudah melakukannya secara otomatis. Petugas keamanan di luar saat ini pasti sudah berlarian ke tempat ini. Yang harus kita lakukan berikutnya memastikan kita bisa keluar dari sini dengan selamat, aku yakin penjahat ini tidak sendirian ke mari.”

__ADS_1


Lana heran, “Apa yang dilakukannya di sini? Merampok barang-barang bikinan ayahku?”


“Kalau hanya merampok rasanya dia tidak perlu membawa senjata secanggih itu.”


“Kita harus keluar dari sini lebih dulu buat mencari tahu.”


“Setuju. Tapi pertama-tama rasanya aku harus memakai rompi yang seperti kamu pakai demi jaga diri,” kata Jordan.


“Aku yakin masih ada beberapa di tempat aku mengambilnya tadi,” sahut Lana sebelum dia kembali melangkah ke rak-rak gudang penyimpanan.


***


Raungan alarm tanda bahaya tak pelak menarik perhatian semua orang di dalam ballroom, terutama para penjahat yang tengah menunggu dengan senapan teracung ke arah para tamu undangan acara gala dinner. Mereka berteriak satu sama lain dalam bahasa asing dengan sikap panik.


Si pemimpin menghampiri jendela terdekat, menguakkan tirainya untuk memeriksa keadaan di luar, dan didapatinya banyak petugas keamanan Machina Factory berlarian kesana-kemari dengan senjata di tangan. Tujuannya satu, berusaha masuk ke dalam gedung untuk melakukan pengamanan situasi. Dalam beberapa menit, sesuai protokol, pasti mereka akan berusaha mendobrak masuk ke dalam  bangunan.


“Sial! Sial! Sial!” umpatnya kesal, menyadari keadaan yang tak menguntungkan pihaknya karena SFPD bersama SWAT sebentar lagi pasti berdatangan ke tempat ini untuk membantu petugas keamanan Machina Factory. Diraihnya walkie-talkie, “Kalian dengar alarm itu? Kalian sudah selesai membunuh Target Satu?”


“Negatif, Sir!” sahut anak buahnya dari walkie-talkie.


“Dasar tikus kurap tak berguna! Kita tidak punya banyak waktu lagi. Selesaikan misi kalian atau aku akan nyalakan


tombol peledaknya setengah jam lagi dan kita semua akan mati syahid di tempat ini.”


“Siap! Over and out!” sahut anak buahnya yang masih memegang alat komunikasi.


Orang itu berpaling kepada salah satu anak buahnya usai memberi pengarahan lewat walkie-talkie, “Dan suruh orang kita pergi untuk mematikan alarm sialan itu!”


Seorang wanita tua yang berlutut di dekat si pemimpin tak dapat menahan mulutnya karena mendengar ucapan sang *******, “Kamu mau meledakkan kita semua di tempat ini?”


“Kamu menguping terlalu banyak, perempuan tua bangka!” ujar si pemimpin ******* seraya mengarahkan pistolnya lalu menghabisi nyawa wanita itu dengan tembakan di dada. Tamu-tamu yang lain menjerit ketakutan. Semakin kecut, tak ada yang ingin macam-macam dengan para ******* yang tidak mengenal ampun itu. Salah sedikit saja mereka tak segan main tembak…


***

__ADS_1


__ADS_2