TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 26 : LEMBUT BAGAI TANAH LEMPUNG


__ADS_3

Jack mengintip sedikit dari birai pintu ruang kerja Duncan Tramp begitu keluar dari ruangan, sementara pintu di belakangnya segera berdesir menutup setelah Profesor McQueen dan dirinya berada di luar, demi pengamanan Presiden Tramp dan anaknya. Lelaki itu menghembuskan nafas dengan lega, untuk sementara, mendapati di ruangan di hadapannya belum ada sebatang hidung pun manusia yang tampak.


Keadaan masih aman buat mereka… para penjahat belum sampai ke lantai ini… lift ada di sisi barat sementara pintu darurat di selatan…dia memperkirakan mereka masih punya waktu sepuluh menit sebelum terjadi kekacauan dengan tembak-menembak yang tidak imbang antara kawanan itu dan dirinya…


“Kuharap kamu tahu apa yang kamu lakukan, Profesor!” Jack berkata setengah berbisik.


“Justru aku mengharapkan itu darimu, Jack…”


Sang agen menoleh dengan wajah sebal pada si Profesor, “…anda yang merencanakan ini. Saya di sini hanya sebagai pengawal anda.”


“Tentu…tentu…aku hanya ingin tahu nama belakangmu saja. Aku belum tahu soalnya.”


“Anda menanyakannya di saat yang aneh, Profesor!” komentar Jack yang kebingungan. “Namaku Jack Higgins.”


“Senang berkenalan denganmu, Jack Higgins! Dan seperti kubilang, ini saat yang tepat untuk memperkenalkanmu kepada anakku karena ponselnya sudah menyambung…”


“Ponsel sudah menyambung?” Jack mengangkat alis.


Lelaki setengah baya itu mengeluarkan ponselnya yang bergetar-getar dari saku celana. Rupanya benda itu sudah disetel ke mode getar, jadi bila ada panggilan masuk tidak mengeluarkan bunyi berisik. Ditunjuknya benda itu, “Seperti yang kubilang, di luar ruang CEO signal ponsel diterima dengan kuat.”


Sang ilmuwan segera menempelkan ponsel ke telinganya, “Lana?”


“Daddy…” terdengar pekikan gembira suara gadis dari balik telepon.


“Akhirnya aku bisa mendapatkan sambungan untuk menghubungimu…”


“Daddy tidak apa-apa?”


“Aku baik-baik saja. Aku ada di tempat yang aman bersama agen Jack Higgins...”


Benar juga…


Begitu keluar dari ruangan Duncan Tramp tentunya ponsel bisa berfungsi karena sudah bisa menerima signal kembali. Cepat-cepat dikeluarkannya ponsel untuk mengirim pesan kepada markas besar Secret Service. Pesan teksnya berupa serangkaian kode untuk memberi info bahwa Presiden Tramp dalam bahaya, dan bahwa Jack Higgins serta kedua koleganya, Ryan Newman dan Bill Sandford butuh bantuan segera di Machina Factory, San Francisco.

__ADS_1


“Jadi kalau sudah jelas semua kita bergerak sekarang, Lana!” kata Profesor McQueen.


“Siap, yah!” sahut anak perempuan sang ilmuwan di telepon.


Profesor McQueen berpandangan dengan Jack Higgins setelah komunikasinya dengan sang anak berakhir, “Dia gadis pintar! Dia pasti mengerti apa yang kusuruh.”


“Jadi, kita bisa mulai?” tanya Jack.


“Kita bergerak sekarang, Mr. Higgins,” Archibald McQueen menyahut.


“Hey, kenapa kita ke sini?” tanya Jack yang kebingungan karena ilmuwan itu berlari ke arah tangga darurat, bukannya menuju lift seperti yang diperkirakannya semula.


“Jangan banyak tanya dulu, Jack!” Profesor McQueen menanggapi sambil mengatur nafas di tengah berlari. “Kita


harus segera mendahului sebelum orang-orang itu sampai di tangga darurat. Bersiap-siaplah memberi kejutan pada mereka.”


Sementara kedua pria dewasa itu berlari ke tangga darurat di sisi selatan lantai lima, Jordan dan Lana yang berada tepat satu lantai di bawah berlari ke arah lift. Pintu lift yang baru menutup tiga perempat bagian memperlihatkan kedua penjahat sudah berada di dalamnya, tepat saat Jordan dan Lana tiba di tempat tersebut. Untungnya kedua penjahat itu sama sekali tidak menyadari kehadiran dua sejoli tersebut sampai pintu lift menutup. Lana mendekati bagian luar lift dan mencari-cari apa yang disuruh ayahnya.


“Tombol gawat darurat.”


“Yang biasanya digunakan untuk menghentikan lift?”


“Ya!”


“Itu ide brilian. Kalau diaktifkan kita bisa mengurung penjahat itu di dalam sana.”


“Memang itu idenya.”


“Tapi bukannya yang macam itu adanya hanya di dalam lift?”


“Terpasang juga di luar. Memang tidak banyak yang tahu, kecuali pemilik gedung atau mereka yang bekerja sebagai maintenance lift,” ujar Lana. “Brengsek!”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Benda itu ada di dalam panel ini. Untuk mengaktifkannya kita harus membuka atau menghancurkan dulu tutup luar ini, sedangkan aku lupa bawa alat dari gudang…” Lana berkata kesal. “Aku melupakan ucapan ayah tentang itu karena terburu-buru kemari.”


“Bagaimana kalau kamu mengambilnya?”


“Tidak ada waktu. Lift sudah akan tiba di lantai lima begitu aku kembali dengan palu.”


“Ambil saja, Lana! Coba dulu!”


Ucapan Jordan membuat Lana terpaku tapi gadis itu memberi anggukan, “Baiklah. Kamu tunggu di sini…” gadis itu lalu berbalik dan berlari ke ruang penyimpanan.


Begitu gadis itu tidak kelihatan lagi Jordan berbalik menghadap panel lift, bergumam kepada dirinya sendiri, “Dia sudah pergi! Sekarang apa yang kamu mau aku lakukan?”


Ekspresi wajah Jordan terkejut sebelum diambilnya posisi kuda-kuda. Bergumam sekali lagi sebelum mengambil nafas panjang, “Aku bukan petinju. Jangan sampai tanganku remuk karena memukulnya.”


Jordan menerjang dengan tangan terkepal. Di luar dugaannya panel yang terbuat dari logam itu terasa bagai tanah lempung yang empuk, di mana tinjunya menerobos masuk dengan mudahnya, merusakkan papan sirkuit, dan menghantam pula tombol darurat yang dimaksud Lana. Tangannya sama sekali tidak terasa sakit…tidak ada luka…atau memar…atau apa pun yang dikuatirkannya


Dalam hitungan sepersekian detik Jordan menarik balik tinjunya dan terperangah sendiri pada hasil perbuatannya. Panel lift hancur lebur. Tangannya masih utuh. Pada saat bersamaan lampu lift berpendar kacau, menyala secara acak melompati angka demi angka. Lift berhenti berdegung dan tahu-tahu terdengar raungan alarm tanda bahaya ikut mengiringi deru lift yang turun ke lantai bawah. Samar-samar Jordan mendengar lolongan ketakutan kedua penjahat yang ada di dalam, tapi dia tidak memedulikannya karena itu bukan masalah baginya…


Sistem keamanan lift memiliki protokol pengamanan dalam situasi kritis seperti gempa bumi atau kebakaran, jadi ketika Jordan mengaktifkan tombol darurat di dalam panel, sistem tersebut bekerja dan lift menurunkan orang yang berada di dalamnya ke lantai paling bawah agar orang tersebut bisa segera keluar. Hanya saja karena Jordan tanpa sengaja merusakkan pula panel sirkuitnya, lift itu tidak segera membuka sesampainya di lantai satu, malahan berhenti di tengah jalan dengan pintu lift masih menutup.


Turun dengan lift yang berkecepatan tinggi saja sudah nyaris bikin jantung copot, belum lagi terjebak di dalamnya dalam kegelapan. Sepasang penjahat itu menggedor-gedor lift dengan panik walaupun tetap tidak ada yang mendengar, baik Jordan di lantai lima ataupun teman-teman mereka yang berada di hall lantai bawah.


“Maaf, aku lama. Tidak mudah mencarinya…” tegur Lana yang baru saja datang. Gadis itu terbelalak menatap panel lift yang sudah hancur lebur. Di tangannya tergenggam palu besar, yang rasanya tidak akan banyak berguna sekarang. “Astaga…kamu sudah membukanya?”


Jordan tersenyum hambar lalu menunjuk rompinya sambil lalu, “Tiba-tiba saja aku dapat ide. Ini semua karena rompi ini.”


“Rompi?”


“Kamu bisa menanyakannya pada ayahmu kalau kita menyusulnya, kan?”


“Ke tangga darurat,” Lana mengangguk.


***

__ADS_1


__ADS_2