
Sewaktu menaiki tangga darurat, Profesor McQueen sempat menengok ke belakang dan mendapati semua ******* mengikutinya. Potensi melihat suksesnya misi mereka membunuh Presiden Amerika membuat orang-orang itu begitu antusias untuk ikut serta. Si pemimpin ******* bahkan sempat mengobrol dengan salah satu anak buahnya tentang betapa nasib baik berpihak kepada mereka.
“Setelah ini selesai aku yakin akan muncul pertanyaan bagaimana orang itu berusaha lari tapi tetap tewas juga. Dan itu menunjukkan betapa menyedihkan keputusannya.”
“Seperti pepatah di kitab mereka sendiri yang mengatakan siapa tidak ingin kehilangan nyawanya, justru akan kehilangan nyawanya.”
Si pemimpin ******* terheran-heran, “Aku baru tahu kamu membaca kitab mereka juga.”
Profesor McQueen hanya tersenyum dalam hati, biarkan saja mereka tertawa gembira saat ini. Termimpi-mimpi kalau mereka akan memenangkan pertempuran ini. Mereka semua nantinya akan menyesal setengah mati membiarkannya masuk dan mengaktifkan Fire Ball.
Sesampainya di ruang kerja CEO di lantai lima, Profesor McQueen begitu sedih melihat pintu yang diledakkan dan beberapa perabotan yang hancur lebur ditembaki, termasuk layar monitor. Untungnya peralatan lain yang diperlukannya untuk ‘menjebak’ para ******* dengan tipuan drone pemburu masih layak pakai, dan itu memungkinkannya mengakses Fire Ball.
“Bagaimana Profesor?” si pemimpin ******* bertanya setelah sang ilmuwan melakukan pemeriksaan menyeluruh. “Aku minta maaf jika kerusakannya terlalu parah.”
“Hanya perlu memperbaiki beberapa sirkuit dan menyambungkannya dengan layar monitor. Setelah itu kita bisa mulai…”
“Bagus! Segera kerjakan, Profesor…”
Para ******* begitu terkonsentrasi kepada strategi yang diberikan Profesor McQueen sehingga tak dilakukan lagi penjagaan ketat, apalagi saat itu seluruh sandera sudah dikeluarkan berkat sang Profesor. Hal itu membuat Jordan dan Lana bisa kembali memasuki bangunan dengan mudah setelah keduanya mengambil rute memutar yang sama ketika mereka keluar dari Machina Factory.
“Apakah kita yakin akan melakukan ini?” tanya Lana ketika mereka berhenti sesaat, hanya beberapa meter jauhnya dari pintu belakang dekat tempat parkir.
“Kita sudah sejauh ini, kan?”
“Sudah ada ide apa yang akan kita lakukan buat menyelamatkan ayahku?”
“Masuk ke sana dan keluarkan dia secepat mungkin.”
__ADS_1
“Begitu saja?” gadis itu mengangkat alis.
“Begitu saja!” Jordan mengangguk. ”Ayo…”
Kedua remaja itu mengendap di lantai satu, mereka harus melakukannya dengan hati-hati agar jangan sampai ketahuan oleh para *******. Tetapi nampaknya semua orang tidak ada di lantai itu. Keduanya memastikan hal itu setelah Jordan menengok ke hall, ruangan di mana para sandera ditahan, dan juga ke seluruh bagian di lantai itu.
“Mereka tidak ada di mana pun,” Jordan menggeleng.
“Kurasa para ******* itu mengikuti daddy. Ingin melihat apa yang akan dilakukannya.”
“Dan kalau kamu jadi ayahmu, ke mana kamu akan membawa mereka?”
“Ke suatu ruangan di mana aku dapat mengurung semua penjahat di dalamnya. Suatu ruangan yang menyulitkan untuk dibuka dengan cara apa pun sampai tim SWAT masuk dan meringkus para *******.”
Keduanya berpandangan dan berkata bersamaan, “Ruang kerja CEO lantai lima!”
Lana benar…
Sayangnya ada satu kelemahan dalam rencana itu… dibutuhkan satu orang yang bertanggung jawab untuk memastikan semua orang masuk dan mengunci ruangan itu dari dalam. Dan sudah pasti orang itu haruslah Profesor McQueen. Yang dilakukan Profesor McQueen sungguh nekad dan bisa saja berakhir dengan kematian bagi lelaki itu. Para ******* yang panik saat terkurung dalam kamar khusus itu pasti akan menembaki ayah Lana bilamana dia menolak untuk membuka pintunya. Itulah yang ditakutkan Lana saat sang ayah memberi tahu soal rencananya. Gadis itu tidak salah bila mengatakan ayahnya ingin bunuh diri…
Kedua remaja itu memutuskan untuk menyusul langsung ke lantai lima, dan mereka jelas tidak bisa menggunakan lift sebab benda itu masih dalam kondisi rusak. Jadi tangga darurat adalah satu-satunya cara. Sesampainya di puncak tangga darurat di lantai lima, Jordan dan Lana tidak lagi mendapati kedua mayat ******* yang tergeletak di sana pada waktu mereka melarikan diri bersama Presiden dan Secret Service. Agaknya para ******* telah menyingkirkan mayat-mayat tersebut ke tempat lain. Hal itu membuat keadaan tangga darurat menjadi jauh lebih baik.
Jordan baru saja hendak membuka pintu tangga darurat ketika terdengar pembicaraan dari luar, “Lama sekali kamu, bung?”
“Tidak mudah membawa TV monitor seberat ini sendirian. Lewat tangga pula.”
“Komandan sudah menanyakanmu. Kelamaan sedikit, rasanya dia sendiri yang akan turun ke bawah menjemputmu.”
__ADS_1
“Yeah, mungkin ada baiknya dia melakukan itu,” temannya menanggapi lalu kedua orang itu terkekeh.
“Menurutmu apakah Profesor itu akan berhasil melakukan rencananya?”
“Kalau dia gagal, aku sendiri yang akan menembaknya. Berani-beraninya menyuruhku mengambil TV monitor berat ini dan mengeluarkan semua sandera. Rasa kesalku belum hilang karena belum berhasil menangkap bedebah yang menghajar hidungku dengan pintu tangga darurat.”
“Memang jadi terlihat lebih pesek. Tapi aku tidak tahu apakah itu sebelum atau sesudah hidungmu terbentur…” ejek temannya.
“Kalau sedang tidak membawa TV monitor yang komandan minta, sudah kutonjok kau…”
Suara keduanya menjadi samar begitu membelok ke tikungan lorong dan baru setelah itu Jordan berani keluar dari tangga darurat, kemudian mengintip dari balik dinding lorong. Dari posisinya dia bisa melihat keadaan dengan baik. Persis yang mereka duga, para ******* memang sedang berkumpul di ruang kerja CEO, hanya ada satu orang saja yang sedang berjaga di depan pintu dan orang itu sedang asyik merokok.
Profesor McQueen pasti sedang ada di dalam ruangan, melakukan sesuatu demi mengulur waktu supaya Letnan Mills dan anak buahnya bisa menyerbu pada kesempatan yang tepat, yakni ketika Profesor berhasil mengurung para ******* di dalam ruangan khusus. Pria itu tidak mempunyai bala bantuan selain mereka berdua, Jordan dan Lana, agar dia bisa selamat dari rencana nekad itu.
Yang harus dilakukan Jordan dan Lana sebelum tim SWAT menyerbu dengan brutal adalah masuk ke ruang kerja itu, mengeluarkan Profesor tanpa tertangkap para *******, dan mengurung para penjahat di dalam. Jordan punya beberapa ide untuk melakukan itu tapi dia harus menyingkirkan dulu pria yang berjaga di depan itu, atau setidaknya membuatnya ikut masuk ke dalam.
Anak laki-laki itu kembali ke tangga darurat di mana Lana menunggunya. Gadis itu menatap dengan cemas, “Kamu dengar obrolan kedua penjahat itu? Mereka akan membunuh ayah kalau gagal.”
“Kita bisa menyelamatkannya. Tapi aku perlu beberapa barang buat itu.”
“Apa yang kamu perlukan?”
“Gas air mata, topeng gas, dan senjata untuk perkelahian jarak dekat.”
“Itu saja?”
“Yeah, di mana kita bisa mendapatkannya?”
__ADS_1
“Kita ada di Machina Factory, Jordan! Di sini aku bisa mendapatkan apa pun. Kita turun dulu ke lantai empat buat mengambil barang-barang yang kamu sebutkan tadi…”
***