TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 28 : PALU MENGENAI WAJAH


__ADS_3

Senapan penjahat yang menyalak dengan brutal…


Bersamaan tangan kanannya yang bergerak mengayunkan palu...


Semburan panas api dan ledakan yang memekakkan telinga…


Kilasan gambar-gambar itulah yang ada di pandangan Jordan…berpindah-pindah cepat… tidak fokus…samar... memualkan karena itu bukan hanya membuat kepalanya pusing, tapi juga menekan perutnya hingga ke ulu hati…


Jordan tenggelam dalam situasi yang aneh sekaligus lucu tanpa menyadari bahwa dirinya sedang meluncur terbang dari pertengahan tangga akibat kekuatan dorongan peluru-peluru yang ditembakkan kepadanya dari jarak dekat. Tangan kanannya yang terayun tidak mampu mempertahankan pegangan pada gagang palu, benda itu terlepas, dan ajaibnya…entah bagaimana…meluncur deras menghantam wajah ******* yang berada di balik topeng,… sesuatu yang memang hendak dilakukannya ketika mengayunkan benda itu.


Seiring dengan Jordan yang menabrak dinding tangga darurat, ******* yang wajahnya baru saja dihantam palu terbang itu tanpa sengaja tergelincir, kakinya menginjak genangan darah di undakan teratas, dan kehilangan keseimbangan. Telunjuknya yang masih menyangkut di senjata tak sengaja menarik pemicunya sehingga senapan otomatisnya menembak ke udara beberapa kali sebelum penjahat itu jatuh terguling-guling.


Tubuhnya menggelinding sepanjang undakan lantai lima menuju lantai empat, berlomba dengan korbannya yang nyaris ditabraknya. Jordan terhempas keras ke dinding sebelum roboh ke lantai dengan debaman keras. Dia gagal mencegah benturan di belakang kepala namun setidaknya berhasil memiringkan tubuh sehingga saat mendarat bukan wajahnya yang langsung menghantam ubin.


“JORDAAANN…”


Lana berlari menaiki tangga dengan langkah panjang, menghampiri temannya yang menelungkup tak bergerak, dan membalikkan tubuh Jordan. Diperiksanya sekujur tubuh temannya, terutama di bagian di mana penjahat tadi menembakkan senjatanya, dan gadis itu merasakan kelegaan luar biasa setelah tidak mendapati peluru ataupun darah pada tubuh Jordan. Meskipun tidak mengalami luka, Jordan merasakan nyeri luar biasa di sepanjang dada hingga ke ulu hati. Belum lagi yang menjalar di  bagian samping tubuhnya yang membuatnya sulit bergerak.


“Katakan sesuatu Jordan…” pinta Lana.


Teriakan Lana terdengar samar di pendengaran Jordan, ucapannya yang terakhir itu membangkitkan sesuatu dalam dirinya sehingga remaja itu tiba-tiba terguncang dan terbatuk-batuk, digelengkannya kepala buat mengusir pening, mata Jordan membuka perlahan dan melihat wajah Lana di dekatnya…wajah gadis itu tampak lega, matanya berkaca-kaca haru…


“Syukurlah…kamu masih hidup…syukurlah…”


“Aku pernah merasakan yang lebih buruk dari ini…” Jordan menanggapi dengan suara tercekat di lehernya sebelum terbatuk-batuk sekali lagi.


“Kamu benar…rompi ini menyelamatkan kita…menyelamatkanmu…”


“Nampaknya demikian…” Jordan berusaha bangun dan memutuskan duduk bersandar di dinding buat memulihkan diri dulu. Dia terkesiap mengetahui ******* yang terbaring di dekatnya tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. “Apakah dia sudah mati?”


“LANAAA…”


Seruan Profesor Queen terdengar begitu pintu tangga darurat di lantai lima membuka. Perasaan haru sekaligus cemas terpancar di wajah Ayah Lana, yang segera menuruni undakan tangga untuk memeluk anak gadisnya, “Syukurlah kamu tidak apa-apa…”


Ayah Lana tidak sendirian…dia ditemani seorang pria berkulit gelap yang dilihat Jordan sewaktu di acara gala…itu orang yang menghalangi dirinya dan Lana saat hendak mendekati Presiden Tramp…dia berdiri tegap di keremangan puncak tangga lantai lima dengan pistol di tangan. Rupanya dengan dialah para ******* tadi melakukan baku tembak…

__ADS_1


“Daddy…” Lana tak kuasa menahan haru kala memeluk sang ayah.


“Kamu tidak apa-apa, nak?” Profesor McQueen menengok keadaan Jordan.


“Masih hidup sejauh ini, sir!” jawab Jordan tersenyum.


“Penjahat itu menembak Jordan, dad! Beruntung dia memakai rompi buatanmu.”


Profesor McQueen mengangguk-angguk senang, “Kamu tahu apa yang harus dipakai di saat seperti ini, nak!”


“Lana yang lebih tahu, sir!”


“Rompi yang menarik,” kata Jack Higgins yang rupanya telah turun ke lantai empat. “Sepertinya kamu harus punya yang seperti itu.”


“Salah satu penemuanku yang gagal, sebenarnya,” sahut Profesor McQueen.


Mendengar jawaban itu Jordan menoleh pada Lana. Gadis itu hanya mengangkat bahu dan tersenyum kikuk, seraya berkata-kata tanpa suara, “Itu bekerja, kok!”


“Apakah dia mati?” sang agen kemudian mengamati ******* yang tadi jatuh terguling-guling bersama Jordan.


“Palu?” Jack Higgins mengernyit


“Aku membawanya dari lantai empat,” Lana menunjuk palu yang terbujur di undakan ke sepuluh dari urutan bawah. Tergeletak tak jauh dari beberapa peluru yang membengkok setelah menghantam rompi pelindung yang dipakai Jordan.“Tadinya mau kupakai mengaktifkan tombol darurat lift.”


“Dan kamu berhasil…lift itu belum sempat naik ke lantai lima,” kata Profesor McQueen.


Jack Higgins mendongak usai memeriksa mayat *******. “Tidak ada denyut nadinya. Itu melegakan. Nah apa ini?”


Wajah sang agen semakin bersemangat mendapati radio walkie-talkie tersimpan di balik pakaian ******* itu. Radio itu terlihat baik-baik saja dan masih berfungsi. Dia berpaling pada Profesor McQueen. “Dengan ini kita bisa memantau pergerakan mereka.”


“Keuntungan bagi kita, bukan?” ujar sang ilmuwan.


“Sangat!” Jack Higgins menyahut. “Ayo, kita harus segera balik ke ruang perlindungan sebelum ******* yang lain menyadari kegagalan mereka.”


“Kamu bisa bangun, nak?” tanya sang Profesor dengan pandangan kuatir.

__ADS_1


“Kurasa bisa,” Jordan mengangguk lalu berdiri perlahan.


Dia mengernyit menahan perih. Tubuhnya masih nyeri di beberapa bagian, terutama di ulu hati yang menjadi tempat bersarangnya peluru si ******* dan rusuk kanan yang menjadi tumpuan pendaratan brutalnya barusan. Kakinya sedikit gemetaran sebagai penyangga tubuh tapi itu bukan masalah karena Lana dan ayahnya memberi bahu mereka sebagai topangan dan itu banyak membantu.


"Thanks!”


Ketiganya naik ke atas mengikuti Jack Higgins yang sudah lebih dulu sampai ke puncak tangga. Lana menyempatkan mengambil palu yang tergeletak di undakan dan menyelipkannya ke balik sabuk. Dia merasa harus membawa palu itu sebab dengannya dia merasa aman. Terbukti sudah palu itu menyelamatkan dirinya dan Jordan, meski itu tanpa sengaja.


Jordan merasa lebih baik tidak berapa lama setelah mereka sampai di lorong lantai lima. Dia tak lagi butuh topangan Lana atau Profesor McQueen, walau memang belum bisa berjalan secepat biasanya. Jack Higgins berjalan di depan, berjaga-jaga sambil memastikan tak ada ******* yang muncul tiba-tiba dalam perjalanan ke tempat persembunyian. Sesuatu yang tidak perlu tentunya mengingat para ******* di kedua tim sudah dilumpuhkan…


“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya,” komentar sang agen.


Baru saja dia mengucapkan hal itu terdengar ledakan hebat yang menggetarkan jendela, kilatan bola api berpendar cepat sebelum ditelan kepulan asap dan kebakaran yang melalap sebagian dari sisi depan bangunan utama. Keempatnya terbelalak ketika mendekati jendela dan mendapati rombongan polisi dan tim SWAT berhamburan menjauh. Barikade yang dilakukan polisi di belakang mobil mereka juga tidak bertahan seperti seharusnya, beberapa dari aparat malah tewas dengan kondisi mengenaskan.


Lana menutup mata karena tidak sanggup melihat kekacauan yang tengah berlangsung di bawah sana, “Tuhanku mereka tewas…jangan biarkan mereka semua tewas…”


Saat itu terdengar suara dari walkie-talkie yang diambil Jack Higgins dari ******* yang tewas, “Anda sudah merasakan besarnya kekuatan kami, Letnan Mills? Jangan biarkan anak buah anda mati konyol! Aku masih punya banyak bom seperti tadi di bangunan ini.”


“Polisi-polisi itu tidak dapat bertahan menghadapi mereka…” Jack berkata dengan wajah prihatin.


Profesor McQueen berkata sedih, “Teroris ini tidak main-main dengan usaha mereka!”


“Mereka tidak takut menghabisi semua orang,” timpal Jordan.


“Apakah mereka masih di hall lantai bawah?” tanya Lana. “Mudah-mudahan mereka terus di sana agar kita bisa aman di sini.”


“Tenang saja, Lana! Kita aman di lantai ini,” sahut ayahnya.


“Yang terpenting sekarang mengamankan Presiden dan semua orang di sini dengan…” pria itu terdiam, sepertinya dia baru saja mendapat ide bagus. “…kurasa ini saat yang tepat untuk bertindak.”


“Apa maksudmu, Mr. Higgins?” Profesor McQueen menoleh. “Apa yang kau pikirkan?”


“Sementara ******* sibuk dengan polisi dan tim SWAT, kita bisa mengambil kesempatan untuk keluar dari sini hidup hidup…tapi kita harus melakukannya sekarang…” Jack menanggapi. “Ayo, Profesor…kita panggil yang lain…”


***

__ADS_1


__ADS_2