
Jordan memandangi ******* yang tidak sadarkan diri di hadapannya dengan cemas,“Tuhanku…apa yang kulakukan?”
Wajar saja bila Jordan mengalami kepanikan karena dari pelipis orang itu merembes darah yang tak kunjung berhenti. Diperiksanya nadi orang itu dan sewaktu mendapati masih ada denyut di lehernya Jordan baru bisa merasa lega. Untung lah pukulannya tadi hanya melukai si penjahat, membuatnya tak sadarkan diri, tidak membunuhnya. Mungkin si penjahat akan mengalami gegar otak akibat pukulannya tapi setidaknya orang ini masih hidup.
“Untunglah aku tidak sampai membunuhnya...” gumamnya.
Bagian pertama dari rencananya berhasil…
Jordan bahkan tidak percaya kalau dirinya berhasil melumpuhkan si penjaga di depan ruang kerja. Ditunggunya sejenak untuk memastikan kalau teriakan si penjahat tadi tidak sampai menarik perhatian teman-temannya, sementara di saat bersamaan melucuti pakaian orang itu. Meski pun baru enam belas tahun tapi ukuran tubuhnya sudah nyaris sama dengan pria dewasa, dan sepertinya orang ini mempunyai ukuran baju yang sama dengannya.
Tak memakan waktu lama untuk mengalihkan pakaian itu ke tubuh Jordan. Dan setelah yakin para ******* belum menyadari penjaga di depan pintu ruang kerja CEO menghilang berikutnya adalah melaksanakan bagian ke dua dari rencananya, yakni masuk ke ruangan dan memenuhinya dengan gas air mata.
Jordan mengambil kaleng yang telah dirubah menjadi bom gas air mata oleh Lana dan memakai topeng gasnya. Remaja itu berjalan dengan cepat tapi tenang. Sempat terdengar perkataan ******* yang menyeruak dari dalam,
“Kalau sudah sebaiknya kau segera mengaktifkannya, Prof!”
“Sabar! Aku masih perlu menyambung beberapa bagian...” itu suara Profesor McQueen.
Lewat kusen jendela di sisi kanan Jordan sempat melirik bagaimana tim SWAT sudah mulai bergerak menyerbu ke dalam Machina Factory. Tidak banyak waktu lagi yang tersedia baginya untuk menyelamatkan ayah Lana. Diambilnya korek api dan dinyalakannya sumbu bom gas air mata. Sumbu itu menyala dengan cepat, Jordan berharap itu tidak habis terlalu cepat sebelum dia berhasil melemparkannya ke ruangan.
“Monitornya sudah menyala…”
__ADS_1
“Bagus! Jadi bagaimana kita bisa memantau drone anda?”
“Kita akan melihatnya sebentar lagi…”
“Hey, Rahman! Masuk ke mari. Kamu pasti mau melihat ini!”
Jordan yakin orang-orang di dalam pasti memanggil temannya yang tadi berjaga di luar, orang yang dilumpuhkannya tadi, jadi remaja itu masuk ke ruangan. Ada tujuh orang semuanya, enam orang ******* yang berdiri melingkar di hampir semua sudut menuju pintu ke luar sementara Profesor McQueen berada lebih ke dalam, di tengah-tengah ruangan, dekat meja kerja yang setahu Jordan merupakan pengendali untuk mengaktifkan segala fasilitas yang ada dalam ruangan. Mungkin sistem Fire Ball juga terpasang di sana.
Mustahil masuk mengambil tanpa melewati salah satu dari mereka. Dengan cepat Jordan menghafalkan posisi semua orang, terutama Profesor McQueen, dan berharap mereka tidak bergerak terlalu ekstrim setelah bom asap memenuhi ruangan. Orang-orang di dalam ruangan belum menyadari bahwa yang masuk bukanlah rekan mereka. Keadaan yang menguntungkan ini segera digunakan Jordan untuk bergerak.
Sumbu sudah nyaris mencapai pangkalnya saat Jordan melempar kaleng gas air mata di tangannya. Berselang beberapa detik setelah sumbu membuat aluminium foil terbakar, kaleng itu terbakar dengan asap putih berhamburan. Baunya yang menyengat membuat semua orang terbatuk-batuk. Terdengar teriakan marah dari beberapa dari penjahat itu namun mereka tidak dapat melakukan apa pun karena sudah terlalu banyak menghirup asap.
Profesor McQueen mengalami kondisi yang tidak berbeda dengan para *******. Berulang kali pria itu terbatuk dan berusaha mengusir pedih di mata. Terperanjat ketika Jordan memegang lengannya, mungkin dia menyangka ******* yang memeganginya. Namun Jordan buru-buru membekap mulutnya dari belakang dan berbisik.
“Aku Jordan, Mr.McQueen! Aku datang menyelamatkanmu.”
Suaranya terdengar aneh dari balik topeng itu, tapi setidaknya dia masih bisa bersuara dan memberitahu Profesor McQueen tentang dirinya. Setelah ayah Lana memberi anggukan, Jordan memakaikan topeng gas yang kedua kepadanya. Kaca di bagian mata topeng tersebut berembun cepat karena sang profesor menghirup udara dengan rakus dari tabung topeng dan kondisi pria itu tak lagi limbung beberapa detik setelahnya.
“Setel pintunya agar menutup setelah kita keluar…”
Keduanya berlari usai Profesor McQueen menekan tombol Enter pada keyboard, yang mana telah diprogramnya untuk mengaktifkan perintah penutupan ruangan. Mereka harus segera keluar karena pintu ruangan mulai bergerak turun untuk menutup, sementara asap gas air mata perlahan menipis. Untungnya para ******* masih terbatuk-batuk dan berusaha mengusir perih di mata hingga belum ada menyadari kehadiran Jordan di sekitar mereka.
__ADS_1
Sayangnya kesialan menimpa Jordan di saat tinggal beberapa meter lagi melewati pintu. Si ******* yang semula dihindarinya di dekat dinding sebelah kanan bergerak sehingga tanpa sengaja bertubrukan dengan Jordan. Entah menyadari bahwa Jordan bukan salah satu anggota mereka, tahu-tahu orang itu memegangi pundaknya sementara tangan yang lain berusaha merenggut masker yang dipakainya.
“Siapa kamu?” seru orang itu.
Teman-temannya yang lain langsung berteriak dengan gusar, “Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?”
“Katakan Mahmoud, apa yang terjadi?”
“Aku mendapatkannya…tungguu…” balas si penjahat yang memegangi Jordan.
Jordan berusaha melepaskan cengkeraman lawan tapi tenaganya kalah kuat. Profesor McQueen hendak berbalik dan berusaha menolong, Jordan bahkan mendorong tubuh sang ilmuwan dengan kasar sebagai kode agar lelaki itu meninggalkannya. Bukannya pergi, ayah Lana malah terpaku. Sepertinya masih ingin mencoba memberikan pertolongan. Sekali lagi Jordan melambaikan tangan untuk memintanya segera keluar.
Untungnya ayah Lana menurut, lelaki itu berbalik dan berjalan cepat menuju ke pintu keluar sehingga Jordan bisa berkonsentrasi mengatasi ******* yang menyerangnya. Dan orang ini begitu ngotot, berusaha sekuat tenaga menjatuhkannya. Dia mendorong Jordan beberapa kali ke dinding, pergumulan keduanya menimbulkan keributan yang membuat teman-temannya yang lain sibuk menebak-nebak di mana arah keributan terjadi karena pandangan mereka masih begitu perih.
Si brengsek itu kebetulan saja memergoki Jordan. Sama seperti keadaan ******* yang lain, sebenarnya orang itu juga tidak terlalu jelas melihat akibat pandangannya terganggu efek gas air mata. Yang harus dilakukan Jordan adalah meloloskan diri dari cengkeramannya, tetapi orang itu terus memegangi pundak dan topengnya. Akan sangat beresiko bagi Jordan bila topeng itu sampai terlepas. Gas air mata yang masih menguar di segala penjuru ruangan juga akan membuatnya tak berdaya.
Orang itu berusaha membuatnya menabrak dinding, anak lelaki itu mengangkat kedua kakiniya menjejak dinding untuk mencegah wajahnya jangan sampai terhantam ke sana. Dengan kaki yang menumpu didorongnya tubuh sehingga ******* yang menelikungnya terhempas ke belakang. Dengan satu tekniik kuncian yang tak dipahami Jordan, pria itu membuat tubuhnya terpuntir dan dorongan itu justru membuat anak lelaki itu kini yang harus limbung menahan si penyerang yang terus menempel di belakang tubuhnya.
Karena tak kuat menahan beban si penjahat, Jordan ambruk ke samping dan menabrak papan tulis yang berada di dekat situ tanpa ampun. SI ******* berteriak-teriak kesenangan, “Aku berhasil meringkus si keparat ini…”
***
__ADS_1