TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA

TERRA EMPIRE : JELANG PERANG DUNIA
Episode 16 : PENEMUAN-PENEMUAN DI GUDANG MACHINA FACTORY


__ADS_3

Jordan tidak tahu seberapa sering Lana mengunjungi tempat ini karena sepertinya temannya itu hafal segala liku ruangan dengan gang-gangnya yang boleh dilewati dan yang tidak. Belum lagi saat menghadapi pintu dengan pengaman akses, baik yang memakai nomor atau pun pemindai tangan, karena itu semua tidak menjadi penghalang baginya untuk dilewati.


Lana ketawa melihat ekspresi keheranan Jordan. Gadis itu mengangkat tangannya, "Itu berkat tanganku tadi sudah diberi akses."


"Pantas," Jordan nyengir malu, akhirnya dia paham apa yang dilakukan Carl tadi dengan segala ucapannya kepada Profesor McQueen.


"Aku boleh melihat-lihat ke berbagai ruangan yang hanya diperbolehkan bagi orang awam. Sumpah deh, apa yang diijinkan itu kurang asyik. Untungnya..." gadis itu mengetukkan telunjuk ke pelipisnya diiringi tawa cekikikan. "... aku ingat nomor akses Ayah untuk input manual."


"Apa itu tidak apa-apa buat kita?" Jordan bertanya dengan nada kuatir.


"Aman kok! Justru di tempat yang mau aku tunjukkan inilah kamu bisa melihat apa yang dilakukan ayahku di Machina Factory."


Di lantai empat, keduanya tiba di sebuah pintu besar bertuliskan gudang di layar displaynya. Seperti tadi, Lana memasukkan sejumlah angka dan beberapa detik setelahnya pintu menggeser terbuka. Hawa dingin berhembus dari dalam ruangan di mana pandangan Jordan langsung tertumbuk pada apa yang tersimpan di dalam sana.


Ada beberapa barang yang terparkir seperti mobil dengan sepasang pintunya yang terlipat dalam posisi membuka ke atas menyerupai sayap pesawat. Di sampingnya terdapat empat drone yang berukuran dua kali lebih besar dari drone-drone yang pernah dilihatnya dan bentuknya bermacam-macam, lalu sebuah prototype sepeda lipat yang dimodifikasi agar dapat berubah wujud menjadi kayak, disertai dayung untuk memungkinkannya meluncur di air.


"Barang-barang apa ini?" Jordan bertanya dengan ternganga.


"Ini semua hasil pemikiran Ayah. Di tempat inilah ayahku menciptakan masa depan bagi umat manusia," Lana berkata dengan penuh bangga.


Gadis itu menunjuk sepeda-perahu, "Boat-cycle ini berjasa menolong banyak korban banjir ketika terjadi banjir besar di Los Angeles gara-gara serangan topan Katrina. Ayah memodifikasinya dengan bak logam besar yang mampu menampung sampai lima puluh orang, dan benda ini masih sanggup menariknya."


"Drone ini merupakan angkatan awal dari drone yang sekarang banyak digunakan petani kita untuk mengawasi lahan-lahan dan membantu proses produksi seperti menyirami serta memberi pupuk tanaman di ladang. Kudengar ayah juga mendapat pesanan dari banyak perusahaan pengiriman untuk mengembangkan drone ini sebagai awak pengiriman menggantikan manusia."


"Maksudmu drone ini yang nantinya akan mengantar pizza ke rumah-rumah dan bukannya manusia?" komentar Jordan.


"Salah satunya demikian. Kelemahan drone itu daya angkutnya kecil. Memperbesar kemampuan untuk mengangkut beban hingga sepuluh kilogram itulah yang sedang diusahakan Ayah."


"Mobil yang ini..."


"Mobil terbang," Jordan mengangguk paham.


"Namanya Vector...Vehicle Carried To Air. Dan seperti namanya, kendaraan ini mampu mengambang di udara."


"Apakah benda ini benar-benar bisa terbang?" Jordan bertanya sekali lagi sementara di saat bersamaan memeriksa mobil itu dari bawah ke atas.


"Tentu saja bisa," Lana tertawa. "Kami punya satu yang seperti ini di rumah. Bila kamu main lagi ke rumahku lain kali, aku akan menunjukkannya kepadamu."


"Pasti banyak yang ingin punya mobil seperti ini."

__ADS_1


"Bukan banyak lagi. Seluruh dunia menunggu. Kemacetan yang terjadi di jalanan kota-kota besar di banyak negara membuat orang capek memakai mobil yang biasa-biasa saja. Mobil buatan ayah sudah diincar dua perusahaan besar untuk dibeli hak ciptanya, yakni Ford dan Ferarri."


"Woww, serius? Berapa yang mereka tawarkan?"


"Tidak tahu angka persisnya cuma ayah bilang itu bisa membuatnya punya tiga machina factory lagi," Lana menjawab. "Tapi belum ada kesepakatan karena Daddy belum mau menyerahkan hak ciptanya. Katanya dia ingin mempertahankannya dulu agar tidak disalahgunakan."


"Disalahgunakan bagaimana maksudnya?"


"Aku tidak begitu paham juga sewaktu ayahku menerangkan, yang jelas itu sesuatu yang berhubungan dengan kemungkinan lenyapnya desain mobil tanpa sempat diproduksi massal."


"Jika mobil jenis seperti ini diproduksi maka mobil-mobil moda darat yang diproduksi sekarang mungkin jadi tidak laku. Kurasa itu yang dihindari perusahaan-perusahaan otomotif besar. Buat mereka lebih baik membeli rancangan dan hak ciptanya dengan nominal berapa pun untuk kemudian dilenyapkan, daripada membiarkannya diproduksi dan justru mengancam kelangsungan bisnis mereka."


Ganti Lana yang terpesona mendengar penjelasan Jordan, "Kurasa begitu."


"Apakah barang-barang temuan ayahmu, selain dari yang ada di sini, ada yang sudah digunakan banyak orang?"


"Ada sekitar lima belas paten yang sudah dilepas Ayah ke publik. Aku tidak ingat apa saja itu. Salah satu yang kuingat hanya drone yang digunakan untuk membantu pertanian... karena aku pernah diajak melihat uji cobanya saat menyirami suatu lahan pertanian di Kansas," Lana menjawab.


"Lima belas paten," Jordan bergumam dalam hati." Tidak heran Lana dan ayahnya tinggal di rumah besar nan canggih di kawasan elit di San Francisco.


Dan gadis ini begitu rendah hati karena tidak mau memamerkan apa yang dimilikinya. Jordan yakin Allen dan kawan-kawannya tidak tahu siapa gerangan Lana dan keluarganya sebenarnya, andai mereka tahu mungkin Lana sudah jadi gadis populer di sekolah.


"Oh, kamu harus melihat yang satu itu...moga-moga mereka masih menyimpan satu di tempat ini."


Gadis itu tidak menjawab. Dia malah sibuk mencari kesana-kemari, menyingkapkan rak demi rak yang terjajar di sepanjang dinding di sisi kanan ruangan yang ditutupi kain terpal putih. Baru setelah berada di rak keenam Lana mendapatkan apa yang dicarinya.


"Nah, ini dia..."


"Apa itu?" tanya Jordan memperhatikan rompi ves yang tengah dipakai Lana.


"Coba pegang badanku," ucap Lana. Jordan pun melakukan apa yang disuruh, kedua tangannya memegang pundak gadis itu. "Sekarang tarik aku."


"Apa?" tanya Jordan.


"Tarik aku sekeras-kerasnya," Lana berkata.


Jordan berpikir mungkin rompi ves ini semacam alat yang akan membuat pemakainya menjadi berat dan tidak dapat ditarik sehingga gadis itu perlu mendemokannya. Oleh karena itu setelah mencengkeram bahu Lana, ditariknya gadis itu keras-keras ke arahnya.


Apa yang terjadi berikutnya membuat Jordan kaget bukan kepalang. Dirasakannya sesuatu yang menyengat laksana aliran listrik, mengalir ke ujung-ujung jarinya, menyelinap melalui kuku dan menerobos ke tulang jari hingga ke lengan, siku, bahu, dan naik ke leher.

__ADS_1


Makin kuat tarikan yang dilakukannya kepada Lana, sengatan yang timbul dari rompi pengaman itu makin kuat pula hingga pada akhirnya Jordan harus melepas cengkeramannya. Terlepasnya cengkeraman itu justru menghasilkan daya dorong yang begitu kuat, yang membuat Jordan terlempar ke belakang.


Remaja itu terguling ke lantai. Untung saja kepalanya tidak sampai terhantam ubin. Lana yang juga kaget mendapati bagaimana rompi pengaman yang dipakainya memiliki kekuatan sedemikian besar sontak jadi panik. Gadis itu memekik sembari berlari mendekati Jordan...


"Ya, Tuhan... kamu tidak apa-apa, Jordan?"


Si cowok mengerang, berusaha bangun dalam posisi duduk, tangannya digerak-gerakkan beberapa kali demi mengurangi nyeri, terutama yang ada di ujung-ujung jari, "Rasanya seperti habis ditabrak truk."


"Maaf ya, aku tidak tahu mereka telah meningkatkan dayanya sampai mengerikan begitu," ujar Lana.


"Untuk apa sih benda itu gunanya?"


"Vest ini pengembangan dari rompi anti peluru satuan SWAT yang biasanya terbuat dari bahan kevlar dan hanya untuk meredam dorongan peluru yang ditembakkan penjahat. Dengan rompi ini, polisi ingusan pun bisa membela dirinya dari penjahat yang pandai berkelahi. "


"Yeaah, aku bisa bayangkan itu. Rompi yang menarik," Jordan mengangguk-angguk seraya mengelus-elus lengannya yang masih kesemutan.


"Rompi macam inilah yang sekarang banyak dipakai polisi di luar sana untuk membantu mereka melindungi diri."


"Rasanya bukan polisi saja yang membutuhkannya. Aku juga butuh kalau Allen dan kawan-kawannya suatu hari nanti bikin ulah dan mengeroyokku lagi…" Jordan berkata dengan asal hingga membuat Lana terpingkal-pingkal.


"Hey, apa yang kalian lakukan di tempat ini?" tiba-tiba petugas keamanan menegur mereka. Wajahnya tampak kebingungan, mungkin karena tidak mengerti kenapa dua remaja tak dikenal bisa berada di gudang penyimpanan. Tapi saat mengenali wajah Lana, si petugas keamanan jadi lega. "Aku tidak tahu kamu ikut ke sini malam ini, Miss McQueen."


"Ayah bilang Presiden Tramp mau datang juga malam ini, jadi dia mengajakku untuk ketemu dengannya."


"Oh, ya? Oh, jadi mungkin itu sebabnya aku melihat banyak orang lalu lalang di tempat ini dua jam lalu. Pasti mereka Secret Service yang sibuk menyisir tempat ini untuk memastikan keadaannya aman," si petugas keamanan menanggapi. "Dan kalau tidak salah beliau mungkin sudah sampai di sini sebab acara galanya baru dimulai lima menit lalu."


"Oh, benarkah? Kalau begitu sebaiknya kita kembali ke lantai bawah," Lana kemudian membaca papan nama yang tersemat di dada kiri pria tersebut. "Terima kasih buat pemberitahuannya, Mr. Fish."


"Dengan senang hati, Miss McQueen."


Sepeninggal Lana dan Jordan yang kembali ke lantai bawah, si petugas keamanan menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak gadis satu-satunya salah satu petinggi Machina Factory. Sudah beberapa kali dipergokinya gadis itu berkeliaran di tempat ini, hanya baru kali ini ditemani dengan cowok.


Mungkin itu pacar barunya, dan seperti layaknya anak-anak seumuran itu, Lana pasti membawa cowok itu kemari sekedar mau pamer. Gumamnya, "Dasar anak-anak bandel. Seenaknya masuk kesana-kemari di fasilitas seperti ini."


Fish baru saja hendak mengunci kembali pintu ruang penyimpanan ketika seorang petugas keamanan mendekat dari arah gang di belakangnya, "Bagaimana kondisinya di luar sana?"


Tiba-tiba petugas itu menembak Fish dengan pistol berperedam hingga pria tersebut tewas detik itu juga. Si petugas keamanan gadungan menghubungi kawan-kawannya lewat alat komunikasi, "Seluruh lantai empat aman. Aku tinggal memasang peledak di titik terakhir."


Dari earphonenya, orang itu mendapat perintah baru, "Pasang segera. Gala dinnernya sudah mulai lima menit lalu. Lima belas menit lagi kita masuk dan bunuh Target nomor satu."

__ADS_1


"Roger. Diterima."


***


__ADS_2