
Keremangan malam membuat Jordan tak dapat melihat dengan jelas bahasa tubuh Lana ataupun Profesor McQueen ketika keduanya tengah berbicara, tapi dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Benar saja, lima menit kemudian gadis itu meninggalkan ayahnya dengan terisak-isak. Pria itu hanya berdiri saja memandangi anaknya…sepertinya tidak mampu berbuat apa pun…
Lana berjalan dengan langkah lebar, setengah tergesa, dan baru berhenti begitu tiba di tempat di mana helikopter yang menjemput Presiden Tramp turun. Gadis itu berdiri menatap ke langit dan tangisnya makin menjadi. Bahunya bergerak turun-naik tak karuan. Jordan tidak ingin menganggunya untuk sementara waktu hingga anak laki-laki itu hanya berdiri mematung di belakang.
“Kamu sudah lama di situ?” Lana menegur begitu tangisnya mereda dan menyadari kehadiran Jordan.
“Sejak kamu sampai di tempat ini.”
“Maaf kalau kamu harus melihatku begini.”
“Aku tidak ingin kamu sendirian dalam keadaan begitu.”
“Apa dia tidak memikirkan keadaanku bila sesuatu yang buruk sampai terjadi.”
“Kurasa ayahmu ingin yang terbaik untuk semua orang…termasuk kamu…”
“Dia berniat bunuh diri…”
Ucapan itu membuat Jordan syok, “Apa gerangan ide yang dipunyainya sekarang?”
“Dia hendak menukar dirinya, meminta ******* mengeluarkan semua sandera. Sebagai gantinya dia akan memberikan apa yang mereka mau…membawa Presiden Tramp kembali ke Machina Factory.”
“Apa ayahmu bisa melakukan itu?”
“Itu hanya akal-akalan, dia berniat menipu para *******, membuat mereka mengira Machina Factory menyimpan semacam drone atau peluru kendali yang bisa digunakan untuk menembak helikopter Presiden, padahal sebaliknya….” gadis itu tidak mampu melanjutkan karena kembali terisak-isak.
“Sebaliknya dia mengorbankan dirinya masuk ke sana dan mengurung diri bersama para *******, menunggu sampai tim SWAT menyerbu dan menangkap ******* dengan serangan brutal. Resikonya lebih kecil, karena tak ada lagi sandera yang harus dipertaruhkan…itu memang rencana nekad …dia bisa saja terbunuh di sana bila ******* sadar mereka ditipu. Lana benar, sepertinya Profesor memang berniat bunuh diri,” Jordan berkata dalam hatinya.
Dia jadi paham kenapa Lana begitu sedih dan menyerahkan rompi anti pelurunya kepada sang ayah. Tapi bila berada di posisi Profesor McQueen, mungkin itu sesuatu yang juga akan dilakukannya. Jordan akhirnya berkata, “Kita akan masuk ke sana.”
“Apa katamu?” Lana kaget mendengar itu.
__ADS_1
“Kamu sangat mengenal tempat itu, kita bisa mencari jalan yang aman untuk masuk dan membawa ayahmu keluar seperti yang kita lakukan sebelumnya.”
“Apa kamu gila?”
“Aku lebih suka melakukan hal yang gila daripada berdiam diri mengetahui orang yang kita cintai terancam bahaya,” balas Jordan.
Lana terdiam mendengar itu sebelum mengangguk, “Ayo kita lakukan itu!”
Ketika Jordan dan Lana bersepakat untuk melakukan penyelamatan yang mereka sendiri belum tahu bagaimana persisnya, pria yang ingin mereka selamatkan, Profesor McQueen, tak mempunyai dugaan apa-apa dan tengah berjalan kembali ke barisan polisi yang menunggu di halaman depan Machina Factory.
Ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya mengetahui anak gadisnya harus melihatnya berada dalam situasi semacam ini. Ayah mana yang tidak hancur hatinya melihat putrinya menangis seperti itu, dan yang diucapkannya tadi memang kedengaran seperti ucapan perpisahan atau pernyataan bunuh diri…tapi masalahnya tidak ada jalan lain yang lebih baik…
Mungkin benar dia ayah yang buruk, dia mengakuinya. Mungkin memang seharusnya dia lebih memikirkan Lana dengan prospek masa depan tanpa figur ayah, namun tak dapat dielakkan bila dirinya merasa bertanggung jawab atas semua ini. Dia akan dihantui perasaan bersalah seumur hidup bila tak melakukan ini. Jadi sang profesor ingin fokus dengan tujuannya membebaskan para sandera di dalam Machina Factory. Lucunya Lana yang justru berinisiatif memperhatikannya dengan memberikan rompi anti peluru yang dipakainya.
“Teroris itu baru menghubungi lagi. Mereka bilang, siap melakukan pertukaran bila Profesor siap,” Letnan Mills menegur begitu pria itu bergabung dengan kerumunan polisi.
“Katakan pada mereka aku siap…”
Profesor McQueen menyapu pemandangan sekelilingnya, tempat ini jadi lebih ramai dari sebelumnya, bukan hanya bala bantuan polisi yang tiba melainkan beberapa media juga ada di situ. Berdiri di belakang garis kuning polisi dengan kamera-kamera yang baru disiapkan dan reporter mereka baru berdandan untuk siaran langsung. Akhirnya berita yang viral di media sosial itu menemui puncaknya berupa peliputan langsung Stasiun TV.
“Mereka akan semakin menyulitkanmu bila salah bertindak,” Profesor mengedik kepada tim media setelah Letnan Mills selesai berkomunikasi dengan *******.
“Sangat!” sahut Letnan Mills dengan cemberut. “Para ******* sudah menunggu anda.”
“Mereka sudah menyiapkan sandera untuk keluar?”
“Bersamaan dengan anda masuk.”
“Kuharap semua berjalan sesuai rencana,” Profesor McQueen menghela nafas.
“Percayalah, kami semua berharap yang sama seperti anda. Karena itu, ijinkan kami memberi anda rompi Kevlar,” Letnan Mills menyodorkan sebuah rompi yang biasa dipakai para petugas di lapangan.
__ADS_1
“Oh, aku sudah memakainya,” Profesor McQueen membuka jasnya untuk menunjukkan rompi buatannya di dalam sana.
Letnan Mills mengerutkan kening, “Apakah benda itu bisa dipercaya? Aku belum pernah melihat yang seperti itu?”
“Percayalah! Rompi ini sudah menyelamatkan teman anakku ketika ditembak *******. Aku aman dengannya,” sang ilmuwan tersenyum menjawab.
“Terserah padamu, Profesor,” sang polisi menarik rompi dan menyerahkannya kembali kepada anak buahnya. “Seperti janjiku, aku akan menemani anda.”
“Presiden Tramp sudah mendarat di bandara LUX dan sedang menunggu Air Force One mendarat. Semuanya berkat anda, Profesor!” Jack Higgins menegur seraya menjabat tangan sang ilmuwan. “Aku berharap semuanya baik-baik saja.”
“Senang bisa mengenal orang baik seperti anda,” timpal Bill Sandford.
Profesor McQueen tersenyum dan menanggapi setelah membalas jabatan tangan Bill, “Sampaikan salamku kepada Presiden Tramp dan Duncan.”
Kedua pria itu melangkah menuju ke bagian depan Machina Factory yang hancur sebagian akibat bom tapi pintu depannya masih berfungsi. Puluhan mata, baik polisi dan awak media dengan kamera mereka, mengikuti dengan nafas tertahan. Seperti instruksi, ketiga penembak jitu yang berada di tiga lokasi juga menunggu dengan nafas tertahan, menanti di posisi masing-masing untuk mendapatkan momen yang tepat untuk menembak pemimpin ******* selain mengamankan kedua pria itu agar bisa mencapai pintu depan Machina Factory dengan aman.
Sejauh ini keadaan terkendali, Profesor McQueen dan Letnan Mills tiba di depan pintu masuk dan ******* keluar menyambut mereka. Selain memakai seragam militer dengan topeng aneh, dia juga tampak berbahaya dengan senapan mesin yang disandang. Diangkatnya tangan sebagai tanda agar kedua pria itu tetap menjaga jarak.
“Profesor McQueen?” dia bertanya.
“Aku!” sahut Profesor McQueen maju ke depan.
“Tidak perlu dijawab aku sudah tahu itu anda,” si ******* berusaha melucu seraya menunjuk seragam polisi Letnan Mills. Sayangnya, kedua pria itu sedang tidak berminat menanggapi leluconnya yang buruk.
"Kamu yang bicara di walkie-talkie denganku?” Letnan Mills ganti bertanya.
“Senang mengenalmu, Letnan Mills!” orang itu menjawab. “Padahal kupikir Profesor McQueen akan datang sendirian.”
“Aku yang akan mengawal para sandera meninggalkan tempat ini,” ucap Letnan Mills.
“Jadi katakan padaku apa itu Fire Ball? Dan apa rencanamu dengannya?”
__ADS_1
***