
Nadira tidak sedih tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya karena memang sudah terbiasa sejak kecil tak satu atap. Sedangkan dengan kakaknya—Haikal—baru hari ini pertama kali dia akan pisah rumah dengan sang kakak. Rasanya berat, tapi ketika seorang perempuan sudah menikah, maka mereka harus siap meninggalkan rumahnya. Sebab, perempuan harus mengabdikan diri kepada suami.
Nadira dan Haikal berpelukan. Seakan ingin berpisah selamanya. Padahal mereka masih bisa saling mengunjungi kalau rindu melanda. Kakak-beradik ini seperti orang kembar yang tidak bisa terpisahkan, kadang sakit pun berbarengan.
"Kakak jaga diri baik-baik, ya, di sini. Jaga kesehatan. Jangan lupa kunci semua pintu dan jendela kalau mau keluar rumah." Nadira terus mengingatkan sang kakak sambil berlinang air mata.
Mata Haikal berkaca-kaca. Cairan bening dari ujung kelopak matanya sengaja ditahan agar tidak keluar. Dia tidak ingin membuat adiknya semakin sedih.
"Seharusnya kakak yang bilang gitu ke kamu. Soalnya kamu kadang suka lupa makan. Apalagi kalau udah asyik memainkan kata depan laptop; udah enggak bisa diganggu, makan pun harus diingatkan dulu," ujar Haikal sambil mengelus-elus punggung adiknya.
"Iya. Maaf, deh, Kak. Makasih udah berusaha menjadi kakak yang baik untukku. Bagiku, kakak adalah yang terbaik; selalu menjagaku dan sebisa mungkin enggak mau adeknya berada dalam kesulitan."
"Ehem. Papanya enggak mau dipeluk juga, nih?" ujar Sultan yang bertingkah seperti sedang cemburu. Namun, dia sadar diri kalau anaknya lebih akrab Nudengan Haikal (anak pertamanya), karena dia memang jarang bahkan tidak ada waktu untuk Nadira. Kesibukan bekerja, membuatnya terpaksa berpisah dengan keluarga.
"Iya, nih. Mamanya aja enggak di peluk, coba. Padahal kalau mama-papa lagi di luar negeri, selalu tanya kapan pulang terus," timpal Fenny.
Tingkah kedua orang tua Nadira kali ini seperti anak kecil yang sedang merengek karena tidak dibelikan mainan.
Nadira melepaskan pelukannya dengan sang kakak.
"Maaf, Pa, Ma. Aku terbawa suasana," ujarnya sambil menghapus air mata.
Nadira memeluk papa dan mamanya secara bergantian sambil berpamitan.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, Nak. Kalau butuh apa-apa, telepon kamu aja. Karena bagi orang tua, walau sudah menikah bahkan punya anak, kalian akan tetap menjadi anak-anak. Kalau kalian tidak mengabari, pasti orang tua kepikiran. Apalagi kalau ada masalah dan kami tahu dari orang lain, kami sebagai orang tua merasa gagal."
Ucapan Fenny menciptakan tangis yang mendalam. Seakan itu adalah curahan isi hati orang tua karena Nadira pernah berada dalam suatu masalah, tetapi tidak berniat bercerita kepada papa dan mamanya. Pernah suatu ketika, ingin bercerita tentang suatu hal, tapi waktunya selalu tidak tepat. Bagaimana tidak? Sudah mengumpulkan tenaga untuk bercerita, orang tuanya sedang sibuk. Akhirnya teman dari segala musim yang dilalui oleh Nadira hanyalah Haikal.
__ADS_1
Dramatika sebuah keluarga yang terjadi di dalam keluarga Nadira kerap kali membuat salah satu atau di antaranya merasa bersalah, tapi masing-masing dari mereka harus saling memahami dan menurunkan ego untuk menghindari pertengkaran. Walau sesekali bertengkar, setidaknya tidak menghancurkan rumah yang selama ini dipupuk dengan kasih sayang.
Ammar yang sedari tadi hanya menjadi penonton dari film gratis yang ada di hadapannya itu, akhirnya ikur nimbrung.
"Mohon maaf, mengganggu waktunya sebentar. Apa Nadira udah boleh saya bawa sekarang?"
Semua orang tertawa mendengar pertanyaan Ammar. Seketika ingat perkataan Haikal tiap kali mama dan papa mereka pulang dari luar kota.
Setelah adegan peluk-pelukan dan adu air mata, Nadira dan Ammar berpamitan. Mereka langsung naik mobil yang sedari tadi sudah siap menemani perjalanan sepasang pengantin baru itu.
...***...
Di perjalanan, Nadira terus bercerita banyak hal kepada Ammar tentang keluarganya. Bagaimana keharmonisan sebuah keluarga tercipta meskipun ada kesibukan masing-masing. Kunci dari keharmonisan dalam hubungan apa pun adalah selalu menjalin komunikasi yang baik.
Saking asyik bercerita, Nadira tidak sadar kalau hal ini sedikit memberikan luka di hati Ammar. Sebab, keluarga suaminya tak seharmonis keluarganya. Hubungan Ammar dan juga kakaknya yang menetap di luar negeri sejak pernikahan orang tua Ammar, tidak begitu baik. Banyak percekcokan dari keduanya. Apalagi kakaknya Ammar belum juga bisa menerima kehadirannya dan sang mama.
Ammar menghela napas berat. Berusaha mengendalikan emosinya.
"Aku akan selalu baik-baik aja kalau kamu bahagia terus. Bagiku, kebahagiaanmu itu jauh lebih penting daripada kebahagiaanku."
Ammar tersenyum dan meraih tangan Nadira, lalu mencium punggung tangannya. Nadira bisa merasakan kesedihan mendalam dari raut wajah suaminya. Nadira ingin sekali membantu mempersatukan suami dengan kakak iparnya, tapi apalah daya—Nadira belum pernah sekalipun bertemu dengan sang kakak ipar. Hanya pernah melihat wajahnya melalui foto yang ditunjukkan oleh Ammar.
"Ammar. Kamu adalah laki-laki yang baik. Aku beruntung bisa memilikimu. Menjadi teman untuk menemani perjalananmu di tempat singgah ini adalah anugerah terindah dari-Nya. Allah Maha Baik karena telah mengirimkanmu untukku. Namun kamu belum tahu, kalau keceriaanku selama ini hanya semata-mata untuk menutupi luka dalam hidupku." Nadira membatin. Berlian kembali jatuh dari ujung pelupuk matanya; membasahi pipi Nadira yang kali ini terlihat tirus. Karena bentuk jilbab, kadang memengaruhi bentuk wajah seorang wanita berhijab.
Ammar yang sadar kalau istrinya menangis, langsung menghentikan mesin mobilnya. Dia pun spontan memeluk sang istri.
"Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan?"
__ADS_1
Nadira tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menangis dipelukan Ammar.
"Sayang. Kamu kenapa, sih? Kok nangis? Laper kah? Atau belum siap pisah rumah dengan Kak Haikal? Kita putar balik aja kalau gitu, ya?"
Rentetan pertanyaan dari Ammar semakin membuat tangisan Nadira meledak. Napasnya pun menjadi sesak. Ammar langsung sigap mengambil air putih.
"Sekarang minum dulu, ya. Tarik napas pelan-pelan." Ammar membantu menuangkan air mineral tersebut ke dalam mulut Nadira.
Nadira menarik napas pelan-pelan selesai minum. Lalu berkata, "Maaf dan terima kasih, ya!"
"Maaf untuk apa? Terima kasih untuk yang mana?" Ammar semakin dibuat bingung dengan sikap Nadira.
Nadira menutup mata sambil menghela napas pendek.
"Maaf karena kamu cerita tentang keluargamu kah? Ya elah, santai aja, Nad. Aku enggak apa-apa. Beneran, kok." Ammar berusaha menenangkan hati Nadira agar pikirannya tidak berkeliaran.
Nadira berusaha tersenyum.
"Memang orang minta maaf harus ada alasannya, ya?"
"Ya, biasanya kan ada alasan kenapa seseorang meminta maaf. Memang sih, enggak harus dijelaskan, tapi setidaknya kasih tahu aku kan enggak ada salahnya juga." Ada tanda tanya besar dalam pikiran Ammar. Sepertinya ada rahasia besar yang Nadira tidak ingin ceritakan kepadanya. Ammar pun tidak akan memaksa kalau memang Nadira belum ingin menceritakan sebuah rahasia itu.
"Kalau kamu enggak mau kasih tahu juga enggak apa-apa, tapi aku akan selalu siap menjadi telinga untuk mendengarkan apa pun ceritamu. Sekarang, kita bisa lanjutkan perjalanannya atau gimana? Aku serahkan semua padamu."
"Kita lanjutkan perjalanannya. Masa mau putar balik ke rumah lagi sih, itu sama aja ngasih kesempatan ke Kak Haikal buat ngeledekin aku," ujar Nadira.
__ADS_1
Mobil pun kembali melaju. Mereka sangat menikmati perjalanan tersebut. Inilah awal dari sebuah perjalanan sesungguhnya. Semoga Nadira dan Ammar bisa saling menguatkan.
...****...