
Ketika tiba di pondok pesantren Al Fathonah, suasana meriah langsung terasa. Bayi kembar Nadira yang belum diberi nama telah dinantikan dengan penuh antusiasme oleh para santri. Mereka berkumpul di sekitar kedatangan bayi kembar tersebut, menggambarkan kebahagiaan yang memancar dari wajah-wajah para santri.
Lutfi, pemilik pondok pesantren Al Fathonah dan kakek dari bayi kembar tersebut, tidak sabar untuk menggendong cucu-cucunya yang baru lahir. Dengan hati yang penuh kehangatan dan cinta, dia menyambut mereka dengan senyuman lebar dan mata yang berbinar-binar.
Para santri yang telah membentuk ikatan kuat dengan Lutfi selama bertahun-tahun, juga merasa gembira melihat kebahagiaan yang menyelimuti sang pemilik pondok. Mereka adalah keluarga yang terikat oleh iman dan persaudaraan, serta kedatangan bayi kembar Nadira menjadi berita yang sangat membahagiakan bagi mereka semua.
Lutfi tersenyum hangat dengan mata berbinar-binar. "Alhamdulillah! Akhirnya cucu-cucuku yang cantik dan lucu ini tiba juga! Ayo, sini sama kakekmu!" ujarnya dengan tangan terbuka.
"Selamat ya, Kiai! Bayi kembar ini begitu menggemaskan," ujar salah seorang santri.
"Ya, Kiai. Mereka sungguh istimewa," timpal santri lainnya.
Ketika Lutfi meraih bayi kembar itu dari tangan istrinya, Aisyah, laki-laki yang usianya tak lagi muda ini dengan penuh kelembutan memeluk mereka erat-erat. Dia melihat wajah-wajah mungil cucunya dengan penuh kekaguman dan takjub, sambil merasakan rasa syukur yang mendalam di hatinya. Dia merasa diberkati dengan kehadiran dua cucu yang menggambarkan keindahan dan keajaiban kehidupan.
"Terima kasih, anak-anakku. Mereka adalah berkah yang tak terhingga bagi keluarga kita dan pesantren ini," ujar Lutfi yang kerap dipanggil Kiai Lutfi.
Salah seorang santri lalu berkata, "Bolehkah kami melihatnya lebih dekat, Kiai?"
"Tentu, kalian semua adalah keluarga kami di sini. Silakan datang dan lihatlah mereka dengan dekat," ujar Kiai Lutfi.
Para santri berkerumun mengelilingi Kiai Lutfi dan bayi kembar tersebut.
"Masyaa Allah ..., mereka begitu mungil dan manis," ujar salah seorang santri yang jaraknya berhadapan dengan Kiai Lutfi.
Lutfi menanggapi pujian dari salah seorang santri itu dengan lembut. "Iya, mereka adalah anugerah Allah yang tak terhingga."
"Bagaimana perasaan Kiai saat melihat mereka pertama kali?" tanya seorang santri.
"Kata-kata tak bisa menggambarkan kebahagiaan dan kebanggaan yang aku rasakan saat melihat mereka. Hatiku terasa penuh dengan cinta dan kehangatan," jawab Lutfi sambil mencium cucu-cucunya yang masih berada dalam dekapannya.
Para santri, dengan kasih sayang yang tulus, berbondong-bondong mendekat untuk melihat bayi kembar itu lebih dekat. Tidak lupa, mereka mengucapkan selamat kepada Nadira dan Ammar.
"Selamat juga untuk Ustazah Nadira dan Ustad Ammar, telah dikaruniai anak kembar, dua bayi perempuan yang sangat lucu," ujar para santri serentak.
Nadira dan Ammar tersenyum haru melihat kebersamaan para santri yang sudah seperti keluarga mereka.
"Terima kasih, ya atas ucapan dan doa-doa dari kalian selama ini untuk keluarga kami. Kalian juga sudah seperti keluarga bagi kami," ujar Ammar.
Nadira menimpali, "Betul, aku juga mau ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada kalian, khususnya pada santri bagian konsumsi yang memberikan dan mengantar makanan sehat selama kehamilanku."
Perwakilan santri bagian urusan dapur atau konsumsi menjawab, "Sama-sama, Ustazah. Sudah kewajiban kami untuk melayani Ustazah dengan baik. Apalagi yang akan lahir kala itu kan cucu dari pendiri pondok ini. Kami sangat berhutang budi kepada Kiai Lutfi dan juga Ustad Ammar yang telah memberikan ilmunya kepada kami, serta sangat sabar dalam mendidik kami. Terima kasih banyak."
Lalu, para santri meminta izin menggendongnya dan mengusap lembut kepala bayi kembar itu.
"Oh iya, bolehkah kami menggendong mereka?" pinta salah seorang santri Al Fathonah tersebut.
"Tentu, tapi ingat, mereka masih sangat rentan. Pegang mereka dengan lembut dan berhati-hati," ujar Kiai Lutfi sambil menyerahkan bayi-bayi Nadira.
__ADS_1
Santri bergantian menggendong bayi kembar tersebut. Sementara itu, Nadira pergi ke kamar, dibantu oleh Ammar untuk menaruh barang-barang.
"Masyaa Allah, rasanya seperti memegang keajaiban dalam genggaman kita," ujar salah seorang santri.
Senyuman dan kehangatan terpancar dari setiap santri, menggambarkan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam atas hadirnya dua anak yang sehat dan indah.
"Betul sekali. Kita harus bersyukur atas karunia Allah ini. Semoga mereka tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan berbakti kepada agama dan masyarakat," ujar Lutfi, penuh harap.
"Kami akan mendampingi dan mendidik mereka dengan penuh kasih sayang, Kiai," ujar santri lainnya.
"Terima kasih, anak-anakku. Aku sangat menghargai dedikasi dan perhatian kalian terhadap bayi-bayi ini. Kalian adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga kami," ujar Lutfi haru.
"Oh iya, Kiai, apakah sudah memikirkan nama untuk mereka?" tanya seorang santri.
"Belum, tapi kita akan mencari nama yang indah dan memiliki makna baik untuk mereka. Aku yakin Allah akan membimbing kita dalam memilih nama yang tepat," jawab Lutfi.
"Kami semua akan mendoakan agar mereka tumbuh menjadi insan yang mulia dan sukses di dunia dan akhirat," ujar santri yang sekarang sedang menggendong salah satu dari bayi Nadira.
"Terima kasih atas doa-doa kalian. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita dan memberkati cucu-cucuku ini," ujar Kiai Lutfi dengan harapan besar kepada Allah yang telah memberikan rezeki berupa bayi kembar kepada putra keduanya.
Pondok pesantren Al Fathonah, tempat di mana pendidikan agama dan nilai-nilai kehidupan diajarkan dengan penuh kasih sayang, kini merasakan gelombang kegembiraan yang mengisi setiap sudutnya. Lutfi sebagai pemimpin dan ayah bagi para santri, merasa terharu melihat semangat persaudaraan yang begitu kuat di antara mereka.
Bayi kembar Nadira, meskipun belum diberi nama, telah membawa kegembiraan dan harapan baru ke pondok pesantren Al Fathonah. Mereka adalah anugerah yang berharga bagi keluarga dan juga lingkungan pesantren. Semua orang di sana berharap agar bayi kembar itu tumbuh menjadi individu yang kuat, penuh cinta, dan berdedikasi dalam menjalani kehidupan mereka sesuai dengan nilai-nilai agama yang diajarkan di pondok pesantren Al Fathonah.
Tidak lama setelah itu, Aisyah dan Fenny tiba membawa makanan serta minuman segar untuk semua orang. Mereka berdua dibantu oleh beberapa santri lain yang dengan ramah membantu mengatur meja dan menyajikan hidangan. Mereka bergerak dengan lincah dan penuh semangat, memberikan sentuhan akhir pada persiapan makan malam.
Ammar dengan cepat memperhatikan aroma harum yang menguar dari hidangan yang tersaji. "Wah, sepertinya makanan malam kita kali ini istimewa," ujarnya dengan senyum lebar.
Nadira setuju sambil tersenyum. "Betul sekali, mereka semua bekerja keras untuk memberikan yang terbaik bagi kita. Mari kita menghargai usaha mereka dengan menikmati makanan ini bersama-sama."
Dengan penuh kegembiraan, mereka bergabung dengan yang lainnya di meja makan yang telah dipersiapkan dengan indah. Suasana di ruangan itu menjadi hidup dengan percakapan yang riuh rendah dan tawa gembira.
Semua orang bersyukur atas rezeki yang diberikan kepada mereka dan merasa beruntung bisa bersama-sama dalam momen yang istimewa ini. Makan malam pun dimulai, dan mereka menikmati hidangan lezat dengan penuh kegembiraan.
Sambil berbincang dan tertawa, Aisyah, Fenny, Nadira, dan Ammar merasakan kehangatan keluarga yang tumbuh di antara mereka. Mereka merasa beruntung memiliki keluarga yang peduli dan rela berbagi dalam sukacita maupun duka.
Di sudut lain, Lutfi dan Sultan sibuk dengan kedua cucunya, membicarakan masa depan cucu kembar mereka, merencanakan syukuran akikah atas kelahiran si kembar, tak lupa mencari nama yang cocok untuk cucu-cucu mereka.
Malam itu berjalan dengan indah, dan semua orang merasa puas dan bahagia. Setelah selesai makan, mereka membersihkan meja dan memastikan bahwa semua barang kembali ke tempatnya.
Kesatuan dan kebersamaan dalam keluarga tersebut semakin kuat, dan mereka berencana untuk melanjutkan momen-momen berharga seperti ini di masa depan. Dengan semangat yang tinggi, mereka bersiap untuk menghadapi petualangan baru yang menanti di kehidupan mereka sebagai keluarga harmonis di pondok pesantren tersebut. Meskipun Fenny tidak tinggal di pondok, tetapi sebagai mamanya Nadira, dia merasa bersyukur karena anak perempuannya diperlakukan dengan baik.
Tidak lama kemudian, Nadira menatap layar ponselnya yang sedikit berkedip-kedip menandakan panggilan masuk. Dia mengenali nomor tersebut sebagai milik Haikal, kakaknya. Nadira mengangkat telepon dengan cepat, harapannya untuk mendengar suara akrab Haikal.
"Kakak, apa kabar?" tanya Nadira dengan nada cemas. "Aku sudah merindukanmu."
Namun, suara yang terdengar di seberang sambungan bukanlah Haikal. Itu adalah Yasmin, istri Haikal, yang segera menjelaskan situasinya dengan lembut, "Hai Nadira, maaf jika aku yang menghubungimu. Haikal sebenarnya ingin berbicara padamu, tapi dia sedang sibuk merawatku. Aku tiba-tiba sakit dan dia harus menjaga aku di rumah."
__ADS_1
Nadira terdiam sejenak, kecewa karena tidak dapat bertemu dengan Haikal. Namun, keprihatinannya segera beralih ke Yasmin. "Kak Yasmin, apa yang terjadi padamu? Apakah Kakak baik-baik saja? Aku harap Kakak cepat sembuh."
Yasmin menjawab dengan lembut, "Terima kasih, Nadira. Aku baik-baik saja, cuma flu ringan. Tetapi Haikal sangat khawatir, jadi dia memutuskan untuk tidak pergi ke mana pun agar bisa merawatku dengan baik."
Nadira mengerti betapa Haikal peduli pada istrinya. Meskipun dia merasa kecewa karena belum bisa melihat Haikal, Nadira juga merasa lega bahwa Yasmin mendapatkan perawatan yang diperlukan.
"Dengar, Kak Yasmin, aku sangat menghargai keputusan Kak Haikal untuk menjagamu," kata Nadira dengan penuh kebaikan hati. "Tolong berikan salamku dan beritahu dia bahwa aku mengerti. Yang terpenting, berikan dia kekuatan dan aku berharap agar Kakak cepat sembuh."
Yasmin tersenyum di balik telepon, merasakan kehangatan dan dukungan dari Nadira. "Aku akan memberitahunya, Nadira. Terima kasih atas pengertianmu. Aku harap kita bisa bertemu segera setelah aku sembuh."
Nadira tersenyum mendengar perkataan Yasmin. Meskipun sangat merindukan kakaknya, dia tahu bahwa keluarga adalah prioritas utama. Dia merasa lega dan senang bisa memberikan dukungan kepada Haikal dan Yasmin. Meskipun terkadang sikap cemburu sosial Nadira muncul karena sang kakak setelah menikah, sudah sangat jarang menemuinya, tetapi di sisi lain, Nadira bahagia karena kakaknya memperlakukan seorang perempuan dengan lembut. Dengan mama dan dirinya saja, Haikal sudah membuktikan, betapa Haikal sangat menghormati seorang perempuan, apalagi kepada istrinya, terlebih Haikal memiliki dua orang putri yang cantik, si kembar yang sangat cerewet seperti Nadira.
"Pasti, Kak. Aku akan menunggu kesempatan untuk bertemu denganmu dan Kak Haikal. Segera sembuh dan berikan kabar padaku jika ada hal penting lainnya."
"Oh iya, aku sampai lupa mengucapkan selamat atas kelahiran si kembar. Selamat, ya. Akhirnya Aqeela dan Aisha punya teman bermain, sesama perempuan."
"Iya, Kak. Alhamdulillah, terima kasih banyak. Tentu saja mereka akan bermain bersama, layaknya anak perempuan walaupun Aqeela dan Aisha sudah remaja, tetapi aku yakin, mereka berempat akan menjadi kakak-beradik yang kompak."
"Aku setuju, Nadira. Ya sudah, kamu istirahat dulu gih, kan habis melahirkan. Jangan capek-capek."
"Iya, Kak Yasmin juga rehat yang cukup, ya. Salam untuk Kak Haikal dan si kembar."
"Si kembar yang mana, nih?" goda Yasmin. "Kan anak kita sama-sama kembar," lanjutnya dengan gelak tawa.
"Ah, Kakak bisa saja. Ya sudah, selamat malam, Kak. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam. Selamat malam juga, Nadira. Salam juga untuk keluarga di sana."
Dengan saling memberikan kata-kata semangat, Nadira dan Yasmin mengakhiri percakapan mereka. Meskipun Haikal tidak dapat membesuk Nadira pada saat itu, mereka tetap saling menguatkan dan menghargai keadaan satu sama lain.
Haikal pulang dari apotik setelah menebus obat untuk Yasmin atas resep dokter. Sedangkan kedua anak mereka, sudah tidur setelah salat Isya, satu jam lalu.
"Ini obatnya sudah aku beli, sekarang kamu minum obat dulu, ya!" pinta Haikal sambil menyodorkan beberapa pil dan satu gelas air mineral.
Yasmin mengangguk dan meminum pil-pil tersebut. "Tadi aku menelepon Nadira pakai ponselmu karena ponselku sedang mengisi daya baterainya. Aku memberikan ucapan selamat atas kelahiran putri kembarnya."
"Terus gimana respons dia? Past ngambek karena aku belum besuk dia," ujar Haikal sambil meletakkan gelas bekas Yasmin minum obat di atas meja.
"Enggak kok, sayang. Aku sudah menjelaskan padanya kalau kamu sedang fokus merawatku dan dia memahami kondisinya."
Haikal bernapas lega. "Syukurlah kalau begitu, soalnya kamu tahu sendiri adik kita itu bagaimana."
Mereka pun tertawa lepas, mengingat-ingat Nadira pernah mengambek karena Haikal tidak menghubunginya beberapa bulan.
Malam pun semakin larut, Haikal dan Yasmin memutuskan untuk tidur karena besok pagi Yasmin akan melakukan pemeriksaan kesehatannya. Haikal menebak kalau Yasmin hamil lagi karena istrinya bilang kalau dia terlambat datang bulan sudah dua minggu ini. Namun, Haikal tidak mau dipatahkan oleh harapannya, jadi untuk memastikan penyebab Yasmin sakit adalah dengan memeriksakannya kepada tenaga medis.
...****...
__ADS_1