
Saban hari, Nadira selalu menghitung waktu, kapan suaminya bisa mengantarkan ke rumah orang tuanya. Nadira sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan mama, papa, dan kakaknya. Rasa rindu itu terus memuncak, Nadira sampai tidak bisa tidur nyenyak memikirkannya.
"Kamu kenapa mondar-mandir terus sih, dari tadi?" tanya Ammar, sesekali memperhatikan istrinya. Fokusnya terbagi, antara menyelesaikan pekerjaan dan memperhatikan gerak-gerik Nadira.
Nadira duduk di sofa, lalu merajuk kepada suaminya.
"Kamu kapan liburnya, ya? Aku udah kangen banget pengen ketemu mama, papa, dan Kak Haikal," ujarnya.
Ammar menghentikan pekerjaannya dan beranjak dari tempat duduk, menghampiri Nadira.
"Sayangku. Kamu yang sabar, ya. Aku janji, kalau kerjaanku sudah selesai, kita pasti akan menemui mereka," ujar Ammar, menatap istrinya seraya tersenyum.
"Iya, tapi kapan?" tanya Nadira, lagi.
Nadira memang anak yang keras kepala, kalau sudah ada maunya, pasti tidak sabaran. Sifat inilah yang belum bisa diubah. Beruntungnya dia punya suami yang sangat sabar menhadapinya. Sehingga, hubungan mereka, jauh dari sebuah pertengkaran yang memicu emosi seperti beberapa hubungan suami-istri pada umumnya. Saat salah satunya berbuat salah, mereka saling meminta maaf, tidak merasa paling benar karena mereka sudah ada komitmen untuk saling memahami satu sama lain, serta menurunkan ego untuk menghindari pertengkaran.
"Andai waktu bisa dibeli, mungkin aku akan membeli waktu sibuk mereka agar bisa menyempatkan untuk menengokku," ujar Nadira dengan muka melas.
"Kamu tidak boleh begitu. Kan sesekali juga mereka sempatkan untuk menelepon. Waktu itu, Kak Haikal juga telepon, kan? Cuma memang tidak bisa lama karena pas banget kita ada acara di pesantren." Ammar berusaha membuat Nadira memahami situasi dan kondisi saat ini.
"Kalau mama dan papa, aku udah biasa ditinggalin dari kecil, tapi kalau Kak Haikal, kan, waktunya lebih banyak dihabiskan untukku. Sejak aku menikah aja, jadi jauhan gini. Lagian, kenapa sih, Kak Haikal enggak tinggal sama kita aja," ujar Nadira yang terus merajuk.
"Sayang. Kalau Kak Haikal tinggal sama kita, terus kerjaannya Kak Haikal gimana? Masa mau ditinggalin?" ujar Ammar.
"Kan Kak Haikal itu pemilik restorannya. Jadi, bisa dong ambil waktu libur, gitu. Lagian, emang enggak ada koki yang bisa dipercaya apa untuk handle restoran selama Kak Haikal enggak di sana?" Nadira terus saja menggerutu seperti burung beo yang tidak berhenti bicara kalau diajak bicara.
"Mungkin memang lagi sibuk. Kamu sabar aja, Sayang. Nanti kita pasti temui Kak Haikal, ya. Mama dan papa juga. Atau nanti kita telepon mereka lagi, siapa tahu dalam waktu dekat ini, mereka lagi enggak sibuk," ujar Ammar. Kalimatnya seolah menjadi obat penenang untuk kegelisahan hati Nadira.
__ADS_1
"Iya, deh. Aku ikut apa katamu aja," ujar Nadira yang masih lesu.
"Ya udah. Senyum, dong, masa depan suaminya, cemberut gitu. Kalau kucing mah, enggak senyum juga tetap manis, tapi kalau kamu, enggak senyum mah kayak ada yang kurang," goda Ammar. Tangannya memegang dagu istri tercintanya itu.
Nadira tersipu malu. Akhirnya bulan sabit terbit dari wajah cantiknya setelah beberapa jam.
"Bisa aja, kamu," ujar Nadira sambil menutup wajahnya. Senyumannya begitu mempesona, ada daya tarik tersendiri ketika Nadira tersenyum. Hal inilah salah satu yang membuat Ammar jatuh cinta kepada Nadira.
...***...
Di suatu ruangan, Hafiz sedang belajar bersama teman-temannya. Begitu seriusnya dia mendengarkan Ustad Ammar yang merupakan papanya Hafiz. Penjelasan Ammar bisa dipahami dengan baik oleh Hafiz dan para santri di Pesantren Al Fathonah. Jebolan mahasiswa Kairo di Universitas Al Azhar memang tidak pernah gagal. Semua yang kuliah di sana, pasti berhasil menerapkan ilmu yang didapat dengan baik.
Selama di pesantren bahkan diajar oleh papanya sendiri, Hafiz tidak pernah diperlakukan istimewa oleh Ammar. Kalau pun Hafiz berbuat salah atau cara membaca alquran belum benar, Ammar membimbingnya layaknya guru dan murid. Kalau salah, dibilang salah. Kalau benar, Ammar mengapresiasi semua santrinya.
"Alhamdulillah, materi hari ini, kita cukupkan dulu, ya. Sampai bertemu di materi selanjutnya," ujar Ammar mengakhiri pertemuan belajar tentang fikih hari ini.
"Ada apa, Hafiz?" tanya Ammar, tersenyum.
"Pa. Gimana sih, caranya biar bisa hafal alquran 30 juz? Kata kakek dan mama, papa penghafal alquran 30 juz," tanya Ammar yang semangat belajar.
"Kamu mau jadi hafiz quran juga?" tanya Ammar, memastikan.
"Iya. Kan namaku juga Hafiz. Pasti papa dan mama memberikan aku nama ini, karena pengen aku jadi Hafiz quran, kan?" tanya Hafiz.
"Nak, walaupun namamu bukan Hafiz, kami tetap berdoa yang terbaik untukmu. Tidak memaksa agar kamu hafiz quran, tetapi setidaknya kamu bisa membaca alquran dengan benar (sesuai tajwid) aja udah buat kami bangga, apalagi bisa khatam quran dan jadi hafiz quran. Hal ini akan menambah rasa syukur kami karena memilikimu," ujar Ammar.
"Aku kan mau jadi anak saleh yang bisa bawa mama dan papa ke Surga. Biar kita bisa sama-sama bertemu di sana, Pa."
__ADS_1
"Masyaa Allah. Jazakallah khairan. Papa bangga sama kamu, Nak. Banyak perubahan yang terjadi setelah kamu tinggal di sini. Emm, yang perlu kamu tahu, kita semua insyaa Allah akan masuk Surga, tapi jalannya sudah ditentukan sama Allah."
"Wa iyyaka. Benarkah, Pa?" Pembahasan semakin seru, mata Hafiz membulat, senyumnya mengembang. Dia sangat antusias ingin mendengarkan tentang golongan yang masuk Surga. "Ada hadisnya ya, Pa?" tanya Hafiz. Semangatnya seperti api yang disiram bensin, semakin membara.
Ammar menjelaskan hadis-hadis dan firman Allah tentang penghuni Surga.
Hadis riwayat Al-Bukhari no.6851 dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Semua umatku pasti akan masuk surga, kecuali orang yang enggan."
Para sahabat pun bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?"
Beliau menjawab, "Barangsiapa menaatiku, pasti masuk surga dan barangsiapa mendurhakaiku, maka dialah orang yang enggan (tidak mau masuk surga, pent)."
Hafiz mengangguk dan masih menyimak dengan saksama penjelasan tersebut. Ammar menjelaskan kembali hadis serupa.
Dari Anas RA, bahwa Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan.
Dari Abi Said bahwa Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Bila ahli surga telah masuk surga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan berfirman, 'Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka.'"
Dari Abu Dzar, dia telah berkata bahwa sesungguhnya Nabi Salallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda, "Telah datang kepadaku Malaikat Jibril dan memberi kabar gembira kepadaku, bahwa barangsiapa yang meninggal di antara umatmu dalam keadaan tanpa mempersekutukan Allah, maka pasti akan masuk surga, walaupun dia berbuat zina dan mencuri." Nabi mengulangi sampai dua kali.
Memang terdapat banyak nash alquran yang menyatakan penghuni surga atau neraka itu kekal. Seperti firman Allah dalam quran surah An-Nisa (4) ayat 14, "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan."
Allah pun telah berfirman dalam quran surah At-Taubah (9) ayat 63, "Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar."
"Nah, begitulah penjelasan singkatnya tentang siapa yang akan menjadi penghuni Surga," ujar Ammar menyudahi penjelasannya.
Hafiz menggangguk sambil berpikir. Dia pun semakin bertekad untuk terus belajar; menimba ilmu, bahkan ingin terbang ke Kairo seperti ayahnya kalau sudah selesai belajar di Pondok Pesantren Al Fathonah.
****
__ADS_1