
Hamzah yang tidak mau kalah dengan kakaknya, Hafiz, terus memperdalam ilmu agama di pondok milik kakeknya. Hingga akhirnya, dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S1 di UIN Walisongo Semarang. Dia memilih Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Misi fakultas ini yakni menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu pokok keislaman berbasis kesatuan ilmu serta meningkatkan riset yang kontributif bagi pengembangan ilmu dan penyelesaian masalah sosial keagamaan.
Meskipun bukan seperti kakaknya yang diberikan beasiswa untuk S1 di Kairo, tetapi Hamzah merasa bersyukur telah diberikan kesempatan baik tersebut. Hamzah yakin, suatu saat nanti, dia pun akan memiliki kesempatan untuk pergi ke Kairo.
"Ma, Pa, aku harus berpisah dengan kalian untuk melanjutkan kuliah di UIN Walisongo Semarang. Beasiswa yang diberikan ini adalah kesempatan yang sangat baik bagiku," ujar Hamzah dengan wajah sedih. Siap tidak siap, pada akhirnya dia harus berpisah dengan orang tuanya seperti sang kakak, Hafiz.
Nadira menggenggam tangan Hamzah. "Sayang, kita akan sangat merindukanmu, tapi ini adalah peluang besar bagimu. Kamu harus mengambilnya."
"Betul, Nak. Kamu sudah menunjukkan semangat dan dedikasi yang luar biasa dalam belajar agama. Kami bangga padamu," sahut Ammar.
"Terima kasih, Ma, Pa. Tapi Hamzah juga akan merindukan kalian. Kalian berdua selalu menjadi inspirasiku dalam mengejar ilmu agama."
"Kamu sudah tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan berkomitmen, Hamzah. Kami yakin kamu akan menggapai impianmu," ujar Nadira.
Ammar mengusap pundak Hamzah. "Ingat, anakku, di sana kamu akan belajar dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama. Teruslah memperdalam ilmu agama dan jadilah seseorang yang bermanfaat bagi umat dan agama."
Hamzah menghela napas. "Aku akan merindukan waktu-waktu kita bersama. Berharap dapat kembali kelak dan berbagi pengetahuan yang aku peroleh dengan kalian."
Nadira menyeka air mata. "Jaga dirimu baik-baik di sana, Nak. Kami selalu mendoakanmu dan mendukungmu dari jauh."
"Pastikan kamu tetap fokus pada studimu, Hamzah. Jadilah yang terbaik dan buatlah kami bangga," pinta Ammar.
Hamzah mengangguk dengan mantap. "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Ma, Pa. Aku akan berusaha semaksimal mungkin dan mengabdi pada agama dan masyarakat."
__ADS_1
"Kami percaya padamu, Hamzah. Jangan lupakan kami di sana. Tetaplah menjaga hubungan kita dan berbagi kabar tentang perkembanganmu," pinta Nadira. Meakipun jarak perkuliahan Hamzah dan pondok Al Fathonah tidak terlalu jauh seperti Indonesia dan Kairo, tetap saja Nadira akan merindukan Hamzah.
Ammar mengangkat dagu Hamzah. "Kami berharap yang terbaik untukmu, Nak. Ingatlah, keluarga selalu ada di sampingmu, mendukungmu dalam setiap langkahmu."
"Terima kasih atas segala dukungan dan kasih sayang kalian, Ma, Pa. Aku akan selalu berusaha menjadi anak yang baik dan membuat kalian bangga."
Dalam suasana haru, Hamzah berpelukan dengan kedua orang tuanya, merasakan cinta dan dukungan yang kuat dari mereka. Meskipun pisah sementara, mereka tahu bahwa kepergian Hamzah adalah langkah menuju masa depan yang lebih baik.
...***...
Hari pemberangkatan Hamzah ke Semarang tiba, suasana haru dan ceria terpancar dari wajah-wajah keluarga Nadira yang berkumpul. Di ruang tamu, semua anggota keluarga berkumpul untuk memberikan doa dan dukungan terakhir sebelum Hamzah memulai perjalanannya.
Ammar sambil memeluk Hamzah. "Nak, semoga perjalananmu lancar dan sukses di Semarang. Jaga dirimu dengan baik dan jangan ragu untuk meminta bantuan jika ada kesulitan."
Sambil menyeka air mata, Nadira berkata, "Kami akan merindukanmu, sayang. Tetaplah teguh dalam menjalani studi dan jangan lupa berkomunikasi dengan kami."
Sultan menyematkan sebuah tasbih di leher Hamzah. "Ini simbol doa dan dukungan kami, Nak. Selalu dekatkan dirimu dengan Tuhan dalam setiap langkahmu. Tasbih ini akan selalu mengingatkanmu agar tidak pernah menggadaikan akhirat demi dunia yang fana."
Sorot mata Lutfi penuh harap. "Hamzah, ke mana pun kamu pergi, jangan lupakan akar dan nilai-nilai yang kami ajarkan. Jadilah penerus yang baik bagi pesantren dan keluarga."
Aisyah menyodorkan beberapa lembar uang. "Ini adalah simpanan untukmu, Nak. Gunakanlah dengan bijak dan sesuai kebutuhanmu di sana."
Haikal merangkul Hamzah. "Keponakanku sayang, jangan lupa berusaha dengan sungguh-sungguh dan nikmati setiap momen di kampus. Aku sangat bangga menjadi uakmu."
__ADS_1
"Kamu beruntung memiliki keluarga yang begitu perhatian, Hamzah. Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jaga diri baik-baik selama di perantauan, ya," ujar Yasmin seraya tersenyum.
Nadira menyeka air mata dengan tisu. "Hamzah, meski Om Ali tidak bisa hadir, dia mengirimkan pesan dukungan untukmu. Dia berharap yang terbaik untukmu dan akan selalu mendukungmu dari jauh."
Aisha dan Aqeela memeluk Hamzah erat. "Adik yang kami sayangi, yang tidak lama lagi akan menjadi seorang kakak, jangan lupakan kami, ya! Kami akan merindukanmu. Kami harap bisa bertemu denganmu lagi di liburan nanti."
Dalam suasana haru dan bahagia, keluarga Nadira memberikan doa dan ciuman terakhir kepada Hamzah sebelum dia memulai perjalanan ke Semarang. Mereka semua bersama-sama mengantarkannya ke tempat tinggalnya yang baru.
Hamzah kali ini keluar dari zona nyamannya, setelah lama tinggal di lingkungan pondok pesantren, selama kuliah, dia harus menyesuaikan diri untuk hidup menjadi anak kosan. Karena tidak semua mahasiswa yang mendapatkan beasiswa S1 di UIN Walisongo Semarang harus mondok atau tinggal di asrama kampus. Walaupun mahasiswa baru tersebut berasal dari pondok pesantren, mereka memiliki kebebasan untuk memilih tempat tinggal selama kuliah dan Hamzah pilih tinggal di kosan yang dekat dengan kampusnya.
Meskipun UIN Walisongo Semarang memiliki tradisi dan sejarah yang erat dengan dunia pesantren, keputusan untuk mondok atau tidak—tetaplah menjadi pilihan pribadi mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang berasal dari pondok pesantren mungkin memilih untuk tinggal di asrama kampus atau rumah sewa di sekitar kampus untuk mengakomodasi kebutuhan mereka.
Namun demikian, bagi sebagian mahasiswa, tinggal di asrama kampus atau di sekitar kampus dapat memberikan mereka lingkungan yang lebih dekat dengan kegiatan akademik dan keislaman yang ada di kampus. Selain itu, beberapa mahasiswa mungkin memilih untuk mondok di asrama kampus sebagai bentuk dukungan dan keterlibatan lebih dalam kegiatan keislaman yang diadakan oleh kampus.
Keputusan untuk mondok atau tidak tetaplah menjadi keputusan pribadi dan tergantung pada preferensi serta kebutuhan masing-masing mahasiswa. UIN Walisongo Semarang menyediakan beragam fasilitas dan pilihan tempat tinggal untuk mahasiswanya, termasuk asrama kampus, sehingga mahasiswa dapat memilih sesuai dengan keinginan mereka.
Selama kuliah di UIN Walisongo Semarang, Hamzah sungguh bersemangat dalam mengejar ilmu agama. Dia aktif mengikuti perkuliahan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan keislaman di kampus. Dalam jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, dia belajar mengenai metodologi penafsiran Alquran, memahami makna dan kandungan ayat-ayat suci, serta mempelajari sejarah dan konteks pengungkapan wahyu.
Selama masa studinya, Hamzah juga bergabung dengan kelompok studi dan diskusi keagamaan. Bersama teman-teman sejurusan, mereka sering mengadakan kajian dan berdiskusi mengenai ayat-ayat Alquran, tafsir, dan pemahaman agama secara lebih mendalam. Semangat belajar dan berdiskusi ini semakin memperdalam pemahaman Hamzah tentang ajaran agama.
Tidak hanya aktif di kampus, Hamzah juga memberikan waktu untuk melakukan kegiatan sosial. Dia terlibat dalam berbagai kegiatan dakwah dan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh kampus dan lembaga keagamaan di sekitarnya. Hamzah merasa penting untuk mengaplikasikan ilmu agama yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari dan berkontribusi pada masyarakat.
Setelah tiba di rumah baru Hamzah di Semarang, mereka membantu Hamzah untuk menata barang-barangnya dan mengatur ruangannya agar terasa nyaman. Setelah semuanya siap, mereka duduk bersama di ruang tamu, bercerita, dan tertawa, menciptakan kenangan yang indah sebelum akhirnya tiba saat perpisahan.
__ADS_1
Hamzah tahu bahwa meskipun dia akan menjalani perjalanan baru, dukungan dan cinta dari keluarga akan selalu bersamanya. Dia merasa diberkati memiliki keluarga yang penuh kasih dan mendukungnya dalam mengejar impian serta pengembangan diri. Dengan hati yang penuh rasa syukur, Hamzah bersiap-siap untuk memulai babak baru dalam hidupnya di Semarang.
...****...