
Setelah perjalanan yang panjang, Ali akhirnya tiba di Indonesia. Hatinya penuh kegembiraan karena akan segera bertemu dengan keluarga di pondok pesantren Al Fathonah. Dia telah merindukan momen-momen bersama mereka, terutama setelah begitu lama tidak pulang.
Ali merencanakan sebuah kejutan untuk keluarganya. Dia tidak memberitahu mereka bahwa dia akan pulang dan ini akan menjadi momen yang tak terlupakan bagi semua orang. Ali menghubungi keponakannya, Hafiz dan Hamzah, untuk melibatkan mereka dalam rencananya. Mereka dengan senang hati setuju untuk bergabung dalam petualangan ini.
Ali tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, dan segera melanjutkan perjalanan ke penginapan Hamzah di Semarang. Hafiz, yang tiba lebih awal dari Kairo, juga telah sampai di Semarang dan bersiap untuk bergabung dengan pamannya, Ali.
Sesampainya di penginapan, mereka bertemu dengan Hamzah, yang telah menyiapkan semuanya dengan rapi. Mereka merencanakan setiap langkah dengan hati-hati untuk memastikan kejutan mereka berhasil.
Pada hari yang ditentukan, Ali, Hafiz, dan Hamzah berangkat ke pondok pesantren Al Fathonah. Mereka memilih waktu yang tepat, saat keluarga sedang berkumpul bersama. Saat mereka tiba di pondok, ketiga orang tersebut mengintip dari jauh dan melihat keluarga mereka.
Keluarga di pondok tidak menyadari kehadiran Ali, Hafiz, dan Hamzah. Mereka berbicara dan tertawa bersama dengan suasana penuh keceriaan. Kemudian, dengan hati yang berdebar-debar, Ali, Hafiz, dan Hamzah mendekati pintu pondok dengan langkah perlahan.
Saat mereka masuk, kejutan yang besar terjadi. Keluarga yang tadinya sedang berkumpul terkejut melihat Ali, Hafiz, dan Hamzah berdiri di depan mereka. Tidak ada yang bisa berkata apa-apa selama beberapa detik, sebelum akhirnya mereka semua meledak dalam kegembiraan dan kebahagiaan.
Nadira sambil menangis bahagia. "Hafiz, Hamzah! Betapa aku merindukan kalian berdua." ujarnya, lalu memejamkan mata dan memeluk putra-putranya dengan erat.
Hafiz tersenyum lebar. "Mama, kami juga sangat merindukan Mama dan Papa, serta yang lainnya. Ini adalah momen yang kami tunggu-tunggu."
Hamzah tersenyum sambil mengangguk. "Ya, Ma. Kami sangat bahagia bisa berkumpul kembali bersama keluarga tercinta."
Sementara itu, di sisi lain pada ruang yang sama, Lutfi mengulurkan tangan ke Ali. "Ali, anakku! Akhirnya kamu bisa pulang juga. Aku sudah sangat merindukanmu."
"Ayah, aku juga sangat merindukanmu," ujar Ali terharu. Lalu, mereka saling memeluk dengan erat, sambil mata mereka penuh dengan air mata kebahagiaan.
Ammar menyaksikan momen tersebut dengan haru. Dia tidak bisa berkata-kata lagi, tetapi senyumannya sudah mewakuli bahwa Ammar sangat bahagia karena keluarganya sudah berkumpul seperti sekarang, walaupun suatu hari nanti, akan ada yang pergi kembali karena urusan masing-masing. Setidaknya, dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
__ADS_1
Di tengah kebahagiaan keluarga Ammar, Khodijah muncul dalam bayangan. Seorang wanita yang melahirkan Muhammad Ali Baraqbah. "Aku tahu betapa kamu merindukan mereka, Lutfi. Mereka adalah anugerah terbesar yang Allah berikan untuk keluarga ini. Ayo, peluk mereka dengan hangat. Berikan kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan selama masih ada bersamamu, khususnya Ali yang aku tinggalkan sejak kecil." Lalu, bayangannya menghilang, tetapi Ali merasakan kehadiran uminya itu.
Ali tersenyum berada dalam dekapan abinya. "Umi. Maafkan aku yang sempat tidak bisa merelakan kepergianmu dan tidak bisa menerima kehadiran Umi Aisyah, tetapi aku sejauh ini, aku sudah ikhlas dengan takdirku, Mi. Semoga kelak kita bisa berkumpul kembali di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamiin," batinnya.
Ammar memeluk Hafiz dan Hamzah dengan penuh kasih sayang, sambil meneteskan air mata bahagia.
Aisyah tersenyum bahagia. "Hafiz, Hamzah, kalian telah tumbuh menjadi pemuda yang hebat. Aku sungguh bersyukur bisa melihat kalian kembali." Lalu, dia menatap Hanin dan Hania dengan haru. "Dan kamu, Hanin dan Hania, kalian memiliki dua kakak yang luar biasa."
Karena si kembar hanya bisa tertawa layaknya bayi berusia baru dua bulan. Mereka belum bisa merespons dengan berbicara dan melihat seperti orang-orang yang sedang berkumpul di ruangan itu.
Pada usia satu bulan, bayi umumnya mulai mengalami perkembangan visual yang signifikan. Meskipun penglihatannya masih belum sepenuhnya matang, mereka sudah dapat melihat dan merespons sekitarnya dengan beberapa cara.
Pada usia ini, bayi sudah mulai bisa fokus pada objek-objek yang berada dalam jarak dekat, sekitar 20 hingga 30 cm dari wajah mereka. Mereka akan menatap wajah orang-orang di sekitarnya dan mulai mengenali orang tua atau anggota keluarga yang sering berinteraksi dengan mereka.
Selain itu, pada usia ini, bayi juga mulai mengenali suara dan mampu merespons dengan menggerakkan kepala atau menoleh ke arah sumber suara. Mereka juga dapat merespons sentuhan dan mungkin akan menunjukkan tanda-tanda senang atau tidak senang melalui ekspresi wajah atau gerakan tubuh mereka.
Meskipun perkembangan penglihatan dan respons bayi pada usia satu bulan masih terbatas, mereka sudah mulai aktif mengamati dan menanggapi lingkungan sekitar mereka. Penting bagi orang tua untuk memberikan rangsangan visual yang baik, seperti menggunakan mainan berwarna cerah atau berinteraksi secara langsung dengan bayi melalui kontak mata dan senyuman, untuk membantu dalam perkembangan penglihatan mereka.
Semua orang meluapkan kebahagiaan dan cinta dalam momen tersebut. Suasana penuh keceriaan, tawa, dan canda mengisi ruangan pondok pesantren Al Fathonah. Mereka menyadari betapa berharga dan berbahagianya bisa bersama sebagai keluarga yang utuh. Momen ini akan menjadi kenangan yang tak tergantikan dalam hidup mereka.
Air mata haru mengalir di antara keluarga yang bersatu kembali. Ali dan Hafiz menceritakan pengalaman mereka selama di luar negeri, sedangkan Hamzah, meskipun jadi anak rantau, dia masih tinggal di Indonesia. Dekat sih, tapi jarang pulang karena sibuk kuliah. Sementara itu, keluarga memberikan pelukan hangat dan ucapan selamat atas kepulangan mereka.
Setelah momen kejutan ini, Ali, Hafiz, dan Hamzah menghabiskan waktu bersama keluarga di pondok pesantren Al Fathonah. Mereka melakukan banyak kegiatan bersama, saling berbagi cerita, dan menikmati momen kebersamaan yang telah lama dirindukan.
Kejutan ini tidak hanya membahagiakan keluarga di pondok, tetapi juga menguatkan ikatan mereka sebagai keluarga yang saling mencintai dan mendukung satu sama lain. Mereka bersyukur karena bisa bersama kembali setelah sekian lama berpisah dan berbagi pengalaman hidup mereka.
__ADS_1
Pulangnya Ali, Hafiz, dan Hamzah dan kejutan yang mereka berikan kepada keluarga di pondok pesantren Al Fathonah menjadi momen yang tak terlupakan dan membekas dalam ingatan mereka. Kebersamaan dan cinta keluarga terus mengalir di hati mereka. Nadira sekeluarga merasa sangat bersyukur atas anugerah tersebut.
...***...
Di suatu ruangan yang hangat dan penuh kebersamaan, Ali memandang semua orang yang ada di sana dengan wajah penuh kebahagiaan. Matanya bersinar dan suaranya penuh keyakinan saat dia mengumumkan kabar bahagia kepada mereka.
Ali dengan suara yang penuh gembira. "Semuanya, aku punya kabar yang ingin aku bagikan dengan kalian semua. Aku dan pasangan hidupku, Sarah, telah memutuskan untuk melangsungkan pernikahan!"
Terdengar suara tepuk tangan dan sorakan gembira dari semua orang yang ada di ruangan itu. Senyum bahagia merebak di wajah mereka, menunjukkan dukungan dan kegembiraan mereka atas kabar tersebut. Namun, nama calon istri Ali mengingatkan Nadira dan Ammar kepada seseorang. Mereka saling bertatapan karena pikiran tertuju pada seorang perempuan yang juga memiliki nama sama dengan calon istrinya Ali.
Ali tersenyum lebar. "Ini adalah keputusan yang kami pikirkan dengan matang. Kami berdua telah saling mendukung dan bersiap untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Aku merasa siap untuk memasuki peran sebagai seorang suami dan ayah, serta menghadapi segala situasi yang mungkin terjadi di masa depan."
Mata Ali berbinar dengan tekad dan semangat yang terpancar dari dalam hatinya. Dia telah menyelesaikan banyak perjalanan hidupnya, dan saat ini dia merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat untuk melangkah bersamanya.
Ali dengan tulus berkata, "Aku ingin berterima kasih kepada semua orang di sini yang telah memberikan dukungan, cinta, dan nasihat sepanjang perjalanan hidupku. Tanpa kalian, aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Aku berharap kalian semua dapat hadir dalam momen istimewaku nanti dan berbagi kebahagiaan di dalamnya.
Tangis haru terdengar, mereka merasa terharu oleh keputusan Ali. Mereka memeluk Ali dan memberikan kata-kata penuh doa dan harapan yang tulus.
"Kami berharap pernikahan kami akan menjadi awal dari perjalanan baru yang penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan kesatuan. Kami berjanji akan saling mendukung, menghormati, dan menjaga satu sama lain sepanjang hidup kami," ujar Ali dengan tulus.
Semua orang dalam ruangan itu dipenuhi oleh rasa haru dan kebahagiaan. Mereka merasa terhormat dan bahagia karena dapat berbagi momen ini bersama Ali. Mereka bersiap untuk merencanakan pernikahan yang akan datang dan memberikan semua dukungan yang diperlukan bagi Ali dan Sarah untuk memulai babak baru dalam kehidupan mereka.
Keputusan Ali untuk melangsungkan pernikahan adalah langkah yang matang dan penuh kepercayaan. Dia telah menemukan cinta sejatinya dan bersiap untuk menghadapi tantangan dan kebahagiaan yang akan datang sebagai seorang suami dan ayah. Dalam ruangan itu, penuh dengan harapan dan kegembiraan untuk masa depan mereka yang cerah.
...****...
__ADS_1