Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Rekonsiliasi Keluarga Ali


__ADS_3

Beberapa hari setelah menikah, Ali dan Sarah tiba di London dengan hati penuh harap dan kebahagiaan. Mereka segera menghuni rumah yang telah disiapkan sebagai mahar untuk Sarah. Semua orang yang hadir pada saat pernikahan mereka merasa sedih melepas kepergian pasangan ini. Terlebih lagi, Lutfi, ayah Ali, merasa sedikit kehilangan.


Lutfi telah lama merindukan hubungan yang dekat dengan putranya. Selama bertahun-tahun, Ali tidak menerima kehadiran Aisyah sebagai ibu sambungnya dan Ammar sebagai adiknya. Meskipun Lutfi berusaha keras memperbaiki hubungan mereka, Ali tidak pernah sepenuhnya terbuka untuk menerima mereka sebagai bagian dari keluarganya.


Namun, beberapa tahun lalu, Ali mulai melihat perubahan dalam dirinya sendiri, bahkan ketika dia bertemu dengan Sarah, cinta di antara mereka tumbuh dengan cepat, dan Ali mulai menyadari pentingnya memaafkan masa lalunya serta membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarganya.


(Kilas balik saat Ali menolak Aisyah dan Ammar dalam hidupnya.)


Di akhir masa hidup Khodijah, dia meminta suaminya, Lutfi, menikahi sahabatnya. Saat itu, Aisyah diminta datang menemuinya untuk membicarakan pernikahan Lutfi dan Aisyah.


"Abi. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu selama ini. Hari ini, aku merasa waktuku sudah habis untuk melayanimu sebagai seorang istri," ujar Khodijah dengan suara pelan.


Tubuhnya sangat lemah untuk berbicara karena menguras tenanga, tetapi dia memaksakan diri untuk memberikan pengumuman penting kepada semua orang. Itu sebabnya, Khodijah mengumpulkan keluarga dan satu sahabatnya, Aisyah, di rumah sakit, di ruang dia dirawat.


Khodijah meminta Aisyah mendekat. Posisinya, Lutfi sebelah kanan Khodijah dan Aisyah sebelah kirinya. Sedangkan Ali, sengaja dialihkan pandangannya oleh keluarga mereka agar tidak mendengar percakapan itu. Ali dibawa keluar oleh uminya Khodijah, Fatimah.


Di dalam ruangan, hanya ada Lutfi, Khodijah, dan Aisyah.


"Abi. Kamu lihat perempuan yang ada dihadapanmu ini, selain aku, kan?" tanya Khodijah, tersenyum memandangi suaminya yang sudah berlinang air mata.


Pandangan Lutfi tetap ke arah Khodijah karena tidak ingin zina mata kalau beralih ke Aisyah.


"Dia adalah sahabatku. Namanya Syarifah Aisyah. Panggil saja, Aisyah. Dia sudah seperti keluargaku sendiri, artinya dia juga keluarga Abi. Umi juga sudah anggap Aisyah seperti anaknya sendiri." Khodijah merasa napasnya semakin sesak, tetapi berusaha mengatur napas untuk melengkapi percakapan yang akan disampaikan.


"Aisyah adalah perempuan yang baik. Aku sangat mengenalnya dan dia penyayang keluarga. Paham akan agama," lanjutnya dengan napas terputus-putus.


"Waktuku tidak banyak lagi, aku hanya ingin meminta kalian berdua untuk menikah hari ini juga. Aku ingin menjadi salah satu saksi atas pernikahan suami dan sahabatku. Aku percaya, kalau Aisyah akan menjadi ibu yang baik untuk Ali. Karena Ali pun sudah cukup dekat dengan Aisyah."

__ADS_1


Aisyah tidak tahu mau berkata apa, karena dia sendiri belum ada persiapan untuk menikah. Dia ingin menikah, tetapi bukan menikahi suami sahabatnya sendiri. Takdir memang tidak pernah diduga akan seperti apa. Selalu saja memberikan kejutan kepada semua orang yang menjalaninya.


"Aku ingin melihat kebahagiaan dari orang-orang yang aku cintai sebelum kematian benar-benar menjemputku," tambah Khodijah.


Suara alat elektrokardiograf terus memperlihatkan penurunan pada detak jantung Khodijah.


Lutfi menggenggam tangan istrinya dengan erat sambil mencium punggung tangannya. Dia menggeleng-gelengkan kepala, hingga air mata terus-terusan menetes dan mengalir, membasahi tangan Khodijah. Tidak terima istrinya mengucapkan salam perpisahan, seolah memang sudah waktunya berpulang ke pangkuan Allah (meninggal), Lutfi sedikit memberontak.


"Umi ngomong apa, sih?Abi tidak suka kalau Umi ngomong seperti itu. Apa pun akan Abi lakukan untuk membuat Umi sehat lagi. Jadi, jangan menyerah, ya. Kita sama-sama berjuang agar Umi bisa sehat seperti sedia kala," ujar Lutfi dengan suara pelan.


"Terima kasih, Abi, sudah membuktikan janji pernikahan kita selama aku hidup. Abi memang sosok laki-laki suami terbaik dan ayah yang sangat menyayangi anaknya." Khodijah menggerakkan jemarinya, berusaha menghapus air mata sang suami.


Lutfi menghela napas berat. Bingung harus berkata apa lagi.


"Abi sangat mencintai aku, kan?" tanya Khodijah.


"Abi mau kan, mengabulkan permintaan terakhirku?" tanya Khodijah lagi.


Lutfi hanya bisa mengangguk karena tidak ingin membuat istrinya kecewa dan sedih kalau dia menolak.


Tiba-tiba, beberapa saksi dan penghulu, masuk ke dalam ruangan, termasuk beberapa keluarga dari pihak Khodijah, Lutfi, dan Aisyah. Ali menghampiri Abi dan Uminya. Ali bingung, kenapa semua orang menangis.


"Umi dan Abi kenapa nangis? Kan Umi janji, pulang dari rumah sakit nanti, kita akan bermain lagi," ujar Ali dengan polos.


Lutfi menghapus air matanya dan memangku Ali. "Ali, anakku. Kami sedang bahagia karena umi kamu akan pulang ke rumah dan dia tidak akan pernah merasakan sakit lagi."


Ali berteriak kegirangan. Dia benar-benar masih polos, sehingga belum bisa membaca kenyataan yang ada di depan mata. Namun, ketika melihat abinya dan Aisyah duduk bersanding, dia mengerutkan dahi. Pertanyaan memenuhi kepalanya.

__ADS_1


Pernikahan kedua Lutfi dilangsungkan sederhana di rumah sakit dan Khodijah salah satu saksi atas pernikahan tersebut. Aisyah kini sudah resmi menjadi istri kedua dari Lutfi. Khodijah tersenyum bahagia. Dia menyatukan kedua tangan Lutfi dan Aisyah.


"Terima kasih, ya, untuk kalian berdua, sudah mau memenuhi permintaan terakhirku. Sekarang aku sudah bisa pergi dengan tenang. Tolong jaga Ali dengan baik, ya." Lalu, pandangannya ke arah Ali.


"Nak. Sekarang jangan panggil tante Aisyah lagi, ya. Dia sekarang sudah menjadi umi kamu juga. Jadi, panggil Umi Asiyah, ya," pinta Khodijah dengan lembut. Senyuman yang diberikan kepada Ali adalah salam perpisahan untuk semuanya.


Kemudian, terdengar suara alat elektrokardiograf yang menandakan kalau jantung Khodijah sudah berhenti berdetak. Mereka semua melihat layar pemantau pada elektrokardiograf tersebut dan menangis bersama.


Ali yang baru menyadari kalau uminya meninggal, dia pun ikut berteriak. Tidak terima ditinggalkan oleh ibunda tercintanya. Sejak saat itulah, Ali yang sebelumnya sayang sama Aisyah, menjadi benci. Dia menyalahkan Aisyah adalah penyebab kematian uminya dan Ali merasa kecewa dengan abinya yang tidak memenughi janji untuk menyembuhkan uminya.


Cerita kembali lagi pada masa sekarang. Di mana Ali sudah berdamai dengan masa lalu. Apalagi sekarang dia sudah menjadi seorang suami. Sikapnya menjadi lebih dewasa dan selalu berpikir sebelum bertindak.


Ali dan Sarah memutuskan untuk pergi ke London untuk memulai hidup baru mereka bersama-sama. Mereka merasa bahwa jarak dari keluarga Ali akan membantu mereka menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang mereka cari. Namun, di dalam hati Ali, dia merasa rindu akan kebersamaan dengan keluarganya, terutama dengan abinya, Lutfi.


Setelah tinggal di London, Ali dan Sarah menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka yang baru. Mereka menjalani hari-hari yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan, membangun fondasi perkawinan mereka yang kokoh. Namun, terlepas dari kebahagiaan mereka, Ali tidak bisa menghilangkan rasa kerinduan yang ada di dalam dirinya.


Di lain sisi, Lutfi merasa hampa tanpa kehadiran Ali di sekitarnya. Meskipun awalnya merasa kesulitan menerima kenyataan bahwa setelah menikah pun Ali tidak tinggal bersamanya, Lutfi menyadari betapa pentingnya keluarga dan cinta dalam hidupnya. Dia merasa menyesal karena telah kehilangan banyak waktu yang berharga bersama anak sulungnya.


Meskipun berada di benua yang berbeda, Ali dan Lutfi tetap berhubungan melalui panggilan telepon dan pesan teks. Ali berbagi kebahagiaan dan keberhasilannya di London, sementara Lutfi memberikan dukungan dan nasihat sebagai seorang ayah kepada anaknya.


Waktu berlalu, dan hubungan antara Ali dan Lutfi semakin dekat. Ali menyadari bahwa Lutfi adalah ayah yang mencintainya dengan tulus, dan Lutfi melihat perubahan positif yang terjadi pada putranya. Mereka berdua semakin menyadari pentingnya memaafkan dan memulai kembali hubungan yang sudah diperbaiki sejak beberapa tahun lalu.


Setahun kemudian, Ali dan Sarah kembali ke kampung halaman mereka untuk mengunjungi keluarga. Saat Ali dan Lutfi bertemu lagi, keduanya saling berpelukan dengan erat. Mereka merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang lama hilang di antara keduanya.


Dalam suasana yang hangat dan penuh kebahagiaan, Ali, Sarah, dan keluarga mereka menghabiskan waktu bersama, memperbaiki masa lalu yang terpisah dan membangun masa depan yang lebih baik. Ali dan Ammar semakin kompak, mereka membentuk ikatan keluarga yang kuat.


Nadira memiliki inspirasi baru untuk tulisannya ketika melihat kebersamaan ini. Dia tersenyum sambil menyimpan cerita yang baru saja masuk ke dalam pikirannya untuk dituliskan.

__ADS_1


...****...


__ADS_2