Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Kasus Tabrak Lari Berbuntut Panjang


__ADS_3

Ali adalah seorang pria yang sangat peduli dengan keluarganya. Suatu hari, keponakannya, Hafiz, menjadi korban kecelakaan di jalan raya. Hafiz ditabrak oleh seorang pengendara motor yang tidak bertanggung jawab. Ali yang berada di tempat kejadian, langsung marah dan memaki pelaku. Dia juga mengambil foto plat kendaraan pelaku sebagai bukti karena pelakunya langsung kabur.


Ali segera membawa Hafiz ke rumah sakit dengan mobilnya dan menelepon abinya untuk memberitahu kejadian tersebut. Tidak lama kemudian, Ammar, Nadira, Lutfi, dan Aisyah juga tiba di rumah sakit setelah mendengar kabar bahwa Hafiz telah mengalami kecelakaan. Dari kejauhan, terlihat jelas kalau langkah kaki mereka tergesa-gesa agar segera sampai pada ruangan anaknya yang sedang ditangani oleh dokter. Namun, Ammar yang emosi hampir saja melukai Ali karena mengira bahwa ini adalah bagian dari rencana kakaknya.


"Kakak benar-benar sudah gila, ya! Mengapa kamu sampai melakukan ini pada keluarga kita sendiri, Kak? Kakak sengaja menabrak Hafiz kan?!" bentak Ammar sambil menarik kerah baju Ali dengan kasar.



Ali yang merasa tidak bersalah, langsung membela diri.



"Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak pernah melakukan sesuatu seperti itu pada keluarga kita!" ujarnya, menatap Ammar dengan rasa kesal karena telah difitnah.



"Jangan berpura-pura, Kak! Aku sudah tahu bahwa kamu tidak suka padaku dan umi. Kakak sengaja melakukan ini untuk membalas dendam atau apa?" Bentakan Ammar kali ini membuat seisi rumah sakit jadi memperhatikan mereka.



Ali merasa kesal karena difitnah dan tidak diakui kejujurannya.



"Sudahlah, Ammar. Kamu salah besar. Aku memang tidak suka dengan kalian, tapi aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang bisa membahayakan keluarga kita. Lihatlah foto plat nomor motor yang menabrak Hafiz. Ini bukti kalau aku tidak bersalah!" ujar Ali sambil menunjukkan foto plat motor yang diambil.



"Sudah! Cukup! Kenapa kalian malah bertengkar seperti anak kecil begini, sih?" ujar Nadira dengan tetesan air mata. Lalu, sorot matanya tertuju pada Ali. "Kak, apa yang terjadi? Siapa yang menabrak Hafiz?" tanya Nadira panik.



"Ada orang yang menabrak Hafiz dengan motor dan langsung kabur. Tapi aku sudah mengambil foto plat nomornya sebagai bukti," ujar Ali yang masih menunjukkan bukti tersebut.



"Kita harus melaporkan kejadian ini ke polisi secepatnya," saran Lutfi yang ingin meminta keadilan untuk cucunya.



"Benar, kita harus mencari tahu siapa pelaku dan mengambil tindakan yang tepat untuk permasalahan ini," ujar Aisyah.



Ammar terdiam sejenak setelah melihat nomor plat motor yang ditunjukkan oleh kakaknya.

__ADS_1



"Baiklah, aku minta maaf kalau aku salah mengira. Tapi kami harus mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini. Kita harus menjaga keluarga kita," ujar Ammar dengan helaan napas berat. Seakan ada beban yang berat di pundaknya. Kepalanya pun terasa nyeri.



"Sama-sama kita cari tahu siapa pelakunya. Kita harus berjuang bersama untuk menjaga keluarga kita. Mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian yang terjadi di pesantren," ujar Ali sambil menyimpan kembali ponsel di saku celananya.


Setelah itu, mereka pun bergegas membawa bukti tersebut ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian dan memberikan bukti kepada pihak berwajib untuk diselidiki lebih lanjut.


Nadira semakin merasa kebingungan dan khawatir dengan kejadian-kejadian yang menimpa keluarganya. Baginya, semua ini terasa sangat aneh dan tidak masuk akal. Dia merasa sedih dan khawatir dengan kondisi Hafiz yang masih dalam perawatan di rumah sakit.


Di sisi lain, Ammar terus mengawasi Ali dengan perasaan masih curiga. Baginya, Ali mungkin saja terlibat dalam semua kejadian tersebut. Meskipun dia masih menyayangi kakaknya, tetapi Ammar siap untuk mengambil tindakan tegas jika memang Ali terbukti terlibat dalam kejahatan tersebut.


Ali sendiri merasa kesal dengan tuduhan yang dialamatkan padanya oleh Ammar. Dia merasa tidak bersalah dan tidak pernah terlibat dalam kejahatan apa pun. Ali menganggap bahwa Ammar terlalu paranoid dan tidak adil dalam memperlakukannya.


Sementara itu, Nadira mencoba mencari tahu lebih jauh tentang kejadian-kejadian tersebut dan mencoba mencari bukti yang bisa membantunya memecahkan misteri ini. Dia merasa bahwa hanya dengan mengetahui siapa dalang dari semua ini, keluarganya bisa merasa tenang dan aman kembali.


Namun, semua ini tidak mudah. Nadira harus bersikap hati-hati agar tidak terjebak dalam bahaya yang lebih besar. Dia juga harus berhati-hati agar tidak memperburuk hubungan antara Ali dan Ammar yang sudah cukup buruk.


Saat ini, satu-satunya yang bisa dilakukan oleh Nadira adalah tetap tenang dan bersabar, serta terus berusaha mencari tahu siapa dalang dari semua kejadian yang menimpa keluarganya. Dia berharap, semuanya akan segera terungkap dan keluarganya bisa hidup dengan tenang dan aman kembali.


...***...


Beberapa hari setelah laporan masuk, ketika polisi menyelidiki kasus tersebut lebih lanjut, ternyata pelaku yang menabrak Hafiz adalah orang suruhan. Hal ini membuat kasus tersebut semakin rumit dan menimbulkan banyak pertanyaan.


Namun, kasus tersebut semakin sulit karena pelaku tabrak lari masih belum ditemukan. Polisi kembali melakukan penyelidikan dengan menggunakan berbagai macam metode seperti pemantauan CCTV, melakukan wawancara dengan saksi, dan melakukan pengintaian.


Selama proses penyelidikan, Nadira dan keluarganya memberikan dukungan dan bantuan kepada polisi dengan memberikan informasi yang mereka miliki. Mereka juga berusaha untuk tetap tenang dan tidak panik meskipun situasinya semakin sulit.


Nadira tidak pernah menyangka kalau yang melakukan semua ini adalah Jerry. Dia kira, Jerry sudah berdamai dengan masa lalunya dan bisa menerima kenyataan bahwa Nadira sudah menikah dan memiliki anak. Padahal saat acara peluncuran buku keduanya, Jerry turut hadir walau tidak diundang. Ternyata Jerry otak dari semua masalah yang terjadi di pesantren dan kasus tabrak lari yang menimpa Hafiz, anaknya Nadira dan Ammar.



Di suatu ruangan, keluarga Lutfi sedang berkumpul untuk membahas permasalahan yang terjadi.



"Ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan, sehingga mengumpulkan kami di sini, Nad?" tanya Ali, penasaran.



"Iya, Nad. Ada apa? Apakah kamu punya bukti lain?" tanya Ammar, menatap wajah istrinya yang letih.


__ADS_1


"Aku tidak pernah menyangka kalau yang melakukan semua ini adalah Jerry," ujar Nadira.



"Jerry? Siapa itu Jerry?" tanya Ali.



"Dia adalah teman sekolahku dulu. Aku dulu pernah berhubungan dengan dia, tapi akhirnya aku menikah dengan Ammar. Jerry sudah pernah berulang kali mencoba untuk mendekatiku kembali, tapi aku selalu menolaknya," jawab Nadira kepada kakak iparnya.



"Lalu kenapa dia melakukan semua ini?" Ali semakin penasaran.



"Aku kira dia sudah berdamai dengan masa lalunya, tapi ternyata tidak. Dia turut hadir saat acara peluncuran buku keduaku. Padahal aku tidak mengundangnya," ujar Nadira.



"Lalu kenapa dia melakukan semua ini? Apa dia masih memiliki perasaan sama kamu, Nad?" tanya Aisyah.



"Entahlah, Umi. Mungkin saja dugaan Umi benar. Apalagi dia juga sudah mempekerjakan orang-orang untuk mengganggu pesantren kita dan juga menabrak anakku," jawab Nadira.


"Apa kita harus melapor ke polisi?" tanya Ammar. Sorot matanya ke arah Nadira karena semua keputusan ada di tangan Nadira.


"Ya, aku akan mengumpulkan bukti-bukti yang aku punya dan kita akan membawanya ke polisi. Dia harus bertanggung jawab atas semua yang dilakukan." Nadira tidak ingin membiarkan kejahatan Jerry terus berlanjut. Keputusannya sudah final.


"Tapi ingat, kita tidak boleh terburu-buru dan melakukan sesuatu tanpa bukti yang cukup. Kita harus sabar dan hati-hati," ujar Lutfi.



"Abi kalian benar, kita harus mengumpulkan bukti yang cukup dan tidak melakukan tindakan sembarangan," ujar Aisyah.



"Aku setuju. Kita harus berhati-hati dan tetap waspada," ujar Nadira. Dadanya bergemuruh, tetapi berusaha untuk tetap tenang.



Ammar memeluk Nadira karena tahu, hati Nadira sangat terpukul mengetahui semua kebenaran ini.


Setelah beberapa waktu, berbekal bukti yang ada, polisi akhirnya berhasil menemukan pelaku tabrak lari dan juga berhasil mengidentifikasi siapa dalang dari semua ini. Mereka pun berhasil menangkap dalang tersebut dan membawanya ke pengadilan untuk diadili sesuai hukum yang berlaku.

__ADS_1


Nadira bersyukur karena Hafiz berhasil pulih dari cedera dan semuanya kembali normal. Lutfi merasa lega karena keluarganya saling mendukung satu sama lain di saat-saat sulit. Mereka berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali dan mengajak masyarakat untuk selalu berhati-hati di jalan raya.


...****...


__ADS_2