Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Takdir Tak Pernah Salah


__ADS_3

Siang hari ini, matahari begitu terik, sinarnya memantulkan kaca mobil yang dibawa Nadira. Nadira menjemput Hafiz sendirian di sekolah karena Ammar ada urusan yang harus diselesaikan. Nadira mengemudi dengan pelan walau jalanan sepi dan sunyi, dia tetap mengutamakan keselamatan. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Jalanan lengang ini membuat Nadira bisa cepat sampai di sekolah Hafiz.



Beberapa menit kemudian, Nadira akhirnya tiba di tempat tujuan. Sebagian anak sudah dijemput oleh orang tuanya masing-masing, ada pula yang dijemput sopir bersama pengasuh mereka. Bagi yang kedua orangnya sama-sama sibuk bekerja, memang selalu membayar pengasuh untuk mengurus keperluan anak-anak mereka, serta ada sopir khusus untuk mengantar jemput sang anak. Kini di sekolah tersebut, sisa Hafiz dan beberapa anak lainnya yang belum dijemput.



Hafiz yang sedang bersama Ibu Farah, langsung berlari—menghampiri Nadira.



"Hafiz, jalannya pelan-pelan saja, biar tidak tersandung," ujar Ibu Farah.



Nadira menangkap pelukan Hafiz yang kini sudah ada dalam dekapannya.



"Masyaa Allah, anak mama yang ganteng banget dan pinter ini. Gimana belajarnya? Hafiz senang tidak?" tanya Nadira sambil mengecup kening anaknya itu.



"Alhamdulillah, belajalnya (belajarnya) selu (seru), Ma. Hafiz senang. Soalnya, ibu gulunya (gurunya) ba ... ik banget sama Hafiz. Hafiz juga punya banyak teman." Hafiz bercerita dengan riang. Seusia Hafiz memang bicaranya masih cadel, jadi terkadang orang tua atau orang dewasa yang menjadi pendengarnya, harus sabar untuk membiarkan mereka menyelesaikan cerita atau percakapannya.



Ibu Farah yang sedari tadi mengikuti Hafiz karena khawatir anak didiknya itu terjatuh, kini sudah berdiri di hadapan Nadira dan Hafiz. Dia tersenyum dan terharu mendengar jawaban Hafiz. Nadira yang menyadari keberadaan Farah, langsung berdiri.



"Ibu Falah (Farah)!" sapa Hafiz seraya memberikan senyum termanisnya yang menggemaskan.



"Ibu ini, guru yang mengajar anak saya?" tanya Nadira, menatap Farah dengan tatapan seakan mengenal guru tersebut.



"Benar, Bu. Hafiz anaknya cepat tanggap, sehingga terlihat lebih unggul dari teman-temannya. Apa sebelumnya Hafiz memang sudah belajar banyak hal tentang ilmu pendidikan, seperti nama hewan, buah, mengenal huruf abjad, dan lainnya?" tanya Farah yang penasaran dengan kecerdasan Hafiz.



"Iya, Bu. Kami memang sudah mengajarkan Hafiz beberapa hal sebelum dia masuk sekolah. Anaknya memang masyaa Allah banget, kita ajarkan sekali saja, bisa langsung dipahami dengan baik," jawab Nadira dengan antusias. "Oh iya, kita belum berkenalan, Bu. Saya, Nadira. Mamanya Hafiz," ujarnya memperkenalkan diri sambil memberikan tangan untuk berjabatan.



"Iya, Bu Nadira. Salam kenal. Saya, Farah." Farah pun menjabat tangan Nadira dengan lembut seraya tersenyum. Ibu Farah memang terkenal murah senyum dan guru paling sabar dalam menghadapi tingkah laku anak-anak didiknya. Hal ini terlihat dari caranya menengahi perkelahian antar muridnya dan anak-anak yang berisik atau hal lain yang membuat orang dewasa pada umumnya bisa membesarkan volume ketika kewalahan dalam menasihati anak-anak. Tidak heran kalau Farah menjadi guru kesayangan anak-anak.



Nadira memperhatikan wajah Farah yang sangat familier.


__ADS_1


"Maaf, Bu. Apa sebelumnya kita pernah ketemu, ya? Soalnya wajah Ibu Farah ini tidak asing. Sepertinya saya pernah melihatnya," ujar Nadira sambil mengingat-ingat.



Ibu Farah menaikkan alisnya. Dia terkejut dengan pengakuan Nadira.



"Oh, ya? Mungkin wajah saya memang pasaran kali ya, Bu. Jangan kan wajah, nama saya pun pasaran banget. Hehe ...!" Farah menanggapi dengan santai karena dia merasa, sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Nadira.



"Mungkin saja, Bu, tapi saya merasa tidak asing dengan wajah Bu Farah. Emm, ya sudah deh. Lupakan saja. Kami pamit dulu ya, Bu." Nadira akhirnya memilih untuk pulang sebelum memecahkan misteri yang baru saja hadir.



"Iya, Bu. Hati-hati di jalan," ujar Farah, menanggapi perkataan Nadira. Lalu berkata kepada Hafiz, "Sampai bertemu besok ya, Hafiz." Senyum perempuan pemilik gigi gingsul itu begitu manis.



Sepanjang perjalanan, pikiran Nadira masih tertuju pada sosok guru yang mengajar Hafiz. Pikirannya terus saja berlarian. Dia mencoba mengingat-ingat, apakah dia sebelumnya memang pernah bertemu dengan Farah atau memang benar, apa yang dikatakan Farah bahwa mukanya pasaran.



Ketidakfokusan Nadira membuat mobilnya hampir menabrak seorang pengemudi roda dua yang ada di depan.



Hafiz yang melihat, spontan berteriak.




Nadira langsung menginjak pedal rem mobil matic berwarna hitam tersebut. Nadira beristighfar. Keringatnya langsung bercucuran. Jantungnya berdegub sangat kencang.



"Hampir, saja!" ujar Nadira, menghela napas berat.



"Mama melamun, ya?" tanya Hafiz menatap wajah mamanya.



"Tidak, Sayang. Mungkin karena mama kelelahan saja," ujar Nadira, berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya.



Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.


***


Tiba di rumah, Nadira sekarang sudah ingat. Farah adalah tunangannya Jerry. Nadira menghela napas, berusaha menyeka air mata agar tidak banyak pertanyaan ada putranya yang kini rasa keingintahuannya terus tumbuh.

__ADS_1



Nadira menyuruh Hafiz masuk kamar dan mengganti pakaiannya. Hafiz memang sudah diajarkan mandiri, mulai dari makan, mandi, dan mengganti pakaian sendiri.



Nadira pun masuk ke kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas kasur. Air mata yang sedari tadi ditahan, kini keluar dengan deras. Luka lama yang sudah dikubur, seakan tergali dengan sendirinya oleh kehidupan Nadira saat ini. Setelah bertahun-tahun berusaha melupakan semuanya, hingga dipertemukan dengan Ammar, kenapa orang-orang di masa lalu malah hadir kembali? Nadira tidak pernah meminta takdirnya seperti ini, tetapi takdir selalu saja bermain-main dengannya.



Saat Nadira menangis sesenggukan. Tidak lama kemudian, Ammar pulang. Ammar bisa masuk tanpa meminta orang rumah untuk membukanya, karena dia punya kunci serep.



"Assalamu'alaikum. Papa pulang," ujar Ammar disambut dengan jawaban salam dari sang putra.



Hafiz yang sudah selesai mengganti bajunya, menghampiri sang ayah. Ammar memeluk dan menggendong putra kesayangannya itu. Lalu, kakinya melangkah, menuju kamarnya dan Nadira. Senyum Ammar hilang ketika mendengar tangisan sang istri. Ammar buru-buru masuk dan melihat sang istri yang sudah tekapar lemas di atas kasur. Air mata Nadira membasahi seprai.



Ammar menurunkan Hafiz dari gendongannya.



"Kamu kenapa lagi, Sayang?" tanya Ammar seraya mengangkat tubuh istrinya. Lalu, didekapnya tubuh sang istri.



Nadira tidak mampu berkata-kata. Air matanya sudah mewakili perasannya. Ammar membiarkan istrinya menangis dan menunggu sang istri agar siap bercerita. Hafiz pun ikut bertanya-tanya, kenapa mamanya menangis.



Ammar meminta Hafiz untuk pergi ke ruang bermainnya.



"Hafiz ke ruang bermain duluan, ya. Nanti papa menyusul ke sana. Mama Hafiz ingin istirahat dulu, ujarnya sambil mengelus-elus punggung Nadira.



Setelah Hafiz pergi. Nadira baru menceritakan apa yang terjadi hari ini. Ammar terkejut mendengarnya. Tempo hari, mereka bertemu dengan Jerry dan hari ini, Nadira bertemu dengan Farah. Dia merasa aneh. Namun, apa yang terjadi dalam hidup, tidak ada yang kebetulan. Semua yang terjadi adalah kehendak Allah. Sebab, Allah tidak pernah salah dalam menentukan takdir manusia. Selalu ada hal baik di balik masalah yang terjadi dalam hidup. Meski kerap kali dibuat babak belur oleh kenyataan, ditampar harapan, dan dikacaukan oleh pikiran yang terus saja berisik, tetapi hidup harus terus berjalan. Karena kita harus percaya, bahwa Allah tidak akan pernah menguji di luar batas kemampuan seseorang. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Baqarah (2) ayat 286.



Laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu-aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho-naa, robbanaa wa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, angta maulaanaa fangshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin



Artinya : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.""



Ammar menenangkan Nadira, hingga akhirnya Nadira tertidur karena lelah fisik dan mental. Ammar tidak tega melihat sang istri memiliki trauma yang cukup dalam akibat luka masa lalu. Ammar berharap, Allah memberikannya kekuatan dan kesabaran yang lebih untuk terus bangkit menjadi perempuan kuat. Ammar berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga dan memberikan kebahagiaan kepada Nadira. Semoga Ammar benar-benar menjadi rumah bagi Nadira.

__ADS_1


****


__ADS_2