Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Pekan Budaya dan Rumah Sakit


__ADS_3

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pekan seni merupakan pameran kegiatan kesenian selama sepekan. Pada tanggal 15 April, lahir seorang seniman genius yang berasal dari Italia bernama Leonardo Da Vinci. Pada tanggal ini juga diperingati sebagai Hari Seni Sedunia. Kegiatan ini sebagai ajang untuk mengobservasi kesenian dunia dan mempromosikan dunia seni dalam meningkatkan toleransi, keberagaman, berekspresi, dan persaudaraan.


"Untuk membentuk pikiran nan utuh: pelajarilah inti ilmunya seni dan seninya ilmu pengetahuan. Belajarlah bagaimana melihat, sebab semua ilmu pengetahuan itu memiliki asal-muasal di persepsi kita." Leonardo da Vinci (1452-1519)


Setiap tahun acara pekan seni selalu dihiasi dengan berbagai perlombaan, seperti lomba seni lukis, lomba seni tari, lomba seni sastra, lomba seni drama, dan lainnya. Dunia pendidikan secara serentak mengadakan kegiatan ini untuk menguji kemampuan tiap individu.


Bersamaan dengan pekan seni, ada acara besar setiap tahunnya juga yaitu Pekan Kebudayaan Nasional atau sering dikenal dengan singkatan PKN merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai wujud implementasi dari agenda strategi pemajuan kebudayaan yang telah disepakati dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2018, yang diwujudkan dengan cara menyediakan ruang bagi keberagaman ekspresi budaya, serta mendorong interaksi budaya guna memperkuat kebudayaan yang inklusif.


Pekan Kebudayaan Nasional merupakan serangkaian aktivitas berjenjang dari desa hingga pusat yang terdiri atas kompetisi daerah, kompetisi nasional, konferensi pemajuan kebudayaan, ekshibisi, dan pergelaran karya budaya dengan tujuan melestarikan budaya Indonesia.


Setidaknya ada lima kegiatan besar yang ada dalam Pekan Kebudayaan Nasional, yaitu Kompetisi Daerah, Kompetisi Nasional, Konferensi Pemajuan Kebudayaan, Ekshibisi Kebudayaan, dan Pergelaran Karya Budaya Bangsa. Kompetisi Daerah merupakan kompetisi seni khas dari tiap provinsi di Indonesia, sementara Kompetisi Nasional merupakan ajang kompetisi permainan tradisional yang dilaksanakan secara berjenjang, dari desa hingga ibu kota.


Sementara itu, Konferensi Pemajuan Kebudayaan akan menjadi ruang pencerahan publik yang bertujuan mempersiapkan perencanaan pembangunan berbasis kebudayaan. Kegiatan Ekshibisi Kebudayaan akan menggelar pameran artefak-artefak kebudayaan, purwarupa teknologi pemajuan kebudayaan hasil inovasi dari Kemah Budaya Kaum Muda, dan karya-karya unggulan kementerian atau lembaga serta pemerintah daerah. Terakhir, Pergelaran Karya Budaya Bangsa merupakan parade gelombang nusantara yang menggalang partisipasi pelaku budaya se-Indonesia. Beberapa pergelaran seni yang akan ditampilkan antara lain defile tarian tradisional, koreografi bela diri, dan rampak perkusi nusantara.


Tak terasa, hari yang dinanti-nantikan telah tiba. Ammar mempersiapkan semua keperluan yang akan dibawa di acara Pekan Kebudayaan Nasional. Nadira ingin membantu, tapi tidak diizinkan oleh Ammar karena tidak ingin istrinya kelelahan. Namun, sikap istrinya yang keras kepala—tetap ingin membantu.


"Sayang. Kamu duduk aja, jangan kecapean," ujar Ammar sambil memegang bahu Nadira dan memandunya ke kursi.


Belum juga bicara, Ammar menutup mulut Nadira dengan tangannya.

__ADS_1


"Ssstt ..., kamu ini sikap keras kepalanya enggak bisa berubah, ya," ujar Ammar, mengelus-elus kepala Nadira dengan lembut seraya tersenyum.


"Tapi aku enggak tega kamu siapkan ini semua sendirian. Apalagi ini momen yang sudah lama kamu tunggu-tunggu. Aku mau turut serta dalam momen spesial ini. Boleh, ya. Please!" Nadira rupanya masih kekeh dengan keinginannya.


Ammar tidak ingin membuat istrinya sedih, akhirnya mengizinkan Nadira membantu asalkan tidak mengangkat barang-barang yang berat, apalagi kalau memaksakan diri tetap membantu di saat sudah kelelahan.


"Ingat! Harus hati-hati, ya," ujar Ammar.


"Iya, Sayang. Bawel, deh," ujar Nadira seraya tersenyum manja.


"Bukan bawel, tapi aku khawatir sama kamu dan calon anak kita. Ini kan demi kebaikan kalian berdua," ujar Ammar mencubit pipi Nadira dengan manja. Lalu mencium perut Nadira.


Nadira merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


"Semoga kebahagiaan ini selalu hadir di dalam keluargaku." Nadira membatin.


***


Pagi ini di sebuah lapangan, semua orang sudah berkumpul untuk mempertunjukkan karya-karya mereka. Di dalam acara pagelaran budaya, akan banyak penampilan budaya-budaya yang ada di Indonesia. Pada acara ini, Ammar menampilkan lukisan-lukisannya yang terdiri dari berbagai budaya di Indonesia. Ada tiga lukisan yang paling menarik perhatian orang-orang, yaitu lukisan matahari, perahu dan nelayan, serta yang paling menarik adalah lukisan Leonardo Da Vinci. Semua orang sudah mengenal siapa seorang pelukis, pemahat (pematung), arsitek, penemu, ilmuwan, penulis, dan filsuf asal Italia pada masa Renaisans yang memiliki nama lengkap Leonardo di ser Piero da Vinci ini.

__ADS_1


Pertama kali Ammar menyukai seni lukis adalah karena pernah melihat beberapa lukisan yang dibuat oleh Leonardo Da Vinci. Ammar tertarik di dunia seni, itu sebabnya dia menjadi seorang seniman seperti sekarang. Walaupun sempat berdebat dengan abinya yang merupakan seorang ulama, tetapi akhirnya Ammar diperbolehkan mewujudkan impiannya tersebut karena tidak ingin mematikan semangat anaknya dalam berkarya. Lutfi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kedua anaknya, baik Ammar maupun Ali. Beliau hanya titip pesan agar kedua anaknya tidak pernah jauh dari Allah, dalam artian—selalu ingat 42443.


Acara di hari pertama pun selesai. Semua orang mengucapkan selamat kepada Ammar, tapi tiba-tiba Nadira jatuh pingsan. Ammar langsung membopong Nadira menuju mobil dan mengemudikan mobilnya ke arah Rumah Sakit Hidayah Ibu—rumah sakit di mana tempat Nadira biasa kontrol kandungannya. Sedangkan ke empat orang tua mereka, menyusul karena masih membereskan barang-barang Ammar yang ada di acara tersebut.


Tiba di rumah sakit, Ammar tampak sangat panik. Dia khawatir, apa yang ditakutkan selama ini malah terjadi. Dia tidak mau kehilangan anak dan istrinya, khususnya istri tercinta. Meskipun apa yang ada di dunia ini hanyalah titipan dan sewaktu-waktu akan kembali kepada pemiliknya yaitu Allah, tapi saat ini Ammar belum siap kehilangan salah satunya, apalagi keduanya.


Sementara dokter memeriksa Nadira dan janin yang ada di dalam kandungannya, Ammar terus berdoa untuk keselamatan orang yang dicintai itu.


"Ya Allah ..., aku tahu kalau apa yang aku miliki ini adalah titipan dari-Mu, termasuk istri dan calon anakku. Tapi aku mohon, lindungilah mereka." Ammar berdoa sambil menangis.


Tidak lama kemudian, ke empat orang tua Ammar dan Nadira pun tiba di rumah sakit.


"Ammar. Nadira di mana? Dia tidak kenapa-kenapa, kan?" tanya Fenny yang tahu kalau fisik anaknya memang lemah. Mimik mukanya terlihat begitu cemas. Namanya orang tua, tidak pernah ingin melihat anaknya kenapa-kenapa walaupun mereka sibuk. Apalagi seorang ibu, kalau ingat bagaimana perjuangannya dari mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak-anaknya—tidak bisa dinilai dengan apa pun, sekalipun dengan harta. Kalau anak sakit, pasti ingin menukar raga mereka agar seorang ibu saja yang sakit, jangan anaknya. Mungkin beberapa orang mengatakan kalau kekhawatiran seorang ibu terlalu lebay, tetapi begitulah faktanya. Istilahnya, seorang ibu rela mati, asalkan anaknya tetap hidup.


Setelah menunggu sekitar satu jam, akhirnya dokter keluar dari ruangan di mana Nadira diperiksa. Dokter mengatakan kalau kandungan Nadira menjadi lemah. Padahal dokter sudah mengingatkan kalau Nadira harus benar-benar beristirahat karena sangat beresiko. Nadira tidak boleh kelelahan, apalagi banyak pikiran. Ammar pun sudah berkali-kali mengingatkan Nadira, tetapi memang pada dasarnya sikap Nadira yang kadang keras kepala dan tidak bisa diam saja; terlalu aktif dan semangat dalam segala hal.


Untuk saat ini, dokter menyarankan Nadira untuk beristirahat di rumah sakit terlebih dulu, demi keselamatan dan kesehatan Nadira serta calon bayinya. Ammar mengikuti saran dokter karena tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan Nadira dan calon anaknya. Kali ini Nadira pun tidak bisa membantah, semua orang tuanya juga meminta Nadira untuk benar-benar beristirahat. Apalagi Haikal yang meminta. Nadira paling nurut dengan kakaknya. Itu sebabnya, di saat Nadira sedang keras kepala, Ammar meminta bantuan kakak iparnya itu untuk membujuk istrinya.


****

__ADS_1


__ADS_2