Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Arti Nama Anak Pertama Nadira


__ADS_3

Kelahiran buah hati adalah hal paling ditunggu-tunggu oleh pasangan yang sudah menikah. Namun, perlu kita ketahui bahwa di dalam agama Islam, salah satu cara untuk menyambut kehadiran bayi, biasanya dilakukan dengan acara akikah. Akikah merupakan proses pemotongan kambing, yang mana daging kambing tersebut diolah menjadi makanan dan dibagikan kepada tetangga atau saudara. Sebagaimana pemotongan kambing tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam ketika beliau menyembelih kambing untuk cucu-cucunya.



Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam menyembelih kambing (akikah) untuk cucunya, yaitu Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, masing-masing satu kambing. \[HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied\]



Dalam riwayat lain juga disebutkan, bahwa beliau menyembelih dua ekor kambing. Hal ini ditegaskan dalam sejumlah riwayat yang menyatakan, setiap anak laki-laki harus diberikan sembelihan dua ekor kambing. Sedangkan untuk anak perempuan, hanya satu ekor kambing saja.



Selain hadis di atas, tata cara pelaksanaan akikah di zaman Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam juga bisa dipelajari melalui sejumlah hadis. Dalil-dalil tersebut di antaranya menjelaskan mengenai jenis serta jumlah hewan sembelihan, waktu pelaksanaan akikah, dan pembagian daging akikahnya.



Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berkata bahwa Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda, “Akikah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya.” \[Shahih Hadis Riwayat Bukhari (5472)\]



Makna menghilangkan gangguan adalah mencukur rambut bayi atau menghilangkan semua gangguan yang ada. \[Fathul Bari (9/593) dan Nailul Authar (5/35), cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, pent\]



Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Samurah bin Jundub RA meriwayatkan bahwa Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam juga pernah bersabda: "Setiap bayi tergadaikan dengan akikahnya yang disembelih untuknya pada hari ke tujuh, lalu dicukur dan diberi nama."



Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata bawah Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” \[Sanadnya Hasan, hadis riwayat Ahmad (6/390), Thabrani dalam “Mu’jamul Kabir” 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail\]



Hukum akikah di hari ke tujuh kelahiran memang bukanlah harga mati. Hanya saja, hari ke tujuh setelah kelahiran dianggap sebagai saat yang paling afdol. Hal ini telah disampaikan dalam sebuah hadis yang dianggap sebagai hadis sahih oleh sebagian ulama.



“Jika tidak memungkinkan dilakukan pada hari tersebut karena masih lelah dan tidak sempat mengurusnya, maka akikah bisa dilakukan di hari ke-14 atau ke-21. Jika masih tidak bisa juga, maka akikah dapat dilaksanakan kapan saja."



Akikah dapat dilakukan sampai ada kemampuan, bahkan ketika sudah dewasa sekalipun. Nabi Salallahu 'Alaihi Wasallam pun mengakikahi dirinya sendiri ketika beliau telah diutus menjadi seorang nabi. Riwayat ini juga menjadi dasar dibolehkannya seseorang untuk mengakikahi dirinya sendiri apabila orang tuanya belum mengakikahi ketika kecil atau tidak memiliki kemampuan untuk itu.


***


Azan Subuh telah berkumandang, kali ini Ammar melaksanakan salat Subuh di rumah karena hujan deras mengguyur di pagi buta, membuat Ammar tidak bisa ke masjid. Kalau dipaksa menggunakan payung pun, tubuhnya akan tetap basah karena anginnya cukup kencang. Sedangkan sang istri, masih terlelap dalam mimpi-mimpinya bersama buah hati mereka yang baru berusia satu hari.



Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Salat berjamaah lebih utama dibandingkan salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. al-Bukhari nomor 609 dan 610, dan Muslim nomor 1036 dan 1039)



Hadis di atas menyebutkan tentang keutamaan salat berjamaah daripada salat sendirian, tetapi tidak menunjukkan tentang kewajiban melakukan salat berjamaah. Karena melaksanakan salat sendirian (munfarid) masih mendapatkan pahala, hanya saja—tidak sebanyak pahala ketika salat berjamaah. Jadi, masih mendapatkan pahala, artinya tidak berarti sesuatu yang tidak boleh dikerjakan. Apabila tidak boleh dikerjakan, maka tentu saja hal tersebut dilarang dan bagi yang mengerjakan tentu tidak diterima serta tidak diberi pahala atau bahkan berdosa.



Matahari telah menampakkan sinarnya dari peraduan, tapi hujan masih belum jua reda. Nadira bangun karena anaknya menangis. Ammar yang baru selesai mandi, langsung sigap membantu istrinya mengurus si kecil. Ternyata bayi mereka pipis, jadi popoknya harus diganti. Namun, karena memang sudah pagi, Ammar berinisiatif untuk memandikannya. Nadira dibiarkan beristirahat karena luka jahitannya masih basah.

__ADS_1



"Kamu berbaring saja, ya. Biar aku yang urus bayi kita. Dia pipis, nih!" ujar Ammar sambil melepaskan pakaian bayi mereka. "Biar sekalian mandi," lanjutnya sambil menggendong si kecil dengan pelan karena tulangnya masih lunak. Jadi, harus berhati-hati agar tidak ada yang fatal.



Nadira mengangguk dengan senyum mengembang. Ammar pun langsung menuju kamar mandi bersama bayi mereka. Di kamar mandi Ammar dan Nadira, sudah bisa diatur—ingin mandi air hangat atau dingin.



Beberapa menit kemudian, Ammar telah selesai memandikan anaknya dan siap untuk dikenakan pakaian, sedangkan Nadira memperhatikan perlakuan Ammar terhadap anak mereka itu.



Saat Ammar sedang memaikan pakaian ke bayinya, Nadira tiba-tiba meneteskan air mata.



Ammar yang sadar akan hal itu, langsung bertanya, "Kamu kenapa sedih?"



"Aku merepotkan banget, ya?" tanya Nadira.



Ammar menghapus air mata Nadira seraya membaringkan anaknya di samping istri tercintanya tersebut.



"Kamu ngomong apa, sih? Aku sama sekali tidak merasa direpotkan, kok. Aku malah bersyukur dan berterima kasih banyak karena Allah telah mempertemukan kita." Ammar tersenyum.




"Sepertinya anak kita kelaparan. Kan sudah waktunya sarapan," ujar Ammar kepada istrinya. Lalu pandangannya ke arah sang anak. "Kamu ini, ya. Tidak bisa melihat mama dan papa romantisan dikit saja," ujar Ammar sambil mengelus pipi bayi mungil tersebut dengan lembut.



"Ya sudah, aku menyusui anak kita dulu, ya." Nadira membuat posisi tubuhnya dengan nyaman ketika menyusui karena belum bisa terlalu banyak gerak.



Ammar pamit ke ruangan, di mana tempat dia membuat lukisan. Di sana, Ammar mulai melukis sesuatu sambil memikirkan tentang kehidupan dia dan keluarganya.



Sambil memainkan kanvas, Ammar seolah bertanya kepada benda mati tersebut.



"Kenapa dalam Islam, beberapa lukisan tidak boleh dipajang di dalam rumah, ya? Padahal kan lukisan adalah salah satu karya seni yang memiliki nilai tinggi. Orang-orang bahkan menawari sebuah lukisan, bisa sampai ratusan juta." Ammar memandangi satu per satu lukisan-lukisan yang ada di ruangan tersebut.



Tidak lama kemudian, lukisannya selesai. Ammar tiba-tiba ingat kalau dia harus menelepon abinya untuk masalah akikah.

__ADS_1



"Astaghfirullahal 'adziim. Aku sampai lupa. Kan mau menelepon abi." Ammar kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya.



Di kamar, Nadira sudah selesai menyusui. Anak mereka tertidur pulas karena sudah kenyang. Oleh karena itu, Ammar melangkah dengan pelan agar anaknya tidak bangun.



"Aku mau telepon abi dulu, ya. Mau ngomongin soal akikah anak kita," ujar Ammar dengan bisik-bisik seraya meraih ponselnya yang ada di bawah bantal.



Nadira mengangguk dan berkata, "Iya. Salam buat Abi dan Umi."



Ammar membuka pintu dengan pelan dan segera menelepon abinya. Setelah berunding dengan abinya, akhirnya diputuskan hari dan tanggal akikah anaknya.


***


Terdengar suara bising dari seluruh ruangan dan juga halaman depan serta belakang. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, mempersiapkan apa yang perlu dipersiapkan untuk keperluan acara hari ini. Tidak terkecuali Ammar yang turut serta untuk menyukseskan acara akikah anaknya. Sedangkan Nadira, dia duduk bersama beberapa teman kuliahnya yang sudah hadir sejak pagi dengan menggendong anaknya.



Hingga satu jam kemudian, acara akikah telah dimulai. Semua orang mengikuti rangkaian acara dengan khidmat, apalagi saat lantunan ayat suci alquran terdengar.



"Wahid Amzar Hafizuddin Baraqbah bin Muhammad Ammar Baraqbah, nama lengkap dari putra pertama Bapak Muhammad Ammar Baraqbah dan Ibu Nadira Humairah Az-Zizah. Nama tersebut disematkan oleh kedua orang tuanya agar anak pertama laki-laki mereka ini memiliki sifat mulia dan memiliki pundak yang kuat dalam memelihara agama. Masyaa Allah, sungguh indah arti namanya. Semoga doa pada nama yang disematkan kepada bayi ini bisa menjadi wasilah untuk kedua orang tuanya," kata seorang laki-laki yang usianya tak lagi muda. Lalu, di aamiinkan oleh semua orang yang hadir.



Semua rangkaian acara akhirnya telah selesai dilaksanakan, dari pemberian nama, mencukur rambut, dan lainnya.



Ammar dan Nadira menghela napas lega. Sekarang anak mereka telah resmi memiliki nama. Mereka pun sepakat memanggil dengan nama Hafiz. Ammar tidak lupa menyematkan nama "Baraqbah” di belakang nama putranya karena masih keturunan dari leluhur Al Baraqbah.



Dikutip dari beberapa sumber bahwa yang pertama kali dijuluki atau diberi gelari “Al-Baraqbah” adalah waliyyullah Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam. Yang nama kata "Baraqbah" berasal dari kata “Raqbah” yang dalam bahasa Arab berarti pundak. Jadi, jika seseorang mempunyai pundak yang kuat, maka akan dijuluki “Baraqbah” atau si pundak yang kuat. Keluarga Ammar berharap anak keturunan mereka memiliki pundak yang kuat dalam menghadapi lika-liku kehidupan, termasuk memperjuangkan agama yang mereka yakini yaitu Islam.



Untuk kata “Baraqbah” yang dimaksud, apakah ada hubungannya dengan gelar yang disandang oleh waliyyullah Umar bin Ahmad Baraqbah atau ada hubungannya dengan suatu tempat di dekat kota Tarim Hadramaut yang banyak ditumbuhi pohon Kurma di mana terdapat banyak sumur-sumur yang oleh penduduk setempat memberi nama tempat tersebut “Baraqbah"? Wallahu 'alamu bissawab.



Waliyyullah Umar Baraqbah sendiri dilahirkan di Tarim dan dikaruniai seorang anak lelaki yang bernama Abdurrahman, yang merupakan leluhur Al-Baraqbah dimana keturunannya kebanyakan di Indonesia. Waliyyullah Umar Baraqbah telah pulang ke Rahmatullah pada tahun 895 Hijriyyah.



Ke empat orang tua Ammar dan Nadira berebut untuk menggendong cucu pertamanya. Ammar dan Nadira sampai menggelengkan kepala melihat tingkah orang tua mereka yang seperti anak kecil berebut mainan.


__ADS_1


Begitulah serba-serbi ketika kehadiran cucu pertama. Orang tua kerap kali menjadi anak kecil yang akan merengek apabila tidak mendapatkan keinginannya. Lucu, tapi itulah yang akan kita lalui kalau panjang umur dan bisa menjadi seorang kakek atau nenek.


****


__ADS_2