
Di kamar Nadira dan Ammar, terjadi berdebatan serius.
"Hafiz betah enggak ya, tinggal di sini?" tanya Nadira.
"Nadira. Baru juga hari pertama, udah tanya betah apa enggaknya. Minimal, satu minggulah, baru dirasa gimana jadi anak santri," ujar Ammar.
"Ya, apa salahnya loh, Sayang, bertanya. Jangan sampai Hafiz enggak nyaman tinggal di sini. Kita juga sebagai orang tua, jangan egois. Anak juga berhak menentukan pilihan mereka," ujar Nadira.
"Aku yakin, kok. Insyaa Allah, anak kita akan terbiasa tinggal di pesantren ini. Apalagi, ini pesantren kan bukan milik orang lain, tapi milik kakeknya sendiri. Lagian, Hafiz juga masih beruntung, masih bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Sedangkan santri-santri yang lain, jauh dari orang tua bahkan ada yang anak yatim, serta yatim-piatu." Ammar menghela napas sejenak.
"Oh iya, kamu juga jangan terlalu memanjakan Hafiz. Biar aja Hafiz berbaur dengan santri-santri lainnya. Tadi kamu antar sarapan untuk Hafiz ke kamarnya, kan?" Ammar berbicara dengan hati-hati, khawatir Nadira tersinggung.
"Iya. Kan ini hari pertama Hafiz tinggal di pesantren ini, jadi aku pikir, bolehlah kasih makanan kesukaan Hafiz. Biar dia enggak sakit. Soalnya Hafiz enggak biasa telat makan," ujar Nadira dengan mimik muka yang sangat khawatir.
"Aku tahu, kamu yang melahirkan Hafiz. Kamu merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu. Bagaimana kamu tidak ingin Hafiz kenapa-kenapa. Aku paham banget perasaanmu. Hafiz juga anakku, aku ingin dia menjadi mandiri dan tumbuh menjadi anak yang tahu batasannya. Sekarang Hafiz adalah seorang santri Al Fathonah, Nad. Kamu tahu kan, peraturan-peraturan di sini?" Ammar menghela napas panjang.
Satu sisi, ucapan Nadira sangat bijak. Namun, di sisi lain, Nadira kadang seperti anak-anak yang merengek minta sesuatu. Apalagi menyangkut anak, rasa khawatirnya benar-benar kadang tidak bisa dikendalikan. Wajar, sih. Semua orang tua pasti akan selalu mengkhawatirkan anak-anak mereka dan selalu memastikan kalau anak mereka baik-baik saja, tapi ada beberapa hal yang tidak seharusnya orang tua terlalu berlebihan memperlakukan anak agar mereka tumbuh menjadi orang yang mandiri, tangguh, bisa menyesuaikan lingkungan, dan beberapa hal lainnya.
Nadira menunduk.
"Iya, maaf. Aku salah. Aku cuma khawatir, Hafiz sakit," ujarnya.
Ammar memegang pundak kiri dan kanan Nadira dengan kedua tangannya seraya menatap ibu dari anak-anaknya itu.
"Nad. Dari awal kan kita sudah sampaikan ke Hafiz tentang peraturan di pesantren ini. Hafiz dengan lantang, menyetujuinya. Jadi, apa yang harus kita khawatirkan?" ujarnya.
"Tapi ...." Belum selesai Nadira menyanggahi ucapan suaminya, Ammar kembali berbicara.
"Sesekali boleh saja kamu memberikan perlakukan khusus kepada Hafiz, tapi jangan sampai santri-santri yang lain berpikir kalau kita tidak adil pada mereka. Mentang-mentang Hafiz anak kita, cucu yang punya pesantren, diperlakukan istimewa," ujar Ammar.
"Ya, semoga aja Hafiz betah ya, tinggal di sini. Bisa beradaptasi dengan teman-teman dan peraturan-peraturan yang telah diterapkan oleh kakeknya.
"Aku yakin, Hafiz akan selalu betah tinggal di pesantren ini," ujar Ammar. Lalu memeluk Nadira.
Nadira menyetujui pendapat suaminya, walau hati dan pikirannya masih bertengkar. Mengkhawatirkan banyak hal tentang anaknya.
__ADS_1
...***...
Di halaman sekitar Pondok Pesantren Al Fathonah, Hafiz sedang menjalankan piket. Hafiz tampak semangat membersihkan halaman yang dijatuhi daun-daun dan ranting. Untuk sampah bekas makanan atau lainnya, pesantren ini nyaris tidak pernah menemukan sampah-sampah tersebut karena para santri dan guru (ustad dan ustazah) yang tinggal di sini, selalu menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya. Beberapa tempat, selalu disediakan tong sampah.
Saat sedang berkeliling, menghirup udara segar dan ingin mencari inspirasi tulisan, Nadira melihat Hafiz bersama teman-temannya sedang bergotong-royong membersihkan halama pesantren. Nadira tersenyum ketika anaknya bisa tertawa dan cepat akrab dengan santri-santri lainnya. Hal ini sedikit membuat rasa khawatir Nadira berkurang. Setidaknya, Hafiz tidak mengeluh dengan semua aktivitas yang harus dilakukan setiap harinya. Mengingat di rumah, Hafiz tidak pernah turut serta untuk membereskan rumah. Selama ini, Hafiz hanya belajar, bermain, menonton tv, joging dengan papanya, dan jalan-jalan saat papanya libur serta saat Nadira tidak ada jadwal mengisi pelatihan kepenulisan atau menghadiri acara literasi.
Tak terasa, air mata Nadira mengalir karena terharu.
"Masyaa Allah, Nak. Mama tidak menyangka, kamu bisa secepat ini menjadi remaja. Sekarang kamu juga sudah belajar mandiri dan lebih bertanggung jawab akan tugas-tugasmu. Semoga Allah selalu melindungimu, ya!" Doa Nadira dalam hati seraya menghapus cairan bening yang membasahi pipinya.
Nadira pun kembali menjelajahi lingkungan Pondok Pesantren Al Fathonah. Beberapa menit kemudian, kaki Nadira terhenti karena dihampiri oleh seorang santriwati yang berjalan di hadapannya.
"Mbak Nadira mau ke mana?" tanya santriwati tersebut.
"Aku mau liat-liat sekeliling pesantren aja," jawab Nadira, tak lupa menampilkan senyum termanisnya.
"Mau aku temenin, Mbak?" Santriwati yang diketahui bernama Heni ini, menawarkan diri.
"Emm, gimana, ya. Boleh aja, sih. Tapi ...," ujar Nadira yang tak bisa menolak dan sengaja memotong kalimatnya.
Nadira tersenyum dan menarik tangan Heni layaknya saudara. Nadira memperlakukan Heni seakan sudah kenal lama. Heni terkejut. Jantungnya berdetak kenjang. Satu sisi, dia senang karena sebenarnya, dia sangat mengagumi Nadira yang bisa menginspirasi orang lain melalui tulisan. Namun di sisi lain, Heni takut dimarahi oleh pendiri pesantren yaitu mertua Nadira.
"Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu?" tanya Nadira, heran.
"Enggak apa-apa, Mbak. Aku cuma sungkan aja, Mbak Nadira genggam tanganku begini," ujar Heni. Keringatnya bercucuran.
"Loh, kenapa merasa sungkan? Apa karena mertuaku itu pendiri pesantren ini?" tanya Nadira, menebak-nebak pikiran Heni.
Lidah Heni mendadak kelu.
"Ngomong aja, Heni. Jangan sungkan gitu. Anggap aja aku ini saudarimu," ujar Nadira seraya merangkul Heni.
"Pertama, tebakan Mbak Nadira tentang Pak Kiai itu benar. Kedua, sebenarnya aku udah lama mengikuti jejak Mbak Nadira sejak meluncurkan buku pertama berjudul "Takdir-Mu yang Terbaik". Aku malah punya bukunya, Mbak. Enggak nyangka aja kalau bisa sedekat ini bertemu dengan sosok inspiratif." Heni sampai kehabisan kata-kata, tidak tahu lagi harus berkata apa untuk mengungkapkan rasa kagumnya kepada Nadira.
Nadira tidak pernah ketinggalan dengan senyumannya. Memang murah senyum dan ramah kepada siapa pun, kecuali kepada Ammar ketika pertama kali kenal karena suaminya itu dulu sangat menyebalkan walaupun setelah menikah, masih sama kalau lagi menggoda dengan Nadira.
__ADS_1
"Masyaa Allah. Takdir Allah itu memang terbaik, ya. Setiap pertemuan, pasti ada maksud tertentu yang tidak pernah kita duga sebelumnya," ujar Nadira, menghentikan langkahnya.
Heni sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan Nadira. Tak henti-hentinya dia berterima kasih dan mengucapkan rasa kagumnya kepada Nadira yang sangat rendah hati. Mereka pun menceritakan banyak hal tentang novel-novel Nadira dan memberikan spoiler kalau dia akan menuliskan novel terbaru yang bertemakan pesantren.
Tidak lama kemudian, Nadira dihampiri oleh dua orang santriwati yang mengatakan kalau Hafiz terluka. Nadira langsung bergegas menuju UKS.
Dari beberapa sumber telah dirangkum bahwa Usaha Kesehatan Sekolah atau disingkat UKS adalah program pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat atau kemampuan hidup sehat bagi warga sekolah. Nah, Pondok Pesantren Al Fathonah ini adalah salah satu lembaga yang turut serta dalam menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap individu para santri.
Tiba di UKS, Nadira panik dan langsung memeriksa setiap bagian anggota tubuh Hafiz. Lalu, memeluk dan mencium anaknya.
Hafiz berteriak kesakitan.
"Maaf. Maaf. Mama panik, Nak," ujar Nadira, melepaskan pelukannya.
"Mama tidak perlu khawatir berlebihan seperti ini, Hafiz cuma luka kecil aja kok di siku tangan kanan. Tadi kepeleset aja. Mungkin karena Hafiz tidak fokus atau terlalu semangat waktu bersih-bersih," ujar Hafiz yang berusaha menghilangkan rasa khawatir mama tercintanya.
"Tetap aja mama khawatir, Nak. Kamu ini anak mama satu-satunya. Mama takut kamu kenapa-kenapa," ujar Nadira.
"Satu-satunya? Emang Mama tidak mau punya anak lagi, apa? Aku kan ingin punya adik, Ma," ujar Hafiz yang menggaris bawahi kalimat mamanya 'anak mama satu-satunya'.
Nadira tersipu malu. Kebetulan saat Hafiz meminta ingin punya adik, Ammar datang.
"Tuh, Ma. Dikasih lampu hijau tuh sama Hafiz," ujar Ammar, menyenggol tubuh Nadira.
Pipi Nadira semakin memerah.
"Iih ..., Papa apaan, sih! Ya, aku mau punya anak lagi, tapi jangan ngomong gini di depan orang lain. Malu, tahu. Ada Abi dan Umi lagi di sini," ujar Nadira, malu-malu. Sesekali matanya melirik mertuanya yang tersenyum. Ada harapan di balik senyuman Lutfi dan Aisyah. Sepertinya mereka meng-aamiin-kan perkataan Hafiz dan Ammar.
Nadira dan Ammar ketika sedang berhadapan dengan anaknya, mereka memanggil mama-papa agar anaknya terbiasa dengan panggilan tersebut. Karena ada tetangga mereka yang mana si anak memanggil orang tuanya dengan sebutan nama. Jadi, Nadira dan Ammar tidak ingin anaknya memanggil nama mereka karena dirasa kurang sopan.
Saat semua orang sedang menggoda Nadira, tiba-tiba terdengar suara dari luar UKS. Namun ketika diperiksa, tidak ada siapa-siapa.
"Siapa, Mar?" tanya Lutfi.
__ADS_1
"Sepertinya tadi ada kucing lewat, Bi," ujar Ammar. Dia curiga kalau tadi ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka, tapi Ammar tidak tahu siapa orang tersebut. Dia hanya sempat melihat bayang-bayang orang itu saat kabur.
...****...