
Dua bulan kemudian, buku kedua Nadira akhirnya terbit juga. Nadira menuliskan sesuatu hal yang memang terjadi dalam hidup seseorang bahkan dirinya sendiri. Kutinggalkan Dia untuk Dia, itulah judul novel terbarunya.
Kali ini Nadira terlihat gugup, lebih gugup saat dia menerbitkan novel perdananya yang berjudul "Takdir-Mu yang Terbaik". Apalagi novel "Kutinggalkan Dia untuk Dia" ini adalah sekuel dari novel perdananya tersebut, dia jadi takut dengan cemoohan orang lain setelah membaca lanjutan dari ceritanya itu. Padahal setiap cerita yang ditulis, Nadira berusaha semaksimal mungkin untuk menyisipkan pesan moral terbaik agar menjadi pembelajaran bersama; baik penulis, maupun pembaca.
Ammar merangkul Nadira dari belakang saat Nadira sedang memandang poster peluncuran buku keduanya yang dipajang terpampang di depan gedung, tempat bukunya akan diluncurkan.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar. Sudah bisa menuangkan unek-unek ke dalam sebuah tulisan itu, luar biasa, loh! Karena tidak semua orang bisa melakukannya," ujar Ammar, berusaha menyemangati istrinya. Membalikkan badan Nadira, hingga bola mata mereka saling beradu.
Nadira mengangguk sambil melempar senyum kepada Ammar. Sesekali melihat poster itu kembali. Nadira menghela napas panjang.
"Bismillah. Doakan aku, ya!" pinta Nadira.
"Pasti. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ujar Ammar sambil menggenggam tangan Nadira untuk memberikan kekuatan. "Ya sudah, kita masuk sekarang, yuk! Kamu kan harus mempersiapkan diri sebelum tampil," ujar Ammar, mengingatkan.
Nadira tersenyum. Mereka pun masuk ke gedung pencakar langit tersebut. Beruntungnya tempat peluncuran buku Nadira, bertempatan di lantai 2, kalau lantai paling atas, meskipun naik lift, tetap saja Nadira merasa pengap.
Tiba di sebuah ruangan yang sudah tertata dengan rapih. Tumpukan buku-buku karya Nadira termasuk buku yang akan diluncurkan pun sudah ada di atas meja. Dari menulis, Nadira bisa meraup uang yang lumayan banyak. Awalnya hanya ingin menyuarakan apa yang tidak bisa diungkapkan oleh lisan dan ingin menyalurkan hobi, tetapi lama-lama, ternyata hal tersebut menjadi sumber penghasilan untuk Nadira. Keluarga besar Nadira dan Ammar sudah duduk di depan, sengaja dipersiapkan oleh penanggung jawab acara untuk keluarga penulis.
Nadira menyapa beberapa orang yang sudah hadir, ada pula yang meminta foto dan tanda tangan, tetapi karena acara akan segera dimulai, panitia langsung meminta Nadira dan Ammar untuk mengambil posisi tempat duduk mereka. Nadira meminta maaf kepada beberapa peserta tersebut, dia mengatakan kalau sesi foto dan tanda tangannya, bisa dilakukan ketika selesai acara nanti. Mereka semakin memuji kerendahan hati Nadira. Seorang perempuan yang baik hati dan tidak sombong, meskipun sudah dikenal khalayak. Nadira juga terbilang anak yang ceria, walau hatinya seperti kaca yang mudah retak dan sangat sensitif, sehingga tidak semua orang bisa menenangkan hatinya ketika sedang gusar.
Tak lama kemudian, rangkaian acara dimulai, semua orang menyimak acara tersebut dengan saksama. Hingga tiba acara sambutan sekaligus peluncuran buku kedua Nadira yang berjudul "Kutinggalkan Dia untuk Dia". Sebuah novel yang mulai ditulis beberapa tahun lalu, akhirnya bisa dinikmati oleh pembaca.
Semua rangkaian acara telah dilaksanakan sesuai rencana, termasuk sesi foto bersama orang-orang yang hadir di sana. Semua orang mengucapkan selamat kepada Nadira, termasuk Farah (guru TK putranya Nadira dan Ammar; Hafiz).
"Selamat ya, Nad, atas peluncuran bukumu. Semoga bermanfaat dan menginspirasi para pembaca," ujar Farah, tersenyum; memperlihatkan gigi gingsulnya.
"Makasih ya, udah mau datang," ujar Nadira, tersenyum.
__ADS_1
Saat Nadira dan Farah sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Jerry datang menghampiri. Jerry datang tanpa diundang. Ammar yang sedang bercengkrama dengan keluarganya, hanya memperhatikan dari kejauhan. Ammar memang sengaja membiarkan Nadira dan Farah berudua agar bisa leluasa mengobrol, apalagi Nadira pun habis foto-foto dengan para peserta yang hadir dalam acara ini.
"Nad. Aku ucapkan selamat, ya, atas peluncuran buku keduamu ini," ujar Jerry tanpa menyentuh tangan Nadira untuk bersalaman. Jerry tahu kalau Nadira sudah berhijrah, jadi dia menghormati proses hijrah perempuan yang pernah menjalin hubungan spesial dengannya di masa lalu tersebut.
Nadira dan Farah saling bertatapan.
"Kalian pasti bingung, kan, kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Jerry. Dia bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Nadira dan Farah.
Nadira dan Farah saling menatap kembali. Dalam benak perempuan yang sama-sama pernah memiliki perasaan kepada Jerry, bertanya-tanya; kenapa Jerry bisa tahu, apa yang mereka pikirkan?
"Kebetulan aku lewat gedung ini dan melihat poster acaramu di depan, jadinya aku mampir. Maaf kalau kedatanganku ini membuat kalian tidak nyaman, khususnya kamu, Nadira." Jerry sadar diri kalau kehadirannya memang tidak pernah dibutuhkan lagi dalam hidup Nadira. Dia pun memalingkan wajahnya, hendak berlalu dari hadapan Nadira.
Nadira diam sejenak. Farah mengusap-usap punggung Nadira, seolah memberikan kekuatan.
"Jerry, tunggu!" panggil Nadira.
"Makasih, ya. Bagaimanapun juga, kamu menjadi bagian dalam cerita pada tulisan-tulisan yang aku buat. Kalau takdir tidak pernah mempertemukan kita, mungkin aku tidak akan menjadi Nadira yang seperti sekarang. Aku sudah memaafkanmu dan berdamai dengan semuanya," ujar Nadira.
Jerry menghela napas lega. Meskipun dia tidak akan pernah memiliki Nadira lagi, tetapi dia senang mendengar pernyataan dari Nadira yang telah memaafkannya dengan lapang dada.
"Aku juga minta maaf sama kamu, Farah. Walau dulu kita telah sepakat untuk tidak melanjutkan hubungan secara baik-baik, tetapi tetap saja—aku minta maaf," ujar Jerry.
Farah memejamkan matanya sejenak dan tersenyum.
"Aku juga minta maaf, Jer. Semua sudah menjadi masa lalu, kita tidak perlu meratapi dan menyesalinya. Terpenting adalah menjadi manusia yang lebih baik lagi ke depannya, ya," ujar Farah. Perkataannya membuat Jerry kagum.
Seperti yang kita ketahui, memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu akhlak mulia yang perlu ditanamkan dalam diri. Untuk agama apa pun, pasti mengajarkan untuk saling memaafkan, terutama ajaran agama Islam. Banyak dalil dalam alquran maupun hadis tentang memaafkan kesalahan orang lain yang dapat menjadi pedoman bagi umat muslim.
__ADS_1
Dikisahkan dari istri Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam (Aisyah) pernah ditanya tentang akhlak suaminya tersebut, maka dia menjawab,
"Beliau tidak pernah berbuat jahat, tidak berbuat keji, tidak meludah di tempat keramaian, dan tidak membalas kejelekan dengan kejelekan. Melainkan beliau selalu memaafkan dan memaklumi kesalahan orang lain." (HR Ibnu Hibban)
Selain itu, sikap pemaaf yang harus dimiliki oleh umat muslim secara tegas juga telah dijelaskan dalam firman Allah dalam surat Al A'raf ayat 199 yang artinya :
"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh."
Allah subhanallahu wa ta'ala dalam surat Ali Imran ayat 134 juga menyebut bahwa sikap memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertakwa.
Artinya: "(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."
Ada empat hadis tentang memaafkan kesalahan orang lain, yaitu :
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat)." (Hadis riwayat Muslim)
Rasulullah Salallahu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Ad Dailami yang berbunyi : "Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada."
"Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah)." (Hadis riwayat At Thabrani)
Lalu, hadis riwayat Al Anshari pun menerangkan bahwa "orang yang paling penyantuh di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf, walaupun ia sanggup untuk membalasnya."
Beberapa hadis dan rujukan dari alquran tentang meminta dan memberikan maaf inilah yang menjadi alasan bagi Nadira untuk berdamai dengan semua luka yang pernah menoreh dalam hatinya.
Nadira, Farah, dan Jerry pun bercerita dengan riang. Ammar tersenyum dan menghampiri mereka bertiga.
"Aku boleh gabung di sini?" tanya Ammar. Dia tidak ingin ada fitnah di luar sana, jadi berusaha menjaga kehormatan istrinya. Apalagi Jerry adalah masa lalunya Nadira. Walaupun tidak ada hubungan khusus lagi, tetap saja; kita tidak bisa mengontrol opini orang lain untuk bisa berpikir positif, setidaknya sudah menjaga diri dengan baik.
...****...
__ADS_1