Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Persiapan Pernikahan Ali


__ADS_3

Dalam dua bulan kemudian, persiapan pernikahan Ali terus berlanjut dengan matang. Lutfi meminta semua santri di pondok pesantren Al Fathonah untuk turut serta dalam persiapan pernikahan anak pertamanya. Mereka bekerja keras untuk menyiapkan segala hal yang dibutuhkan, mulai dari dekorasi hingga makanan.


Namun, Hamzah tidak bisa ikut membantu karena sibuk dengan ujian akhir semester. Meskipun begitu, Hafiz sangat ingin berpartisipasi dalam persiapan pernikahan omnya, Ali. Sayangnya, karena jarak yang sangat jauh antara Kairo dan Tasikmalaya, Hafiz tidak bisa hadir secara fisik. Dia hanya dapat memberikan doa-doa dan berharap agar dapat hadir saat hari pernikahan Ali dengan calon tantenya tiba.


Sementara itu, Ammar memutuskan untuk membiarkan Nadira beristirahat dan merawat si kembar, Haneen dan Hania. Hal ini dilakukan agar Nadira tidak terlalu lelah dan Ammar khawatir penyakit Nadira kembali kambuh. Meskipun Nadira awalnya mungkin ingin melakukan lebih banyak hal, tetapi dia menuruti perintah suaminya kali ini. Nadira tidak bersikeras untuk memenuhi egonya, karena dia tahu betapa pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran dirinya.


Nadira adalah sosok yang tidak bisa berdiam diri walau hanya sedetik pun. Meskipun dia mungkin merasa sulit untuk tidak terlibat dalam persiapan pernikahan kakak iparnya, Ali, dia sadar bahwa kesehatan dan kebahagiaan keluarga adalah prioritas utama. Dengan menerima perintah Ammar dan merawat si kembar dengan baik, dia berusaha memberikan kontribusi yang terbaik dalam kapasitasnya saat ini.


Setelah Ali dan Ammar melihat persiapan pernikahan berjalan dengan baik, mereka duduk bersama untuk berbincang. Ammar ingin memberikan semangat kepada kakaknya agar tetap rileks dan tenang menjelang waktu ijab kabul, sehingga prosesi pernikahan dapat berjalan lancar.


"Kak, kamu sudah melalui persiapan pernikahan ini dengan sangat baik. Semua tampak indah dan rapi. Aku tahu momen ini sangat penting bagimu, jadi jangan terlalu khawatir. Percayalah, semuanya akan berjalan lancar." Ammar mencoba menenangkan sang kakak.


"Terima kasih, Ammar. Aku sedikit gugup, tapi aku berusaha untuk tetap tenang. Bagaimana menurutmu?" Ali menarik napas dalam-dalam, mencoba merilekskan diri.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Kak. Percayalah pada dirimu sendiri dan pada cinta yang kamu miliki untuk calon istrimu. Biarkan kebahagiaanmu bersinar pada hari istimewa ini. Kamu tidak perlu merasa tegang atau khawatir. Nikmatilah setiap detiknya."


"Ya, kamu benar. Aku harus berfokus pada momen ini dan menikmati prosesi pernikahan. Nadira adalah cinta sejatiku dan aku ingin memberikan yang terbaik untuknya. Terima kasih sudah memberikan semangat, Ammar."


"Tidak perlu berterima kasih, Kak. Kita adalah keluarga, dan aku selalu ada untukmu. Ingatlah bahwa pernikahan adalah momen yang penuh sukacita dan kebahagiaan. Jangan biarkan kekhawatiran mengganggu keindahan hari istimewamu. Aku yakin semuanya akan berjalan dengan baik."


"Terima kasih, Ammar. Aku akan mencoba rileks dan menikmati setiap momen. Doakanlah agar semuanya berjalan lancar."


"Tentu, Kak. Doaku selalu bersamamu. Aku akan memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik. Semoga hari pernikahanmu menjadi hari yang tak terlupakan."


Ali dan Ammar saling memberikan semangat dan dukungan satu sama lain. Ali berusaha untuk tetap rileks dan menikmati setiap momen dalam persiapan pernikahan serta harapannya untuk Hafiz agar dapat hadir. Ammar siap memberikan dukungan dan berdoa agar pernikahan Ali berjalan lancar dan menjadi momen yang tak terlupakan bagi kakaknya.


Setelah persiapan pernikahan Ali berjalan dengan baik, cerita melanjutkan ke momen yang tak terduga. Ternyata, dugaan Nadira bahwa calon kakak iparnya adalah seorang perempuan yang menjadi pewara dalam acara peluncuran buku perdananya terbukti benar. Namun, saat itu Ali belum mengenal Sarah, bahkan Nadira yang saat itu akan menjadi iparnya pun dia belum pernah bertemu langsung. Hanya diberitahu kalau adiknya, Ammar, akan menikah saja.

__ADS_1


Ali bertemu dengan Sarah dalam suatu acara yang tak terduga. Saat Sarah menjadi pewara dalam peluncuran buku perdana Nadira, mereka belum bertemu secara langsung. Namun, pada kesempatan kali ini, Ali bertemu dengan Sarah saat acara peresmian gedung rekan bisnisnya di London. Momen itu memberikan sentuhan magis dalam kehidupan Ali, karena dia menyadari betapa takdir telah mempertemukan mereka di tempat yang tidak disangka-sangka.


Ali dan Sarah saling memandang, merasakan getaran yang tak dapat dijelaskan. Mereka berdua merasakan ikatan yang kuat di antara mereka, seperti ada kekuatan tak terlihat yang mempertemukan mereka di titik ini. Ali merasa bahagia bahwa dia telah menemukan pelabuhan terakhirnya dalam sosok Sarah. Hati mereka saling berkomunikasi dan Ali yakin bahwa mereka memiliki masa depan yang cerah bersama.


Nadira, Ammar, dan keluarga yang lain sangat senang melihat Ali dan Sarah begitu bahagia. Semua mengucapkan selamat kepada pasangan itu, merasakan bahwa ini adalah takdir yang terbaik bagi Ali. Ali dan Sarah saling berjanji untuk selalu mendukung dan menjaga cinta mereka, dan mereka siap menghadapi masa depan yang penuh kebahagiaan bersama.


...***...


Tiga hari sebelum pernikahan Ali berlangsung, Lutfi merasa penting untuk memberikan nasihat kepada anaknya yang akan memasuki babak baru dalam hidupnya. Mereka duduk bersama, suasana penuh kehangatan dan kebijaksanaan.


"Ali, anakku, dalam tiga hari ini, kamu akan memulai babak baru dalam hidupmu. Pernikahan adalah komitmen yang serius, dan aku ingin memberikan beberapa nasihat padamu," ujar Lutfi yang duduk dengan tenang.


"Terima kasih, Abi. Aku siap mendengarkan nasihatmu," ujar Ali.


Sambil menyeruput teh hangat buatan istrinya, Aisyah, Lutfi mulai memberikan wejangan. "Pertama, selalu ingat bahwa pernikahan adalah tentang saling membangun, saling menghormati, dan saling mendukung. Jalinlah komunikasi yang baik dengan Sarah, pasanganmu. Dengarkan pendapatnya, respek terhadap perasaannya, dan sampaikan pikiranmu dengan jujur. Hidup ini adalah perjalanan bersama, dan kalian harus saling menguatkan."


"Aku akan mengingat itu, Abi. Komunikasi yang baik adalah kunci dalam hubungan yang sehat," jawab Ali, berjanji dengan sungguh-sungguh.


"Aku akan selalu bersyukur atas kehadiran Sarah dalam hidupku, Abi. Dan aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik."


"Ketiga, jangan pernah lupa untuk menjaga cinta dan romansa dalam hubunganmu. Pernikahan membutuhkan kerja keras, komitmen, dan perhatian. Carilah momen-momen indah bersama Sarah, berkualitas waktu bersama, serta selalu menyampaikan cinta dan apresiasi. Biarkan api cinta kalian tetap menyala dan tumbuh seiring waktu."


"Aku akan selalu berusaha menjaga api cinta kami, Abi. Aku akan membuat Sarah merasa dicintai dan dihargai setiap hari."


"Terakhir, jangan pernah ragu untuk mencari nasihat dan bimbingan saat menghadapi tantangan. Kami selalu ada untukmu, Ali. Jangan sungkan untuk meminta bantuan atau nasihat jika diperlukan. Keluarga adalah pondasi yang kuat dalam kehidupan kita," pinta Lutfi sembari menyeruput teh hangatnya yang tinggal seteguk.


"Terima kasih, Abi. Aku tahu bahwa keluarga adalah tempatku kembali dan tempat aku mencari dukungan. Aku akan mengingat nasihatmu dan menghargai setiap momen bersama Sarah."

__ADS_1


Lutfi dan Ali melanjutkan percakapan mereka, berbagi cerita, dan mempererat ikatan mereka sebagai ayah dan anak. Nasihat Lutfi akan menjadi panduan berharga bagi Ali dalam memulai pernikahannya. Mereka berharap dan mendoakan agar pernikahan Ali dan Sarah menjadi sumber kebahagiaan dan keberkahan yang tak terhingga.


Setelah Lutfi memberikan nasihat kepada Ali, Aisyah sebagai Ibu sambung juga merasa penting untuk memberikan wejangan kepada Ali menjelang pernikahannya. Mereka berdua duduk bersama dalam suasana yang hangat dan penuh kasih sayang.


"Ali, anakku, pernikahan adalah awal dari petualangan baru dalam hidupmu. Sebagai Ibu sambungmu, aku ingin memberikan beberapa wejangan yang dapat membantu kalian berdua dalam membangun rumah tangga yang bahagia."


"Terima kasih, Umi Aisyah. Aku sangat menghargai wejangan dan nasihat yang Umi berikan."


"Pertama, tetaplah menjadi dirimu sendiri dalam pernikahan. Jangan berusaha untuk menjadi orang lain atau memenuhi ekspektasi yang tidak sesuai dengan siapa kamu sebenarnya. Justru, saling menerima satu sama lain dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing akan membuat hubungan kalian lebih kuat."


"Aku mengerti, Umi. Aku akan tetap menjadi diri sendiri dan menerima Sarah apa adanya."


"Kedua, selalu berikan perhatian dan penghargaan kepada Sarah. Saling mendukung, merayakan keberhasilan, dan memberikan dukungan dalam setiap tantangan adalah kunci untuk menjaga hubungan tetap harmonis. Jadilah pasangan yang saling menyemangati dan menjaga api cinta tetap berkobar."


"Aku akan selalu memberikan perhatian dan penghargaan kepada Sarah, Umi. Aku ingin menjadi pendamping yang baik baginya."


"Ketiga, penting untuk selalu berkomunikasi secara terbuka dan jujur. Jangan biarkan kekhawatiran atau ketidaksepahaman berkembang dalam diam. Bicarakan perasaan, harapan, dan kekhawatiran kalian dengan saling mendengarkan. Komunikasi yang baik akan memperkuat ikatan antara kalian."


"Aku akan berkomunikasi dengan jujur dan terbuka kepada Sarah, Umi. Karena aku tahu bahwa komunikasi yang baik adalah fondasi hubungan yang sehat."


"Terakhir, ingatlah untuk selalu menghormati dan memprioritaskan keluarga. Keluarga adalah pangkalan yang kokoh dalam hidup kita. Jaga hubungan baik dengan keluarga masing-masing dan buatlah waktu untuk berkumpul bersama. Kenali pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan keluarga besar kalian."


"Aku akan senantiasa menghormati dan memprioritaskan keluarga, Umi. Keluarga adalah hal yang penting bagi kami."


"Ali, anakku, pernikahan adalah perjalanan yang indah dan penuh tantangan. Tetapi dengan cinta, pengorbanan, dan komitmen, kalian akan dapat menghadapinya dengan baik. Umi mendoakan agar pernikahanmu bersama Sarah menjadi sumber kebahagiaan dan keberkahan yang abadi."


"Terima kasih, Umi, atas wejangan dan doa yang diberikan. Aku akan menjaga dan menghargai pernikahan ini dengan sebaik-baiknya."

__ADS_1


Mereka berdua melanjutkan perbincangan, berbagi cerita, dan saling memancarkan kasih sayang. Wejangan dari Aisyah akan menjadi panduan berharga bagi Ali dalam memulai perjalanan hidupnya sebagai suami. Mereka berharap bahwa pernikahan Ali dan Sarah akan menjadi ladang kebahagiaan dan keberkahan yang abadi bagi keduanya.


...****...


__ADS_2