
Nadira duduk tenang di taman pondok pesantren Al Fathonah, sambil mengamati kedua putrinya, Haneen dan Hania, yang riang bermain di dekatnya. Sinar matahari yang hangat menyinari wajahnya yang penuh kebahagiaan. Dalam momen seperti ini, Nadira merasa begitu bersyukur atas segala yang Allah berikan kepadanya.
"Terima kasih, ya Rabb, Engkau telah memenuhi janji-Mu sesuai firman-Mu dalam surat Al-Baqarah [2] : 153 atas kesabaranku selama ini."
"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S Al-Baqarah [2] : 153)
"Ya Rabb, Engkau juga telah mengabulkan doa-doa yang selama ini aku panjatkan. Mengobati segala rasa sakit yang melukai batinku dan membuat diri trauma dengan beberapa hal."
"Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat." (Q.S An-Naml [27] : 62)
"Ya Allah. Ya Rahmaan. Ya Rahiim. Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih atas semua nikmat dan karunia-Mu, yang jelas, aku merasa sangat bersyukur dengan semua yang telah aku dapatkan sejauh ini. Kesabaranku selama ini, telah Engkau bayar lunas setiap harinya. Sebagaimana yang telah Engkau beri tahu kepadaku tentang pertolongan-Mu dalam surat ke-94 yaitu Asy-Syarh ayat 5 dan 6 bahwa setiap kesulitan itu, pasti ada kemudahan."
Ketika putri kembar Nadira berlarian dan bersorak-sorai, dia merasa terdorong untuk menuliskan isi hatinya ke dalam buku harian kecil yang selalu dibawa. Nadira merasa perlu untuk mengungkapkan rasa syukur yang meluap dari hatinya. Dia menyadari betapa jauh dia telah berubah sejak bertemu dengan Ammar, orang yang sangat mencintai dan menerima dirinya dengan tulus.
Nadira mengingat masa lalu yang kelam, ketika dirinya sempat berontak dan merasa bahwa Tuhan tidak adil. Tetapi dalam pertemuan tak terduga dengan Ammar, segalanya berubah. Ammar memahami dan menerima Nadira sepenuh hati, tanpa memandang masa lalunya yang kelam. Ia tidak pernah menyakiti Nadira, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
Nadira merasa seperti terbang di atas awan putih saat rasa syukur meluap dari dasar hatinya. Seakan-akan dia berjalan di taman bunga yang indah, melihat kelopak-kelopak mawar mekar dengan kecerahan yang memukau. Setelah melalui badai kehidupan yang gelap dan suram, dia merasakan sinar matahari pertama kali menyinari wajahnya.
Di zaman kegelapan yang lalu, Nadira merasa seperti kapal tanpa arah di lautan lepas. Dia menganggap dirinya sebagai pionir yang tersesat dalam labirin kehidupan yang tak adil. Tapi takdir berkata lain ketika Ammar datang dengan gemulai. Seperti kilauan pelangi yang mempesona setelah hujan lebat, Ammar menghadiahkan kehangatan cinta yang tak terhingga pada Nadira.
Dalam belantara kehidupan, Nadira merasakan dirinya seperti burung yang terkurung dalam sangkar besi. Dia merasa terjebak di dalam kegelapan yang gelap dan penuh dengan ketidakpastian. Tetapi dengan kehadiran Ammar, pintu sangkar itu terbuka lebar. Nadira merasa seperti burung yang bebas terbang di angkasa biru, menyentuh awan-awan dan menghirup udara segar kehidupan.
__ADS_1
Seolah-olah dia telah menemukan permata tersembunyi di dasar lautan, Nadira menyadari bahwa Ammar adalah sinar harapan yang tak pernah padam. Seperti penuntun yang bijaksana di kehidupannya, Ammar memberinya kekuatan untuk bangkit dari kegelapan masa lalu. Dia tidak pernah mengutuk Nadira, tetapi dengan penuh kasih mengikuti jejaknya di jalur kebaikan.
Dalam perjalanan hidupnya, Nadira kini merasakan keajaiban yang mekar bagaikan bunga di musim semi. Ammar telah membuka jendela hatinya yang tersembunyi, membiarkan sinar matahari kebahagiaan membanjiri setiap sudutnya. Mereka seperti dua hati yang bersatu dalam melodi harmoni yang indah, membawa kesenangan dan kedamaian.
Dengan Ammar di sisinya, Nadira kini merasakan dirinya seperti kumbang yang menari di antara kelopak bunga yang harum. Dia telah menemukan tempat di mana dia diterima sepenuh hati, di mana cinta tumbuh subur dan melintasi batas-batas yang dianggap mustahil. Hati Nadira memancarkan rasa syukur yang tak terhingga, bagaikan cahaya yang bersinar terang di malam yang kelam.
Melalui Ammar, Nadira belajar bahwa cinta adalah permata berharga yang harus dijaga dan diberikan dengan tulus. Dia melihat dirinya seperti penari yang meliuk-layangkan tubuhnya dalam melodi kehidupan yang tak terlupakan. Setiap langkahnya menggambarkan syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi hanya bisa dirasakan dalam kedalaman hati.
Keikhlasan dan kasih sayang Ammar membuat Nadira merasakan bahwa Tuhan memang Maha Adil. Ammar membantu Nadira meyakini bahwa setiap perjalanan hidup memiliki makna dan hikmah tersendiri. Dalam kesulitan dan kegelapan masa lalu, Nadira menemukan cahaya yang memancar dari hati Ammar.
Saat duduk di taman yang tenang ini, Nadira merenungkan bagaimana Ammar menjadi alasan dia merasa diberkahi oleh Tuhan. Ammar telah mengubah hidupnya dan membuatnya mengerti bahwa cinta serta pengampunan adalah kunci untuk menemukan kedamaian sejati.
Dengan hati yang penuh rasa syukur, Nadira melanjutkan menulis di buku harian kecilnya, menyimpan setiap momen berharga dan refleksi kehidupan yang dialami. Dia tahu bahwa meskipun masa lalu mungkin kelam, kehidupannya sekarang dipenuhi dengan cinta dan kebahagiaan, berkat kasih sayang dan penerimaan yang tak tergantikan dari Ammar, suaminya yang begitu berharga baginya.
Nadira merasakan tubuhnya seakan-akan ditabrak oleh kilat yang tak terduga saat Ammar tiba-tiba muncul dari belakang. Secepat kilat itu menyambar, dia menutup bukunya yang menyimpan segala ungkapan hatinya. Raut wajahnya berubah menjadi kikuk, seperti seorang penjahit yang terlihat saat sedang menjahit kain yang dihias dengan segala rahasia.
"Ehem! Ada yang lagi curhat, nih!" ujar Ammar sambil melempar senyuman dan memeluk Nadira dengan hangat.
Dalam keadaan yang memalukan ini, Nadira merasakan dirinya seperti seekor rusa yang terkejut oleh penjaga hutan yang tiba-tiba muncul dari semak belukar. Dia tersentak dari dunianya yang tenang, merasa seperti seorang penjaga yang berusaha menutup pintu rahasia kebun bunganya yang penuh perasaan.
Wajah Nadira merona seperti embun pagi yang tertiup angin, tak tahan menghadapi rasa malu yang menyergapnya. Seperti sebatang pohon yang tersorot sinar matahari, dia terlihat tanpa pertahanan di depan Ammar. Ammar yang tahu betapa hati Nadira berbunga-bunga, kini melihatnya terbuka begitu lebar di depannya.
__ADS_1
"Apaan, sih! Aku lagi ngeluatin anak-anak kok. Liat aja tuh, mereka begitu bahagianya main di sini," ujar Nadira mengelak.
Ammar melepas pelukannya dan kini duduk di samping Nadira. Dia memegang tangan Nadira dengan lembut seraya berkata, "Sayangku, dengarkan aku, ya. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah membiarkanmu sedih. Itu janji yang harus aku tepati sejak kita direstui untuk menjalin hubungan. Aku sangat beruntung bisa memilikiku." Ammar menatap wajah istri tercintanya penuh cinta.
Nadira tersenyum bahagia. "Iya, sayang. Terima kasih banyak, ya. Terima kasih sudah menepati janjimu itu."
Dalam perjalanan mengungkapkan rasa syukur melalui kata-kata, Nadira merasa seperti penari yang tiba-tiba kehilangan langkah. Seperti koreografer yang lupa pada gerakan selanjutnya, dia merasa seperti kata-kata yang telah meloncat dari bibirnya kini berputar-putar di udara tanpa tujuan yang jelas.
Tatapan mata mereka bertemu dan Nadira merasa seperti seorang penyair yang kehilangan kata-kata yang indah. Segala kerinduan dan penghargaan yang ingin diungkapkan telah tertahan di balik pintu hatinya, takut terseret oleh angin kegembiraan dan membentur ke dinding keraguannya.
Nadira merasakan dalam dirinya semburat kecanggungan, seperti seorang seniman yang terlihat tanpa filter di depan penonton yang tak terduga. Dia berusaha menemukan cara untuk menghadapi situasi ini, tetapi bagai seorang penulis yang terjebak dalam paragraf terakhir yang tak kunjung selesai, kata-kata menghilang begitu saja dari tangannya.
Sementara Nadira mengalami gelombang kepanikan, Ammar hanya tersenyum lembut. Seperti matahari yang menerangi awan kelabu, senyumnya menenangkan hati Nadira yang berkecamuk. Dia mengulurkan tangannya dan meraih tangan Nadira, memberinya kehangatan dan keberanian untuk melanjutkan penariannya, bahkan jika langkah-langkahnya berubah menjadi langkah gugup.
Di hadapan Ammar, Nadira merasakan dirinya seperti seorang penyair yang menemukan inspirasi baru. Dia menyadari bahwa kata-kata yang tak terucapkan bisa digantikan oleh sentuhan dan kehadiran yang tulus. Ammar, penerjemah hatinya, membacanya dengan penuh pengertian dan kasih sayang, tanpa perlu melihat kata-kata yang tertulis.
Saat itu, Nadira menyadari bahwa dalam hadirnya Ammar, ungkapan rasa syukur bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang kehadiran dan hubungan yang mereka bagi. Dalam senyumnya yang hangat dan tatapan matanya yang penuh cinta, Nadira merasakan ungkapan rasa syukur yang meluap dari hatinya, lebih kuat daripada kata-kata yang tersembunyi di bukunya.
Mereka pun memandangi kedua putrinya dengan penuh sukacita. Melihat kedua putrinya tersenyum dan tertawa, hal itu menambah semangat Nadira dan Ammar untuk menjadi orang tua seutuhnya, memberikan kasih sayang yang tak bisa dibeli dengan uang atau benda apa pun. Mereka akan selalu berusaha meluangkan waktu untuk bisa berkumpul bersama, meskipun kedua putranya kini sedang berjuang untuk menyelesaikan pendidikan. Karena dalam sebuah hubungan itu, dibutuhkan kata kompromi, kerjasama, dan saling pengertian. Semoga kita semua bisa menjadi pasangan terbaik untuk pasangan masing-masing dan menjadi orang tua yang terus belajar untuk anak-anak kita.
...****...
__ADS_1