
Ammar terkejut melihat Nadira bersama Jerry. Dia juga baru tahu kalau Jerry sudah keluar dari penjara. Ammar merasa tidak dihargai sebagai suami oleh Nadira. Tidak biasanya Nadira bersikap seperti ini.
Tanpa berpikir panjang, Ammar menghampiri Nadira dan Jerry. Tanpa berkata, Ammar menarik tangan Nadira, hingga Nadira berdiri dan mengikuti langkah Ammar yang terburu-buru.
"Ammar! Lepaskan tanganku," pinta Nadira.
Ammar tidak menggubris permintaan Nadira. Dia terus memegang tangan istrinya dengan keadaan marah. Jerry tidak bisa beranjak dari tempat duduknya untuk menolong Nadira yang terlihat kesakitan karena genggaman tangan Ammar sangat erat. Jerry sadar akan posisinya yang bukan siapa-siapa. Jadi, dia tidak merasa memiliki hak untuk melarang Ammar membawa Nadira. Terlebih, Ammar adalah suami Nadira yang sah.
Ammar menatap Nadira dengan perasaan bersalah. Hingga Nadira dan Ammar tidak lagi terlihat oleh Jerry.
"Maafkan aku, Nad. Kamu telah melalui banyak penderitaan karena kesalahanku. Hari ini, aku berniat untuk memperbaiki semuanya, tapi malah menambah masalah baru."
Jerry terus merutuki dirinya. Memegang kepalanya yang mendadak terasa sakit. Kepalanya rasanya mau pecah. Hingga dia tiba-tiba memukul meja dengan keras. Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya dan juga pelayan yang ada di kafe tersebut.
Di parkiran mobil. Nadira deraian air mata membasahi pipinya, hingga mengenai jilbab merah Nadira yang polos. Nadira memang jarang bahkan hampir tidak pernah mengenakan jilbab bermotif, dia lebih nyaman menggunakan jilbab polos. Menurutnya, jilbab polos itu lebih simpel dan elegan.
Ammar membuka pintu mobil dan memaksa Nadira masuk tanpa mengatakan apa pun. Lalu, giliran dia yang masuk ke mobil. Ammar menyalakan mesin mobilnya dengan perasaan amarah yang ditahan. Nadira menatap wajah suaminya dengan perasaan takut. Dia tahu kalau suaminya kali ini amarahnya tidak bisa dikendalikan. Nadira membisu. Suasana di dalam mobil pun hening. Namun, deraian air mata Nadira menemani perjalanan mereka.
Ammar terus melajukan mobilnya. Tidak biasanya kecepatan Ammar seperti ini. Membuat mobilnya hampir menabrak kucing yang lewat, tapi beruntung Ammar masih bisa mengendalikan emosinya dengan menghentikan mobilnya sesaat. Lalu, setelah kucing tersebut dipastikan aman. Ammar kembali menyalakan mobil dan melanjutkan perjalanan mereka kembali ke pondok pesantren Al Fathonah.
Suasana di dalam mobil masih tetap sama. Hening. Mereka saling diam, seolah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Nadira ingin sekali membuka pembicaraan, tetapi melihat ekspresi wajah suaminya yang merah padam, mulutnya mendadak kelu. Nadira menghapus air matanya, tapi tetap saja tangisannya tak bisa dibendung. Hingga tangisan itu pecah, Nadira terisak dan akhirnya membuat Ammar menghentikan mobilnya. Satu sisi, Ammar masih merasa kesal, tapi di sisi lain, Ammar takut sakit Nadira kumat.
Ammar mengatur napas berat dengan menutup matanya. Dia memegang kepalanya, lalu mengelus dada. Beristighfar sejenak dan mengambil botol minuman di saku mobil yang ada di belakang tempat duduknya.
__ADS_1
Hanya beberapa tegukan. Ammar memberikan botol minuman itu kepada Nadira. Dia masih diam membisu, tetapi tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya kepada sang istri. Mulutnya boleh diam, tapi tidak dengan perhatiannya.
Nadira mengambil botol minuman tersebut. Lalu meminum airnya sampai habis. Nadira mengatur napasnya yang terasa sesak. Tidak lupa beristighfar dan berdoa agar sakitnya tidak kambuh. Sangat penting menjaga fisik dan mental untuk Nadira. Mengingat, kesehatannya yang kerap kali tidak stabil.
Dari kejauhan, plang yang bertuliskan "Pondok Pesantren Al Fathonah" sudah terlihat. Nadira sudah siap untuk diintrogasi oleh suaminya.
***
Di dalam kamar, suasana hening sejenak. Nadira tidak berani membuka pembicaraan. Dia hanya menunggu Ammar yang berbicara. Ammar pergi ke kamar mandi yang memang ada di dalam kamar mereka untuk mencuci muka.
Beberapa menit kemudian, Ammar keluar dari kamar mandi dengan wajah dan rambutnya yang basah. Sementara itu, Nadira sudah duduk di sofa.
Ammar dan Nadira duduk bersebelahan. Hingga akhirnya, pertanyaan Ammar memecahkan keheningan yang dimulai sejak Nadira dijemput di kafe.
Rentetan pertanyaan yang diajukan oleh Ammar, membuat Nadira bingung ingin menjawab yang pertanyaan yang mana dulu dan hal apa yang lebih dulu harus dijelaskan.
Nadira menghela napas pendek.
"Aku minta maaf sama kamu. Aku tahu, aku salah, tapi aku harap kamu mau mendengarkan semua penjelasanku tanpa emosi. Aku juga minta agar tidak memotong penjelasanku," pintanya.
Ammar mengangguk.
"Aku minta izin ke toko buku itu memang benar, tujuanku awalnya memang ke sana. Namun, di perjalanan ke toko buku, ada panggilan nomor baru yang masuk di ponselku. Aku menjawabnya karena aku khawatir kalau itu nomor penting yang harus dijawab teleponnya. Ketika aku mengangkat nomor tersebut, aku terkejut karena yang menelepon adalah Jerry. Entah dia dapat dari mana nomorku, tapi dia meminta waktu untuk bertemu. Dia mengatakan kalau ada hal penting yang ingin dibicarakan kepadaku. Dia memintaku ke kafe. Aku pun ke sana untuk memastikan kalau yang menelepon itu memang Jerry karena aku mencoba melakukan video call, dia tidak mau. Kan zaman sekarang semakin marak penipuan. Makanya aku tidak mudah percaya begitu saja."
__ADS_1
Nadira menghela napas sejenak. Menelan ludah yang tidak memiliki rasa. Sedangkan Ammar, dia sangat serius menyimak penjelasan Nadira.
"Ketika sudah bertemu, ternyata memang benar Jerry. Aku tidak bertanya kapan dia bebas, hanya menanyakan tujuannya ingin bertemu denganku. Jerry mengatakan kalau dia sangat menyesali perbuatannya di masa lalu dan berjanji akan berubah menjadi lebih baik. Dia juga memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada semua orang, khususnya kepada Hafiz, kamu, dan Abi Lutfi selaku pemilik pesantren ini yang dapurnya pernah disabotase agar terjadi kebakaran."
Nadira menatap suaminya dengan rasa bersalah. Air matanya tak terasa menetes, tapi dia tetap melanjutkan penjelasannya karena tidak ingin suaminya salah paham atas pertemuan dia dengan mantan pacarnya itu.
"Soal perasaanku pada Jerry. Aku kecewa sama kamu yang masih mempertanyakannya. Apakah kamu ragu kalau aku sudah benar-benar melupakannya? Padahal kamu tahu banget bagaimana sejarahku saat bersama Jerry, bahkan setelah semua kejadian yang menimpa keluarga kita."
Ammar terdiam sejenak. Dia memikirkan sesuatu. Pikiran dan hatinya pun menjadi bertengkar. Seketika hening kembali.
Lalu, satu menit kemudian, Ammar kembali bersuara.
"Aku minta maaf. Bukan meragukan perasaanmu, apalagi kesetiaanmu sebagai seorang istri, aku cemburu kalau kamu jalan bersama mantanmu tanpa sepengetahuanku. Mungkin karena aku takut kehilanganmu, Nad. Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kamu kenapa-kenapa. Apalagi Jerry pernah berkali-kali menyakiti keluarga kita. Aku tidak bisa melupakan hal itu, Nad. Tidak bisa!"
Untuk pertama kalinya, Ammar menangis di depan Nadira. Nadira memeluk suaminya itu dan menghapus air mata sang suami.
"Iya. Aku memahami semua kekhawatiranmu. Aku minta maaf. Bagaimanapun juga, aku memang salah karena tidak mengabarimu saat Jerry menelepon. Maafkan aku. Maaf ... banget."
Akhirnya kesalahpahaman yang terjadi bisa diselesaikan dengan bijak. Mereka berdua berjanji akan saling menguatkan, memahami, dan mengerti.
Dalam sebuah hubungan, diperlukan komunikasi yang baik. Kalau kita sudah siap menikah, artinya kita harus siap mengobrol banyak hal dengan pasangan kita. Itu sebabnya, sangat penting untuk lebih selektif dalam memilih pasangan hidup karena kita akan menjadi pendengar dan pencerita yang baik bagi pasangan kita. Jangan sampai, komunikasi yang buruk dengan pasangan, membuat hubungan menjadi berantakan.
__ADS_1
Hingga akhirnya, fisik dan mental menjadi sakit. Hubungan rumah tangganya menjadi retak bahkan runtuh; hancur dan tak bisa dibangun kembali menjadi rumah idaman. Pasangan pun seharusnya menjadi rumah untuk kita pulang, tempat untuk tinggal, bukan hanya mampir atau menginap.
...****...