Terserah Tuhan Saja

Terserah Tuhan Saja
Jeritan Malam Pertama


__ADS_3

Suasana rumah keluarga Sultan yang tadinya riuh, kini sunyi. Tidak ada lagi tamu undangan yang hadir, termasuk keluarga dari Ammar. Semua orang pun tampak kelelahan, masuk ke kamar masing-masing.



Nadira yang sudah menyandang status istri, kini tidak lagi tidur sendirian. Ammar yang sekarang merupakan suaminya, ikut menemani tidur di kamar berdinding rak buku dan hiasan lampu tumbler. Nadira masih terlihat canggung.



Nadira menutup pintu kamar yang sudah dihiasi, layaknya kamar pengantin pada umumnya. Dia terkejut dan berteriak saat melihat Ammar di kamar yang ternyata sudah lebih dulu berada di sana.



"Kamu ngapain di sini?" tanya Nadira, tak sadar bahwa Ammar sudah resmi menjadi suaminya.



Ammar hanya tersenyum melihat ekspresi Nadira yang terkejut. Seolah Ammar adalah orang jahat yang akan menyakitinya. Nadira berdiri di depan pintu sambil menatap Ammar yang hendak berdiri dari kasur.



Jeritan Nadira ternyata terdengar oleh kakaknya (Haikal), karena kamar mereka bersebelahan. Haikal mengetuk pintu kamar Nadira.



"Nadira! Nadira! Kamu kenapa, Dek? Ammar ada di situ, kan?" tanya Haikal yang tampak khawatir.



Nadira berbisik pada Ammar agar suaminya menjawab pertanyaan sang kakak.



"Iya, Kak. Aku ada di sini kok, sama Nadira. Tadi ada kecoa, jadinya Nadira teriak," jawab Ammar asal.



Nadira kebetulan takut dengan kecoa, tapi dia tidak pernah memberitahu Ammar tentang hal ini. Untungnya alasan yang diberikan mereka sangat tepat, sehingga bisa meyakinkan Haikal.



"Owalah. Nadira emang dari dulu takut banget sama kecoa, Mar. Terus sekarang gimana? Nadira baik-baik aja, kan? Kecoanya udah pergi belum?" tanya Haikal dari bilik pintu.



"Tenang aja, Bang. Eh, maksudnya, Kak. Nadira baik-baik aja dan kecoanya juga udah pergi, kok." Ammar sepertinya punya bakat jadi aktor. Sandiwaranya benar-benar mulus, hingga Haikal tidak tahu kalau adik iparnya sedang berbohong.



"Alhamdulillah. Terus sekarang Nadiranya di mana? Kok dari tadi enggak kedengeran?" Haikal bertanya untuk memastikan bahwa adiknya memang baik-baik saja. "Oh iya, panggil aja senyaman kamu. Bang juga boleh, karena dari awal lidahmu sudah terbiasa memanggil saya, abang," saran Haikal.



"Eh, ini ngapa mau berdiri. Diem di situ aja," pinta Nadira, berbisik. Telapak tangan kanan diangkat ke arah Ammar.



Ammar tertawa kecil. Haikal mendengar samar-samar suara Nadira. Dia pun memahami kalau adiknya sekarang sudah menjadi seorang istri.



Haikal tersenyum.



"Kamu enggak apa-apa, Nad? Barusan kakak denger suara kamu bisik-bisik. Ada masalah kah?" tanyanya.

__ADS_1



Nadira menjawab cepat karena panik.



"Iya, Kak. Aku enggak apa-apa, kok. Kakak tidur lagi aja. Yang dibilang Ammar bener, kok. Tadi ada kecoa, tapi sekarang udah aman."



"Baiklah kalau gitu. Selamat bersenang-senang ya, kalian. Maaf kalau aku ganggu. Soalnya tadi Nadira teriaknya kenceng banget. Harusnya volumenya dikecilkan lagi, biar kedengeran sampai kamar papa dan mama," goda Haikal. Haikal menggelengkan kepala.



"Kakak!" Nadira membuka pintu kamarnya.



Haikal tersenyum, memperlihatkan giginya yang tidak terlalu putih.



"Oops! Aku jadi ganggu kalian sampai keluar kamar gini, kan!" ujar Haikal dengan mempersiapkan langkahnya untuk lari, menghindar kebiasaan sang adik kalau digoda.



Benar saja, Nadira hendak mencubit perut kakaknya. Haikal langsung lari menuju kamarnya.



Haikal dengan jahil, sebelum menutup pintu kamar, lagi-lagi menggoda adik semata wayangnya itu.



"Terusin, ya, malam pertama menjadi suami-istrinya, tapi tolong jangan berisik kayak tadi. Enggak enak kalau sampai didenger tetangga. Nanti juga terbiasa, kok."




"Mukamu lucu deh kalau lagi ngegerutu gitu. Bisa sayingan nih sama dakocan." Haikal menutup pintu kamarnya.



Nadira menghela napas dan meremas kedua tangannya. Lalu, kembali menutup pintu.



Ammar lagi-lagi mengagetkan Nadira yang saat ini tepat berada di hadapannya ketika dia menoleh.



"Huft. Hampir saja," ujarnya mengelus dada. Dia menoleh. "Eh, kamu kenapa di sini? Aku bilang kan duduk di sana aja," ujar Nadira menunjuk kasur.



Ammar menutup mulut Nadira. Khawatir Haikal datang lagi.



"Nadira! Nadira! Kamu abis jatoh dari tangga apa, ya, pas mau ke kamar tadi? Bisa jadi amnesia gini."



Nadira memegang dahinya dan memeriksa seluruh badan, khawatir ada yang luka. Hal ini membuat Ammar semakin menggoda Nadira.

__ADS_1



"Kamu ini lucu, deh. Coba liat di cermin, mukamu udah kayak badut ancol yang siap pentas." Ammar memandu Nadira ke arah cermin. Lucunya, Nadira pun mengikuti langkah yang ditunjukkan oleh suaminya tersebut.



"Iiss, apaan, sih!" ujar Nadira. Wajahnya mendadak kusut seperti pakaian belum disetrika. Kesal dengan pernyataan Ammar.



"Kamu lupa, ya, kalau sekarang kita udah resmi jadi suami-istri? Jadi, aku berhak dong ada di kamar ini." Ammar berbicara dengan penuh hati-hati, takut ada ucapan yang salah atau dibilang lancang oleh Nadira. "Atau kamu belum siap kita tidur berdua? Baiklah, aku akan tidur di luar saja. Bisa juga numpang tidur di kamar kakak," lanjutnya sambil melangkah menuju pintu.



Ammar ke kamar Nadira lebih dulu karena diarahkan oleh mamanya Nadira, saat baju Ammar kena noda makanan.



Nadira menepuk dahinya. Menahan langkah Ammar yang tinggal dua langkah lagi, bisa membuka pintu kamar untuk keluar.



"Oh iya, aku sampai lupa. Maaf, maaf," ujar Nadira dengan menyatukan kedua tangannya, melihat Ammar dari arah cermin.



"Its oke. Aku ngerti, kok. Aku juga minta maaf karena masuk kamar kamu tanpa izin. Soalnya tadi disuruh mama ke sini buat ganti pakaian."



Nadira membalikkan badannya.



"Iya, enggak apa-apa. Kok malah jadi maaf-maafan kayak lagi lebaran aja." Nadira tersenyum.



Penulis dan seorang motivator muslimah ini pamit ke kamar mandi. Sedangkan Ammar, melihat-lihat isi kamar Nadira yang sangat tertata dengan baik; bersih dan rapi.



Beberapa menit kemudian, Nadira keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang masih tertutup. Balutan kain yang menutup rambutnya masih dikenakan. Ammar masih memaklumi sikap Nadira yang belum siap membuka jilbab di hadapannya.



Nadira tersipu malu saat Ammar mulai mendekatinya. Jantung Nadira berdebar dengan cepat, seakan dia sedang menaiki *roller coaster*.



Ammar menatapnya dengan penuh cinta dan rasa kagum. Tidak menyangka bahwa perempuan yang dikagumi sejak dulu, kini menjadi orang yang siap menemani perjalanannya di dunia menuju Surga-Nya tanpa harus mampir dulu ke rumah tetangga. Sebab menurut Ammar, pernikahan yang bahagia adalah hubungan berdasarkan cinta dan sayang kepada Allah. Dalam artian, apa pun yang kita lakukan, niatnya hanya ingin mendapat rida Allah subhanahu wa ta'ala.



Nadira dan Ammar sudah duduk berdekatan. Jantung Nadira semakin berdebar lebih kencang. Ammar meminta izin untuk membuka jilbab Nadira. Nadira mengangguk dan menutup matanya.



Ammar terpesona melihat kecantikan istrinya ketika balutan jilbab yang selama ini menempel di kepala Nadira terbuka. Mereka saling memandang. Ammar bersyukur bisa menjadi suami Nadira setelah perjuangannya meyakinkan hati Haikal. Orang pertama yang harus diyakinkan Ammar untuk meminta restu memperistri Nadira adalah Haikal karena kedua orang tua Nadira dan Haikal jarang bahkan tidak pernah ada di rumah.



Setelah melalui hujan badai yang cukup lama, Nadira akhirnya menemukan kebahagiaannya. Pertengkaran-pertengkaran dalam rumah tangga pasti akan terjadi, karena konon katanya pertengkaran adalah bumbu-bumbu dalam sebuah hubungan untuk menguji seberapa kuat dan sabar seseorang menghadapinya. Bahkan orang ketiga pun kerap kali bisa menjadi pemicu pertengkaran tersebut. Namun, perlu kita ketahui bahwa orang ketiga bukan selalu tentang munculnya Wanita Idaman Lain (WIL) atau Pria Idaman Lain (PIL), bisa jadi orang tua, anak, saudara kandung, ipar, sepupu, paham, bibi, teman, atau sanak saudara yang lainnya.


Itu sebabnya, kita harus mengenal pasangan agar memahaminya dengan baik, serta berusaha introspeksi diri ketika terjadi pertengkaran. Jangan sampai karena ego dari salah satu atau keduanya, malah menghancurkan sebuah hubungan yang sudah dipupuk dengan cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


...****...


__ADS_2